Mengapa Menulis di Mediakonsumen.com Lebih Efektif?

Pembaca MediaKonsumen.com yang terhormat,

Disadari atau tidak dalam kehidupan sosial moderen, setiap manusia adalah konsumen. Tidak hanya di kota besar tetapi di pedalaman sekalipun. Bagaimana tidak, semua kebutuhan saat ini hanya bisa diperoleh melalui mekanisme perdagangan. Mungkin masih ada di sebagian masyarakat, tetapi pasti sangat terbatas, seseorang memenuhi kebutuhannya dengan mekanisme barter. Dengan demikian maka begitu mekanisme dagang terbentuk di sebuah komunitas, saat itu pula sudah tercipta invidu yang menjadi konsumen dan individu yang menjadi penyedia (provider) atau biasa juga disebut dengan istilah “pelaku usaha.”

Sedikit bicara masalah definisi, memang selama ini cenderung ada kerancuan dalam membuat dikotomi “konsumen” dengan “produsen”. Istilah ini sebenarnya kurang tepat, karena produsen, yang berasal dari kata produce, secara leksikal berarti “pembuat produksi”. Jadi produsen belum tentu pihak yang menjual barang, dan sebaliknya seorang penjual belum tentu seorang pembuat barang./produsen Jadi istilah yang lebih tepat dalam konteks ini, dikotomi bagi konsumen adalah penyedia (barang atau jasa).

Di sisi yang lain, meski definisi untuk istilah “konsumen” begitu banyak bergantung pada konteksnya, secara prinsip menurut kami yang disebut dengan konsumen adalah, individu atau sekelompok individu yang mempertukarkan nilai ekonomisnya untuk memperoleh barang dan atau jasa untuk dikonsumsi. Apa itu konsumsi? Sederhana saja, konsumsi adalah kata kerja untuk proses “memanfaatkan” sesuatu.

Dalam interaksi antara konsumen dan penyedia tentu tidak selamanya berjalan mulus sesuai harapan, masalah-masalah kadang terjadi. Masalah umum yang sering terjadi adalah tidak sesuainya antara harapan konsumen dengan fakta yang mereka dapatkan. Jika penyedia adalah individu yang masih bisa dihubungi secara pribadi dan mau tanggap terhadap keluhan konsumen, masalah selesai. Menjadi sedikit lebih rumit saat konsumen berhubungan dengan penyedia yang berupa perusahaan skala besar. Ada kalanya mereka sulit dihubungi saat konsumen ingin menyampaikan aspirasinya. Meskipun mungkin mereka mencantumkan begitu banyak cara untuk dihubungi, tetapi begitu dihubungi, respon mereka terasa lambat atau bahkan tidak merespon sama sekali. Saat itulah konsumen butuh saluran lain untuk menyampaikan aspirasinya.

Menyampaikan aspirasi adalah salah satu hak konsumen yang dijamin undang-undang. Dalam UU Perlindungan Konsumen no.8/1999 di pasal 4.d. ditulis jelas salah satu hak konsumen yaitu; hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan / atau jasa yang digunakan. Jadi saat konsumen menyerahkan uang kepada penyedia/penjual untuk mempertukarkan nilai ekonomisnya, maka penyedia/penjual tidak hanya menyerahkan barang/jasa kepada konsumen, tetapi juga mengakui hak konsumen yang melekat dalam transaksi tersebut yang dijamin oleh undang-undang.

Di era digital dewasa ini konsumen bisa menyuarakan aspirasinya dengan banyak cara. Hal yang umum dilakukan konsumen adalah menulis di media sosial miliknya, atau menulis di berbagai forum lainnya. Meski cara tersebut cukup efektif, tetapi akan lebih efektif jika konsumen Indonesia menyampaikan aspirasinya di situs www.mediakonsumen.com. Ada empat alasan utama seperti bisa dilihat dalam info grafik berikut:

infografik-mengapa-mediakonsumen
Infografik: Mengapa mediakonsumen.com

1. Fokus
MediaKonsumen.com adalah satu-satunya situs online di Indonesia yang fokus pada masalah-masalah konsumen. Di media sosial atau forum yang lain, topik yang dibahas sangat umum dan beragam. Mediakonsumen.com adalah situs spesifik dunia konsumen. Situs ini dimoderasi dengan ketat. Setiap surat/artikel yang masuk akan melalui proses penyuntingan oleh editor sebelum diterbitkan. Tidak semua surat/artikel bisa diterbitkan, terutama jika ada surat keluhan yang tidak dilengkapi data kejadian atau kronologi yang jelas. Kami berusaha menghindarkan situs ini dijadikan ajang kampanye negatif terhadap penyedia jasa / produk khususnya jika kasus keluhannya ternyata tidak pernah terjadi. Begitu juga dengan bahasa tulisan, kami berusaha menyunting setiap tulisan yang masuk agar penulisannya sesuai kaidah Bahasa Indonesia baku tetapi tetap nyaman untuk dibaca.

2. Target Pembaca
Seseorang menulis pasti dengan harapan untuk dibaca. Jika seseorang menulis aspirasi konsumennya di medsos miliknya, maka potensi pembacanya hanyalah orang-orang yang berada di lingkaran pertemanannya saja. Sedangkan di mediakonsumen.com maka potensi pembacanya jauh lebih besar karena situs ini terbuka untuk semua pengunjung di seluruh dunia.

3. Perhatian dan tanggapan dari penyedia / pelaku usaha
Perusahaan atau pelaku usaha yang memiliki komitmen tinggi pada kepuasan konsumen akan memantau keluhan konsumen di berbagai media masa, baik cetak maupun elektronik. Akan tetapi tidak mungkin pelaku usaha memantau jutaan artikel di seluruh media sosial yang ada di dunia maya. Mediakonsumen.com sebagai salah satu media masa yang fokus pada masalah konsumen akan menjadi salah satu media yang diperhatikan oleh pelaku usaha yang peduli konsumen, sehingga harapan untuk mendapatkan tanggapan sangat tinggi. Seperti bisa Anda lihat beberapa surat konsumen di mediakonsumen.com ini telah mendapat tanggapan positif dari pihak penyedia/pelaku usaha.

4. Kemudahan ditemukan oleh mesin pencari
Saat ini sudah tidak terhitung lagi posting yang ada di berbagai media sosial. Dan dalam hitungan detik, postingan kita sudah tergeser ke bawah oleh postingan yang lebih baru dalam sistem yang kini populer disebut lini masa (time line). Jika tulisan Anda berada di forum, situs, atau medsos yang bersifat umum, lebih sulit bagi mesin pencari untuk menemukan artikel Anda. Tetapi di situ yang lebih fokus dan spesifik terhadap suatu bidang, seperti bidang konsumen di mediakonsumen.com maka kemungkinan artikel Anda untuk ditemukan menjadi lebih tinggi. Team IT kami juga terus menerus melakukan riset dan pengembangan sehingga situs mediakonsumen.com selalu ramah mesin pencari (search engine friendly).

Jadi bagi seluruh konsumen di manapun yang berbahasa Indonesia, silakan manfaatkan situs ini untuk kepentingan kita bersama untuk menjadi konsumen cerdas, berdaya dan mendorong pihak pelaku usaha untuk terus meningkatkan kualitas produk/jasa dan kualitas layanannya.

Bagi para pelaku usaha, jangan alergi terhadap keluhan, kritik, saran dari konsumen. Selalu ingat saat mereka menuliskan apapun aspirasi mereka tentang produk/jasa Anda, mereka telah bersusah payah memberitahu kepada Anda tentang kekurangan produk/jasa atau layanan perusahaan Anda. Bukankah umpan balik (feedback) dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas produk/jasa perusahaan Anda? Dan jangan lupa, setiap tanggapan yang diberikan terhadap aspirasi konsumen akan meningkatkan pengalaman positif konsumen (consumer’s positive experiences) dan berpotensi menjadikan mereka sebagai pelanggan setia potensial perusahaan Anda.

Situs mediakonsumen.com bukanlah sekedar situs ajang curhat, tetapi kami hadir untuk kebaikan semua pihak. Dengan mengirimkan tulisan ke situs ini, pembaca lain akan belajar dari pengalaman konsumen lainnya, menjadikannya konsumen yang semakin cerdas dan berdaya menyadari hak-haknya. Sementara pelaku usaha yang tanggap terhadap konsumen akan menjadikan pelaku usaha yang semakin peduli konsumen, meningkatkan kualitas produk/jasa dan layanannya. Sehingga pada gilirannya akan mendorong kecintaan konsumen Indonesia terhadap produk-produk dalam negeri, menjadikan perekonomian Indonesia menjadi lebih baik.

Salam hangat,
Redaksi

Berikan penilaian mengenai Artikel ini:
 [Penilaian Rata-rata: 4.8]
Bagikan pendapat anda!



Bagaimana Reaksi Anda?
  • Suka
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Lucu
  • Kecewa

 Apa Komentar Anda?

Belum ada komentar.. Jadilah yang pertama!

Mengapa Menulis di Mediakonsumen.com Lebih Efektif?

Redaksi 4 menit
0
Tags: gerakan cinta produk dalam negeri, Konsumen Cerdas, mediakonsumen.com
Menyedihkan, Kesadaran Konsumen Indonesia Masih Rendah

Media Konsumen, Jakarta - Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong merasa sedih lantaran tingkat kesadaran konsumen...

Tutup