Jalan Panjang dari Roma ke Kota Kembang

Berkirim berita dengan surat/kartupos melalui Kantor Pos memegang peranan penting dalam kehidupan, dulu, walau memerlukan waktu yang relatif lama. Bila ingin cepat bisa dengan telegram atau telepon berkat layanan “Djawatan Pos Telefon dan Telegraf” (PTT). Kemajuan di bidang teknologi, kini, mengakibatkan dunia terasa menjadi sempit. Jarak dan waktu tidak lagi menjadi penghalang karena kita bisa berinteraksi langsung dengan kerabat yang jauh layaknya duduk berdampingan melalui sarana “voice call” atau “video call”.

Tahun 1987 orangtua penulis berangkat melaksanakan ibadah haji dengan menggunakan sarana transportasi udara. Ketika sudah sampai di Madinah untuk ziarah ke Makam Rasululloh SAW. dan melaksanakan solat arbain, beliau berkirim surat via pos untuk mengabarkan keadaan kepada keluarga di tanah air. Tetapi perjalanan surat begitu lama, bahkan lebih lama dari proses berhaji yang kala itu berdurasi 42 hari dari saat keberangkatan sampai kembali di kampung halaman. Surat yang ditulis di Madinah di awal kedatangan baru sampai lima belas hari setelah beliau kembali berada di rumah. Alhasil surat dikirim dan diterima sendiri dan beritanyapun telah basi karena sudah sampai dalam kisah lisan langsung.

Pengalaman yang hampir sama terjadi saat penulis melanglang buana di kota Roma pada Ramadhan 1438H yang baru berlalu. Di sebuah waserba yang juga berfungsi konter tiket Big Bus Roma tampak aneka kartupos dengan latar pernak-pernik suasana kota Roma dan kotak pos pengiriman. Akhirnya untuk mengabarkan keadaan selama perjalanan kepada cucu yang memesan oleh-oleh khas, dipilihlah kartupos lengkap dengan perangkonya dengan harga 5 Euro sebagai kejutan. Berharap kartupos bisa sampai sebelum hari lebaran tapi kenyataannya perjalanannya begitu lama. Dikirim tanggal 22 Juni 2017 dan sampai di Kota Kembang Bandung, tanggal 20 Juli 2017.

Dua kisah perjalanan kartupos di atas sebagai ilustrasi peran Kantor Pos dulu dan kini dalam membantu masarakat untuk bersilaturahim. Perjalanan kartu pos dari KSA ke Indonesia dulu memerlukan waktu 55 hari, sedangkan yang terakhir (terkini menurut istilah pewarta TV) perjalanan kartupos dari Italia ke Indonesia butuh waktu 30 hari. Sama tapi tak serupa.

“Kalau tidak berada-ada tidak tempua bersarang rendah”, demikian peribahasa Melayu mengungkapkan yang artinya jika tidak ada sebabnya tidak akan terjadi hal yang luar biasa. Demikian pula dengan lambatnya perjalanan kartu pos dulu dan kini tentu patut untuk disigi untuk pemahaman kita atas fenomena perubahan sistem berkomunikasi. Para cerdik-pandai sering mengatakan “Di dunia fana ini tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri”.

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.

Komentar