Kategori: HeadlineKolom

Pesta Rakyat 17 Agustus Dulu dan Sekarang

Sebutan pesta rakyat untuk memperingati hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia rasanya tepat sekali karena keterlibatan hampir semua komponen masyarakat benar-benar terjadi. Di kampung-kampung nun jauh di sana maupun di kota-kota besar sama saja. Seperti HUT RI ke 72 tahun ini keramaian mulai terasa sejak hari Minggu kemarin. Gapura berhiaskan bendera dan pernak-pernik dengan warna merah-putih yang sangat dominan tampak di mana-mana. Bahkan aneka lomba yang bernuansa hiburan untuk anak, remaja, dewasa bahkan para manula jadi primadona. Ingat, sepakbola para bapak dengan kostum berkain dan kebaya melawan mereka yang berkostum daster.

Pawai alegoris anak sekolah menarik untuk disimak karena ini bila dikelola dengan baik akan menjadi awal pendidikan politik yang jitu untuk menumbuhkan cinta tanah air serta tahu hak dan kewajiban selaku warga negara. Itu terjadi setiap tahun sejak dulu pertama kali proklamasi kemerdekaan RI dibacakan Soekarno – Hatta.

Tahun limapuluhan sampai akhir delapanpuluhan pesta agustusan di kampung halaman penulis dimulai dengan menata lingkungan sekitar rumah. Pagar-pagar bambu yang sudah rapuh diganti, yang pudar warnanya akibat jamur di musim hujan kembali dikapur (benar-benar menggunakan kapur supaya tampak putih bersih). “Kaca-kaca” (Sunda -red) atau gapura di gerbang jalan desa dan pintu masuk pekarangan didirikan dengan penuh keceriaan secara gotong royong walau sederhana. Bahan yang digunakan juga yang ramah lingkungan, mudah didapat seperti bambu, pelepah daun nyiur yang dibelah kemudian dilengkungkan, ranting daun beringin. Bendera Dwi Warna untuk keperluan pesta dan arak-arakan (pawai) pada hari-H dibuat dari bahan ‘kertas endog’ (kertas pembungkus wajit). Jampana atau dongdang dengan aneka bentuk kreatifitas masarakat petani berisi makanan seperti tumpeng, timbel, leupeut, berikut lauk pauk khas seperti sambel dan tempe goreng dilengkapi kerupuk turut meramaikan. Makanan tadi yang awalnya sebagai hiasan pada akhir kegiatan pawai dijadikan santapan makan siang. Semua dilakukan di ruang terbuka yaitu di alun-alun, halaman “kaum” (mesjid raya -red), atau jalan desa yang masih sepi dari kendaraan. Kebersamaan dengan penuh rasa persaudaraan yang kental.

Dalam arak-arakan juga dimeriahkan dengan kreasi seni sepanjang perjalanan seperti kendang penca, dogdog lojor, beluk bahkan ada ‘Badawang Pasirwaru’ sejenis ondel-ondel Betawi. Dibuat dengan rangka bambu dengan berbalutkan ijuk dan pakaian yang compang-camping dari kain bekas. Sementara untuk hiburan pelepas lelah di alun-alun disediakan pertunjukan lais yaitu kemampuan atraksi berjalan di seutas tali tambang yang diikatkan di ujung dua tiang bambu gombong yang ditancapkan dengan ketinggian sekitar 5 atau 7 meter.

Sukacita warga merayakan Hari Kemerdekaan RI (foto tahun 2014, dok. Penulis)

Kini pada saat pesta rakyat 2017 suasana kebersamaan dan keramaian masih tampak tapi dalam warna yang berbeda. Pawai di jalan yang dulu nyaman kini harus beradu kuat dengan kepadatan lalu lintas kendaraan bermotor dari mulai roda dua sampai yang rodanya dua puluh.

Pesta Rakyat berebut dengan kendaraan (foto tahun 2014, dok. Penulis)

Alun-alun yang asalnya luas dan lapang tanpa pagar kini menyempit dan seperti terkurung dengan pagar tembok permanen dan kios-kios pedagang yang menghalangi keleluasaan pandangan sebuah alun-alun, atau lapang terbuka atau menurut istilah keren kita menyebutnya ‘piazza’ atau ‘plazza’.

Kini keceriaan pesta agustusan di kampungku tak lagi sesemarak dulu. Tapi walau begitu semoga semangat kemerdekaan tetap merah menyala di dada para generasi penerus, tak lekang oleh zaman, tak lapuk oleh waktu, dan tak pudar oleh sang surya.

Balubur Limbangan, 16 Agustus 2017

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Bagikan
Penulis
Entjep Sunardhi