Pos Indonesia Lambat dan Memberikan Informasi Palsu

Sebagai unit BUMN, Pos Indonesia perlu mengavaluasi diri secara serius. Awalnya saya ingin menahan diri dari komplain, tapi melihat review Pos Indonesia di Google yang begitu buruk dan tak ada tanggapan, saya merasa harus sampaikan surat ini. Semoga kasus semacam ini berakhir di saya saja, tidak terulang lagi ke konsumen lain.

Ada dua catatan.

Pertama, penanganan luar biasa lambat.

Saya membeli buku agama, persisnya adalah kitab, dari Iran. Oleh Bookstore-nya, kitab yang berjilid-jilid itu dikirimkan menjadi 12 paket, dengan memanfaatkan ekspedisi Pos Indonesia (Pos Internasional).

Berikut daftar resinya:

1. RB391614993IR
2. RB391615000IR
3. RB391615013IR
4. RB391615027IR
5. RB391615035IR
6. RB391615044IR
7. RB391615058IR
8. RB391615061IR
9. RB391615075IR
10. RB391615089IR
11. RB391615092IR
12. RB391615101IR

Semua paket tersebut tercatat telah dikirim dari Iran pada 9 Februari 2020, dan sebulan kemudian sudah sampai di Jakarta pada 7 Maret. Penting dicatat, berdasarkan tracking, bahwa pada tanggal 17 (no. 1,3,4,9) dan 19 Maret (no. 2,5,6,7,8,10,11,12) semuanya sudah Release by Customs (EDC) di MPC Jakarta. Artinya, semua sudah melewati pemeriksaan bea cukai, dan tinggal diteruskan ke Kantor pos tujuan.

Yang mengejutkan, pada Senin 23 Maret, paket no. 6 yang justru Release by Customs pada 19 Maret itu, justru sudah sampai ke rumah saya. Yang Release pada 17 Maret malah belum berubah lagi statusnya. Yang lain kemana? Seperti biasa, dan sebagaimana berulang kali dikomplain oleh banyak pelanggan, paket-paket tersebut masih di gudang MPC Jakarta. Tidak beranjak. Hingga hari ini (27 Maret) belum sampai ke rumah saya.

Saya sudah berulangkali berkorespondensi dengan akun twitter resmi Pos Indonesia (@PosIndoensia), tapi selalu saja tak mendapatkan solusi yang melegakan. Begitu juga sudah hubungi 161, dan diarahkan untuk menghubungi langsung MPC Jakarta melalui nomor tlp 021-3457459 (ekstensi 6247) dan 021-3840548 (ekstensi 6261). Namun, lagi-lagi seperti juga dikeluhkan banyak pelanggan lain, semua upaya untuk menghubungi nomor kontak resmi tersebut hampir bisa dipastikan berujung pada kesia-siaan. Berjam-jam pun Anda hubungi, tidak akan pernah diangkat!

Menggelitik bagi saya, bukankah justru dengan menimbun paket di gudang (yang statusnya sudah tinggal diteruskan ke kantor pos tujuan) itu justru membutuhkan biaya maintenance baru? Tidak adakah supervisor yang bekerja dengan baik dan benar? Mengapa pemeriksaan dan pengiriman luar biasa lambat?!

Kedua, pos indonesia memberikan informasi palsu.

Komplain kedua saya terkait dengan tidak becusnya karyawan Pos Indonesia. Saya kaget ketika paket ke-6 di atas sampai di rumah, lalu pihak pos memberikan invoice (no. 000004515/2020/16400) untuk billing pajak dan bea pelalubeaan, dengan total sebesar Rp10.000.,

Bagi saya ini aneh. Sebab, per tanggal 30 Januari 2020 sudah terjadi penyesuaian pajak, dan khusus untuk buku pengetahuan tarif Bea Masuk, PPN, dan PPh sebesar 0%. Artinya, seharusnya sudah tidak pajak untuk paket saya. (uraian bisa dibaca dalam link berikut: https://bit.ly/2xt3DZz) Dalam situs resminya, Pos Indonesia sendiri menyatakan bahwa buku bebas pajak (lihat No. 4 poin ke-4 di https://bit.ly/2JgjTjs).

Setelah saya perhatikan, ternyata di invoice tersebut Pos Indonesia dengan sengaja memberikan informasi yang keliru. Paket yang berisi buku ini diberi keterangan sebagai “AKSESORIS” (foto terlampir)!

Bukan soal besaran biaya, tapi saya harus komplain karena ini soal integritas dan kinerja. Saya pun DM akun resmi twitter Pos Indonesia. Dan jawabannya mengejutkan.

“ … Pajak kiriman tidak dilihat dari jenis bendanya Sahabat namun dari besar harga kirimannya Sahabat.”

Saya pastikan bahwa jawaban ini ngawur, dan saya kirimkan link info resmi dari Pos Indonesia (https://bit.ly/2JgjTjs).

Tapi, lagi-lagi Admin berkilah, katanya soal pajak itu kewenangan Bea Cukai. Terang saja, semua orang juga tahu bahwa pajak itu kewenangan Bea Cukai. Dan pajak buku sudah dihapus. Masalahnya, bagian pemeriksa dari Pos Indonesia memberikan keterangan palsu tentang isi paket saya sebagai “AKSESORIS”, sehingga terkena pajak.

Lagi-lagi, admin meminta saya agar komplain ke pihak Bea Cukai. Lho, ini bagaimana? Yang keliru kan Pos Indonesia, bukan pihak Bea Cukai? (screenshot dialog terlampir).

 

 

 

Akhirnya, karena penasaran, saya tracking masing-masing resi di atas ke Bea Cukai. Hasilnya mengagetkan. Resi no. 1,3,4,6, dan 12 terkena pajak. Total masing-masing adalah sama, yaitu Rp. 10.000.,

Sementara resi no. 2,5,7,8,9,10, dan 11—kesemuanya bebas pajak.

Bagaimana Pos Indoensia menjelaskan kinerja semacam ini?!

(Tambahan: 24 Maret 2020, pukul 10.10 WIB, saya sudah hubungi 161 untuk melaporkan soal pajak ini untuk resi no. 6, dan sampai saat ini belum ada jawaban lanjutan dari Pos Indonesia).

Saya berharap Pos Indonesia segera berbenah diri, terutama dalam hal pelayanan konsumen. Pelayanan yang lambat dan memberikan informasi palsu terkait status barang kiriman adalah masalah serius. Ini soal integritas dan profesionalisme. Semoga.

Azam Bahtiar
Depok, Jawa Barat

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.

Tanggapan Atas Surat Pembaca Ini

Tanggapan Pos Indonesia atas Surat dari Bapak Azam Bahtiar

Yth Bapak Azam Bachtiar. Menindaklanjuti keluhan Bapak mengenai kiriman impor dengan barcode: 1. RB391614993IR 2. RB391615000IR 3. RB391615013IR 4. RB391615027IR...
Baca Selengkapnya

Komentar