Tanggapan Pos Indonesia atas Surat dari Bapak Azam Bahtiar

Yth Bapak Azam Bachtiar.

Menindaklanjuti keluhan Bapak mengenai kiriman impor dengan barcode:

1. RB391614993IR
2. RB391615000IR
3. RB391615013IR
4. RB391615027IR
5. RB391615035IR
6. RB391615044IR
7. RB391615058IR
8. RB391615061IR
9. RB391615075IR
10. RB391615089IR
11. RB391615092IR
12. RB391615101IR

Sebelumnya kami ingin menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang Bapak alami. Setelah kami koordinasikan dengan Kantorpos terkait, telah terjadi kekeliruan penginputan kode barang, di mana kiriman seharusnya diinput dengan kode “Buku”, namun terinput dengan kode “Aksesoris”, sehingga mengakibatkan kiriman dikenakan pungutan negara masing-masing sebesar Rp 5.000,- .

Kami juga ingin menginformasikan, kiriman Bapak saat ini seluruhnya sudah tiba di Kantorpos Depok dan akan segera diantarkan ke alamat tujuan.

Kiriman hanya akan dikenakan biaya pelalubeaan masing-masing sebesar Rp 5.000,-. Adapun biaya pelalubeaan adalah biaya yang dikenakan untuk setiap kiriman yang melalui proses pemeriksaan Bea Cukai. Penarikan biaya Customs Clearance (pelalubeaan) diatur dalam Akta UPU (Universal Postal Union) dan telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia. Bea Lalu Bea Kiriman Impor ditetapkan berdasarkan Nilai Pabean per kiriman adalah sebagai berikut:

1) Sampai dengan USD3 dikenakan BLB sebesar Rp5.000,-
2) Di atas USD3 sampai dengan USD75 dikenakan BLB sebesar Rp10.000,-
3) Di atas USD75 sampai dengan USD1500 dikenakan BLB sebesar Rp20.000,-.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Input yang telah Bapak berikan, tentunya sangat berarti bagi kami sebagai evaluasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kedepannya.

Terima kasih atas perhatian dan kepercayaan Bapak selama ini menggunakan jasa PT Pos Indonesia (PERSERO).

Regards,

Senja
Admin Care Pos Indonesia
Jl. Banda No. 30 Bandung

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian mengenai Tanggapan Pos Indonesia:
[Total:124    Rata-Rata: 2.7/5]
Pos Indonesia Lambat dan Memberikan Informasi Palsu

Sebagai unit BUMN, Pos Indonesia perlu mengavaluasi diri secara serius. Awalnya saya ingin menahan diri dari komplain, tapi melihat review...
Baca Selengkapnya

Loading...

4 komentar untuk “Tanggapan Pos Indonesia atas Surat dari Bapak Azam Bahtiar

  • 29 Maret 2020 - (05:08 WIB)
    Permalink

    Maaf pak pos biaya bea cukai amat mhl.sya belanja di alli expres hrga jaket 200 saya kena pajak 81 rb.

  • 29 Maret 2020 - (05:09 WIB)
    Permalink

    Biasanya saya kena cuma 20 rb ini .hampir seratus ribu pak pos.pdhl d alli expres keterangan gratis

  • 30 Maret 2020 - (14:11 WIB)
    Permalink

    Terima kasih atas responnya, Pak Senja.

    Btw, setelah saya tracking, ternyata tidak benar bahwa semua paket saya sudah sampai di kantor Depok.
    Jika diukur dari tanggal respon Pak Senja ini ditulis, maka paket yang samapai ke Depok hanya satu. Yaitu, resi no. 9, yang sampai ke rumah saya pada Sabtu 28 Maret kemarin. Artinya, hanya satu yang sampai ke kantor pos Depok, bukan semua.

    Hingga hari ini (30 Maret), ternyata juga baru satu lagi yang sudah sampai ke Depok, yaitu resi no. 12.

    Empat paket sisanya masih di MPC Jakarta (resi no. 2, 7, 8, dan 11). Dan entah mau sampai kapan ditimbun di sana.

    Untuk pihak Pos, pastikan menggunakan data yang valid dalam merespon komplain pelanggan.

    Terima kasih
    AB

    • 22 April 2020 - (20:29 WIB)
      Permalink

      I feel you, Bang. Customer service Pos sekarang makin memburuk saja, bahkan memberi informasi yang tidak benar saja seolah terasa enteng bagi mereka. Toh BUMN ini, mungkin ngerasa nggak akan kenapa-kenapa meski kinerja dinilai jeblok, wong milik negara. Rating disini juga bisa jadi karyawan mereka semua yang ngasih.
      Karena kenyataannya saya merasa Pos Indonesia tidak mempedulikan komplain pelanggan. Misalnya saja saya yang sudah bayar asuransi tapi mau klaim barang rusak saja hanya diberi sebagian dari peraturan yang dulu sudah disepakati. Karena mungkin merasa kompensasi di peraturan lama memberatkan, lalu Pos seenaknya mengganti peraturan saat saya komplain tanpa merasa bertanggungjawab pada kepuasan pelanggan. Dikira baju kali peraturan itu bisa diganti sesukanya. Bayangkan saja kalau sudah terlanjur beli 2 barang yang katanya ada promo buy 2 get 1 tapi ternyata dibatalkan sepihak oleh kasir dan diubah peraturannya saat itu juga.
      Katanya peraturan ganti rugi sudah berganti sejak 2018, lucunya ada jurnal yang terbit 2019 tapi pakai peraturan lama. Padahal semua yang pernah kuliah tahu bahwa jurnal tidak boleh pakai peraturan yang kadaluarsa. Bahkan peraturan yang katanya terbit 2018 tapi sama sekali tidak ada jejak digitalnya juga tidak ada publikasinya pada publik. Yang lebih lucu, peraturan diganti dua kali, karena ternyata peraturan pengganti yang pertama tidak mencakup timeline kasus saya. Tapi tetap saja njomplang karena banyak keganjilan seputar “peraturan baru” itu. Yang bikin saya curiga, itu peraturan memang ada atau rekaan saja biar tidak perlu ganti rugi penuh?
      Saya sudah kirim 10 surat pembaca so far tapi tetap saja mereka memutuskan sepihak bahwa masalahnya sudah selesai meski nggak ngasih ganti rugi penuh. Sudah submit laporan di Lapor!, tapi mereka copas mulu. Mentalnya gimana gitu ya, kompensasi orang dipotong begitu saja lalu seakan tidak merasa bersalah. Nggak punya malu begitu? Mereka punya Tuhan apa enggak ya? Dikira mendzalimi orang lain ntar nggak akan ada efeknya gitu? Karma itu ada, lo.
      Padahal jasa ekspedisi lain bayar triliunan untuk imej tapi ini Pos seolah tak peduli imejnya mau bagaimanapun asalkan tidak perlu bayar ganti rugi penuh, yang menurut saya sudah ditanggung asuransi sesungguhnya, bukan dari Pos sendiri. Jaminan asuransi saya jutaan rupiah loh dan ganti rugi penuh saya diperkirakan cuman senilai ratusan ribu rupiah saja tapi tetap saja mau menagih hak saya itu sangat sangat susah.
      So, buat yang mau pakai jasa Pos Indonesia, pikir-pikir lagi dah jutaan kali. Bisa jadi saat barangmu hilang atau rusak, bukan kompensasi yang diterima tapi peraturan yang diubah-ubah sesuai suasana hati petugas Pos saat itu dan mereka juga nggak merasa perlu melalukan publikasi, sesuai isi email yang saya terima dari mereka. Saya sih sudah menyatakan blacklist untuk semua layanan dan jasa Pos Indonesia karena sepertinya kualitas layanan mereka tidak lagi customer oriented, entah apa orientasi mereka sekarang.
      Baca disini untuk kisah lengkapnya: https://mydreamyjournal.wordpress.com/2020/02/26/menyesal-gunakan-pos-indonesia-sudah-bayar-asuransi-ganti-rugi-ongkir-tak-kunjung-dibayarkan/

 Apa Komentar Anda mengenai Tanggapan Pos Indonesia?

Ada 4 komentar sampai saat ini..

Tanggapan Pos Indonesia atas Surat dari Bapak Azam Bahtiar

oleh Pos Indonesia dibaca dalam: 1 min
4