Kekecewaan Saya terhadap KPR BNI Griya

Bulan April 2022 adalah bulan pertama dalam tahun ke-4 KPR BNI Griya saya, dimana bulan itu berlaku suku bunga floating pertama dalam proses angsuran KPR saya. Awalnya saya tidak menyadari akan adanya kenaikan angsuran tersebut, sehingga pada akhir April saya transfer ke rekening BNI saya hanya sebesar angsuran yang sebelumnya.

Saya tidak mengetahui bahwa bulan April menjadi bulan pertama berlakunya suku bunga floating angsuran KPR saya. Karena memang juga tidak ada sama sekali pemberitahuan tentang hal tersebut dari pihak BNI.

Pada sekitar tanggal 9 Mei 2022, saya iseng cek BNI mobile saya, dan saya kaget melihat angka angsuran yang naik hingga 2,1 juta rupiah. Karena tersedia saldo blokir KPR yang tersedia di rekening BNI saya tersebut, maka kenaikan angka tersebut dapat terdebet dengan mengurangi saldo blokir yang ada.

Setelah tanggal tersebut saya berusaha mencoba menghubungi call center BNI 1500046. Namun hasilnya nihil, dikarenakan “selalu sibuk”.

Saya mencoba chat lewat media sosial BNI dan bertanya perihal kenaikan suku bunga floating pada tahun ini. Akhirnya ada jawaban bahwa memang suku bunga floating naik hingga 13.5%. Pihak admin merekomendasi untuk menghubungi pihak cabang BNI dimana saya melakukan proses KPR tersebut.

Selanjutnya saya mencoba mencari kontak pihak cabang BNI yang mengurus KPR saya juga. Namun ternyata dirinya sudah keluar sekitar 2 tahun yang lalu.

Saya mencari-mencari surat bukti kesepakatan satu-satunya dengan BNI yang ada di saya, yakni tentang surat persetujuan kredit saya. Ternyata di sana ada nomor yang mungkin bisa dihubungi, yakni pihak Consumer Loan Center. Saya ingin mengkonfirmasi kembali tentang kenaikan suku bunga tersebut, karena memang tidak ada sama sekali pemberitahuan tentang kenaikan dan angka kenaikan suku bunga KPR saya tersebut.

Di samping itu saya bertanya perihal kemungkinan permintaan keringanan angsuran dan juga kemungkinan proses pelunasan via take over KPR dari bank lain. Setelah saya kontak nomor Consumer Loan Center tersebut ternyata hanya ada 1 prosedur, yakni melalui email.

Saya juga menanyakan mengapa saldo di BNI mobile saya terlihat minus ketika “tap saldo” di aplikasi tersebut. Pihak Bank BNI memberitahu bahwasanya tidak hanya angsuran saya yang naik, tapi dana blokirnya pun ikut naik.

Saya mengutarakan keberatan, dan pihak bank tersebut mengatakan bahwa sesungguhnya tidak masalah ketika tidak menambah saldo blokir tersebut. Angsuran saja yang harus dibayar penuh sesuai dengan kenaikan suku bunga 13.5%.

Setelah selesai mengkonfirmasi hal tersebut, selanjutnya saya mencoba mengirim surat permohonan keringanan angsuran. Sambil saya mencari-cari informasi perihal take over KPR dan informasi lainnya, seperti apa yang terjadi terhadap saya. Ternyata memang bukan hanya saya seseorang, ada beberapa orang yang memang bernasib sama seperti saya.

Terus terang saya termakan stigma bahwasanya lebih baik take over bank lain, karena percuma meminta keringanan angsuran yang hanya berlaku sementara saja. Tahun-tahun selanjutnya, lagi-lagi pihak BNI yang punya wewenang memutuskan angka kenaikan suku bunga tersebut.

Pada akhirnya saya mendapatkan penawaran take over dari bank lain yang memang ternyata bunganya sangat jauh lebih murah dari BNI Griya, bahkan floating-nya fix hingga 20 tahun dan suku bunga floating fix-nya bahkan tidak sampai menyentuh angka 10%.

Setelah melalui beberapa proses, pihak bank terkait di atas meminta persyaratan dokumen berupa copy sertifikat, IMB, dan PBB. Selanjutnya saya mengirim email kembali tentang permintaan copy dokumen tersebut, karena memang saya tidak memiliki dokumen tersebut sedari awal. Sehari setelahnya saya mendapat balasan untuk mengisi form permintaan debitur dari pihak BNI. Segera setelah saya mendapatkan form itu saya mengisi dan mengirimnya kembali pada hari yang sama.

Kronologi (email):

17/5/22 : (Me) Mengirim surat permohonan permintaan copy dokumen.
18/5/22 : (BNI : AEL) Balasan email tersebut dengan attachment format dokumen.
18/5/22 : (Me) Kirim surat permohonan sesuai dengan format dokumen yg diberikan (Jelas sekali dokumen apa yang saya minta).
20/5/22 : (Me) Menanyakan kembali tentang dokumen yang saya minta.
20/5/22 : (BNI : AEL) Memberi informasi bahwa prosedur permintaan dokumen 2-3 hari.
20/5/22 : (BNI : AUP) Mengirim 3 jenis copy dokumen, tapi sama sekali bukan dokumen yang saya minta.
20/5/22 : (Me) Menginformasikan bahwa dokumen tersebut bukan yang saya minta. Menerangkan kembali bahwa yang saya minta adalah Copy Sertifikat dan IMB (sesuai dengan yang ada di form).
20/5/22 : (BNI : AUP) Mengirimkan Copy Sertifikat dan Asuransi Jiwa (Copy IMB yang saya minta belum dikirim).
20/5/22 : (Me) Menginformasikan kembali bahwa copy dokumen yang saya minta Sertifikat dan IMB. IMB belum dikirim.
23/5/22 : (Me) Menanyakan kembali tentang copy dokumen IMB yang saya minta.

History percakapan melalui email

Saya tidak mengerti apakah pihak BNI tidak membaca lagi tentang apa saja dokumen yang saya minta atau memang ada unsur lain. Tidak pernah ada penjelasan juga kenapa mereka begitu lambat dan tidak seprofesional seperti yang saya bayangkan. Saya minta dokumen ‘A’, yang dikirim malah ‘B’.

Yang lebih luar biasa, sekitar sejak tanggal 18 Mei 2022 tersebut hampir setiap hari ada nomor telepon asing masuk, dan ternyata itu dari pihak BNI yang menanyakan perihal pembayaran angsuran saya di bulan Mei, yang notabene masih belum jatuh tempo. Bahkan ada operator baik SMS maupun telepon yang terus mengingatkan mengenai angsuran tersebut. Seolah saya pernah tidak membayar angsuran, ataupun lewat membayar angsuran. Hal ini tentunya begitu mengecewakan dan amat mengganggu.

Kejadian kenaikan suku bunga April tersebut sama sekali saya tidak mengetahui, dan sesungguhnya juga masih ada saldo blokir yang tentunya bisa di-autodebit oleh pihak BNI. Artinya sesungguhnya tidak ada kerugian apa pun dari pihak BNI. Bahkan saya transfer lagi ke rekening BNI terkait untuk menggenapkan lagi saldo blokir saya sebesar “perjanjian awal”, karena sebelumnya terpotong oleh kenaikan suku bunga yang besarannya sama sekali saya tidak ketahui.

Saya enggan menaikkan saldo blokir, karena memang tidak ada pemberitahuan apa-apa dan sepertinya juga tidak tertera jelas dalam klausul perjanjian yang ada. Saya mengerti saldo blokir diperuntukkan saving 1 bulan angsuran jika saya telat bayar, tapi saya merasa tidak perlu itu karena memang tidak pernah merasa telat bayar. Hal itu dikuatkan juga oleh informasi dari pihak bank (consumer loan center) yang sebelumnya saya hubungi, bahwasanya tidak masalah tidak menaikkan saldo blokir. Terlebih saya memang berencana untuk melakukan take over KPR juga.

Salah satu maksud dan tujuan saya menulis ini ialah agar orang lain lebih teliti lagi dalam proses pengajuan KPR. Pilihlah penawaran yang paling tepat, jangan terburu-buru seperti yang terjadi pada saya. Jika hanya ada 1 pilihan bank di perumahan yang akan kalian beli seperti yang terjadi pada saya, telitilah baik-baik apakah itu sudah benar-benar pilihan yang tepat.

Saya juga berharap saya adalah orang terakhir yang mengalami hal ini, pihak BNI sebagai BUMN harusnya juga benar-benar berintrospeksi, lebih cepat dan tepat tanggap, tidak hanya mengejar keuntungan yang besar semata.

Perihal suku bunga KPR misalnya, pihak BNI seyogyanya menginformasikan secara baik kepada nasabah jika akan terjadi kenaikan, berapa besarannya. Pengakuan mengenai “pengiriman surat” nyatanya tidak pernah saya terima.

Akhir-akhir ini pihak BNI bisa menelepon saya setiap hari untuk mengingatkan tagihan yang belum jatuh tempo, namun pada saat kenaikan mengapa tidak ada satu pun yang menginformasikan mengenai hal itu? Apakah ini yang dimaksud memberikan layanan yang prima seperti salah satu misi BNI yang ada?

Mindset saya sebelum hal ini terjadi ialah BUMN sejatinya “lebih dekat” berpihak pada masyarakat, terlebih kategori rakyat menengah ke bawah seperti saya. Ternyata hal itu berbanding terbalik, swasta nyatanya “lebih dekat” berpihak kepada masyarakat daripada BUMN.

Win-win solution, kenaikan suku bunga seharusnya masuk akal, tidak berat membebani nasabah. Jika swasta bisa menawarkan harga yang lebih masuk akal? Kenapa BUMN tidak bisa? Jika demikian adanya, jangan harap BUMN dapat menjadi pilihan rakyatnya sendiri.

*Sampai saat tulisan ini dimuat, copy IMB saya belum juga diberikan oleh pihak BNI.

Mario
Kabupaten Bogor, Jawa Barat

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Bagikan

Tanggapan Atas Surat Pembaca Ini

Penjelasan BNI Tentang Kekecewaan Saya Terhadap KPR BNI Griya

Menanggapi keluhan Bapak Mario di www.mediakonsumen.com pada tanggal 26 Mei 2022 berjudul “Kekecewaan Saya Terhadap KPR BNI Griya”. BNI telah...
Baca Selengkapnya

Komentar

    • Masalah nya, syariah pakai kata biaya. Sedangkan bank konvensional pakai kata bunga.

      Nah jika uang yang dikeluarkan dari dompet kita bandingkan, maka jumlah uang yang keluar untuk biaya lebih besar dari pada bunga.

      Ente dan keluarga ente aja nikmati sono syariah. Duit gw keluar lbh banyak di syariah daripada konvensional

  • Turut prihatin Pak untuk hal ini, tp biasanya di perjanjian kredit tertera suku bunga fix dan suku bunga floating, namun bbrpa bank juga tidak mencantumkan angka untuk bunga floating, namun biasanya lebih ke formula (misal suku bunga BI + x%) hal ini untuk mengcover prubahan suku bunga bi di masa mendatang. Tetapi memang mnrt saya BNI seharusnya mengirimkan email atau sms reminder bahwa KPR bapak sudah masuk ke angsuran floating dengan menginformasikan perubahan jumlah cicilan perbulannya, dan apabila BNI menghubungi bapak trs untuk reminder cicilan yang blm jatuh tempo, ini agak anoying ya apabila frekuensikan cukup sering, semoga dg adanya artikel ini, pihak BNI cpt merespon ya pak.

  • Sebelumnya saya mohon maaf tanpa bermaksud menyalakan salah satu pihak. Saya rasa dalam pengajuan KPR nasabah wajib memahami betul apa yg menjadi kewajibannya sebagaimana tertera Perjanjian Kredit, sebab nasabah wajib mentaati seluruh ketentuan yg ditetapkan Bank sebagai komitmen nasabah yang telah diberikan kepercayaan oleh Bank. Utk KPR pada umumnya ada program dg suku bunga promo dgn jangka waktu tertentu dan akan beralih ke suku bunga floating seperti yang DISEPAKATI dalam Perjanjian Kredit, shg tdk ada keberatan dikemudian hari. Biasanya ada lampiran jadual pembayaran angsuran sbg reminder yg wajib dipahami nasabah. Jika ada hal yg kurang jelas, sebaiknya nasabah menghubungi bank tempat mengajukan kredit, bukan kepada sales atau petugas yg memberi Krn pengajuan kreditnya dulu kepada bank/ institusi. Take over saya rasa tidak menyelesaikan masalah karena hrs diperhitungkan juga biaya² yg timbul spt by penalti pelunasan sebelum jatuh tempo, notaris, propisi administrasi, asuransi, dll yg jika dihitung lebih besar dari selisih kenaikan bunga saat floating, sebab suku bunga promo + floating antara satu bank dg bank lain kurang lebih sama dan selisihnya pun tdk akan banyak jika ditotal seluruhnya, Krn bank akan memodifikasi dg program² agar terlihat murah di awal. Hal ini terjadi karena kredit yg diterima nasabah bersumber dari dana nasabah simpanan yg return (jasa giro/ bunga/ bagi hasil dari mudharobah, dll) tdk jauh beda Krn sdh diatur BI dan OJK ttg maksimal suku bunga yg dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan / LPS. Nasabah seringkali melupakan jika aset yg dibeli dari Bank sudah naik nilainya, shg jika dijual masih menguntungkan nasabah terlebih jika berada di kawasan strategis. Mudah2an tulisan saya ini dapat dipahami semua pihak dan menambah wawasan.

  • Komentator yang B0D00H, disini penulis keberatan dengan floating bunga 13,5% ya.... Bukan gak liat atau lupa kapan floating dimulai. Tolong 0TAK kalian dipakai.

    Lalu, copy IMB bisa didapat jg di notaris. Biasa notaris menyimpannya.

    Kejadian ini hampir sama seperti saya take over dari panin ke CCB. Pihak panin cari terus kelemahan dari take over CCB agar saya gak bisa take over CCB. Tp untung nya CCB sangat fleksibel, sehingga apapun keputusan panin diterima, dan take oper berhasil.

    Nah bunga 13,5% itu kelewat gila. Deposito aja 3% loh. Gile cari untung nya itu bank. Bagus lah take oper daripada kasi makan keluarga BNI.

  • Perihal suku bunga KPR misalnya, pihak BNI seyogyanya menginformasikan secara baik kepada nasabah jika akan terjadi kenaikan, berapa besarannya. Pengakuan mengenai “pengiriman surat” nyatanya tidak pernah saya terima.
    =======

    Ini ada di SPH/PK anda ga?

    • PK cuma floating aja. Gak ada rate floating nya.

      0TAK lu dipakai gak sih? Penulis keberatan dengan rate floating. Akhir nya mau take oper, tp proses take oper yang sangat menyulitkan. 0TAK dipakai buat identifikasi masalah om

      • Dah ngopi belum lo ven? nyamber mulu kek angkot. neh gua jabarin lagi.
        ------------
        Perihal suku bunga KPR misalnya, pihak BNI seyogyanya menginformasikan secara baik kepada nasabah jika akan terjadi kenaikan, berapa besarannya. Pengakuan mengenai “pengiriman surat” nyatanya tidak pernah saya terima.
        ========
        Tuh gua copas lagi yang gua tanyakan statement penulis mengenai ketiadaan informasi jika terjadi kenaikan dan besaran tersebut itu adakah di pk nya kewajiban bank menginfokan itu? Kalau ada ya bank nya salah. Bawa ke OJK. Kalau ga ada ngapain mewek masalah itu?

        Mengenai bunga floating itu kan rate nya base acuan suku bunga BI. yang jelas Bank ga bisa melampaui rate itu.

        lo bandingkan dengan rate bunga floating yang tinggi saat ini. 3 tahun pertama penulis menikmati bunga berapa %nya kan engga disebutkan dia.
        dia dah nikmati bunga promo keuntungan dia kan ga disebutkan

        • Lu dah nyimeng belom? Ngomong kok ngelantur. Mana ngomong bawa bawa OJK pula. Bukan OJK G00VL00K, tapi pengadilan. Apa yg tertulis di kontrak tp gak sesuai kontrak itu ke pengadilan. Nyimeng dulu sana biar gak ngelantur. Apa apa ngadu ke OJK. Ntar lu dipalak ngadu ke OJK kali.

          Dia nikmati bunga promo itu hak dia lah. Kalau dia take oper kan kena penalty. Trus yang salah siapa? Bank dapat penalty dari nasabah kok dan itu sudah pasti ada di kontrak PK.

          Mau nikmati bunga promo, itu urusannya penulis. Lu kok sirik amet ya sama penulis? Makanya 0TAK dipake, kebanyakan nyimeng sih lu

  • IMB nya nyelip pak makanya kagak dikasih ke anda, bagus kalo bisa ketemu, kalo ngga ya,.........

  • Pengalaman saya KPR di bank swasta warna biru, abis bunga fix pindah ke cap/floating selalu ada notif baik sms atau email pak.
    Di bank tersebut kalau ga mau kena bunga floating bisa ikut program migrasi suku bunga fix lagi selama masa tenor sesuai ketentuan yang dibarengi adanya admin migrasi.. biasa jauh lebih murah migrasi, contohnya floating 11% ini jadi 5.25-5.75% kembali sehingga lumayan dapat cicilan semakin mengecil. Coba cek di BNI ada program migrasi suku bunga ga atau minta nego pengajuan penurunan suku bunga..
    Untuk masalah copy SHM/AJB/PBB mah biasanya ada yang keselip pak jadi seakan-akan yang penting kirim data. Kalau sampai benar ada yg keselip, datangi saja notaris pas akad jual beli bareng BNI pasti ada copy-an mereka simpan.

    • Pasal 6 ayat 3 : Dengan memperhatikan ketentuan pada ayat (2) pasal ini, BANK setiap saat dapat melakukan peninjauan/perubahan atas suku bunga kredit yang akan diberitahukan secara tertulis kepada PENERIMA KREDIT melalui salah satu media ini yaitu surat pemberitahuan atau pesan singkat (sms) atau surat elektronik atau pengumuman pada situs jaringan resmi BANK BNI.

      Jadi sebenernya jelas harusnya ada pemberitahuan, tp ya namanya aturan macem begini, multitafsir jadinya, bisa aja berdalih informasi itu ada di situs, kita orang kecil bisa apa. Hehe.. Aturan ini memang dibuat pasti nguntungin yg 'kuat' kok..

      Cuma untuk kejadian yg saya alami ini, pengakuan BNI sudah kirim surat ke alamat saya dengan penerima surat "Bang Irwan", dimana saya diminta konfirmasi kepada orang tersebut. Yang jadi masalah dirumah saya tidak ada satupun orang yang namanya Irwan. Lalu mau konfirm gimana? Haha..

      Yang saya sesali lagi, setelah kejadian ini bisa lebih dari 5x pihak BNI telpon saya, sms, wa, hanya untuk ngingetin angsuran saya yg belum jatuh tempo. Kenapa untuk informasi yang buat saya amat penting (besaran kenaikan suku bunga) kok tidak ada? Hanya memanfaatkan surat yang akhirnya jadi asal klaim tanpa bukti juga.

      Untuk sekedar diketahui pada tahun ketiga saat terjadi kenaikan bunga fix rate dari 7.25% - 8.25% justru saya terima surat pemberitahuan dari bni. Kalo memang terima saya pasti akuin terima, tapi kalo memang ga ya masa mau ngaku terima.

      Kalo soal untung atau tidak, rasanya harusnya memang win win solution. Saya juga sadar sebagai 'penerima kredit' ya bisa apa namanya juga kredit. Tapi BANK pemberi kredit rasanya ga mungkin rugi lah, dari uang kisaran 160jtan juta yang saya angsur tiap bulan selama 3 tahun secara matematika kasar cuma dihargai 30jtan oleh BANK, masa BANK ga untung, apalagi semua surat2 juga masih dikuasai BANK. Hehe..

      Mohon maaf kalo tulisan saya jd multitafsir dan malah ada 'ribut2' justru dari teman2 sekalian. Hehe.. Tulisan ini semata saya share agar teman2 yang lain lebih teliti lagi mengenai KPR, dan tentunya mengingatkan lagi pihak BNI agar lebih profesional lagi, agar saya menjadi orang terakhir yang kecewa seperti ini.

      Terimakasih atas perhatiannya.