[Review] Film: Ayat Ayat Cinta 2 (2017)

Oleh Nadia

Akhir tahun 2017 ada satu film yang pasti sudah ditunggu lama oleh ibu-ibu dan fans “AAC” atau Ayat-Ayat Cinta. Film yang rilis pada tahun 2008 itu sangat ngehits pada masanya. Sekarang di tahun 2017 muncul sequel-nya yaitu Ayat-Ayat Cinta 2. Saya belum menonton Ayat-Ayat Cinta, jadi review kali ini hanya membahas Ayat-Ayat Cinta 2 saja tanpa perbandingan dengan film sebelumnya, Ayat-Ayat Cinta.

Jangan khawatir, ini “spoiler free review”.

Plot Cerita

Film dimulai dengan opening scene yang cukup “mengejutkan” dan memakai CGI yang cukup baik. Selanjutnya isi cerita film sendiri sedikit mengangkat konflik di Timur Tengah dan sikap rasisme terhadap umat Islam atau Islamophobia yang dihadapi sang tokoh utama Fahri (Fedi Nuril) di London, dan tentunya dengan dibumbui romance sang tokoh utama. Dari segi plot cerita rasanya biasa saja dan lebih terasa seperti film edukasi tentang permasalahan yang sering dihadapi oleh umat Islam. Barulah di bagian akhir film ada plot twist yang cukup tidak terduga (meski tidak terlalu mengagetkan bagi saya) dan menambah unsur keunikan dalam plot cerita.

Soal plot cerita, memang film Ayat-Ayat Cinta 2 ini bertujuan untuk menyajikan permasalahan Islamophobia dan bagaimana cara bijak untuk umat Islam menghadapinya. Tetapi menurut saya sebenarnya penyajiannya bisa dibuat lebih menarik. Ada beberapa adegan yang berpotensi untuk membuat penyajian yang lebih menarik, misalnya pada bagian tengah film di mana ada adegan debat ilmiah antar kubu Fahri dan pihak yang anti. Tapi sayang sekali bagian ini tidak diberi porsi yang lebih baik sehingga akhirnya menjadi adegan klise dan terkesan tidak ilmiah. Hanya menjadi sekedar ajang penyampaian quote oleh satu-dua pakar. Padahal jika adegan debat ini dibuat dengan bobot lebih serius sepertinya akan menjadi bagian yang sangat menarik.

Karakter

Film ini cukup bertabur bintang. Cast yang menjadi karakter dalam film ini antara lain; Fahri (Fedi Nuril), tokoh utama dan dosen yang sangat agamis dan baik. Selanjutnya ada sidekick untuk comic-relief yaitu Hulusi (Pandji Pragiwaksono) dan Misbah (Arie Untung). Hulusi adalah orang Turki yang menjadi asisten Fahri dan Misbah adalah teman Fahri sewaktu kuliah. Karakter wanitanya ada Sabina (Dewi Sandra) sebagai imigran gelap, Keira (Chelsea Islan) tetangga Fahri yang Islamophobia, dan Hulya (Tatjana Saphira) keponakan Aisha.

Di awal film saya merasakan interaksi dialog antar cast (pemain) terkesan kaku karena dialog disampaikan secara kurang natural. Misalnya karakter A berbicara, lalu B dengan segera menanggapi, tidak ada jeda antar dialog. Tapi seiring film berjalan, interaksi antar cast membaik dan kekakuan itu tidak lagi terlalu terasa.

Untuk peran, karakter cast di film ini terasa sangat hitam-putih atau sudah terbagi dengan jelas sisi baik-jahatnya. Selain itu bagian yang sangat menggangu saya adalah penggunaan bahasa yang dicampur aduk. Bahasa yang ada di film ini sangat banyak walau porsinya sedikit dan tanggung. Begini beberapa contohnya (hanya ilustrasi, bukan dialog aktual dalam film tsb):

Murid: “Wow, he is showing off. He is just a substitute. Dia itu nggak berhak nyuruh kita…”
Murid 2: “Ya, tapi dia tidak salah. What’s wrong with you ? Dia kan tetap…”

Jadi penggunaan kalimat dalam satu adegan berubah-ubah sering sekali dan bukan hanya antara Bahasa Inggris-Indonesia saja. Ada juga bahasa lain seperti Bahasa Arab, Bahasa Jawa, atau bahasa lain yang porsinya lebih sedikit tapi berubah-ubah ke Bahasa Indonesia. Memang wajar, ini film Indonesia yang berlatar lokasi di Inggris dan aktornya pun berbahasa Indonesia. Akan sulit jika semua dialog dalam bahasa Inggris, atau jika semua dialog dalam Bahasa Indonesia tidak akan ada nuansa bahwa film ini berlatar di luar negeri. Tapi bukannya lebih baik jika perubahan bahasa itu per-adegan dan bukan seperti contoh di atas? Atau harusnya diimplikasikan sejak awal cerita bahwa mereka berbahasa Inggris walau dialog dalam Bahasa Indonesia. Perubahan bahasa yang acak seperti ini malah membuat canggung.

Pengambilan Gambar dan Musik

Dari segi pengambilan gambar menurut saya kurang. Kadang-kadang framing kurang terasa pas, lalu shoot adegan yang terlalu dekat menyorot wajah atau malah terlalu jauh.

Untuk musik, di beberapa bagian terkadang terasa terlalu nyaring atau menganggu adegan, tetapi selebihnya bagus.

Kesimpulan

Walau banyak hal-hal yang menurut saya kurang, plot-nya tetap lumayan seru untuk diikuti dan durasi 130 menit tidak terasa lama. Untuk fans Ayat-Ayat Cinta 2 wajib nonton sequel ini, dan bagi yang bukan (belum pernah menonton film sebelumnya, Ayat-Ayat Cinta, seperti saya) dicoba saja dulu siapa tahu tertarik.

Saya memberikan penilaian keseluruhan (overall rating): 6/10

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.

Film: Ayat Ayat Cinta 2 (2017)

Film: Ayat Ayat Cinta 2 (2017)
6
Nilai Total

Penilaian Keseluruhan (Overall Rating)

6/10

    Kelebihan

    • Laju alur cerita tidak lambat
    • Plot cerita cukup menarik
    • Soundtrack bagus

    Kekurangan

    • Penggunaan bahasa dialog campur aduk
    • Sudut pengambilan gambar

    Kesimpulan

    Untuk fans Ayat-Ayat Cinta 2 wajib nonton sequel ini, dan bagi yang bukan (belum pernah menonton film sebelumnya, Ayat-Ayat Cinta, seperti saya) dicoba saja dulu siapa tahu tertarik.

    Bagikan pendapat anda!



    Bagaimana Reaksi Anda?
    • Suka
    • Senang
    • Sedih
    • Marah
    • Lucu
    • Kecewa

    Ulasan dan penilaian mengenai Film: Ayat Ayat Cinta 2 (2017) di atas adalah berdasarkan pengalaman pribadi penulisnya dan bukan merupakan iklan (advertorial). Punya pendapat tentang Film: Ayat Ayat Cinta 2 (2017)? Berikan ulasan dan penilaian berdasarkan pengalaman anda melalui form komentar di bawah ini.

    Tentang Penulis
    Nadia #  

    Cuma netizen numpang lewat

     Apa Komentar Anda?

    Belum ada komentar.. Jadilah yang pertama!

    [Review] Film: Ayat Ayat Cinta 2 (2017)

    Nadia 3 menit
    0