Rheumatoid Arthritis, Bikin Jari Nenek Bengkok-bengkok

Oleh dr. Fathul Djannah, Sp.PA.

Rheumatoid arthritis atau artritis reumatoid adalah peradangan kronis pada sendi yang menyebabkan rasa sakit, bengkak dan kaku pada persendian (misalnya sendi kaki dan tangan adalah penyakit yang menyebabkan radang, dan kemudian mengakibatkan rasa nyeri, kaku, dan bengkak pada sendi. Seiring waktu, peradangan ini bisa menghancurkan jaringan persendian dan bentuk tulang.

Efek dari kondisi ini akan membatasi aktivitas keseharian, seperti sulit untuk berjalan dan menggunakan tangan. Walau bagian tubuh yang paling sering terkena dampak rheumatoid arthritis adalah pada bagian kaki dan tangan, penyakit ini juga bisa menjangkiti bagian tubuh lainnya, seperti mata, paru-paru, pembuluh darah, dan kulit.

Rheumatoid arthritis terjadi saat sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri. Penyakit ini lebih sering diderita oleh wanita, terutama di atas 40 tahun. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan pria dan siapa pun di luar usia tersebut terjangkit penyakit ini. Rheumatoid arthritis dapat memengaruhi kemampuan penderitanya dalam melakukan aktivitas harian, seperti menulis, membuka botol, memakai baju, dan membawa barang. Peradangan sendi yang mengenai pinggul, lutut atau kaki juga dapat membuat sulit berjalan, membungkuk, atau berdiri.

Penyebab Rheumatoid Arthritis

Penyebab Rheumatoid arthritis adalah gangguan autoimun dimana penyakit ini disebabkan karena sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melawan infeksi, yang menyerang jaringan dalam tubuh pasien sendiri yaitu membrane sinovial di sendi. tetapi justru menyerang sel normal pada persendian dan membuat sendi terasa nyeri, bengkak, dan kaku. Walau alasan mengapa sampai sistem kekebalan tubuh keliru menyerang tubuh sendiri namun dalam rheumatoid arthritis masih belum diketahui secara pasti proses dan perjalanan penyakitnya.

Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya rheumatoid arthritis seperti faktor usia, hormon, genetika, lingkungan, obesitas dan kebiasaan merokok.

  1. Usia: Kebanyakan penderita rheumatoid arthritis berusia 40 tahun ke atas, tapi bisa juga menjangkiti orang pada usia berapa pun.
  2. Jenis kelamin: Pria lebih jarang terkena penyakit ini dibandingkan wanita.
  3. Genetika: Meskipun kecil pengaruhnya, mempunyai anggota keluarga yang menderita rheumatoid arthritis meningkatkan risiko seseorang untuk terkena penyakit ini juga.
  4. Merokok: Merokok dapat memicu berbagai macam penyakit dan kebiasaan buruk ini bisa meningkatkan risiko terkena rheumatoid arthritis.
  5. Obesitas: Seseorang dengan berat badan lebih memiliki risiko tinggi terserang rheumatoid arthritis, khususnya wanita berusia dibawah 55 tahun.
  6. Lingkungan: Walau belum sepenuhnya terbukti, faktor lingkungan dapat menyebabkan seseorang terserang rheumatoid arthritis karena berkaitan dengan kekuatan daya tahan tubuh.

Gejala Rheumatoid Arthritis

Gejala rheumatoid arthritis pada masing-masing orang berbeda dan bisa berubah seiring waktu, namun gejala yang sering timbul pada persendian adalah rasa kaku, kemerahan, bengkak, terasa hangat, dan nyeri. Rheumatoid arthritis harus segera ditangani karena jika penyakit bertambah parah, gejala bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya dan menyebabkan persendian bergeser atau bahkan berubah bentuk. Gejala lain rheumatoid arthritis adalah mata gatal atau perih, lemas, lesu, tidak bertenaga, nafsu makan menurun drastis, dan demam.

Penegakan Diagnosis Rheumatoid Arthritis

Gejala rheumatoid arthritis sama dengan beberapa penyakit lainnya, itu sebabnya sulit untuk mendiagnosis rheumatoid arthritis pada tahap awal. Ada beberapa tes yang bisa membantu mendiagnosis rheumatoid arthritis, yaitu pemeriksaan fisik, tes darah dan pemeriksaan radiologi.

1. Tes Darah: Sejumlah tes darah bisa menunjukkan indikasi rheumatoid arthritis, tapi tidak bisa mengonfirmasi secara pasti karena dapat meningkat pada beberapa penyakit lainnya. Berikut ini adalah beberapa tes darah yang bisa dilakukan.

a. C-reactive protein (CRP). CRP adalah sejenis protein yang dihasilkan oleh organ hati ketika sedang terjadi peradangan. Tes ini dilakukan untuk memeriksa kadar CRP dan melihat potensi penyakit yang dapat dihasilkan.
b. Laju endap darah (LED). Tes ini juga dilakukan untuk mendeteksi adanya peradangan dalam tubuh. Sampel darah akan diletakkan di dalam sebuah tabung. Ketika sedang terjadi peradangan, maka sel darah merah dalam sampel darah yang diambil akan jatuh ke dasar tabung lebih cepat dari biasanya.
c. Faktor rheumatoid dan antibodi anti-CCP (anti-cyclic citrullinated peptide). Ada sebagian penderita rheumatoid arthritis terbukti positif ketika faktor rheumatoidnya dan/atau antibodi anti-CCPnya diperiksa. Mereka yang terbukti positif untuk kedua unsur ini berisiko menderita kasus yang lebih parah.
d. Tes darah menyeluruh. Tes ini akan mengukur jumlah sel darah merah yang terkait dengan anemia. Para penderita rheumatoid arthritis biasanya mengalami anemia, tapi hal ini tidak berlaku sebaliknya.

2. Pemeriksaan Radiologi: Sejumlah tes pemindaian seperti ultrasound, pemindaian resonansi magnetik (MRI), maupun X-Ray, dapat dilakukan untuk memeriksa kerusakan dan peradangan pada persendian. Tes-tes ini juga dapat digunakan untuk mengawasi perkembangan kondisi dan membantu menentukan tipe arthritis.

Perawatan Rheumatoid Arthritis

Penderita rheumatoid arthritis hanya bisa melakukan perawatan dasar seperti mengubah pola gaya hidup karena hingga saat ini masih belum ada obat yang dapat menyembuhkan rheumatoid arthritis secara total, namun dengan perawatan yang tepat, penyebaran dan peradangan dapat dihambat. Perawatan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan terapi serta pengobatan jangka panjang untuk menghambat perkembangan dan gejala rheumatoid arthritis. Jika perawatan dengan terapi dan pengobatan sudah tidak efektif, maka operasi untuk memperbaiki masalah persendian dapat dilakukan.

Komplikasi Rheumatoid Arthritis

Ada beberapa kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi jika rheumatoid arthritis tidak ditangani dengan baik, seperti peradangan pada pembuluh darah, mata, jantung, dan paru-paru, kerusakan pada sendi sehingga jari tangan dan kaki menjadi bengkok-bengkok serta dapat menyebabkan nyeri pada tangan dan lengan disertai kesemutan dan mati rasa yaitu sindrom carpal tunnel.

Pencegahan

Pencegahan untuk rheumatoid arthritis sampai saat ini masih belum bisa ditentukan dengan pasti karena penyebab adalah auto imun yang masih belum diketahui juga penyebab pemicu auto imun.

Catatan redaksi: Meskipun artikel ini ditulis oleh tenaga medis profesional, konten ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti saran, diagnosis, atau perawatan medis profesional. Selalu mencari saran dari dokter Anda atau penyedia layanan kesehatan berkualifikasi lainnya atas kondisi medis yang sedang Anda alami. Jangan pernah mengabaikan nasihat medis profesional atau menunda dalam mencarinya karena sesuatu yang telah Anda baca di Situs Web ini.
Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Bagikan pendapat anda!



Bagaimana Reaksi Anda?
  • Suka
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Lucu
  • Kecewa
Berikan penilaian mengenai Artikel ini:
[Penilaian Rata-rata: 5]
Loading...
Tentang Penulis
Fathul Djannah  

dr. Fathul Djannah, Sp.PA. Alumni FK Universitas Hang Tuah Surabaya dan PPDS Patologi Anatomi Universitas Airlangga Surabaya

 Apa Komentar Anda?

Belum ada komentar.. Jadilah yang pertama!

Rheumatoid Arthritis, Bikin Jari Nenek Bengkok-bengkok

Fathul Djannah 4 menit
0