Kolektor Bank vs Nasabah, Dari Sudut Pandang yang Lain

Melalui surat pembaca ini saya ingin menyampaikan opini atas surat-surat yang isinya mengkritik kolektor kartu kredit atas etika penagihan. Saya juga bermasalah dengan kartu kredit, bahkan tidak hanya satu bank. Jumlahnya puluhan juta. Saat ini semua kartu saya bermasalah sehingga sudah pasti berhadapan dengan kolektor baik lapangan atau desk kolektor.

Selama ini setiap telepon dari mereka tidak pernah saya abaikan, selalu saya angkat, walaupun ujung-ujungnya tetap mendapat makian dan kata-kata keras, tapi alhamdulilah tidak pernah sampai kasar dan kotor, karena itikad baik saya yang dengan mudah dihubungi oleh pihak bank. Saya tidak pernah menghindar apalagi mematikan HP saya. Karena itu saya menghimbau kepada nasabah bermasalah, janganlah menghindar, kolektor juga sebuah profesi pekerjaan, mereka juga ditekan oleh pihak bank, jangan terlalu memojokkan para kolektor itu. Jelaskan saja kalau benar-beanr tidak mampu, dibarengi dengan kemauan untuk tetap membayar. Pasti akan ada jalan keluar terbaik tanpa harus menjelek-jelekkan kolektor.

Singkat cerita: Angkat telepon anda, jelaskan, dan bayar, titik. Semoga tulisan saya ini bisa menghilangkan kesan buruk kolektor yang sebenarnya pangkal masalahnya adalah susahnya menghubungi nasabah yang berurusan dengan kartu kredit.

Terima kasih.

Endra Hendaryanto
Sidoarjo, Jawa Timur

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian mengenai Artikel ini:
 [Penilaian Rata-rata: 3.3]
Bagikan pendapat anda!



Bagaimana Reaksi Anda?
  • Suka
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Lucu
  • Kecewa

7 komentar untuk “Kolektor Bank vs Nasabah, Dari Sudut Pandang yang Lain

  • 27 September 2017 - (08:23 WIB)
    Kalau ngga bayar kolektor Soak diatas g dapat komisi , pulang kantor dimaki2 sama istri lebih loyo lagi
    • 28 September 2017 - (15:02 WIB)
      Iya, dimarah2in sama istri loyo , letoy , terus jual rantang susun 5 buat beli cialis
  • 27 September 2017 - (15:30 WIB)
    Kalau memang masih punya hutang memang wajar kalau ditagih, cuma ada etika nya. BI kan sudah mengeluarkan etika dan aturan untuk debt collector. Lalu bagaimana jika debt collector menteror pihak keluarga yang tidak tau menahu ? apakah benar ?
    Mereka beralasan bahwa pihak keluarga yang di terror itu karena pemegang kartu menyantumkan nama nya sebagai penjamin, sedangkan pihak keluarga yang di terror waktu pemegang kartu apply kartu kredit masih berada di Sekolah dasar.
    Apakah benar ?
    Waktu apply saja pihak keluarga tidak di hubungi untuk konfirmasi data, tapi giliran ada tunggakan di teror.
  • 11 Oktober 2017 - (21:21 WIB)
    nah permasalahannya, adakah yang punya etika ? kalo dari awal tidak bisa di hubungi mungkin salah, namun, ketika meladeni, cacian nya itu bisa beberapa kali telpon, apa itu tidak membuang waktu kita dalam mencari nafkah? dalam menagih pun juga ada etika nya, saya lihat yang mengadu di media konsumen kebanyakan adalah mempermasalahkan etikanya dalam menagih.

 Apa Komentar Anda?

Ada 7 komentar sampai saat ini..

Kolektor Bank vs Nasabah, Dari Sudut Pandang yang Lain

Stefanus Endra 1 menit
7
Tags: Debt Collector
DC Bank Mega yang Meresahkan

Sebelumnya terima kasih banyak kepada Media Konsumen yang sudah memfasilitasi untuk mengungkapkan keluhan yang saat...

Tutup