6 Tahun Ikut AXA Mandiri, Setor 75 Juta Rupiah, Saldo Cuma 40 Juta Rupiah

Saya dan istri ikut AXA Mandiri mulai tanggal 28 Agustus 2013. Pembayaran per triwulan sebesar Rp3 juta (2 x Rp1,5 juta) secara autodebet. Jadi, dana yang telah di-autodebet mencapai Rp75 juta. Pada awal pembukaan polis, FA-nya menjanjikan bahwa pada tahun ke-6, saldo akan kembali ke posisi 100% dari total dana yang di-autodebet. Artinya pada tanggal 28 Agustus 2019, saldo seharusnya sekitar Rp75 juta (2 x Rp37,5 juta).

Namun nyatanya saldo pada tanggal 28 Agustus 2019 hanya Rp40 juta (Rp20.008.006,40 untuk polis saya dan asumsi Rp20 juta untuk polis punya istri). Setelah 6 tahun ternyata uang saya berkurang sampai Rp35 juta.

AXA Mandiri, ke mana uang saya yang Rp35.000.000?

Syamsi Syahbana
Singkawang, Kalimantan Barat

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Bagikan pendapat anda!



Bagaimana Reaksi Anda?
  • Suka
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Lucu
  • Kecewa
Berikan penilaian mengenai Asuransi AXA Mandiri:
[Penilaian Rata-rata: 1.6]
Tanggapan PT AXA Mandiri Financial Services (“AXA Mandiri”) atas Surat Bapak Syamsi Syahbana

Kepada Yth. Pemimpin Redaksi Mediakonsumen.com Di tempat Perihal : Tanggapan PT AXA Mandiri Financial Services (“AXA Mandiri”) Dengan Hormat, Sehubungan...
Baca Selengkapnya

Loading...

7 komentar untuk “6 Tahun Ikut AXA Mandiri, Setor 75 Juta Rupiah, Saldo Cuma 40 Juta Rupiah

  • 10 September 2019 - (16:43 WIB)
    Nilai pertanggungan asuransinya hanya 50 juta? Berarti harusnya premi buat asuransinya jg kecil, banyakan porsi buat investasinya. Tapi udah 6 tahun kok malah jeblok?! 🤔

    Buat pelajaran aja ke depannya pak, daripada ikutan unit link mending ikutan asuransi murni aja (jiwa, kesehatan, pendidikan, dll). Untuk investasi sebaiknya terpisah dari asuransi, bisa menabung emas, reksadana, dll.

    • 10 September 2019 - (20:12 WIB)
      maunya dapat manfaat perlindungan dan keuntungan investasi, tidak mau menanggung resiko rugi.

      kebanyakan nasabah asuransi itu awalnya terbuai mulut manis marketing dan kecewa pada saat sudah jatuh tempo, karena merasa dibohongi.

  • 10 September 2019 - (22:56 WIB)
    Itu tuh, di laporan transaksi ada kata “unit,” jumlah unit, harga unit, yang beginian ini… sudah lah… mau dibikin rame pun pasti kata-kata saktinya: “nilai unit tidak dijamin” & “performa di masa lalu tidak menjamin bagaimana performa di masa depan.”

    Lah masalahnya para “calon mangsa” kan dikasih gambaran performa yang lalu2, naik berapa ratus persen dsb. Terus kalau ternyata hal tersebut tidak menjamin bagaimana nantinya di masa depan (& memang benar, memangnya mbah duku…), lah lalu ngapain calon mangsa tersebut dikasih gambaran masa lalu tersebut LOL.

  • 11 September 2019 - (00:17 WIB)
    Begini pak syamsi, saya pernah mengalami hal yg serupa seperti anda pada saat saya awam mengenai asuransi di perusahaan asuransi lain, nilai yg saya terima tidak sesuai dg proposal di awal yg FA asuransi tsb katakan ke saya, malah jauh lebih kecil dr proyeksinya.

    setelah saya amati dan pelajari mengenai tentang unit link lebih mendalam sebenarnya simpel saja pak,
    Kita tidak akan pernah mendapatkan kembali 100% apa yg telah kita bayarkan di perusahaan asuransi klo harapan kita dari awal investasi bukan asuransinya,
    Bahkan bisa di bilang anggap saja cash back jika bapak tidak memakai manfaat asuransinya sampai kontrak habis, dpd asuransi tradisional jika pakai tidak pakai manfaatnya akan hangus,
    kecuali di sektor investasinya mengalami lonjakan kenaikan harga saham yg luar biasa besar, karena naik atau turunnya investasi di asuransi pasti akan tetap di potong premi tahunan yg telah bapak sepakati sesuai kontrak,
    contoh dalam hal ini jika bapak membayar Rp. 6juta/th/orang (4x pembayaran sebesar 1,5juta) namun nilai premi bapak rp. 803rb x 4bulan sekali = rp. 3,212,000 maka sistem unit link adalah memasukan memasukan dulu nilai 1,5juta tsb. ke investasi reksadana/ saham barulah mereka akan memotong asuransi 803rb/ triwulan, sehingga sebenarnya pembayaran asuransi bapak telah mencapai rp. 19.272.000 (803rbx4 pembayaran x 6th)
    sebenarnya itu biaya tetap(fix cost) yg bapak keluarkan selama ini terlepas bapak pakai/ gak manfaat asuransinya.

    hanya kebanyakan marketing asuransi tidak pernah membahas hal ini di depan secara transparan, takut gak laku kali hehehe.
    Sehingga klo normalnya bapak sdh keluar uang Rp. 37,500,000 – Rp. 19,272,000 (biaya asuransi selama 6th) =
    Rp 18,228,000 nilai inilah yg di investasikan bersih (dikelola ke resksadana atau saham
    ,belum terpotong di awal biasanya di akuisisi 100%, yg artinya di awal tahun kontrak tidak ada yg di investasikan)

    dan jika di lihat nilai bapak yg hanya terima Rp. 20,000,000 saja per orang setelah 6th maka ini tergolong investasi jenis konservatif alias main aman, bahkan cenderung lebih kecil dpd deposito di bank, namun akan terasa besar manfaatnya jika anda memakai maanfaat asuransi tsb.( hanya jika di lihat dr uang pertanggungannya yg kecil tidak bisa di bilang maksimal juga maanfaat yg di berikan, hmm, repot juga yah pak).

    saya juga melihat ada rider tambahan yg bapak bayar utk manfaat yg belum bapak jelaskan di berita ini, itu merupakan beban juga pak, sebisa mungkin di hilangkan saja klo boleh request, sehingga yg bapak bayar hanya full basic premi saja,
    Semoga penjelasan saya ini bisa membantu bapak, kedepan kita semua bisa lebih bijak memilih investasi yg lebih baik dan teliti sebelum membeli, Gbu.

    • 14 September 2019 - (09:47 WIB)
      Terimakasih penjelasan nya Pak. Setelah saya menulis di media ini, saya mendapat telpon dan sms dari pihak AXA Mandiri. Mohon pendapat Bapak tentang apa yang saya alami ini.

      Tgl. 11 Sept 2019, jam 15.08, ada telpon dari 021 3004000, mengaku Bpk Hadi dari AXA Mandiri Jakarta. Konfirmasi data saya dan istri : Nama, Tgl. Lahir, Alamat surat. Bertanya soal apa yang saya alami. Tidak ada penjelasan apapun dari beliau.

      Tgl. 12 Sept 2019, jam 10.00, ada telpon dari 0562 391208, mengaku Bpk Toni dari AXA Mandiri. Inti dari telpon ini adalah bahwa Bpk Toni ini menerima info bahwa saya melakukan keluhan dan ingin konfirmasi tentang keluhan saya. Disini Bpk Toni berkata bahwa di telpon tgl. 11 Sept 2019 kemarin saya berkata : “ada yang ikut AXA, dan membayar Rp. 100 jt, menerima Rp. 110 jt.” Ini saya bantah, karena ini tidak pernah ada.

      Tgl. 12 Sept 2019, jam 13.55, ada telpon dari 0821 48469252 ((Bpk Toni). Saya tau ini karena no sudah disimpan. Bpk Toni konfirmasi lagi bahwa ada perkataan saya soal “ada yang ikut AXA, dan membayar Rp. 100 jt, menerima Rp. 110 jt.” Ini saya bantah lagi karena ini memang tidak pernah ada. Bpk Toni berkata bahwa “bila ada laporan palsu bisa dilaporkan” dan beliau bertanya siapa FA yang menerima keluhan saya. Saya jawab, karena tidak pernah ada.

      Tgl. 12 Sept 2019, jam 18.15, ada telpon dari Bpk Toni tapi tidak terjawab karena lagi sholat. Nomor ini mengirim SMS sebanyak 4 kali dengan biaya yang akan dibebankan ke saya bila saya setuju menerimanya. Saya menolak. Jadi saya tidak tau apa isi sms nya.

      Tgl. 13 Sept 2019, jam 09.21, ada telpon dari Bpk Toni. Beliau bertanya apakah kemarin saya dapat telpon dari AXA Mandiri Jakarta. Saya jawab tidak ada. Beliau berkata bahwa AXA Mandiri Jakarta ingin segera penyelesaian. Bpk Toni menawarkan 2 pilihan.

      Pertama : Saya harus melanjutkan polis dan terus membayar premi tanpa ada penjelasan sampai kapan. Kedua : Saldo saya yang akan dibayarkan tetap dengan saldo terakhir.

      • 14 September 2019 - (12:21 WIB)
        Ini kok jadi ngeri, ada indikasi malah mau digiring ke ranah hukum dengan arah sebaliknya…
        Jadi semakin tidak respek dengan pihak termaksud. Apa memang begini cara mereka menanggapi permintaan info dari konsumen?
        Atau ada pihak yang ingin mengail di air keruh?

        Kalau saya jadi Bapak, saya sudah ngeri plus malas saja menghadapi perkembangan terakhir yang seperti ini, & akan saya tutup saja akun saya di situ (tarik saldo yang ada).

        Seperti yang sudah dijelaskan di kolom komentar ini, memang ya beginilah kondisi nasabah yang ikut “tabungan/investasi/whatever” model “unit.” Take it or leave it, karena memang gak ada ceritanya kalau nasabah mau minta uang kembali persis seperti semula (jumlah yang sudah disetorkan).
        Memang model “tabungan” ini ya seperti itu: besar kemungkinan malah duit berkurang. Anggap saja sebagai analogi: mirip seperti kita nabung di bank tapi saldo kita kecil, jadi bunga yang didapat lebih kecil daripada pajak + admin bank , jadi akhirnya saldo malah berkurang bukan. Ya dianggap seperti itu saja (tidak persis sama, saya cuma bilang “dianggap” saja).

        Kelihatannya kurang diberi penjelasan yang se-transparan & sejujurnya waktu awal2. Yah namanya juga sales/marketing, saya yakin Bapak juga ngerti model2 agen pemasaran yang seperti ini.

        Kalau perlu manfaat asuransinya, bisa pindah ke perusahaan/model asuransi yang berbeda, yang tidak dikasih embel2 investasi di asuransi tersebut.
        Kalau perlu manfaat investasinya, bisa pindah ke perusahaan/model investasi yang berbeda, yang tidak dikasih embel2 asuransi di investasi tersebut (deposito, emas, tanah dll).

 Apa Komentar Anda mengenai Asuransi AXA Mandiri?

Ada 7 komentar sampai saat ini..

6 Tahun Ikut AXA Mandiri, Setor 75 Juta Rupiah, Saldo Cuma 40 Juta Rup…

syamsi_syahbana <1 menit
7