Kartu Kredit Disalahgunakan oleh Oknum Bank Mega, Tagihan Dibebankan ke Saya

Saya semenjak 10 tahun yang lalu adalah pemegang kartu kredit Bank Mega. Karena merasa tidak pernah pakai, akhirnya kartu tsb saya tutup. Saya telepon CS Bank Mega, diberitahu nanti ada petugas dari Bank Mega yang akan ambil kartunya ke kantor saya. Kurir Bank Mega akhirnya datang di saat saya sedang sibuk karena awal bulan. Kartu saya serahkan dan kesalahan fatal saya, tidak menggunting kartu tersebut.

Bulan berikutnya datang tagihan, saya kaget karena saya lihat ada pemakaian dimana limit kartu kredit tersebut dihabiskan semua. Karena tidak merasa memakai kartu, dan sudah merasa menutup kartu, akhirnya saya buat laporan ke polisi, dan juga karena itikad baik saya datang ke kantor Bank Mega dan menceritakan kronologinya.

Saat itu Bank Mega, bersikeras saya harus membayarnya. Ya saya bilang, kenapa saya harus bayar sedangkan itu bukan saya yang pakai? Bertahun-tahun mereka capek menagih ke saya, sampai akhirnya hari ini tanggal 15 Juni 2020 orang Bank Mega datang ke rumah dan menagih.

Karena saya tidak ada, mereka minta nomor telepon ke anak saya. Mulailah mereka telepon saya,dijelaskan juga percuma, mereka bilang ayo adu data aja, karena menurut mereka saya yang pakai. Ya iyalah karena kartu saya yang dipakai oknum tsb tentu aja datanya pasti atas nama saya.

Karena kasusnya sudah lama, saya harus cari lagi laporan ke polisi. Di sini saya ingin menghimbau Bank Mega, harusnya kalian cari oknumnya, bukan saya yang dikejar-kejar. Kalau memang saya yang pakai, pasti saya bayar ngapain saya harus lapor polisi?

Untuk OJK , kasus seperti saya ini bagaimana solusinya? Karena saya capek ditagih-tagih dan tidak selesai-selesai dari dulu. Saya harus lapor lagi ke mana? Saya tidak akan bayar, karena itu bukan saya yang gunakan. Mohon untuk OJK berikan solusinya.

Terima kasih.

Lita Asiati
Jakarta Utara

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian mengenai Bank Mega:
[Total:78    Rata-Rata: 1.7/5]
Tanggapan Bank Mega atas Surat Ibu Lita

Kepada Yth. Redaksi mediakonsumen.com Sehubungan dengan surat Ibu Lita Asiati di mediakonsumen.com (19/6), “Kartu Kredit Disalahgunakan oleh Oknum Bank Mega,...
Baca Selengkapnya

Loading...

26 komentar untuk “Kartu Kredit Disalahgunakan oleh Oknum Bank Mega, Tagihan Dibebankan ke Saya

  • 19 Juni 2020 - (09:13 WIB)
    Permalink

    Saya juga ingin menutup kartu kredit Bank Mega, saya tidak pernah pakai, namun sy harus bayar annual fee,..jadinya saya tetap bayar, dan semua kewajiban itu sy sdh lunasi semua,.

  • 19 Juni 2020 - (13:16 WIB)
    Permalink

    Aduuuh,,,, mbak Litaaa,, mbak Litaaa,,
    ini sudah jelas kesalahan kamu, kenapa juga kartu kredit fisik kamu berikan kepada orang lain..?
    PERLU DI INGAT BAHWA, BANK TIDAK AKAN MEMINTA KARTU KREDIT FISIK, PIN, CVV, OTP DENGAN ALASAN APAPUN !
    Kalau ada orang yang meminta kartu kredit, pin,cvv, otp, itu sudah pasti PENIPUUUU…!
    UNTUK MENUTUP KARTU KREDIT BANK TIDAK AKAN MEMINTA KEMBALI KARTU KREDIT FISIKNYA KARENA BANK BISA MENUTUP/MENONAKTIFKAN KARTU KREDIT DARI SISTEM (BY SISTEM).
    harusnya gali informasi dulu sebelum menutup kartu kredit biar kita paham, di internetkan banyak ilmu yang bermanfaat tapi gratis…

      • 20 Juni 2020 - (07:05 WIB)
        Permalink

        Pak Fayakun, memang ngak semua konsumen sepintar anda. Ngak semua konsumen tukang kredit yg ngerti seluk beluk kartu kredit, dan harus diakui pihak bank maupun oknumnya sering kali memanfaatkan ini dengan tidak memberikan informasi yg jelas. Konsumen juga berhak atas informasi yg jelas.

        Kalau saya baca, ini kejadian lbh dari 10 tahun lalu. Pengetahuan masyarakat ttg CC tidak seperti sekarang tentunya. Dia sendiri mendapatkan petunjuk ttg menyerahkan kartu kan dapatnya dari CS, jd buat pengguna baru CC ya mungkin saja dia nurut2 aja dengan apa yg diminta oknum CS. Lagipula 10 tahun lalu kan campaign bank tentang ‘jangan memberikan kartu, password, cvv, dll ke siapapun bahkan petugas bank’ baru massive dilakukan bank beberapa tahun terakhir. 10 tahun lalu pengetahuan masyarakat ttg ini masih lemah dan oknum banyak memanfaatkan ketidakpahaman masyarakat ttg ini.

        Saya juga merasa ibu ini dalam posisi yg sulit, tapi kalau saya jadi ibu saya akan menolak membayar penggunaan yang memang tidak saya lakukan. Adalah kesalahan pihak bank juga memungkinkan kartu kredit bisa digunakan tanpa harus menggunakan Pin, security nya lemah. Baru tahun ini bank mewajibkan pin. Jadi bukan murni salah konsumen juga kalau 10 tahun lalu kartu kredit sangat mudah dibobol hanya dgn meniru tanda tangan yg bisa dilakukan siapapun. Jika bank tidak menyarankan untuk memotong kartu ketika menutup pun itu saya pikir kesalahan bank. Saran saya bawa ke ranah hukum biar adil buat kedua belah pihak. Konsumen juga dilindungi hak nya oleh UU.

    • 19 Juni 2020 - (23:12 WIB)
      Permalink

      iya setuju, nasabah sgt bodoh sgt bodoh,,tuhh nssabah bisa dikatakn sgt bodoh , bnyk celah bodohnya ,

      • 20 Juni 2020 - (07:16 WIB)
        Permalink

        Pak Fayakun, memang ngak semua konsumen sepintar anda. Ngak semua konsumen tukang kredit yg ngerti seluk beluk kartu kredit, dan harus diakui pihak bank maupun oknum ya sering kali memanfaatkan ini dengan tidak memberikan informasi yg jelas dan mendidik.

        Kalau saya baca, ini kejadian lbh dari 10 tahun lalu. Pengetahuan masyarakat ttg CC tidak seperti sekarang tentunya. Dia sendiri mendapatkan petunjuk ttg menyerahkan kartu kan dapatnya dari CS, jd buat pengguna baru CC ya mungkin saja dia nurut2 aja dengan apa yg diminta oknum CS. Lagipula 10 tahun lalu kan campaign bank tentang ‘jangan memberikan kartu, password, cvv, dll ke siapapun bahkan petugas bank’ baru massive dilakukan bank beberapa tahun terakhir. 10 tahun lalu pengetahuan masyarakat ttg ini masih lemah dan oknum banyak memanfaatkan ketidakpahaman masyarakat ttg ini.

        Saya juga merasa ibu ini dalam posisi yg sulit, tapi kalau saya jadi ibu saya akan menolak membayar penggunaan yang memang tidak saya lakukan. Adalah kesalahan pihak bank juga memungkinkan kartu kredit bisa digunakan tanpa harus menggunakan Pin, security nya lemah. Baru tahun ini bank mewajibkan pin. Jadi bukan murni salah konsumen juga kalau 10 tahun lalu kartu kredit sangat mudah dibobol hanya dgn meniru tanda tangan yg bisa dilakukan siapapun. Saran saya bawa ke ranah hukum biar adil buat kedua belah pihak. Konsumen juga dilindungi hak nya oleh UU.

  • 19 Juni 2020 - (13:42 WIB)
    Permalink

    Saat serah terima kartu yg akan di tutup, apakah ada surat tanda terima dari petugas yang pickup? Apakah ada bukti CCTV di kantor saat kejadian?

  • 19 Juni 2020 - (15:09 WIB)
    Permalink

    Waduh..mau komen gimana yah..baru baca kali ini ada pengambilan kartu kalau mau tutup kartu kredit. Salahnya disini ya mbak..Kalau soal penagihan bank mega…ya sudah dibahas oleh banyak SP disini..memang BM paling keji, durhaka, dll. Tapi esensinya adalah kesalahan waktu penutupan mbak… bukan komplain penagihannya. Tidak pernah ada penutupan kartu ada pengambilan kartu, tidak pernah ada, bank manapun. Jadi disini kasusnya sudah beda, yaitu penyalahgunaan kartu. Secara hukum pun karena mbak sudah ngaku yg kasih kartunya, dan tidak diblokir dulu lewat call center, anda sudah sudah manuver ini. Kecuali kartu masih anda pegang waktu ada penyalahgunaan tersebut.

      • 19 Juni 2020 - (19:51 WIB)
        Permalink

        Ya tp krn itu arahan dari cs bank mega nya, sblm tutup sy tanya prosedur nya gmn utk tutup kartu, di arahkan spt itu tp di srt pembaca ini tdk di jelasin secara detail sesuai srt saya oleh pengelola media konsumen, sblm tutup saya ada bbrp kali telp cs nya’ telp itu call center resmi bank mega’ masa sy ga percaya’ sebagai warga yg di lindungi hukum sy minta bank mega utk keluarkan rekaman via telp itu’ dan saya jg minta utk cek ttd di struk edc yg di pakai utk belanja’ apa kah mmg itu ttd saya’ hrs di buktikan ke bareskim polri’ mmg saya akui saya ada kelalaian tp secara nyata sy konfirmasi ke CS b.mega mmg kartu saya sudah di tutup, intinya saya berpikir kartu di close tidak bs di pakai lagi. Kasus ini sudah dari 11th yang lalu, bank mega ada tagih ke saya, tapi di tahun2 berikut nya tidak pernah telp dan tagih lagi.
        Tiba2 setelah 11 thn berlalu..mengirim debt colector utk menagih ke saya. Ini yang saya herankan. Jadi penutupan kartu ini sy lakukan di 11 thn yang lalu itu mksd saya. Bkn baru2 ini.di sini saya hanya minta keadilan krn saya tidak pernah memakai kartu tersebut.

        • 19 Juni 2020 - (20:11 WIB)
          Permalink

          Begitu ya bu…ya pertama ini buat pengalaman saja, hati2 dgn KK…, kedua kalau soal tagihan, karena ini KK/hutang tanpa agunan..keputusannya ada di tangan ibu, bukan orang lain atau OJK/Bank…kalau menurut saya sih, kalau benar sdh 11 tahun, paling tidak ibu cek dulu di OJK, minta SLIK ( sekarang semua online, tdk hrs datang ke kantor OJK ) benar ada tidak masih ada hutangnya. Kalau msh ada paling tdk 1x datang ke BM coba selesaikan dgn baik2. Setelah semua itu dilakukan.., baru ibu putuskan mau berjalan ke arah mana…karena KK adalah hutang tanpa agunan,…jadi semua keputusan ada di tangan ibu sendiri.

        • 19 Juni 2020 - (20:18 WIB)
          Permalink

          Wah bu Lita.. walaupun sudah 11 tahun yg lalu tetap nama ibu disistem masih ada utang sejumlah yg dipakai oleh si oknum tersebut. Contoh kaya ktp kita dikasi ke orang taunya dipakai untuk pinjol.. yg kena ya kita.. karena identitas nya punya kita. Persis deh kaya kasus cc yang ibu alami. Yang pake orang lain tapi yang terdata utang ya ibu. Saran saya sih lunasin bu. Lalu baru bisa tutup cc nya secara tuntas. Kalo gak ya nama ibu akan tetap ada di daftar tunggakannya bank tersebut.

          • 22 Juni 2020 - (02:40 WIB)
            Permalink

            Bapak hizkia maaf interupsi mengenai komentar Bapak saya rasa itu asumsi Bapak saja, untuk data diri KTP yang hilang dan dapat digunakan untuk mengajukan pinjaman online atau online credit tidak dapat begitu saja lolos tanpa vermuk atau Verifikasi Muka atau video atau foto diri langsung di aplikasi bersangkutan jadi jika hanya KTP meskipun saya tidak bilang KTP tidak bisa disalahgunakan benar KTP adalah termasuk data pribadi yang harus dijaga dan ada hukumnya jika disalahgunakan kecuali datanya palsu, tetapi untuk pinjaman online tidak cukup hanya dengan KTP tanpa verifikasi lain

        • 19 Juni 2020 - (23:17 WIB)
          Permalink

          smp kapan pun akn trs di tagih smp usia anda tiada klu anda di berikan umur 100 th ya smp 100 th, krn slm blm di tutup sempurna akn ada tagihan trs apa lg sdh ada pemakaian ,yg pasti kolek 5 di blacklis smua prbankn , mo kredit rumah , mobil dll tdk akn prnah disetujui lg. krtu kredit itu hrs tahu dulu saat diaktipkn sdh dianggap setuju akn resiko dan ngikutin cara kerja kartu. yg pke syp pun ya yg tggjawab nasabah tsb .jls pasal kelalaian kok

          • 22 Juni 2020 - (02:34 WIB)
            Permalink

            Maaf saya melihat komentar Bpk Fayakun ini sepertinya aneh, seperti memojokan penulis surat disini Ibu Lita, saya lihat anda berkomentar kontradiktif terhadap kasus Ibu Lita, dan sejak kapan hukum hutang piutang akan berujung ke Pidana semua hukum mengenai hutang piutang hanya akan merujuk ke Perdata dan tidak akan terjadi nasabah di pidana karena hutang nya tertunggak dari perusahaan finansial manapun jikapun ada berarti itu penipuan dan harus dipidanakan dengan pasal 378 dan ini baru bisa dipenjara.
            Dan satu lagi yang aneh Bapak Fayakun mengatakan jika ada catatan history gagal bayar di perbankan maka tidak dapat mengambil kredit kendaraan rumah dll melalui perbankan Bapak terlalu berasumsi bahwa kredit hanya dikeluarkan oleh perbankan saja sekarang sudah ada produk finansial diluar perbankan yaitu perusahaan Leasing dan Fintech online credit jadi jangan mempersempit obyektifitas, saya rasa Bapak ada hubungannya dengan Bank mungkin ya????

        • 20 Juni 2020 - (07:42 WIB)
          Permalink

          saya Macet KK BM, Hutang di Lising / Perbankan manapun (dengan agunan) masih oke saja tuh, mudah mulus prosesnya. kata surveyor kalo di KK BM macet tidak masuk track analisa mereka, (FYI)

    • 19 Juni 2020 - (23:25 WIB)
      Permalink

      polisi delik hukum apa, sdh jelas kelalaian yg pnya kartu kredit sendiri, delik perdata klu mo delik pidana justru dirinya sendiri yg kena pasal kelalaian , sdh jls dlm kartu kredit ada klausula yg bnyk tulisan kartu datang nempel kertas ada kwajibn ada hak dan ada hukum, kartu datang kan msih nempel di kertas isi tulisan yg bnyk itu disana , klu tdk di aktipkn aman tp krn diaktipkn sendiri sdh muncul hak dan kwajibn maupun resiko. mk ini nasabah sgt bodoh dan kakkeknya bodoh krn bodohnya sdh bnyk, diaktipkn ada klausula, dipke , kok diserahkn org lain, nutup kartu itu telpn klir minta bukti laporan setelah 1 bln cek lg prosesss proses sj atw sdh klirr, bru akn akn sdh dikira sdh close, atw proses proses itu blm . sempurna , bnyk bodohnya, dipke org lain kok suruh nyari , ya tgg jwb yg pnya kartu kelalaian delik hukum pidana, disitu mk kesalahan nasavah, mkkakeknya bodoh deh …

  • 19 Juni 2020 - (23:31 WIB)
    Permalink

    urusan kartu kredit itu di pusat jkt bagian kartu kredit mo apapun aktipkn .keluhan .nutup ya lewat telpn 24 jam cs nya, bkn ke cabang trdekat ini ciri org tdk paham, urusan kartu kredit di pusat cc, bkn di cabang, sdh bgtu diaktipkn bru muncul hak.kwajibn dan sanksi, krn yg ngaktipkn yg brsangkutan org lain tdk bisa. setuju donk dg aturan mesin cc tsb. nutup itu hrs sempurna jls, cek proses trs atw sdh benar benar tutup, itu smua hnya telpn cs 24 jam . dan kartu sdh di blok atw matikn digunting dan tdk boleh diksihkn ayp pyn trmsuk petugas bank. trnyata bnyk org pnya kartu kredit tp tdk tahu ilmu kartu kredit . mk jd petaka , ibarat mobil blm bs nyetir mobil dipkasa jln ya nabrak dan bwresiko

      • 22 Juni 2020 - (10:43 WIB)
        Permalink

        Bank Mega emang Ngawur,sy dpt telp dr bagian penagihan bank Mega,kataX Mertua sy pakai CC dith 2012,knp bs sy yg ditelp, sy aja menikah 2015.trs dpt nomer sy drmana jg. sy blokir aja semua nomer gk dikenal, tuh org” pengangguran kali ya. Sy di teror uda 3hr dr tgl 20 ganti” nomer. Cara Nagih Kasar dg neror plus mengancam. Mari berdoa agar bankX sgra TUTUP&TAUBAT. Makan uang haram terus.

        • 22 Juni 2020 - (11:18 WIB)
          Permalink

          Di tuntut saja mba, ibu saya hutang kartu kredit, jelas bukan saya tapi meneror dan menagih ke kantor saya, yang bingung ibu saya pegawai negeri di kementerian perindustrian bukannya menagih ke kantor ibu saya tapi malah ke kantor saya. ini saya mau ke kantor polisi sekalian ada bukti rekaman telp marah2 mereka dan bukti chat, mereka. Kalau mba diteror mba bisa rekam sebar data bisa langsung dilaporkan ke pihak kepolisian karena kan kalau sudah sebar data masuknya kepada pelanggaran UU ITE.

  • 20 Juni 2020 - (08:29 WIB)
    Permalink

    Klau saya lebih memilih tdk menggunakan kartu kredit,ada yg menawarkan saya utk menggunakan kartu kredit tapi saya tdk mau saya tolak mentah mentah,karena jika kita pakai dan kita salah menggunakannya yg ada tagihan makin banyak,klau saya lebih baik seadanya saja ibarat kata klau ada uang baru beli klau tdk ada ya jgn memaksakan.Jadi aman tdk harus bayar cicilan dan tdk ada dc yg ngancam/datang kerumah utk nagih.

  • 20 Juni 2020 - (14:42 WIB)
    Permalink

    Iya betul.. Saya jg pengguna kk sdh lama dan bnr sekali apa yg dikatakan saudara/i AS br belakangan tahun2 terakhir ini bank mengwajib kan pin dan memberitahu utk tdk menyerahkan kk ke pihak manapun. Saya sendiri dl jg pernah jd korban krn memberikan foto kartu kredit yg berisi no cvv belakang kartu.akhirnya kartu sy dipakai org laen namun tetap menjadi tanggung jwb sy walaupun sy sdh melapor dan bank tdk mau peduli akhirnya sy membayar tagihan namun setelah saya melunasi tagihan tersebut bulan berikutnya terjd lagi.akhirnya sy komplen dan ttp aja hasilnya mengecewakan sy kemudian sy tdk mau membayar nya namun ternyata sampe skrg nama sy di backlist di BI sebesar 1jt lbh waktu itu lalu smp saat ini sy menghapusnya jg ribet smp skrg ga kelar hrs ke bank yg bersangkutan sdgkan bank tsb sdh tdk beroperasi lg.utk hal spt ini smp saat ini kita sbg korban mmg tdk ada jalan yg bs membantu kita ujung2nya kita tetap hrs membayar.

  • 20 Juni 2020 - (19:27 WIB)
    Permalink

    Saya mengalami hal yg aneh juga dengan kartu kredit bank Mega. Sudah jadi nasabah kk 10 th lebih, tidak pernah buat kartu tambahan, tidak pernah pinjamkan kartu… tiba2 tgl 29 Feb lalu ada transaksi tarik tunai dari kk sy (sy tau krn asa info sms dari Mega). Padahal saat yg bersamaan posisi sy lagi di kantor, ada acara seremony dan kk ada di dompet saya… aneh tapi nyata. Saya buru2 blockir kartu dan komplain.
    Hasilnya? Setelah tagihan keluar, saya baru paham bahwa itu transaksi tarik tunai, padahal selama pakai kk, belum pernah saya melakukan tarik tunai. Saya sampai 3x telp komplain ke bank Mega…

    Baru kemarin saya dapat surat balasan dan menerangkan bahwa itu tanggung jawab saya sebagai pemegang kartu!
    Saya telp Mega Call, minta cek fakta dulu spt CCTV di ATM, dijawab kalau penarikan dilakukan pakai ATM bank lain. Sangat aneh buat saya.
    Apa iya sebagai obyek yg dirugikan, hanya mendapatkan penjelan dengan selembar surat bahwa itu jadi tanggung jawab saya? Bagaimana sy bisa percaya dgn keamanan sistem bank Mega kalau penjelasannya hanya seperti itu?

  • 22 Juni 2020 - (02:17 WIB)
    Permalink

    Saya ingin ikut komentar terhadap kasus Kartu Kredit Bank Mega Ibu Lita, Mengenai masalah Kartu Kredit Ibu sepertinya memang tidak dapat dipungkiri bahwa ada sedikit kelalaian oleh pemilik kartu kredit yaitu Ibu Lita sendiri dan atas ketidak tahuan atau pengetahuan pemilik kartu yang minim maka hal ini bisa dikatakan di manfaatkan pihak Bank Mega berhubung Ibu mengatakan informasi penutupan kartu kredit dengan menyerahkan kartunya didapatkan dari arahan Customer Service atau Call Center Bank Mega maka ini bukan murni kesalahan nasabah tetapi ada indikasi Bank Mega memanfaatkan kelemahan dari minimnya pengetahuan nasabah saat itu, dan anehnya lagi setelah 11 tahun yang lalu tagihan kartu kredit Ibu Lita baru muncul lagi disini saya lihat ada indikasi penipuan oleh Bank Mega jika benar tagihan resmi dan Debt Colector yang datang menagih datang dari pihak Bank Mega maka satu satunya jalan Ibu Lita harus melanjutkan ini ke pihak yang berwajib atau jika Ibu Lita memiliki penasihat hukum silahkan lanjutkan ke jalur hukum dan tidak perlu takut karena meskipun secara gamblang Ibu Lita sebagai nasabah secara prosedural memiliki kelalaian yang dengan mudahnya memberikan kartu kredit miliknya kepada kurir (Ini lah tersangka utama menurut saya) yang dikirim oleh Bank Mega (Jika benar ini dari pihak Bank Mega) melalui instruksi telepon Customer Service Bank Mega, Seharusnya Bank Mega memiliki informasi yang transparan terhadap nasabahnya jika ingin mengakhiri atau menutup produknya bukan memberikan informasi dan arahan palsu yang akhirnya menjadi malapetaka bagi nasabahnya dikemudian hari, Saran saya jika masih ada tagihan yang datang entah itu berupa surat apalagi Debt Collector Bank silahkan Ibu Lita langsung melakukan pelaporan tindak lanjut dengan tuduhan pemaksaan tagihan hutang piutang yang tidak sopan atau perbuatan tidak menyenangkan, saya lihat ada yang aneh dikasus Ibu Lita dan yang saya ingin perjelas lagi Ibu mengatakan ada tulisan yang disortir atau dipotong oleh Media konsumen nah ini seperti apa Bu tulisannya???

 Apa Komentar Anda mengenai Bank Mega?

Ada 26 komentar sampai saat ini..

Kartu Kredit Disalahgunakan oleh Oknum Bank Mega, Tagihan Dibebankan k…

oleh Lita Asiati dibaca dalam: 1 min
26