Menjadi Orang Indonesia di Bandara Sukarno Hatta

Tanggal 26 Januari 2016 di Bandara Sukarno Hatta Cengkareng dalam perjalanan menuju ke Istanbul selesai mengurus proses check in, saya menuju pintu imigrasi untuk melakukan pemeriksaan paspor. Saat itu ada 4 counter yang dibuka, 2 untuk Paspor WNI dan 2 untuk Paspor WNA seperti yang tertulis di setiap counter-nya.

Di counter Paspor WNI ada antrian sekitar 50 orang, dan di counter Paspor WNA hanya ada sekitar 3 orang yang antri saat saya datang. Tak lama kemudian di counter WNA 3 orang tersebut selesai menyelesaikan proses imigrasinya dan counter kosong sementara petugasnya asyik mengobrol. Saya berinisiatif menghampiri counter Paspor WNA untuk mengurangi antrian di counter Paspor WNI. Reaksi petugas imigrasi langsung bertanya “Kamu orang Indonesia?” Saya jawab benar. Petugas langsung mengatakann dengan tegas, “orang Indonesia antri di sana Mas!”. Saya pun kembali ke antrian 50 orang dan kedua petugas di counter kosong tersebut melanjutkan obrolannya yang sempat terganggu oleh kehadiran saya.

Saya memang paham bahwa petugas menjalankan tugasnya sesuai dengan tulisan yang terpampang di counter-nya “FOREIGN PASSPORT”.

Duabelas jam kemudian pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Ataturk Istanbul. Subuh sekitar pukul 5 waktu setempat, suasana bandara tidak terlalu ramai. Namun saat tiba di bagian pemeriksaan paspor imigrasi antrian sudah cukup panjang (dengan counter yang lebih canggih dibandingkan di Jakarta), selain sekitar 300 penumpang dari pesawat yang kami tumpangi dari Jakarta, ada juga penumpang dari pesawat dari negara lain yang mendarat di jam tersebut. Antrian pemeriksaan paspor cukup panjang. Sama seperti di setiap bandara selalu terbagi dua bagian. Satu untuk paspor penduduk setempat dan satu lagi untuk paspor WNA. Saat itu antrian di counter FOREIGN PASSPORT cukup panjang dan antrian pendek di counter TURKISH PASSPORT. Namun berbeda dengan di Jakarta, di sini selain petugas yang melakukan pemeriksaan paspor ada juga seorang kordinator petugas yang berdiri di depan antrian. Dan petugas tersebut dengan sigap mengarahkan kami untuk pindah antrian ke counter yang antriannya lebih pendek, dan itu adalah counter TURKISH PASSPORT meskipun paspor yang kami pegang adalah PASPOR INDONESIA.

Hal serupa itu saya alami juga di bandara di berbagai negara. Di Hongkong, Singapore, Beijing, Frankfurt dan banyak lagi, selalu ada petugas yang mengatur antrian pemeriksaan paspor, dan mengarahkannya antrian panjang ke counter yang antriannya lebih pendek meskipun itu bukan counter yang diperuntukannya. Sayangnya itu tidak terjadi di Bandara Internasional Sukarno Hatta Jakarta Indonesia. Terkadang saya merasa penghargaan sebagai orang Indonesia justru tidak saya dapatkan dari petugas yang sama-sama orang Indonesia. Ironis?

Di tengah peningkatan sarana fisik Bandara Sukarno Hatta yang sekarang masih berlangsung selayaknya sarana non fisik semacam itu mendapat perhatian khusus dari pihak yang berwenang. Ingat para petugas di Bandara, mulai dari petugas di check in counter sampai petugas imigrasi dan bea cukai, bertugas melayani penumpang dengan sebaik-baiknya dan senyaman mungkin. Bukankah mereka digaji oleh para penumpang pengguna bandara yang dibayarkan melalui PSC (Passenger Service Charge) dan pajak tentunya. Jadi wajar jika mereka melayani orang yang menggaji mereka dengan sebaik-baiknya.

 

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Bagikan pendapat anda!



Bagaimana Reaksi Anda?
  • Suka
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Lucu
  • Kecewa
Berikan penilaian mengenai Artikel ini:
[Penilaian Rata-rata: 0]
Tentang Penulis
Dadang Syahid  

Seorang konsumen dan peminat masalah konsumen. Memiliki harapan pemberdayaan konsumen khususnya dan warga negara Indonesia pada umumnya. Pernah menjadi praktisi pemasaran internasional di perusahaan swasta. Semua artikel dari akun ini adalah pengalaman, opini dan pandangan pribadi.

Satu komentar untuk “Menjadi Orang Indonesia di Bandara Sukarno Hatta

  • 19 Maret 2016 - (05:00 WIB)
    Pegawai negeri di Indonesia mentalnya ingin dilayani, bukan melayani.. Apa kabar “Revolusi Mental”?

 Apa Komentar Anda?

Ada 1 komentar sampai saat ini..

Menjadi Orang Indonesia di Bandara Sukarno Hatta

Dadang Syahid 2 menit
1