“Backpacker”-an ke Eropa di Bulan Ramadhan – Bagian 12

Bagian 12. Disneyland Paris Menggugah Kerinduan Kepada Cucu

Sambungan dari Bagian 11.

Hari lebaran di kampung halaman adalah kesempatan untuk bersilaturahim dengan sahabat, saudara dan keluara. Biasanya di perkotaan selepas silaturahim dilanjutkan dengan piknik ke tempat-tempat wisata, seperti ke taman-taman kota, kebun binatang, atau pantai. Di Jakarta Taman Mini, Ragunan dan Ancol adalah tempat favorit wisata di hari lebaran. Sementara saat berada di Paris, selesai mengikuti lebaran di KBRI Paris, berdua menuju ke Disneyland Paris di daerah Chessy, arah timur Kota Paris. Dari stasiun Mutte dengan menggunakan RER memakai waktu 95 menit untuk sampai di stasiun Disneyland. Hari beranjak siang dan udara terasa semakin panas karena memang sedang musimnya. Suasana tidak jauh berbeda sewaktu mengunjungi Disneyland Hongkong pada Agustus 2015 di musim panas seperti sekarang.

Berhubung sudah direncanakan sejak di tanah air, tiket sudah dibeli sebelumnya, harganya 72,24 euros per orang, Jadi terasa praktis sebab tidak harus ikut antrian panjang yang menghabiskan waktu. Turun dari kereta di stasiun yang tidak terlalu jauh dari gerbang utama Disneyland hanya butuh 3 menit saja untuk sampai. Bekal minuman dingin sudah dibeli dari mini market di luar lokasi sebab biasanya kalau di dalam harganya bisa berkali lipat, dengan kurs euro terhadap rupiah sekarang lebih baik mengirit. Dari sejak masuk hati sudah merasa tidak terlalu nyaman sebab tiba-tiba teringat cucu yang berada di tanah air. Tidak bisa tidak sebab memang hampir 80% atraksi dan permainan yang ada di sana memang diperuntukan untuk anak-anak usia ABG ke bawah. Sementara yang berkunjung saat ini seorang kakek dan anak bungsu yang sudah menginjak usia dewasa. Meski suasana di sana tetap membawa keasyikan tersendiri namun ingatan terhadap cucu-cucu tidak bisa dihilangkan.

“Andai saja Avin dan Icha ikut sudah tentu mereka bakal sangat senang,” ujarku ke si bungsu saat disambut tokoh-tokoh kartun favorit mereka.

Avin dan Icha cucu yang masih duduk di TK dan SD. Yang diajak bicara hanya tersenyum setuju. Begitu juga waktu masuk ke lokasi yang memerlukan nyali lebih seperti “roller coaster” pikiran melayang ke Nadia, cucu yang sudah kuliah.

Untuk sekedar menghibur hati dengan pikiran yang melayang kemana-mana, akhirnya menyibukkan diri dengan banyak mengambil foto dan video sambil menuliskan beberapa catatan penting untuk oleh-oleh catatan perjalanan. Berjalan berkeliling di lokasi yang begitu luas dalam keadaan panas terik di musim panas tidak terlalu terasa melelahkan, pertama terhibur dengan suasana yang sangat menarik, kedua bisa sambil ngemil makanan dan minuman ringan sebab sudah lebaran. Malah sekitar pukul dua siang pun tak berasa lapar, mungkin karena sebelumnya baru selesai melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Namun walau begitu tetap melangkahkan kaki ke sebuah restoran siap saji, sebuah restoran franchise dari negeri Paman Sam yang terkenal dengan ayam dan kentang gorengnya. Selesai mengisi perut dan mengumpulkan tenaga terus mencari barangkali ada mushola di sana. Sayang tidak ada, akhirnya mencari toilet kemudia berwudhu di wastafel untuk melaksanakan solat Dzuhur dan Ashar. Mencari tempat teduh di bawah pepohonan dan lokasi yang agak sepi dari lalu lalang pengunjung, solat dilaksanakan di atas sajadah tipis yang biasa dibawa bepergian.

Dalam panduan acara disebutkan pukul 1730 ada acara “Disney Stars on Parade” atau “Pawai Para Bintang Disney”. Sejak sejam sebelumnya jalan-jalan yang akan dilalui pawai sudah dipenuhi para penonton. Masing-masing ingin mendapat tempat terbaik untuk bisa melihat dan mendokumentasikan pawai. Menjelang waktu pelaksanaan panitia sibuk mengatur dan meminta penonton agak mundur agar tidak menghalangi lancarnya pawai. Yang mengagumkan penonton begitu tertib dan mudah diatur, tidak ada yang bersikukuh. Begitu saatnya tiba penontok bersorak gembira, musik yang menggelegar mengiringi setiap gerak langkah dan tari para bintang Disney yang sangat menawan. Anak-anak berseri-seri bertemu dengan bintang-bintang idolanya begitu juga orang dewasa yang mengantarnya ikut merasakan kebahagian yang dirasakan anak-anaknya dalam suasana yang dirancang begitu spektakuler. Pawai berlangsung sekitar 90 menit, meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Sehingga tapi tak merasa rugi, meski harus mengeluarkan biaya cukup mahal, (khususnya bagi penulis yang jalan-jalan sehemat mungkin ala “backpacker”). Selesai pawai jalan-jalan dilanjutkan ke Walt Disney Studio yang menyediakan taman-taman asri di Desa Disney.

Posted by Entjep Sunardhi on Wednesday, September 27, 2017

 

Pukul 21.00 meninggalkan Disneyland Paris untuk kembali ke hotel dengan membawa kesan yang bercampur aduk, tapi sebelumnya sempat mampir sebentar di taman kota Bordeaux. Setiba di hotel, sambil membayangkan rencana besok untuk menjelajahi Musée Du Louvre, salah satu museum terbesar di dunia, tak lama badan yang letih tertidur pulas.

Balubur Limbangan, 28 September 2017

Bersambung…

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian mengenai Artikel ini:
 [Penilaian Rata-rata: 4.5]
Bagikan pendapat anda!



Bagaimana Reaksi Anda?
  • Suka
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Lucu
  • Kecewa
Tentang Penulis
Entjep Sunardhi  

Pensiunan PNS. Aktif di komunitas FBS (Fiksimini Basa Sunda), PS (Pustaka Sunda) dan jurnalisme warga. Penyuka kuliner, jalan-jalan dan menulis.

 Apa Komentar Anda?

Belum ada komentar.. Jadilah yang pertama!

“Backpacker”-an ke Eropa di Bulan Ramadhan – Bagian 12

Entjep Sunardhi 3 menit
0
Tags: Backpacker, Disneyland Paris, Eropa, Paris
“Backpacker”-an ke Eropa di Bulan Ramadhan – Bagian 11

Bagian 11. Idul Fitri 1438 H di KBRI Paris Sambungan dari bagian 10. Dua kali...

Tutup