“Backpacker”-an ke Eropa di Bulan Ramadhan – Bagian 14 (Tamat)

Bagian 14. Bertandang ke Qatar yang Sedang Lara

Sambungan dari Bagian 13.

Enam jam lamanya pesawat Airbus A-357/941 Qatar Airways mengangkasa dari Bandara Charles De Gaulle Paris menuju ke Bandara Internasional Doha di Qatar. Pesawat dengan nomor penerbangan QR-38 dipenuhi penumpang berbagai tujuan baik yang berhenti di Doha, Qatar ataupun yang transit untuk melanjutkan penerbangan ke Malaysia, Indonesia, Cina, bahkan Jepang. Bagi yang transit ada yang langsung meneruskan dengan penerbangan berikutnya tapi ada juga yang berhenti (stop over) seperti yang penulis lakukan sekalian mengunjungi Kota Doha yang rencananya menjadi tuan rumah laga akbar sepakbola Piala Dunia ke 22 pada tahun 2022. Visa transit sudah diurus secara online sejak di tanah air persisnya pada tanggal 7 Juni 2017. Bagi penumpang pesawat Qatar Airways saat itu, fasilitas visa transit diberikan secara gratis, bahkan hotel bintang 4 pun diberikan secara cuma-cuma untuk menginap satu malam. Namun untuk soal visa, sejak 9 Agustus 2017, WNI tidak perlu mengajukan visa untuk berkunjung ke Qatar, tinggal datang dengan paspor yang masih berlaku minimal 6 bulan dan dengan menunjukkan tiket penerbangan berikutnya, WNI bisa mengunjungi Qatar untuk periode 30 hari tanpa visa.

Roda pesawat menyentuh landasan di “Hamad International Airport” pukul 05.50, Selasa 27 Juni 2017. Keadaan terminal terasa sepi tidak ramai seperti biasanya (membandingkan dengan pengalaman penulis saat transit di bandara ini selama 4 jam pada tahun 2007), mungkin akibat boikot yang baru saja diterapkan oleh negara-negara teluk tetangganya akibat tuduhan Qatar sebagai penyandang dana kaum ekstrimis.

Keluar dari bandara tidak menunggu bagasi sebab langsung ditransfer untuk penerbangan berikutnya QR-956 yang akan terbang ke Jakarta dini hari besok. Urusan imigrasi lancar setelah menunjukkan print-out visa dan pesanan hotel, namun sedikit kaget saat pihak imigrasi memeriksa tas tenteng lantaran ada sebotol anggur oleh-oleh dari Paris, pesanan seorang kenalan di Jakarta. Ternyata botol anggur tidak boleh dibawa masuk ke Qatar (karena mengandung alkohol) dan harus dititipkan di kantor imigrasi bandara, diberikan bukti penitipan untuk kemudian bisa diambil lagi saat akan terbang meninggalkan Qatar. Untuk urusan uang belanja dengan dinar selama di Doha gampang sekali, cukup menukarkan uang (rupiah atau euro) di money changer bandara dengan jaminan harga jual dan beli tetap sama (satu banding satu), tidak seperti money changer pada umumnya yang mengambil selisih harga jual dan beli.

Para petugas di bandara sangat ramah melayani mulai dari petugas imigrasi, keamanan bandara (aviation security, avsec), pramuniaga dan porter membuat nyaman pengunjung. Saat menanyakan taksi ke salah seorang petugas jawabannya sangat detail mulai dari lokasi hotel tujuan, pilihan taksi lengkap dengan harganya. Begitu juga saat tiba di hotel, resepsionis sangat ramah melayani, bahkan kamar yang sudah dipesan (secara gratis, komplimen dari Qatar Airways) pun dia up-grade ke kelas yang lebih tinggi tanpa diminta. Entah karena memang standar pelayanan begitu atau karena melihat tamunya (penulis) yang sudah berumur.

Sejenak beristirahat sambil tidur-tidur ayam di kamar hotel yang nyaman (maklum selama ‘backpacker’ di Eropa lebih sering menginap di hostel). Menjelang siang terbangun dan bersiap-siap menelusuri sudut-sudut kota Doha. Rencana awal untuk naik bus wisata ‘Hop On Hop Off Doha Bus’ tidak jadi terlaksana, sebab bus tidak beroperasi akibat turunnya jumlah wisatawan secara drastis (saat itu). Hawa musim panas di daratan Qatar terasa menyengat, yang kalau tidak disiplin minum air yang cukup bisa-bisa tubuh terkena dehidrasi.

Tujuan pertama adalah Souq Al Waqif, pasar yang terkenal di Doha tempat pengunjung bisa membeli aneka rupa pakaian tradisional, kerajinan, bumbu masak dan juga barang-barang suvenir untuk wisatawan. Lokasinya di sekitar pantai dekat dengan Museum of Islamic Art, juga Qatar National Museum. Pelatarannya terhampar luas namun tanpa teduh pepohonan sama sekali, tentu bisa dibayangkan betapa teriknya di sana.

Pelataran Souq Al Waqif
Souq Al Waqif

Saat hari beranjak senja, perjalanan dilanjutkan ke komplek The Pearl, sebuah kawasan pulau buatan hasil reklamasi yang diperuntukan kediaman kaum elit. Meski berada di daratan padang pasir, namun komplek itu tampak menawan, dilengkapi sarana sekolah, rumah sakit, mal termasuk bioskop “Novo Cinemas Imax”. Rasa lapar membawa penulis ke gerai kuliner khas Timur Tengah di dalam mal, sekalian mencari mushola untuk melaksanakan sholat.

The Pearl

Menjelang matahari tergelincir memasuki waktu magrib, perjalanan dilanjutkan ke Mesjid Jami Doha yang terletak di Al Qasr Street, Lokasinya agak jauh dari pusat keramaian seperti pusat perbelanjaan, komplek perumahan atau hotel. Kalau di tanah air teringat Mesjid Jami Pekanbaru yang juga pelatarannya sangat luas, hanya bedanya di Pekanbaru pelatarannya masih dihiasi pepohonan peneduh.

Grand Mosque, Doha

Selepas Isya keluar dari komplek mesjid cukup kaget mendapati suasana di luar sangat sepi. Menunggu taksi di Al Qasr Street tak satupun yang lewat. Melangkahkan kaki ke Al Rayyan road pun begitu juga, sepi, yang lewat hanya beberapa mobil pribadi dan truk barang. Juga tidak menemukan halte bus atau taksi yang mangkal. Padahal harus segera kembali ke hotel untuk bersiap ke bandara. Sekitar dua puluh menit luntang-lantung tak jelas, akhirnya menyerah juga, takut semakin nyasar sehingga memutuskan kembali ke kompleks mesjid. Ada seorang penjaga di mesjid, dengan kendala komunikasi bahasa, penjaga akhirnya menolong dengan menelepon taksi dengan menggunakan ponsel miliknya. Setelah tiga puluh menit taksi yang dipesan akhirnya tiba. Pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kuasa melalui penjaga mesjid yang membantu memesan taksi meski dengan komunikasi bahasa yang terbatas.

Tepat pukul sebelas malam, taksi membawa kami meninggalkan L’Etoile Strato Hotel by Warwick untuk menuju bandara. Urusan di imigrasi berjalan lancar termasuk mengambil oleh-oleh yang dititipkan. Pukul 02.20 dini hari Rabu, 28 Juni 2017, pesawat Qatar Airways QR-956 terbang membawa pelancong ‘backpacker’ dari petualangan di Itali, Spanyol, Perancis dan Qatar untuk kembali ke tanah air, tempat di mana hati selalu bermukim, tak peduli seindah apapun negara orang.

Balubur Limbangan, 6 Oktober 2017

*** Tamat ***


Catatan redaksi: Artikel ini adalah bagian terakhir dari 14 artikel seri catatan perjalanan “backpacker” penulis ke Eropa di bulan puasa (Ramadhan 1438H). Bagian pertama dari seri ini bisa dilihat di tautan ini: Backpacker”-an ke Eropa di Bulan Ramadhan – Bagian 1

Punya pengalaman jalan-jalan juga? Ayo bagikan dengan pembaca lainnya di sini.

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian mengenai Artikel ini:
 [Penilaian Rata-rata: 5]
Bagikan pendapat anda!



Bagaimana Reaksi Anda?
  • Suka
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Lucu
  • Kecewa
Tentang Penulis
Entjep Sunardhi  

Pensiunan PNS. Aktif di komunitas FBS (Fiksimini Basa Sunda), PS (Pustaka Sunda) dan jurnalisme warga. Penyuka kuliner, jalan-jalan dan menulis.

 Apa Komentar Anda?

Belum ada komentar.. Jadilah yang pertama!

“Backpacker”-an ke Eropa di Bulan Ramadhan – Bagian 14 (Tamat)

Entjep Sunardhi 4 menit
0
Tags: Backpacker, Doha, Qatar, Qatar Airways, Travel
“Backpacker”-an ke Eropa di Bulan Ramadhan – Bagian 13

Bagian 13. Tersesat di Museum Louvre Sambungan dari Bagian 12. Tak seujung rambutpun menyangka ada...

Tutup