Difteri, Momentum ‘Back to Nature’

Malam sudah larut, namun mata belum ingin terpejam sehingga kembali kubuka Whatsapp karena banyak chat yang belum dibaca. Aku tertegun membaca sebuah cerita. Sebuah cerita dari seorang Ibu, berasal dari Depok yang ditulis tanggal 8 Desember 2017. Bernama Danistya Lusi, dengan pengalaman pribadi serta adiknya yang terkena difteri pada saat usia 5 tahun dan 3 tahun.

“Masih terbayang kejadian ketika ibunda kami memaksa kami untuk makan, sebelum nasi disuapkan kami sudah menangis, ketika buliran nasi menyentuh kerongkongan terasa sakit luuaaar biasa. Kami serasa dicekik tidak bisa bernafas, semakin kencang tangisan kami dan berguling guling di lantai, beliau tidak sangkakan terjadi adegan seperti itu karena tidak tahu rasanya. Kami tidak dirawat di rumah sakit seperti yang disarankan tetangga kami karena tidak punya uang. Kami hanya minum obat yang diberikan waktu itu tahun 1971, mungkin belum ada vaksinasi difteri seperti saat ini.”

“Sekarang ‘kejadian luar biasa’ sedang berlangsung. Apakah sebabnya? Bukannya vaksinasi DPT difasilitasi negara, mudah dan gratis, kenapa ada musti penolakan? Saya yakin yang menolak itu adalah orang tua yang belum pernah merasakan penderitaan akibat difteri yang menghancurkan kerongkongan sehingga beberapa bulan kami menjadi bisu. Tegakah ayah bunda mengorbankan anak sendiri dan anak anak lain yang akan tertular?” Tulis ibu Danitya dengan penuh tanya.

Kenali Difteri dan Gejala-gejalanya

Difteri, penyakit menular yang diakibatkan oleh kuman Corynebacterium Diptheriae kembali mewabah. Kementerian Kesehatan sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) karena penyakit mematikan yang ini telah memakan puluhan korban jiwa, setidaknya di 20 provinsi. Kondisi ini mengkhawatirkan karena ditenggarai penyebabnya adalah keengganan orang tua memberikan imunisasi pada anaknya.

Sebenarnya difteri merupakan penyakit lama. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, sejak tahun 1990-an, kasus difteri di Indonesia ini sudah hampir tidak ada dan baru muncul lagi pada tahun 2009.

Difteri adalah penyakit infeksi yang menular. Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum. Selain itu penularan bisa terjadi melalui barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk dan dapat juga karena sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita.

Gejala yang muncul bila kita terkena difteri adalah batuk, demam dan menggigil yang tidak begitu tinggi 38ºC, sakit waktu menelan, perasaan tidak nyaman, suara menjadi serak, hidung berlendir. Selanjutnya dapat memberikan gejala seperti munculnya pseudomembran atau selaput yang berwarna putih keabu-abuan yang mudah berdarah jika dilepaskan pada amandel dan tenggorokan. Hal ini disebabkan karena bakteri difteri akan menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel yang mati inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan.

Gejala yang lain adalah masalah pernapasan dan kesulitan menelan, pembengkakan pada kelenjar getah bening leher dan jaringan lunak leher yang disebut ‘bullneck‘, gangguan penglihatan, bicara yang melantur, kulit pucat, berkeringat dan jantung berdebar. Dalam kasus yang sudah lanjut, infeksi dapat menyebar ke organ tubuh lain seperti jantung dan sistem saraf. Infeksi kulit juga ditemukan pada beberapa pasien. Komplikasi yang dapat terjadi adalah kerusakan pada otot jantung (miokarditis), kerusakan pada saraf (polineuropati), kelumpuhan, infeksi paru, obstruksi pernapasan (gagal napas) bahkan lebih lanjut, difteri dapat merenggut nyawa walaupun telah mendapatkan pengobatan.

Untuk menegakkan diagnosis difteri, awalnya dokter akan menanyakan beberapa hal seputar gejala yang dialami pasien. Dokter juga dapat mengambil sampel dari lendir di tenggorokan, hidung, atau ulkus di kulit untuk diperiksa di laboratorium.

Apabila seseorang diduga kuat tertular difteri, dokter akan segera memulai pengobatan, bahkan sebelum ada hasil laboratorium. Dokter akan menganjurkannya untuk menjalani perawatan dalam ruang isolasi di rumah sakit. Lalu langkah pengobatan akan dilakukan dengan 2 jenis obat, yaitu antibiotik dan antitoksin.

Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati

Cara terbaik mencegah difteri adalah dengan vaksin. Di Indonesia, vaksin difteri biasanya diberikan lewat imunisasi DPT (Difteri, Tetanus, Pertusis) sebanyak lima kali semenjak bayi berusia 2 bulan. Anak harus mendapat vaksinasi DTP lima kali pada usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, dan usia 4-6 tahun. Untuk anak usia di atas 7 tahun diberikan vaksinasi Td atau Tdap. Imunitas terhadap difteri berkurang seiring waktu, dan suntikan booster lebih lanjut mungkin diperlukan.

Walaupun dapat ditangani oleh dokter dan tenaga medis, namun akan jauh lebih baik bila kita berperilaku sehat dan mencegah datangnya difteri. Tidak sulit, beberapa langkah dapat dilakukan sendiri seperti membiasakan mencuci tangan agar segala penyakit dapat dicegah dari benda-benda terpapar yang kita sentuh, dan konsumsi asupan nutrisi dan vitamin yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh.

Orang bijak berkata, selalu ada hikmah dibalik sebuah peristiwa atau musibah. Difteri telah menjadi berita yang menakutkan dan ada di sekitar kita. Momentum KLB ini adalah “peluang” di satu sisi bagi siapapun yang mampu mengedukasi dan menawarkan semua hal yang terkait antitesis dari gaya hidup serba instan. Artinya siapapun, atau apapun yang menawarkan life style atau gaya hidup yang sehat akan menjadi tren yang akan menjadi berkah bagi orang orang yang cerdas dan berpikir. Momentum untuk ‘Back To Nature‘.

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian mengenai Artikel ini:
 [Penilaian Rata-rata: 4.4]
Bagikan pendapat anda!



Bagaimana Reaksi Anda?
  • Suka
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Lucu
  • Kecewa
Tentang Penulis
Fathul Djannah  

dr. Fathul Djannah, Sp.PA. Alumni FK Universitas Hang Tuah Surabaya dan PPDS Patologi Anatomi Universitas Airlangga Surabaya. - Dosen FK Universitas Mataram, NTB sejak 2003. - Kepala Instalasi Laboratorium Patologi Anatomi RSUP NTB sejak 2010.

Satu komentar untuk “Difteri, Momentum ‘Back to Nature’

 Apa Komentar Anda?

Ada 1 komentar sampai saat ini..

Difteri, Momentum ‘Back to Nature’

Fathul Djannah 3 menit
1
Tags: Difteri, gaya hidup sehat, Kesehatan, penyakit menular, vaksin DPT
Kasir Apotik Century Raden Saleh Tidak Jujur

Assalamualaikum, Teruntuk Manajemen Apotik Century. Pada tanggal 20 November 2016 saya membeli sebuah alat tes kehamilan...

Tutup