#EndGame: Ramadhan untuk Rekonsiliasi

Oleh M. Ramadhani

Antrian penggemar serial film Marvel Studio mengular di studio XXI salah satu mall di kota ini. 24 April 2019 menjadi hari pemutaran perdana seri terakhir super hero Amerika: #Avengers:Endgame. Nasib heroik Tony Stark sang Iron Man di penghujung film sampai membuat anak gadisku berurai air mata , yang sudah mengantri tiket dan menanti premier film ini sejak seminggu sebelumnya. Heboh dan exciting banget.

Sebaliknya di panggung yang berbeda: 17 April 2019 sudah dianggap sebagai jawaban akhir dari pertarungan pemilihan pemimpin bangsa ini. Ajang Pilpres digelar. Begitu melelahkan menunggu hitung mundur menuju 17 April tersebut. Setidaknya 8 bulan negeri ini terpolarisasi menjadi 2 kutub: 01 vs 02. Cebong vs Kampret. Asumsinya tanggal tersebut dengan teknik quick count, jawaban tersebut tidak serta merta diterima. Ada saling klaim. Ternyata pertarungan belum usai. Masih berlanjut quick count versus real count. Permainan terpaksa diperpanjang hingga 22 Mei mendatang. Waktu yang tidak sebentar untuk yang terbawa suasana menang. Sekaligus menegangkan bagi yang juga mengklaim menang versi real count. Uniknya, tanggal tersebut katanya bertepatan juga dengan salah satu tanggal penting umat Islam: 17 Ramadhan. Hari turunnya kitab suci Al-Quran. Salah satu peristiwa yang menyebabkan Bulan Ramadhan menjadi Bulan Istimewa.

Ya tidak terasa Ramadhan kembali tiba. Marhaban Ya Bulan Ramadhan. Bulan penuh rahmat, berkah dan pengampunan. Bulan melawan nafsu dan angkara murka. Belajar mengendalikan diri. Sehingga ada yang memaknai secara politis bahwa Ramadhan tahun ini adalah sekaligus adalah Bulan rekonsiliasi. Rekonsiliasi pasca pertandingan adalah hal yang lazim. Ibarat dalam pertandingan sepak bola, begitu peluit panjang wasit berbunyi, pelukan dan salaman kepada lawan adalah ritual wajib. Saat tanggal 22 Mei mendatang, adalah peluit panjang setelah perpanjangan waktu dilalui. Suka tidak suka harus diterima. Jika biasanya cukup ada pidato kemenangan, seharusnya juga perlu ada pidato kekalahan.

Memulai Rekonsiliasi: Diplomasi Buka Bersama

Entah kebetulan atau tidak, tentu saja, siapapun pemenangnya nanti atau siapapun yang kalah, tentu tidaklah bisa mengabaikan suasana ghiroh dan aura kesucian Bulan Ramadhan. Di mana kemampuan menahan diri (self control) dituntut lebih dari biasanya. Sang pemenang menyampaikan pidato kemenangan yang tidak menjatuhkan, sebaliknya pidato kekalahan yang penuh ksatria mengakui keunggulan dan kemenangan lawan. Belajar dari tradisi “guru demokrasi” dunia: Negara AS, sehari setelah pemilihan Presiden AS Tahun 2016 lalu, Hillary Clinton yang dijagokan dalam banyak survei ternyata harus kalah oleh Donald Trump. Dalam suasana kesedihan yang mendalam, Hillary menyampaikan pidato kekalahannya menyebutkan 3 (tiga) hal yaitu: Pertama, menyampaikan terima kasih dan kecintaan mendalamnya kepada pendukungnya, tim pemenangannya dan para relawan. Kedua, menegaskan bahwa dia telah menyampaikan ucapan selamat kepada rivalnya, Donald Trump dan ini yang paling mengejutkan adalah sikap kenegarawanannya dengan menawarkan dirinya untuk menjalin kerjasama dengan Trump demi kepentingan Negara dan sekaligus berharap agar Trump sukses memimpin AS. Tiga hal utama pidato kekalahan ini menjadi komunikasi untuk rekonsiliasi yang sangat penting guna meredam bara yang menyala akibat polarisasi dukungan dan kepentingan (Kompas, 23/04/2019).

Langkah langkah komunikasi rekonsiliasi, mungkin tidak bisa dilakukan secara terburu buru. Upaya yang dimulai oleh pihak Tim Kemenangan Nasional (TKN) dengan mengirim utusan untuk menemui Prabowo Subianto, meskipun berniat baik namun sepertinya perlu “jeda waktu” untuk bisa lebih tenang menerima hasil quick count. Langkah komunikasi awal menuju rekonsiliasi ini justru dianggap “kesombongan” dalam persepsi pihak yang sementara dianggap kalah dan tentu saja ditolak. Sepertinya ajang silaturrahim dan diplomasi “meja makan” dalam buka bersama di bulan ramadhan sepertinya akan menjadi langkah elok untuk memulai rekonsiliasi sambil menunggu real count KPU dan puncaknya adalah momentum Idul Fitri.

Menciptakan Musuh Bersama

Kembali ke Avengers: Endgame. Dalam seri kisah Captain America:Civil War, Steve Rogers awalnya bermusuhan dengan Tony Stark, tokoh Iron Man. Akhirnya dapat bersatu kembali untuk melawan musuh bersama yang lebih besar yaitu Thanos, karena tokoh ini berprinsip untuk mencapai kemakmuran dengan upaya yang radikal dan revolusioner. Menghancurkan separuh populasi dari alam semesta.

Menciptakan musuh bersama bangsa, merupakan langkah penting untuk memulai rekonsiliasi. Sosok Joko Widodo dan Prabowo adalah tokoh terbaik bangsa saat ini yang dijadikan sosok hero yang perlu disatukan untuk melawan musuh bersama. Apakah musuh bersama bangsa: kemiskinan, korupsi, neo kapitalisme, terorisme dan ancaman peredaran narkoba. Dalam setiap debat dan kampanye isu-isu ini adalah menjadi narasi yang disuarakan baik oleh Jokowi maupun Prabowo. Tidak ada perbedaan yang subtanstif dari kedua tokoh bangsa ini. Sepertinya hanya soal style dan cara menarasikan. Narasi ala Jawa Solo yang lemah lembut, alon alon asal kelakon dibandingkan dengan narasi sang komandan perang dengan gaya Jawa Banyumasan, Bataknya Jawa, yang agak keras dan tegas. Semangat yang berapi api dengan langkah langkah yang sedikit ekstrim. Langkah ekstrim tentu akan memberi dampak perubahan dan masa transisi yang besar kemungkinan akan mengganggu “zona nyaman” bagi sebagian pihak dengan kondisi “status quo”. Sepertinya kembali hanya soal kepentingan-kepentingan kecil para pengikut dan pembisik yang “menumpang” dalam kepentingan yang belum tentu sama dalam kepentingan bangsa dalam barisan besar melawan musuh bersama tadi.

Penutup

Bulan Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Pengumuman resmi real count KPU tinggal beberapa minggu lagi, seriring dengan bertambahnya keseruan dan rekor baru jumlah penonton Film Avengers: EndGame. Ketika Bulan suci Ramadhan di saat setan dan iblis dibelenggu, emosi dikendalikan, silaturrahim dan kebersamaan dihidupkan, tingkat keimanan di tingkat puncak tertinggi, pada saat itu pulalah tingkat kepasrahan dan tawakal akan meningkat. Apapun hasil real count KPU tanggal 22 Mei mendatang, yang bisa saja hasilnya sesuai dengan quick count atau justru sesuatu yang tidak terduga, seperti jalan cerita film Avengers: EndGame yang selalu mengejutkan penontonnya.

Apapun itu, semoga akan berakhir dengan damai dan semakin cinta pada Indonesia 3000 kali dari tokoh tokoh elit bangsa sebagaimana pesan terakhir dari Iron man pada anaknya “I love you 3000 times” sebagai penutup dari film Avengers:End Game.

Marhaban ya Ramadhan….Semoga bulan Ramadhan menjadi momentum menuju menjadi puncak rekonsiliasi di hari Idul Fitri. Mengulang foto viral Jokowi dan Prabowo berpelukan dalam balutan bendera merah putih di kala Asian Games tahun lalu.

*Penulis adalah pendukung 02

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Bagikan pendapat anda!



Bagaimana Reaksi Anda?
  • Suka
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Lucu
  • Kecewa
Berikan penilaian mengenai Artikel ini:
[Penilaian Rata-rata: 3.8]
Tentang Penulis
Muhammad Ramadhani  

Muhammad Ramadhani,ST., M.Si - S1 di FTI UII Jogjakarta dan S2 di Universitas Hasanuddin Makasar jurusan Manajemen Perkotaan. - PNS di Kantor Bapeda Pemkot Mataram NTB sejak tahun 2000. Bagian Sarana dan Prasarana Kota

 Apa Komentar Anda?

Belum ada komentar.. Jadilah yang pertama!

#EndGame: Ramadhan untuk Rekonsiliasi

muhammad ramadhani 4 menit
0