“Backpacker”-an ke Eropa di Bulan Ramadhan – Bagian 2

Bagian 2. Marmer Italia dari Altissimo Passo del Vestito

Sambungan dari bagian 1.

Akibat pengaruh jetlag dan penyesuaian jam tubuh, pagi ini tidak sempat sahur karena waktu sahur sudah terlewat saat terbangun dari tidur lelap. Padahal rencana kegiatan hari ini adalah menemani kru film melakukan pengambilan gambar di pusat penambangan marmer di puncak Altissimo Passo del Vestito yang pastinya bakal menguras tenaga.

Sepanjang perjalanan dari hotel ke lokasi penambangan disuguhi pemandangan menarik berupa karya-karya nan indah berupa patung, meubelair juga bangunan yang terbuat dari marmer terlihat berdiri dengan begitu megah. Begitu juga puluhan pabrik pengolahan marmer yang mengolah bongkahan batu-batu besar menjadi marmer siap pakai terlihat berjejer di sepanjang jalan. Italia memang terkenal sebagai salah satu pemasok marmer kelas dunia, bahkan Mesjid Nabawi di Madinah dan Masjid Al Haram di Mekkah keperluan marmernya banyak dipasok dari Italia.

Beragam hasil karya dari marmer tersebar di berbagai sudut kota

Jalan menanjak penuh kelokan mengingatkan pada jalan di Puncak Bogor atau Kelok 44 di Maninjau, Sumatera Barat tapi tak terasa mengkhawatirkan. Pertama karena kondisi jalan yang mulus terpelihara, kedua karena kendaraan yang dipakai begitu prima tak terasa kepayahan sebab digunakan sesuai dengan kapasitas daya angkut yang sesuai aturan. Tak ada yang berani melanggar sebab hukum di sini diterapkan dengan konsisten.

Perjalanan ke Altissimo Passo del Vestito

Rombongan kru film beserta pemain harus berhenti sebelum memasuki terowongan Del Cipollaio yang panjangna 1150m. Yang bisa melanjutkan perjalanan ke puncak tempat penambangan marmer hanyalah sutradara, juru kamera, juru rias, produser dan pemain bersangkutan, itu pun harus menggunakan kendaraan proyek. Pihak pengelola tidak mengizinkan bus rombongan masuk ke lokasi sebab khawatir mengganggu lalulintas truk-truk besar pengangkut marmer.

Pintu terowongan Del Cipollaio

Usai syuting di lokasi penambangan diteruskan dengan beberapa pengambilan gambar tambahan di beberapa lokasi dalam perjalanan kembali ke hotel. Rombongan baru bisa sejenak melepas lelah sekitar pukul 14.00 di area istirahat di La Rizvolda. Selanjutnya kami menuju Cassa di Risparmio di Lucca sebuah pusat perbelanjaan, lazim disebut piazza dalam bahasa Italia. Ada gereja kuno, gedung bioskop kuno juga pasar tradisional yang masih aktif. Di lokasi ini pula pengambilan gambar untuk beberapa adegan dilakukan di kafe di sebelah gereja di depan pertokoan.

Satu hal yang sangat berkesan dari perjalanan hari ini adalah menyaksikan langsung betapa terpeliharanya lingkungan alam yang asri menghijau oleh pepohonan. Lokasi penambangan dan pabrik pengolahan begitu apik tak terlihat semrawut bahan baku atau limbah pabrik. Begitu juga laju kendaraan proyek tidak terganggu dengan hilir mudik kendaraan pribadi atau angkutan wisata. Semua taat dengan aturan yang ada, tak ada yang minta diistimewakan.

Pallazzo Di Mediceo Di Seravezza

Selesai kegiatan syuting hari pertama sekitar matahari mulai condong ke barat, meski waktu baru menunjukkan pukul 19.00. Tiba di hotel saat hari mulai beranjak gelap, saatnya berbuka puasa, waktu magrib pukul 21.07. Seperti ditulis di tulisan bagian pertama, hari pertama di Eropa tidak sempat melaksanakan sahur akibat kesiangan bangun, jadi kalau dihitung total jam berpuasa hari ini hampir 24 jam!

Bersambung ke bagian 3

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Bagikan pendapat anda!



Bagaimana Reaksi Anda?
  • Suka
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Lucu
  • Kecewa
Berikan penilaian mengenai Artikel ini:
[Penilaian Rata-rata: 5]
Tentang Penulis
Entjep Sunardhi  

Pensiunan PNS. Aktif di komunitas FBS (Fiksimini Basa Sunda), PS (Pustaka Sunda) dan jurnalisme warga. Penyuka kuliner, jalan-jalan dan menulis.

 Apa Komentar Anda?

Belum ada komentar.. Jadilah yang pertama!

“Backpacker”-an ke Eropa di Bulan Ramadhan – Bagian 2

Entjep Sunardhi 2 menit
0