“Backpacker”-an ke Eropa di Bulan Ramadhan – Bagian 3

Bagian 3. Hampir Kecopetan di Menara Miring Pisa

Sambungan dari bagian 2

Pagi 17 Juni 2017 bersama rombongan kami beranjak dari Pietrasanta menuju kota Pisa untuk melihat salah satu bangunan yang menjadi salah satu ikon terkenal negara Italia yaitu Menara miring Pisa. Sekitar satu jam kemudian kami sudah tiba di lokasi. Puncak menara dan kubah gereja sudah tampak dari tempat kami memarkir kendaraan. Untuk mencapai Menara Pisa kami harus berjalan kaki, yang jika dengan santai ditempuh selama kurang lebih 15 menit. Jalannya bersih dan terawat apik. Tak jauh dari bayangan, begitulah mata ini mulai melihat bangunan menara yang miring ke arah selatan. Menurut informasi sesuai sejarahnya yang sempat penulis baca dari Wikipedia, kemiringan sebelum dilakukan penguatan pada kurun tahun 1990 s.d 2001 sekitar 5,5 derajat, tetapi sekarang hanya tinggal 3,99 derajat.

Mulai dibangun pada 14 Agustus 1173 dimaksudkan sebagai menara untuk lonceng Gereja Cathedral yang berada di samping menara tersebut. Kemiringan menara sudah terdeteksi sejak awal sebab di salah satu sisi bangunan kondisi tanahnya kurang kuat menahan bobot bangunan menara. Dalam waktu puluhan tahun laju kemiringan terus bertambah sampai pada posisi stabil setelah fondasinya dilakukan penguatan oleh pemerintah Italia. Tinggi menara Pisa adalah 55,863 m dari permukaan tanah atau 58,36 m jika dihitung dari fondasinya, dengan berat mencapai 14.700 metrik ton. Wajar dengan fondasi yang tidak terlalu dalam tanah tidak mampu menahan bobot berat bangunan menara tersebut.

Di musim panas seperti sekarang ini, mengambil gambar menara dengan kamera dari sudut manapun akan menghasilkan foto yang bagus. Penulis mengambil jepretan kamera dari berbagai arah, dari barat sesaat setelah memasuki pintu gerbang, lalu dari arah utara, selatan, malah dari arah timur sengaja saya buat video untuk bahan kenangan sepulang nanti. Dan tentunya bisa jadi bahan informasi bagi siapapun yang bermaksud berkunjung ke sana.

Dengan waktu sekitar satu jam untuk menikmati keindahan Menara Pisa kami rasa cukup. Tidak sempat untuk naik menara sebab antrian untuk membeli tiket terlalu panjang, maklum musim panas adalah saatnya orang berwisata. Sementara waktu begitu terbatas karena rombongan produksi film hari ini harus melanjutkan syuting di daerah Piazza Del Signoria dan di lokasi Rumah Sakit Universitas Careggi di Florence.

Saat perjalanan pulang dari lokasi menara ke tempat parkir ada kejadian yang cukup mengagetkan meskipun lucu juga kalau diingat setelahnya. Saat berjalan penulis sengaja di belakang rombongan, maksudnya supaya santai jeprat-jepret mengambil foto. Saat asyik mengambil foto ada dua orang gadis yang berjalan agak buru-buru seperti bermaksud mendahului, tapi saat mendekat tiba-tiba terasa saku belakang ada yang menggerayangi. Saat diperhatikan ternyata tangan salah satu gadis itu sudah di posisi saku belakang maksudnya hendak mencopet dompet. Secara reflek langsung ditepis sambil berbalik ke arah pencopet tersebut. Tapi meski beradupandang, hebatnya sang gadis pencopet tidak sedikitpun menunjukkan ekspresi kaget, hanya melengos dan berlalu dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Putra penulis yang melihat insiden itu mendekat dan bertanya ada kejadian apa. Setelah dijelaskan dia langsung menunjukkan foto di hp miliknya, rupanya tanpa sengaja dua gadis pencopet tersebut terekam kamera hp saat berlalu pergi.

“Nah persis ini dia biang keroknya,” ucapku spontan sambil tertawa getir.

Dua gadis calon pencopet tanpa sengaja terekam kamera hp

Pengalaman tadi memberi pelajaran, ternyata berhati-hati terhadap pencopet di tempat wisata di Eropa, bukan saja di tempat yang berdesakan penuh orang, tetapi di tempat yang lenggang juga kita harus tetap berhati-hati.

Bersambung ke bagian 4

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian Anda!
[Total:1    Rata-Rata: 5/5]
Loading...

 Apa Komentar Anda?

Belum ada komentar.. Jadilah yang pertama!

“Backpacker”-an ke Eropa di Bulan Ramadhan – Bagian 3

oleh Entjep Sunardhi dibaca dalam: 2 min
0