“Backpacker”-an ke Eropa di Bulan Ramadhan – Bagian 5

Bagian 5. Banyak Jalan Menuju Roma

Sambungan dari bagian 4.

Senin 19 Juni 2017 sekitar pukul 11 kami meninggalkan Hotel Coluccini di Pietrasanta. Rombongan kru film akan bertolak pulang ke tanah air melalui Bandara Galilei di Pisa. Empat orang lainnya tidak ikut rombongan karena akan melanjutkan perjalanan menjelajahi Eropa. Seorang langsung menuju Paris, penulis dan dua orang lainnya memilih menuntaskan rasa penasaran untuk menelusuri Florence, Roma dan Vatican. Sementara rombongan menggunakan bis, kami bertiga memilih menggunakan kereta api Pietrasanta ke Pisa. Beberapa halte yang dilewati antara lain; Viareggio, Torre del Lago, Pisa S Rossore. Turun di Pisa Centrale setelah menempuh 35 menit perjalanan. Dari sana kami berganti kereta api yang menuju Florence (Firenze) dengan melawati Pontedera, Casciana T, Miniato Fucecchio, Empoli, Signa sampai tiba di Firenze Rifredi, lama perjalanan 70 menit.

Menaiki kereta api di sana sungguh merupakan pengalaman yang menyenangkan sebab tepat waktu, bersih, berhenti di setiap halte hanya sekitar 2 menit dan terutama tidak terganggu pedagang asongan. Itulah sebabnya orang di sana memilih menggunakan kereta api dibandingkan kendaraan pribadi, meski sebenarnya di jalan raya juga jarang ditemukan kemacetan seperti di Indonesia. Tiket kereta dari Pisa Centrale ke Florence hanya EUR8,9 sekitar Rp133.500.

Stasiun Pisa Centrale, Pisa Italia

Dalam perjalanan dari Pietrasanta ke Florence kami bertiga juga ditemani seorang mahasiswi Jurusan Bahasa Indonésia di Napoli, Roberta Salzano, yang saat itu ikut membantu produksi film yang dibuat beberapa hari sebelumnya. Dia pernah tinggal enam bulan di Indonesia, tinggal di Jogjakarta dan Jakarta, dan sempat juga mengunjungi Gorontalo bahkan sampai ke Kawah Papandayan di Garut juga.

Untuk penginapan di Florence kami memilih tinggal di Hotel Bavaria, melalui situs pemesanan hotel online kami mendapat harga untuk satu malam sebesar EUR100 untuk kamar yang sangat luas (untuk ukuran hotel murah di Eropa) dan bisa diisi 3 orang. Meski untuk sampai di lantai 4 sungguh menyulitkan membawa barang bawaan, karena hotel tua belum dilengkapi lift sehingga harus melalui tangga. Yang menyenangkan dari hotel ini adalah terdapat balkon di bagian atas, sehingga sore hari bisa sambil minum teh menikmati pemandangan atap rumah-rumah tua dan klasik kota Florence.

Sengaja memilih hotel yang berada di kawasan Piazza del Signoria, maksudnya supaya dekat dengan lokasi museum-museum dan tujuan wisata lainnya di sana. Maksudnya supaya kami bisa puas mengunjungi Musei Galileo, Florence Cathedral, Campanille di Giotto, Palazzo Vecchio, Gallerie degli Uffizi, Ponte Vecchio, dan Piazzale Michelangelo. Tapi dalam pelaksanaannya kemudian waktu mulai pukul 9 pagi sampai pukul 12 hanya cukup untuk mengunjungi Musei Galileo. Dengan waktu selama itu pun sebenarnya hanya bisa mengamati koleksi museum secara sekilas saja.

Piazza della Signoria

Selepas dari Musei Galileo dilanjutkan menuju Pizzale Michelangelo dengan melewati Ponte Vecchio, sebuah jembatan kuno yang sekarang di atasnya dipenuhi toko-toko suvenir. Pizzale Michelangelo adalah lapangan luas yang juga dipakai tempat parkir dan di tengahnya terdapat patung David yang terkenal. Lapangan ini berada di puncak sebuah bukit di atas sungai Arno. Sambil menunggu matahari terbenam kita bisa melihat pemandangan pusat kota Florence dari atas yang sangat memberikan sebuah keindahan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Saat hari mulai gelap dengan berjalan kaki menelusuri sisi sungai, meski tak terlalu ramai orang tapi tak ada rasa khawatir. Lampu-lampu benderang yang menyinari sepanjang perjalanan menemani pikiran yang menerawang, mewujudkan bayangan “Banyak Jalan ke Roma” (Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma – Idrus).

Esok harinya sesuai rencana, selepas meninggalkan Hotel Bavaria langsung menuju stasiun kereta api Santa Maria Novella di Florence untuk menuju Roma dengan menggunakan kereta cepat Frecciarossa, Trenitalia yang mampu memacu kecepatan sampai 247 km/jam. . Tiket sudah dibeli sebelumnya secara daring (on-line) bisa kami dapat harga promo beli 3 bayar 2 seharga total EUR93.90 (sekitar Rp1,4 juta), lebih murah sekitar EUR20 dari harga normal. Caranya cukup praktis, kita tinggal buka situs Trenitalia (semacam PT Kereta Api-nya Italia), pilih tujuan dan kelas yang diinginkan, bayar dengan kartu kredit, lalu cetak konfirmasi tiket yang sudah dilengkapi barcode dan tinggal tunjukkan saat menaiki kereta.

Jarak Firenze – Roma sekitar 300km ditempuh dengan kereta cepat 1 jam 32 menit. Berangkat tepat pukul 18.38 dari stasiun Firenze S M Novella dan sampai di stasiun Roma Termini pukul 20.10. Lalu berjalan kaki sekitar 15 menit menuju Hotel Orbis di Roma yang sudah dipesan sebelumnya secara daring. Hari menjelang magrib saatnya untuk berbuka puasa, cerita ini kita tunda dulu, untuk selanjutnya akan kita teruskan dengan cerita menelusuri Roma dan Vatican.

Bersambung ke bagian 6.

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian mengenai Artikel ini:
 [Penilaian Rata-rata: 5]
Bagikan pendapat anda!



Bagaimana Reaksi Anda?
  • Suka
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Lucu
  • Kecewa
Tentang Penulis
Entjep Sunardhi  

Pensiunan PNS. Aktif di komunitas FBS (Fiksimini Basa Sunda), PS (Pustaka Sunda) dan jurnalisme warga. Penyuka kuliner, jalan-jalan dan menulis.

 Apa Komentar Anda?

Belum ada komentar.. Jadilah yang pertama!

“Backpacker”-an ke Eropa di Bulan Ramadhan – Bagian 5

Entjep Sunardhi 3 menit
0
Tags: Backpacker, Florence, Italia, Pariwisata
Pesona Kampung Adat Sasak – Lombok Nusa Tenggara Barat

Letaknya tidak terlalu jauh dari Bandara Lombok Internasional Airport (LIA), Praya, Lombok Tengah. Sekitar 10...

Tutup