“Backpacker”-an ke Eropa di Bulan Ramadhan – Bagian 6

Bagian 6. Quo Vadis, Ben Hur dan Gladiator

Sambungan dari bagian 5.

Tiba di Stasiun Roma Termini masih terang benderang di siang hari. Sepanjang perjalanan di kereta cepat Frecciarossa yang terbayang dalam lamunan adalah Roma yang selalu diceritakan oleh guru sejarah di sekolah lanjutan dulu. Begitu gamblang menerangkannya sampai betapa megahnya bangunan-bangunan kuno hasil karya tukang dan seniman Romawi begitu tergambar nyata seolah di depan mata, padahal hanya cerita lisan. Ditambah setelah itu dari beberapa film kolosal seperti Ben Hur, Gladiator dan Quo Vadis yang memakai latar tempat dan budaya Romawi dulu.

Dengan hanya satu hari waktu yang dimiliki di Roma, Rabu 21 Juni 2017, harus dimanfaatkan maksimal dengan cara menggunakan kendaraan bis Hop-on Hop-off Sight Seeing “BIG BUS ROME.” Karcis bisa dibeli untuk paket satu atau dua hari dengan harga yang terbilang murah, 30 euro untuk masa berlaku satu hari atau 35 euro untuk yang dua hari. Disebut murah karena jika menggunakan taksi maka biayanya pasti lebih tinggi. Tentu ada cara lebih murah, yaitu berjalan kaki, tapi tentu saja selain bikin kaki pegal, waktu yang dibutuhkan akan lebih lama juga bisa-bisa membuat irit di ongkos kendaraan tapi boros untuk beli makanan dan minuman.

Yang dituju pertama adalah Colosseum, sebuah bangunan besar nan megah yang dulunya biasa dipakai oleh Kaisar dan orang-orangnya untuk mencari hiburan menonton para gladiator saling bertarung atau melawan binatang buas. Melihat langsung bangunan yang masih tersisa sungguh membuktikan betapa hebatnya bangunan tersebut dibangun di zaman dulu saat peralatan kontruksi belum selengkap sekarang. Beruntung datang saat masih pagi jadi antrian tiket belum terlalu panjang, hanya sekitar 20 menit, sebab semakin siang antrian semakin panjang.

Coliseum – Roma tempat kaisar nongton gladiator.

A post shared by Entjep Sunardhi (@entjepsunardhi) on

Tiket masuk Colosseum saat itu adalah 12 euro per orang. Sekedar tip, di musim liburan lebih baik jika membeli tiket secara on-line. Sekitar dua jam berkeliling di Colosseum lalu dilanjutkan ke Taman Palatino yang berada di depan Colosseum dengan melewati gerbang ‘Arco Di Costantino.’ Jalannya cukup menanjak membuat haus mendera karena saat itu sedang berpuasa. Dari puncak bukit, Colosseum terlihat berdiri mentereng begitu juga pemandangan kota yang terhampar di sekelilingnya.

Tujuan berikutnya adalah negara kota Vatican. Big bus yang ditumpangi berhenti di halte dekat ‘Castel Sant’ Angelo’ lalu berjalan menyebrangi jembatan di atas Sungai Tiber menuju lokasi St Peter’s Basilica. Tak terbayang repotnya masuk kalau tidak didampingi pemandu wisata, sebab banyak bagian yang harus dikunjungi dalam waktu singkat. Veniere Tours (Tour & Travel Agency) menjadi pilihan sebab ini yang paling cepat jadwalnya untuk bisa segera masuk karena sudah banyak rombongannya. Itu pun tetap harus menunggu sekitar satu jam untuk mulai tur dengan pengantar Bahasa Inggris ini. Untuk ikut tur ini biayanya adalah 41 euro per orang sudah termasuk tiket masuk dan fast track entrance (jalur cepat).

Saat tiba waktunya, rombongan sekitar 30 orang dipimpin seorang gadis pemandu yang begitu cekatan baik tutur kata maupun pengetahuannya mengenai seluk beluk Vatican. Rombongan tidak harus dekat dengan pemandu karena setiap orang sudah dilengkapi earphone yang sudah disiapkan. Masuk dari arah timur melewati Museums Entrance menuju ke Vatican Musei yang menurut keterangan di brosur memiliki tidak kurang dari 1000 kamar dengan panjang koridor 8 km. Tak lupa disebutkan bahwa ini merupakan museum kedua terbesar di dunia. Selesai dari museum lalu dilanjutkan ke Sistine Chapel, tempat suci umat Katolik, karenanya disarankan memakai pakaian yang sopan sesuai etika. Berkeliling di tempat yang dipenuhi lukisan dan karya patung yang indah selama sekitar dua jam cukup melelahkan juga.

Di Privilege Entrance to St. Peter Basilica pemandu menutup tur ini dan mengucapkan selamat berpisah. Rombongan bubar dan melanjutkan acaranya masing-masing. Penulis memilih ngaso di lapangan St. Peter sekedar makan angin dan meluruskan kaki sebelum melanjutkan jalan-jalan ke Piazza della Repubblica.

Piazza della Repubblica berada tak jauh dari Stasiun Roma Termini, jadi meski agak larut juga tak menjadi masalah sebab dekat dengan hotel Orbis Roma tempat kami menginap. Berada di tempat ini serasa berada di Jakarta tepatnya di Bundaran HI sebab serupa ada kolam besar di tengah jalan. Bedanya tipis, jika di Jakarta jalannya tak jauh dari macet, sementara di sini relatif sepi tak sulit untuk menyebrang jalan.

Saat waktu berbuka puasa sudah dekat langsung pulang ke hotel untuk berbuka dan melaksanakan kewajiban lima waktu. Penatnya kaki terobati dengan kebahagiaan bisa berkunjung ke negeri yang sudah dikenal puluhan tahun dari cerita lisan guru sejarah. Sejenak kita cukupkan cerita kali ini untuk kita lanjutkan dalam cerita berikutnya.

Pengeluaran hari ini, selain biaya makan:

Bus Hop-on-hop-off: €30/orang
Colosseum: €12/orang
Tour Vatican: €41/orang
Hotel Orbis Roma: €104 untuk 2 orang

Bersambung ke bagian 7

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian mengenai Artikel ini:
 [Penilaian Rata-rata: 5]
Bagikan pendapat anda!



Bagaimana Reaksi Anda?
  • Suka
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Lucu
  • Kecewa
Tentang Penulis
Entjep Sunardhi  

Pensiunan PNS. Aktif di komunitas FBS (Fiksimini Basa Sunda), PS (Pustaka Sunda) dan jurnalisme warga.

 Apa Komentar Anda?

Belum ada komentar.. Jadilah yang pertama!

“Backpacker”-an ke Eropa di Bulan Ramadhan – Bagian 6

Entjep Sunardhi 3 menit
0
Tags: Backpacker, Colosseum, Eropa, Italia, Roma, Sistine Chapel, Vatican
“Backpacker”-an ke Eropa di Bulan Ramadhan – Bagian 5

Bagian 5. Banyak Jalan Menuju Roma Sambungan dari bagian 4. Senin 19 Juni 2017 sekitar pukul...

Tutup