Debt Collector Bank Mandiri Tidak Mengikuti Aturan BI Tahun 2012

Surat Edaran Bank Indonesia 14/17/DASP Tentang APMK Ternyata Hanya Isapan Jempol Bagi Pengguna Kartu Kredit Bank Mandiri.

Saya Arief Darmawan adalah pengguna kartu kredit Bank Mandiri no 5243 2503 0263 **** (nomor lengkap ada pada redaksi) dengan status kredit macet. Kredit macet yang saya alami dikarenakan kartu kredit tersebut digunakan oleh teman saya untuk membuka bidang usaha dan ternyata mengalami kebangkrutan lalu menghilang dari saya selaku pemilik kartu kredit.

Berulang kali ada telepon dari nomor asing ke HP saya, saya selalu menghindar karena memang saya pribadi belum menemukan solusi untuk pembayaran kartu kredit tersebut (setahunan saya tidak mengangkat nomor telepon dari nomor asing ke HP saya).

Hingga pada tanggal 10 Oktober 2017, saya mendapat informasi dari rekan kerja saya di tempat yang lama (Mojokerto) bahwa ada telepon dari LAZADA dikarenakan ada pengiriman barang yang tidak sampai ke alamat saya. Hingga ada telepon dari Bpk. Adi (Starindo). Saya tetap memberi tahu ke rekan kerja saya bahwa saya tidak mengenal nama tersebut dan tidak ada urusan dengan orang tersebut. Telepon tersebut sangat mengganggu karena dilakukan berkali-kali dan bertubi-tubi bahkan sampai ada keluhan dari rekan kerja saya.

Pada tanggal 11 Oktober 2017 lagi-lagi rekan kerja saya lainnya yang berada di Jombang juga dilakukan telepon bertubi-tubi walaupun dibilang saya pindah (mutasi) ke area lain bahkan disangkal oleh Bpk. Adi atau Bpk. Tri atau siapalah karena namanya berbeda beda.

Pada tanggal 12 Oktober 2017 saya mempunyai niat baik untuk melakukan pembayaran dengan menghubungi call center Bank Mandiri di 14000 untuk mencari solusi dari pembayaran saya sebesar Rp14.xxx.xxx ternyata pihak Bank Mandiri mengatakan bahwa untuk case saya sudah diberikan ke bagian recovery dan saya disuruh menunggu telepon dari bagian recovery tersebut.

Akhirnya saya memutuskan untuk menelepon Bpk. Tri 081233115*** yang sudah memberikan nomor telepon kepada rekan saya di Jombang. Dari Bpk. Tri saya diberi nomor telepon 031-50138**. Saya pun menelepon nomor tersebut dengan Bpk. Zamry Effendi tetapi itu tidak menemukan solusi walaupun saya diberikan keringanan hingga tagihan menjadi Rp10.500.000 diberikan deadline pembayaran 25 Oktober 2017. Saya merasa tidak sanggup mencari uang sebanyak itu dalam waktu hanya 2 minggu dan saya mengatakan saya carikan dulu dan akan saya hubungi bila menemukan solusi.

Tak sampai 10 menit ada telepon lagi dari Debt Collector dengan nama Bpk. Adi yang PT-nya bukan Starindo (saya lupa mencatatnya). Saya sudah mengatakan bahwa saya sudah menghubungi pihak recovery Bank Mandiri tapi tetap saja nada tinggi dan memojokkan seolah saya belum melakukan telepon. Cukup keren saat ada kalimat dari Bpk. Adi yang mengatakan bahwa saya sudah berulang kali berjanji untuk membayar padahal saya sendiri tidak pernah sekalipun mengangkat nomor asing. Bahkan ketika saya di SMS dari Bank Mandiri untuk membayar Rp1 juta pada bulan Agustus 2017 karena memang saya belum ada uang.

Setelah telepon ditutup, saya mencoba lagi menghubungi call center Bank Mandiri 14000 ternyata pihak Bank Mandiri sendiri seolah tutup mata dengan bilang untuk kasus bapak sudah dilimpahkan ke bagian recovery.

Jujur saya juga tidak tahu bagaimana aturan bank karena yang saya tahu pihak marketing kartu kredit berani memalsukan tanda tangan dengan hanya meminta slip gaji dan calon konsumen hanya disuruh iya-iya saja saat ditelepon dari pihak Bank Mandiri sekaligus terjadi juga penjualan data nasabah.

Seperti itu saja keluhan saya dan semoga tidak ada lagi pihak konsumen yang dirugikan oleh layanan kartu kredit Bank Mandiri. Karena di Media Konsumen ini ternyata banyak juga yang resah dengan cara penagihan Debt Collector Bank Mandiri.

Walaupun Bank Mandiri adalah BUMN ya.

Arief Darmawan
Nganjuk, Jawa Timur

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian mengenai Debt Collector Bank Mandiri:
 [Penilaian Rata-rata: 2.5]
Bagikan pendapat anda!



Bagaimana Reaksi Anda?
  • Suka
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Lucu
  • Kecewa

Surat pembaca ini belum mendapatkan tanggapan dari pelaku usaha terkait. Jika Anda adalah pihak yang terkait dengan keluhan di atas, silakan berikan tanggapan resmi melalui tautan di bawah ini:

Kirimkan Tanggapan

15 komentar untuk “Debt Collector Bank Mandiri Tidak Mengikuti Aturan BI Tahun 2012

  • 13 Oktober 2017 - (13:53 WIB)
    Kalo ngomongin aturan, trus apa anda udah melaksanakan aturan kewajiban anda sebagai penghutang? Udah hutang kagak mampu bayar, ditagih malah ngabur menghindar, giliran udah “ketangkep” langsung belagak korban dan sok ngerti undang-undang, wkwkwk..

    Iya disini emang banyak yg komplain masalah hutang dari penunggak hutang, mereka komplain “kok hutang gak mampu bayar masih ditagih sih, harusnya kalo gak mampu bayar ya ga usah dibayar”, wkwkwkwk..

    Semoga jadi pelajaran buat institusi keuangan manapun buat gak ngasih pinjaman dalam bentuk apapun ke manusia macem ini, karena gak niat dan mampu bayar, tapi pasti udah di blacklist BI juga sih..

    • 13 Oktober 2017 - (14:16 WIB)
      Terima kasih Mas Sansan… semoga anda bukan termasuk pada orang golongan saya yang berniat membantu teman untuk modal usaha karena gak punya kerja tapi harus menghidupi satu anaknya dan akhirnya usaha tersebut bangkrut dan teman anda pergi tanpa jejan sehingga anda pemilik kartu kredit yang berhadapan dengan pihak Bank.

      Disini pun saya tidak ada niatan untuk kabur ketika saya menelfon pihak Bank Mandiri di 14000 karena niat saya memang membereskan masalah kartu kredit saya dengan Bank Mandiri.

      Terima kasih

      • 13 Oktober 2017 - (21:57 WIB)
        Mau teman anda atau musuh anda atau siapapun namanya hutang pakai cc anda ya tanggung jawab anda..

        Anda gak niat kabur tapi dari pernyataan anda “Berulang kali ada telepon dari nomor asing ke HP saya, saya selalu menghindar” nah itu maksudnya apa? Menghindar dan kabur kan? Giliran udah ketemu telefon kantornya teman2nya baru deh merasa korban, ini yg saya maksud..

        BTW saya bukan DC, sy cuma orang yg benci sama penunggak hutang karena dulu temen kantor udah resign tapi nunggak hutang cc sampe2 DC gangguin kantor saya, makannya sy benci sama yg suka nunggak..

        • 13 Oktober 2017 - (22:47 WIB)
          Mohon maaf Mas Sansan saya gak kabur. Saya menghindar karena memang saya juga menunggu kabar dari teman saya untuk kepastiannya. Apabila saya menghindar bisa saja saya mematikan nomor saya dan mengganti nomor baru Mas Sansan.

          Apalagi saya juga sering berpindah kota, jadi mudah saja buat saya kabur bila saya ingin Mas Sansan Pee Wee Gaskins.

          Mungkin teman anda yang resign itu punya hutang ke anda atau sebaliknya anda yang mempunyai hutang ke teman anda sehingga sampai segitu bencinya anda dengan teman anda (mungkin saja Doci) yang sekarang sudah resign dari Pee Wee Gaskins sehingga anda menyamakan semua penunggak hutang seperti Doci eh maksud saya teman anda.

          Btw kabar band anda gimana Mas Sansan ?? Masih banyak job manggung kah ??

          • 14 Oktober 2017 - (15:25 WIB)
            Gak bayar hutang, nelfon menghindar, berbulan-bulan, namanya kabur, hadehh mending cari kerja apa kek biar bisa bayar utang, jual yg bisa dijual, percuma anda disini berbalas komen sesama penunggak hutnag, gak ada hasil..
        • 16 Oktober 2017 - (09:21 WIB)
          Bahasanya Mas Sansan ini sama persis sama pihak recovery Bank.. hehehe… saya juga masih menunggu email balasan dari pihak recovery Bank Mandiri koq Mas..

          Oiya, Mas Sansan ini bukan penulis artikel tapi selalu masuk dan comment di keluhan dengan tema Debt Collector ya 🙂 hampir semua comment anda di tema Debt Collector. Btw, Mas Sansan yang terhormat gak cari lowongan jadi komentator bola aja kah ??? Lumayan tuh dibayar klo job Pee Wee Gaskin lagi sepi daripada menjadi Tuhan di tema Debt Collector.

          Saran aja sih Mas… soalnya bosen klo komentatornya cuma si JEBREEEEET

          • 17 Oktober 2017 - (05:55 WIB)
            Ya karena cuma itu solusinya, emang mau apalagi? Ga ada yg larang orang berkomentar disini, lebih baik anda yg komentator bola, siapa tau bisa buat bayar hutang..
  • 13 Oktober 2017 - (17:54 WIB)
    kalo menurut saya sih orang2 yg menulis di sini masih punya niat baik untuk membereskan hutangnya… sebab klo tidak ngapain capek2 nulis surat yg panjang pake identitas yg jelas pula… pake logika saja

    kalo niatnya memang mau ngemplang ya tinggal kabur aja… trus kalo ada niat mau jelek2in bank nya kan tinggal nulis pake akun anonim di medsos.

    dibanding konglomerat pengemplang trilyunan trus kabur keluar negeri, yg nulis di sini sy yakin orang2 baik yang kebetulan terjebak dalam hutang kk karena alasan apapun (entah karena boros atau mmg dipake buat modal)….

    • 13 Oktober 2017 - (18:18 WIB)
      Setuju banget nih mas, dari Sekian banyak kasus juga ga ada yang buat kabur dan lepas tanggung jawab dari hutangnya seperti konglomerat yg kabur ke LN. Emang ni si sansan otaknya ga pernah dipake makanya cuma bisa ngomong bayar bayar bayar.. Semua juga mau bayar dengan jumlah yg wajar!! Kalo udah tidak wajar apalagi dengan berbagai tekanan, buat apa kita dijajah oleh sistem KAPITALISME?? Sementara pemerintah juga punya undang2 yang mengatur teentang tingkat suku bunga, denda, anual fee, dll. Buat apa pemerintah bikin berbagai aturan kalo masyarakatnya juga ga melek hukum, akhirnya dimanfaatkan oleh oknum seperti perusahaan debt collector.
      Hutang itu bukan dosa. Yang memberi hutang tidak dosa, yang berhutang juga tidak dosa. Tapi penindasan, pemaksaan, kekerasan adalah perbuatan melawan hukum, melanggar hak azazi manusia, dan dalam agama hukumnya DOSA.
      • 13 Oktober 2017 - (19:03 WIB)
        CCET Sky, mungkin Mas Sansan sebenarnya dari pihak Bank Mandiri sendiri (mungkin).. karena dari sekian banyak keluhan debt collector Bank Mandiri di mediakonsumen.com hanya 2 keluhan saja yang mendapat tanggapan. Berbeda sekali dengan Bank Mega yang menanggapi keluhan konsumen yang mengeluh tentang Bank Mega.

        Sansan kan sebenarnya nama dari personil Pee Wee Gaskins dan gak mungkin juga setelah band.nya gak laku langsung jadi spy Bank Mandiri di mediakonsumen.com karena belum ada artikel yang diposting sama Mas Sansan yang budiman tapi gak pakai nama sebenarnya atau foto aslinya. #BOOM

        • 13 Oktober 2017 - (20:34 WIB)
          Ga usah dihiraukan orang seperti sansan dan preman2 DC lainnya. Karna mereka semua sama, bekerja memanfaatkan rasa takut. Mereka akan beberkan segala hal yang menjadi sumber rasa bersalah orang yg punya hutang. Cara kerja mereka seperti itu, dan cuma bisa segitu aja.

          Perlu diketahui juga, Hutang piutang urusannya Perdata jadi tidak ada hubungannya dengan pidana dan penipuan.

          Tidak usah takut karna walaupun punya hutang tetap masih memiliki Hak dan Haknya masih dilindungi oleh undang-undang.
          Sebagai debitur kewajibannya bayar hutang. Mau mengeluh, protes, minta nego, atau demo sekalian adalah HAK DEBITUR SEBAGAI KONSUMEN.

          • 13 Oktober 2017 - (21:01 WIB)
            CCET Sky.. masalahnya ketika saya masih mencoba mencari solusi ternyata debt collector dari Bank Mandiri tersebut menelepon berulang2 dengan mengganti2 nomornya (mungkin supaya untuk menghindari aturan dari surat edaran Bank Indonesia tersebut) sehingga Bank Mandiri bisa jadi tidak disalahkan oleh Bank Indonesia karena menggunakan pihak ketiga entah itu dengan nama Starindo atau apapun. Bahkan juga mengintimidasi saat melakukan negosiasi dengan Bpk. Zamry Effendi.

            Apabila saya tidak mengangkat telfon atau melakukan respon maka serangan selanjutnya adalah menelpon berkali kali (mencari saya walaupun saya sudah tidak berada di kantor tersebut sekitar setahun ini karena mutasi) sehingga rekan kerja saya menjadi terganggu dan itu terus2an sampai saya benar2 setuju dengan penawaran tanpa negosiasi lagi yang katanya aturan di Bank Mandiri. Sehingga saya sendiri terpaksa membalas email dari Bpk. Zamry Effendi yang menggunakan materai 6.000 walaupun saya belum tahu apa saya bisa membayar sejumlah 10.500.000 di akhir bulan ini.

            Bahkan ketika saya mengingatkan bahwa pihak Debt Collector melanggar tata cara penagihan yang sudah melanggar aturan dari BI tahun 2012, saya malah ditantang oleh Bpk. Zamry Effendi untuk menggunakan lawyer dari Bank Mandiri. Padahal disini saya hanya mengingatkan dan bukan mau berkelit mencari alasan.

    • 13 Oktober 2017 - (18:58 WIB)
      Terima kasih Mas Satya… saya menulis disini karena memang terpaksa. Saat awal saya telfon ke bagian recovery Bank Mandiri untuk mencari solusi yang sama sama bisa dijalankan menemukan jalan buntu dan solusi dari Bpk. Zamry Effendi malah menyarankan untuk pinjam hutang lagi ke kanan kiri atau menjual motor atau apalah yang saya punya. Saat saya mencari solusi kemana harus mencari uang sebanyak 10.500.000 dalam waktu hanya 2 minggu dengan menghubungi teman2 dekat saya. Lagi2 Debt Collector bernama Adi menelfon lagi tanpa tau apa yang sudah saya perbincangkan dengan Bpk. Zamry Effendi dengan nada yang sebenarnya benar2 mengintervensi seolah2 paling benar seperti Tuhan yang mengetahui segalanya. Bahkan saat saya mengatakan saya masih tahap diskusi untuk nominal sebesar itu dalam waktu 2 minggu ini, saya malah dibilang banyak alasan, dll.. sampai kalimat yang tidak pantas diucapkan oleh Bpk. Adi yang bahkan saya tidak mengenal dia sama sekali. Semoga hidup anak2 Bpk. Adi bisa bahagia ya Pak… karena saya yakin bahwa karma itu ada. Amin YRA..
  • 14 Oktober 2017 - (10:54 WIB)
    Kalo tidak salah dulu juga sempat ada kasus meninggal karna DC suruhan Bank ini ya.. lalu setelah itu bank tersebut mengganti agensinya, dan kualitasnya membaik.
    Tapi sekarang banyak komplain lagi, agensinya diganti atau bertambah mungkin. Hal ini seiring dengan jumlah kredit macet meningkat.
    Berarti ada yg salah dalam sistemnya. Entah itu marketingnya tidak selektif atau bagaimana..
    • 16 Oktober 2017 - (09:29 WIB)
      Klo ngomong marketingnya selektif atau enggak, dari KK saya juga dari team marketing bank yang minta slip gaji aja dan semua sudah mereka aturin kan.. termasuk tanda tangan dari calon nasabah KK.

      Trus klo ada telfon dari pihak banknya cukup dijawab “iya.. iya.. dan iya”.

      Untuk nomor rekanan juga disuruh pake nomor sendiri (lainnya) tapi disuruh orang lain yang angkat supaya dapat di-acc pengajuan KK nya.

      Karena beberapa bulan lalu, saya juga masih dapat tawaran KK dari orang marketing bank via WA dan cukup menyerahkan KTP + Slip Gaji (bahkan ada promonya juga) tapi saya lupa dan saya juga gak tau kenapa database saya bisa sampai ke pihak marketing bank lain yang saya sendiri gak punya rekening dari bank tersebut..

      #HayatiLelah

 Apa Komentar Anda mengenai Debt Collector Bank Mandiri?

Ada 15 komentar sampai saat ini..

Debt Collector Bank Mandiri Tidak Mengikuti Aturan BI Tahun 2012

ARIEF DARMAWAN 2 menit
15
Tags: Debt Collector, Kartu Kredit Bank Mandiri
Bukan Nasabah atau Referensi tapi Ditagih Debt Collector Bank Mega

Hari Selasa, 10 Oktober 2017 saya ditelepon oleh debt collector yang mengaku dari PT. Rajawali...

Tutup