Taksi Online, Antara Kenyamanan Konsumen dan Nasib Sopir

Adzan subuh baru saja selesai berkumandang ketika mobil yang saya tumpangi tiba di Bandung dari perjalanan luar kota. Dari lokasi saya turun masih sekitar 10 km lagi untuk sampai ke rumah. Dini hari begini angkutan umum hanya tersedia dua pilihan, taksi konvensional (argo) atau taksi online, saya memutuskan menggunakan taksi online. Membuka aplikasi Gojek dan memesan Go-Car, tarif yang harus dibayar langsung muncul di layar ponsel; Rp43.000. Tak sampai 5 menit sejak tombol “order” ditekan sudah ada panggilan masuk ke ponsel, respon dari pengemudi taksi online, dan beberapa saat kemudian sebuah mobil Nissan Grand Livina berwarna hitam datang menghampiri. Ramah pengemudi menyambut saat saya naik, dan mobil pun langsung meluncur laju di jalan yang kosong.

Sejenak pikiran teralihkan dengan rasa takjub dengan kemudahan yang dihasilkan teknologi digital dalam masyarakat yang selalu terhubung secara digital (digitally connected society) saat ini. Satu dekade lalu butuh waktu tak kurang dari 15 menit untuk mendapatkan taksi konvensional dengan pemesanan melalui telepon. Biasanya setelah memesan taksi dengan telepon, 5 menit kemudian operator taksi akan menghubungi kembali (mungkin sambil verifikasi pesanan) dan menginformasikan taksi yang dipesan sedang meluncur menuju lokasi penjemputan. Lalu taksi baru akan datang 10 menit kemudian atau lebih. Tapi kini semua terasa instan dan langsung terhubung dengan kendaraan yang dipesan. Jadi mengingatkan akan teknologi “pager” zaman dulu. Saat pager baru masuk ke Indonesia, untuk mengirim pesan harus menelepon ke operator menggunakan telepon kabel (belum ada ponsel), mendiktekan pesan ke operator lalu pesan dikirim ke pemegang pager. Lalu kemudian metoda pengiriman pesan mengalami revolusi dengan teknologi SMS, yang memungkinkan seseorang mengirim pesan langsung ke tujuan tanpa melalui operator, meski biaya tiap SMS sangat mahal saat itu. Dan kini dengan aplikasi whatsapp (dan aplikasi chat lainnya) biaya pengiriman pesan tidak tidak lagi dihitung per pesan melainkan dalam paket internet yang semakin murah. Dan berbeda dengan SMS, pesan yang bisa dikirim bukan hanya teks, sekarang dokumen, gambar, suara bahkan video bisa terkirim seketika.

Sesaat kendaraan melaju pak sopir menawarkan beberapa alternatif rute, dan saya hanya menjawab rute mana saja yang paling nyaman baginya, toh di subuh hari begini hampir seluruh ruas jalan masih kosong. Sekedar basa-basi mengisi suasana sepi dan dingin di subuh hari, saya membuka obrolan.

“Baru mulai narik Pak?” Tanyaku.

“Oh enggak Pak, sudah sejak magrib kemarin saya narik, memang saya biasa narik dari malam sampai pagi,” jawabnya.

Lalu setelah obrolan pembuka, selanjutnya atas pertanyaan-pertanyaan saya pak sopir bercerita pengalamannya menjadi pengemudi taksi online.

Menurutnya, saat ini untuk bisa mendapatkan penghasilan yang berarti dari profesi menjadi pengemudi taksi online tidak bisa lagi sekedar kerja sambilan. Sebab meski sejatinya seorang pengemudi bebas menentukan jam kerjanya mereka dibebani target. Dalam 1 x 24 jam, dia harus memenuhi target 17 order atau perjalanan, barulah dia memperoleh bonus. Jika target tidak terpenuhi dan hanya mengandalkan pemasukan dari tarif yang dibayar penumpang, menurutnya itu baru memenuhi modal saja. Dia mencontohkan jika hanya sanggup menyelesaikan 10 order dengan rata-rata pemasukan Rp20 ribu per order maka pemasukan total Rp200 ribu baru bisa untuk sekedar membeli bensin Rp150rb, makan dan parkir Rp50rb, belum ada untungnya. Namun sistem bonus harianlah yang membuat dia mendapat keuntungan dari modalnya. Bonus itu diberikan sesuai target jumlah order secara bertingkat sbb:

Untuk pemenuhan 6 order pengemudi diberikan bonus Rp80 ribu, selanjutnya
10 order = Rp90 ribu
14 order = Rp130 ribu
17 order = Rp390 ribu

Bonus tersebut diberikan secara akumulatif tiap tingkat pemenuhan order dengan angka maksimal (di Bandung) Rp390 ribu pada hari biasa. Sementara untuk akhir pekan ada perbedaan dalam sistem bonus harian, dengan angka maksimal Rp425 ribu.

Tapi pak sopir menambahkan bahwa bonus itu hanya akan diberikan jika pengemudi mencapai performa minimal 60%. Artinya harus di atas 10 order dan tanpa pembatalan melebihi target, baik pembatalan oleh penumpang maupun pengemudi. Jika target performa tidak tercapai maka bonus harian itu tidak akan diberikan alias hangus. Dia juga menambahkan, jika pengemudi yang membatalkan pesanan penumpang biasanya dia agak lama untuk bisa mendapat order berikutnya.

Yang menarik saat ditanya apakah jumlah target tersebut merupakan keputusan bersama antara pengemudi dan perusahaan, dia menjawab:

“Ya tidak Pak, itu keputusan mutlak perusahaan, kita sih tinggal ikut saja,” katanya sambil tertawa.

Bahkan tambahnya di Bandung ini sudah beberapa kali target ini berubah, dari 9, 11, 13, 15 sampai sekarang 17 order. Katanya Bandung memiliki target tertinggi bahkan dibandingkan dengan target di Jabodetabek yang hanya 14 order.

Sementara pak sopir terus bercerita suka dukanya menjadi membawa taksi online, pikiran saya berhitung matematika bisnisnya, darimana perusahaan mendapat keuntungan. Dengan hanya mengambil 10% dari tarif, angka itu jauh dari bonus yang harus dibayarkan kepada pengemudi. Dari 17 order misalnya, dengan rata-rata tarif Rp30.000/order perusahaan baru mengambil keuntungan Rp51.000 (Rp3.000 x 17 order), sementara bonus yang harus dibayar ke pengemudi adalah Rp390.000. Saya yakin perusahaan bukan sinterklas yang bagi-bagi bonus begitu saja. Mungkinkah dengan mengandalkan investasi fantastis yang diterima perusahaan? Atau mungkin dari penghasilan para pengemudi yang tidak memenuhi target minimal dengan sistem subsidi silang, artinya pengemudi yang tidak memenuhi target menyubsidi pengemudi yang memenuhi target? Entahlah.

Lamunan sedikit buyar saat pak sopir menambahkan bahwa salah satu kesulitan lain bagi pengemudi adalah tidak adanya kebijakan pembatasan penumpang dari perusahaan. Mobil Grand Livina miliknya yang bisa memuat 7 orang, tetap dibayar sama entah itu penumpangnya 1 atau 7 orang. Menurutnya itu tidak adil, bagi penumpang memang untung karena biaya per orang bisa lebih murah daripada naik angkutan kota, tapi baginya tentu lebih merepotkan dan biaya bensin pasti bertambah dengan beban penumpang lebih. Harapannya ada pembatasan misalnya maksimal 4 penumpang dan penumpang ke lima dan seterusnya dikenakan biaya tambahan (surcharge).

Sungguh, bagi saya dan mungkin banyak konsumen lainnya, taksi online sangat menolong dibandingkan dengan moda transportasi lain yang sudah ada. Mau naik bis kota rute dan jam operasional sangat terbatas, naik angkot selain ngetem sesuka hati, kenyamanan dan keamanan entah nomor berapa, berdesakkan dalam kendaraan panas tanpa AC dengan pintu yang terbuka sepanjang perjalanan. Sementara taksi argo konvensional, tarif baru bisa diketahui setelah perjalanan selesai, belum lagi fakta di lapangan masih ada beberapa taksi yang meminta tarif tinggi tanpa argo.

Dan obrolan singkat tadi membawa saya dalam sebuah perenungan, ternyata dibalik kemudahan yang diperoleh konsumen, nasib para pengemudi taksi online sesungguhnya tak beda dengan nasib para pengemudi angkutan umum lainnya. Mereka adalah orang-orang yang sama-sama berjuang dalam amburadulnya sistem transportasi umum di negara ini. Sesungguhnya mereka pun hanyalah sekrup-sekrup kecil dalam sebuah mesin kapital transportasi. Yang bahkan untuk aturan main pun ditentukan sepihak oleh perusahaan tanpa ada kesempatan bagi para pengemudi taksi online bermufakat. Maka sungguh sedih saat melihat kondisi di lapangan mereka terus dimusuhi pengemudi angkutan umum konvensional. Inilah potret nyata, absennya atau paling tidak minimnya peran pemerintah dalam menata transportasi yang aman dan nyaman bagi warganya. Jalan tol terus dibangun dimana-mana, motor dan mobil terus dijual tanpa batas, dan kemacetan seolah tak berujung. Rakyat dibiarkan bertarung dalam kemacetan dan amburadulnya sistem lalu lintas dan tranportasi umum, berjuang untuk mobilitasnya. Sementara di sisi yang lain sesama pengemudi dari moda transportasi yang berbeda saling ribut berebut rezeki.

Perjalanan subuh itu terasa singkat saat 20 menit kemudian saya tiba di tujuan. Saat membuka ponsel untuk mematikan aplikasi taksi online, lini masa di media sosial ramai memberitakan “Angkot Batal Mogok Masal, Dishub Jabar Resmi Larang Transportasi Online Beroperasi Sementara“. Tragis, ironis.

Bandung, 9 Oktober 2017

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian mengenai Artikel ini:
 [Penilaian Rata-rata: 4.8]
Bagikan pendapat anda!



Bagaimana Reaksi Anda?
  • Suka
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Lucu
  • Kecewa
Tentang Penulis
Dadang Syahid  

Seorang konsumen dan peminat masalah konsumen. Memiliki harapan pemberdayaan konsumen khususnya dan warga negara Indonesia pada umumnya. Pernah menjadi praktisi pemasaran internasional di perusahaan swasta. Semua artikel dari akun ini adalah pengalaman, opini dan pandangan pribadi.

2 komentar untuk “Taksi Online, Antara Kenyamanan Konsumen dan Nasib Sopir

  • 17 Oktober 2017 - (08:45 WIB)
    Perusahaan ya dapet keuntungan dari aplikasi yg di gunakan dong pak.. Kan kita order pake kuota.. Jd bukan dr subsidi silang driver yg minim target..

 Apa Komentar Anda?

Ada 2 komentar sampai saat ini..

Taksi Online, Antara Kenyamanan Konsumen dan Nasib Sopir

Dadang Syahid 5 menit
2
Tags: Lalu lintas jalan, Taksi Online, Transportasi Publik
Driver GrabBike Tidak Sopan

Saya mau komplain, kepada pihak Grab tolong cari driver yang sopan dan ramah. Saya tadi...

Tutup