Bank Mega Menagih dan Menyebar Data Saya kepada Teman di Media Sosial

Saya pemegang kartu kredit nomor Bank Mega nomor kartu 4201-9200-8752-**** dan 4784-8700-7066-****. Kejadian berawal pada tanggal 11 Juni 2019 ada teman yang menanyakan apakah saya kehilangan HP? Awalnya bingung karena saya tidak kehilangan HP. Akhirnya saat saya telepon ternyata ada yang WA teman saya dan mengaku dari Bank Mega tapi memanggil teman saya dengan nama di sosial media.

Awalnya saya dan teman saya berpikir ini penipuan dan sosial media saya di-hack. Saya coba menonaktifkan sosial media saya. Siangnya saya mendapat WA lagi dari teman yang lain kalau dia di-WA dari Bank Mega. Dan sama, orang ini memanggil nama sosial medianya juga. WA yang sama berisikan nama lengkap saya, nomor kartu kredit, nama orang tua kandung, dan jumlah nominal tagihan serta mengirimkan foto saya yang pernah saya posting di media sosial dan dari Bank Mega akan melayangkan somasi kepada teman saya apabila per tanggal 17 Juni 2019 tidak ada penyelesaian/pelunasan terhadap tagihannya.

Kembali di 13 Juni 2019 kedua teman saya ditelepon oleh Pak Lauren**** dari PT Ca*** dengan telepon 021-40200181 sebagai pihak ketiga dari Bank Mega. Dengan nada marah-marah menagih tagihan kartu kredit atas nama saya. Katanya saya yang memberikan nomor telepon mereka. Semakin aneh karena kalau saya yang memberikan nomor mereka berarti ada komunikasi dari saya dengan Bank Mega, tapi kenyataannya tidak ada yang menelepon saya. Saya masih berpikiran ini penipuan.

Kembali di tanggal 22 Juni 2019 teman yang lain di kontak oleh Bank Mega. Dan puncaknya di 27 Juni 2019 salah satu teman saya di-WA dituduh menyembunyikan maling dengan menggunakan kata-kata yang tidak pantas diucapkan untuk Bank sebesar Bank Mega. Akhirnya saya meminta teman-teman untuk memberikan nomor HP saya.

Tanggal 29 Juni 2019 saya di-WA oleh Ibu Sil** S**** M**** dari bagian keringanan Bank Mega. Dan saya menjelaskan kalau 1 th yang lalu tepatnya 26 April 2018 saya sudah datang ke Bank Mega TSM bertemu dengan Bapak Den** Seri**** dan waktu ini hanya dibeikan total tagihan. Saya minta print detai tagihan saya karena ini sudah lama sekali dari tahun 2010. Waktu itu Pak Den** bilang saya akan kontak Ibu kalau sudah ada dan saya meninggalkan nomor telepon, alamat rumah, bahkan sebelum masuk ke ruangan KTP saya sudah diminta yang sampai saat ini semuanya masih sama. Dan tidak ada lagi telepon dari Bank Mega sampai sekarang, tapi tiba-tiba yang dikontak adalah teman-teman saya di sosial media.

Ibu Sil** S**** M**** mengundang saya untuk datang kembali untuk menjelaskan tentang tagihan saya. Saya bilang saya akan datang Hari Senin 1 Juli 2019. Tanggal 29 Juni 2019 Ibu Sil** S**** M**** kembali WA saya katanya dia mau menyiapkan dokumen pelunasan untuk hari Senin: “Ibu mau pembayaran transfer via ATM atau pembayaran langsung ke Bank Mega?” Saya jawab saya mau datang dulu ke Bank Mega untuk melihat rincian tagihannya.

Hari Senin 1 Juli 2019 saya datang ke Bank Mega TSM di lantai 6. Dan benar seperti dugaan saya yang menemui saya orang lain lagi namanya Pak Ma** dengan alasan Ibu Sil** sedang berhalangan. Saya kembali harus mengulang penjelasan saya. Dan saya juga mengungkapkan kekecewaan saya terhadap cara Bank Mega yang mengancam, menyebarkan data dan foto saya ke beberapa teman saya. Dan seperti biasa jawabannya adalah karena pihak yang mengurus adalah pihak ketiga.

Di mana tanggung jawab Bank Mega yang telah memberikan data-data nasabah kepada pihak ketiga? Dan maaf katanya karena ada miskomunikasi dari pihak ibu dengan Bank Mega sehingga ibu tidak bisa dikontak. Saya jawab tidak ada miskomunikasi dari saya. Yang ada miskomunikasi di dalam Bank Mega sendiri. Karena 1 tahun yang lalu 26 April 2018 saya sudah datang ke Bank Mega meninggalkan nomor telepon saya. Tapi Bank Mega bukannya menghubungi saya, malah “meneror” teman-teman saya.

Saya kembali harus menjelaskan tentang kebangkrutan yang saya alami di tahun 2011 dan saya sudah datang juga ke Bank Mega di tahun 2011 waktu itu masih yang di Dago meminta bantuan karena saya mau menutup kartu kredit saya. Setelah itu beberapa kali ada yang datang ke toko saya di IBCC mengambil cicilan pembayaran. Karena itu saya berpikir urusan dengan Mega sudah selesai. Dan saya baru tahu di tahun 2018 kalau masih ada tagihan yang tertunggak. Saya kehilangan data-data arsip pembayaran dan lain-lainnya waktu saya akhirnya benar-benar bangkrut dan harus merelakan toko saya disita, rumah dan mobil dijual untuk menyelesaikan urusan pembayaran dengan supplier.

Kembali ke pertemuan saya dengan Pak Ma**, saya harus menunggu cukup lama untuk melihat print detail tagihan saya yang katanya sudah disiapkan. Dan ditunjukkan hasil print dengan huruf yang cukup kecil, sampai Pak Ma** pun perlu waktu untuk membacanya waktu saya tanya total akhirnya yang mana? Dan harus kembali masuk ke dalam kantornya untuk memastikan. Jujur saya sebenarnya sangat kecewa melihat ini. Dan waktu angkanya tagihannya lebih kecil dari WA yang disebarkan oleh pihak Bank Mega ke teman-teman saya Pak Ma** hanya menjawab ya itu karena sudah ditanggani pihak ketiga.

Wow, selisihnya hampir 20 juta. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala udah gak tau mau bilang apalagi. Rasanya percuma saya bicara mencari solusi di sini. Jadi gimana Bu kalau penawaran dari kami ada diskon 30% dari total tagihan yang katanya sudah berbunga sampai 2019 jadi sekitar 10 tahun. Saya balik bertanya lalu kemana cicilan-cicilan yang dulu saya bayarkan? Tidak ada jawaban dan saya tidak cukup data karena kehilangan semua slip-slip itu.

Akhirnya saya tanya “Limit kartu saya berapa ya pak? Saya mau nego dari situ”. Ternyata saya masih harus menunggu lagi hanya untuk mengetahui limit kartu saya. Akhirnya pak Ma** keluar lagi dan katanya 26 juta limit kartu saya masing-masing karena ada 2 kartu. Tapi tagihan saya di Rp18.858.029 dan satu kartu lagi di Rp25.167.489, itu setelah bunga berbunga selama kurang lebih 10 tahun. Saya bilang: “Pak saya memang lupa tapi gak mungkin limit kartu saya 26 juta”. “Benar Bu 26 Juta”. “Yah sudah saya minta printnya kalau ada. Pak Ma** ingin diselesaikan hari ini saya juga sama ingin menyelesaikan hari ini”.

Akhirnya dia bilang, “Ibu ajukan angka berapa misal 1 juta nanti saya coba ajukan dulu”. Saya bilang kesanggupan saya 3 juta dan saya tidak mau dicicil. Katanya “Wah kalau segitu kayaknya gak akan tembus Bu”. Lah tadi bilang mau diajukan dulu. Akhirnya saya pulang tanpa mendapatkan penyelesaian apa-apa.

Kekecewaan saya terhadap cara Bank Mega menyebarkan data-data pribadi seperti nama lengkap saya, nama ibu kandung (yang sering ditanyakan untuk keamanan) dan foto diri saya serta mengambil data-data teman saya dari sosial media dan akan mengajukan somasi kepada teman-teman saya. Serta telepon-telepon yang bersifat mengancam dan menuduh teman-teman saya. Padahal saya sudah cukup kooperatif datang beberapa kali di tahun 2011, 2018 dan 2019. Saya kecewa dengan ketidakjelasan jumlah penagihan. Yang sifatnya hanya bisa menakut-nakuti tanpa memberikan data yang jelas.

Semoga ini jadi pelajaran untuk saya sendiri dan orang lain yang mungkin menghadapi masalah yang sama. Jangan takut kita ada di negara hukum. Saya datang sendiri ke Bank Mega karena saya tahu walaupun saya punya tagihan yang masih tertunggak tapi ada hukum yang melindungi saya.

Besar harapan saya tulisan ini dimuat karena sampai saat ini tidak ada tanggapan yang baik dari Bank Mega.

Debby Elisabeth
Bandung, Jawa Barat

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Bagikan pendapat anda!



Bagaimana Reaksi Anda?
  • Suka
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Lucu
  • Kecewa
Berikan penilaian mengenai Bank Mega:
[Penilaian Rata-rata: 1.8]
Tanggapan Bank Mega atas Surat Ibu Debby Elisabeth

Kepada Yth Redaksi mediakonsumen.com, Sehubungan dengan surat Ibu Debby Elisabeth di mediakonsumen.com (27/7), “Bank Mega Menagih dan Menyebar Data Saya...
Baca Selengkapnya

11 komentar untuk “Bank Mega Menagih dan Menyebar Data Saya kepada Teman di Media Sosial

  • 27 Juli 2019 - (12:14 WIB)
    Hmmm parah juga yah… Kok mereka bisa dapat nomor wa teman2 ibu dari medsos? Canggih juga cara kerja mereka. 🤔
    • 27 Juli 2019 - (13:53 WIB)
      Sistem mereka mungkin skrg sama sperti fintech yang tdk terdaftar di ojk. Mengambil dari hp atau dari email . Biasanya suka backup komtak ke email . Mungkin itu cara mereka . Istirlahnya sadap ya
      • 27 Juli 2019 - (13:59 WIB)
        Kalo fintech pinjol itu kan karena ada aplikasi yg diinstall di hp. Nah lewat aplikasi itulah data2 kontak di hp diambil sama mereka. Emang kartu kredit Bank Mega ada aplikasi yg diinstall di hp jg? 🤔
        • 30 Juli 2019 - (13:38 WIB)
          Ada. biasanya tiap Bank punya Aplikasi yang bisa kita Download di Playstore.
          Aplikasi semacam m-banking tapi khusus Kartu Kredit. bisa lihat sisa limit, tagihan bulan ini, riwayat pembayaran, dll.
          aplikasi tersebut juga biasanya meminta akses ke SMS atau Contact, dan kita yang ga tau pasti klik “allow” atau “izinkan” saja.
  • 27 Juli 2019 - (13:51 WIB)
    Sekedar info . Tidak hanya bank mega . HSBC juga seperti itu . Kejadianya sama sy sendiri saya tidak pernah mencantumkan nama dan nomer telp temen saya sebagai data tidak serumah . Tetapi pihak HSBC menelepon temen sy dengan menanyakan saya . Sayapun kaget! Dan bank BNI juga seperti itu . Saya pikir kok pihak bank dan cara menagih nya lama lama seprtti fintech – kalau memang skrg sistem penagihan kartu kredit seperti ini. Dimana OJK ?
  • 27 Juli 2019 - (18:11 WIB)
    Nasabah tanpa Bank, si nasabah masih bisa hidup.
    Bank tanpa Nasabah, bank pasti tutup!!
    tapi koq gitu banget ya perlakuannya ke nasabah???
    • 27 Juli 2019 - (19:10 WIB)
      Tuntut aja Bu,bank amatiran cara kerja gk lebih dr preman !!
      paling cuma dibalas permohonan maaf doank.
      Semoga cepat ditinggal nasabah kalian !!
  • 28 Juli 2019 - (10:14 WIB)
    Sama saya juga begitu saya yg berhutang suami saya yg kena getahnya semua kontak temen suami saya di teror ,dan bekas kantor lama saya semua temen yg disana di teror ,padahal gak ada sangkut pautnya…
  • 28 Juli 2019 - (12:26 WIB)
    Nampaknya para bank konvensional ini merasa bahwa tingkat kesuksesan penagihan mereka selama ini kurang bagus, sehingga mulai meminta ataupun mencari jasa penagihan yang menggunakan “cara2 zaman now.”

    Makanya dari kemarin2 harusnya penegak hukum & pembuat undang2 gerak cepat mengatasi fenomena pinjol + cara penagihannya yang “inovatif” tersebut. Dibiarin aja sampe sekarang, akhirnya bank2 merasa: lah ternyata kok fine2 aja ya metode2 begituan, & kemungkinan success rate lebih tinggi daripada cara yang lama (“old school”).
    Yang diurusin malah yang gak penting2 & gak urgen.
    Susah lah di sini. Pembuat hukum & peraturan bukannya gerak cepat untuk hal2 yang memang sedang mempengaruhi kondisi masyarakat, tapi malah gerak cepat untuk hal2 yang hanya mempengaruhi kondisi segelintir “orang penting” saja.

    Btw, kalau gak ada app yang bisa dipakai sebagai sarana menyadap isi HP, kan zaman now bisa data mining di internet. Makanya yang diketahui nama akun, kalau dari HP kan bisa tahu nama yang terdaftar di phonebook/contact.
    Kecuali kalau ybs sama sekali gak pernah online (kayak di film2 itu loh, mata2, pembunuh bayaran dll wkwkwk). Tapi mana ada “orang normal” yang gak pernah online? Apalagi penduduk negara ini, yang amat sangat medsos…

  • 5 Agustus 2019 - (08:37 WIB)
    setau gue kalo ga di download di hp
    mana mgkn bank bisa tahu data pribadi kita?
    ini yg posting kasus ini hrsnya di uraikan secara detail
    jangan bikin asumsi yang tidak bener dulu
    ga mgkn bank bisa kayak dewa bisa tau bro

 Apa Komentar Anda mengenai Bank Mega?

Ada 11 komentar sampai saat ini..

Bank Mega Menagih dan Menyebar Data Saya kepada Teman di Media Sosial…

debby 4 menit
11