BNI Life Tolong Kembalikan Uang Saya

Selamat malam,

Tanggal 26 Agustus 2019 saya mendapat telepon dari seseorang yang katanya dari asuransi, dengan suara yang terputus-putus dan tidak jelas, sampai akhirnya telepon terputus. Singkat cerita pada hari ini tanggal 28 Agustus 2019 saya terima notifikasi by email saldo kartu kredit saya terpotong sebesar Rp531.500 untuk transaksi PA protection. Saya terkejut, apa itu PA protection? Sedangkan saya tidak pernah melakukan transaksi pembelian apapun.

Hari itu juga saya teleponke call center BNI CC 1500046 menanyakan apa itu PA protection dan kenapa memotong saldo kartu kredit saya? Jawaban call center bahwa pemotongan oleh asuransi BNI Life. Saya marah, karena saya tidak pernah menyetujui untuk jadi peserta asuransi. Kata call center mungkin karena saya bilang iya pada saat ada telepon dari pihak asuransi. Saya bilang apakah hanya bermodal jawaban iya dari konsumen via telepon sudah cukup untuk mengambil uang orang? Sedangkan jawaban iya belum tentu menyetujui jadi peserta asuransi.

Ini kan masalah uang besar, tanpa ada perjanjian resmi yang ditandatangani bisa mengambil uang orang. Secara logika, orang tidak akan mau membayar uang asuransi yang tidak jelas dan mahal. Hari ini terhitung sudah 5 kali saya menghubungi call center, namun belum ada kejelasan uang saya. Saya coba telepon ke nomor call center BNI Life 1500045 juga tidak ada yg menerima.

Tolong tanggapan dari BNI Life. Saya tunggu pengembalian uang saya.

Dian Candra Teta
Jember, Jawa Timur

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian mengenai BNI Life:
[Total:7    Rata-Rata: 1.7/5]
Tanggapan BNI Life atas Surat Bapak Dian Candra Teta

Menanggapi pemberitaan Bapak Dian Candra Teta dengan nomor polis PAPC20190009792 di mediakonsumen.com, pada pada tanggal 29 Agustus 2019 perihal “BNI...
Baca Selengkapnya

Loading...

Satu komentar untuk “BNI Life Tolong Kembalikan Uang Saya

  • 4 September 2019 - (20:36 WIB)
    Permalink

    Ini sama persis kayak pengalaman saya, cuma beda bank, saya bank BCA. Masa iya hanya bermodalkan kata”IYA” itu bisa mendebit uang kita.
    Berikut saya lampirkan pasal dalam UU :
    Syarat Sahnya Perjanjian
    Syarat sah perjanjian ada 4 (empat) terdiri dari syarat subyektif dan syarat objektif, diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata, yaitu

    Syarat Subyektif (menyangkut para pembuatnya). Tidak dipenuhinya syarat dibawah ini, mengakibatkan perjanjian dapat dibatalkan (voidable).

    1. Sepakat (Pasal 1321 – 1328 KUHPerdata)

    Supaya perjanjian menjadi sah maka para pihak harus sepakat terhadap segala hal yang terdapat di dalam perjanjian dan memberikan persetujuannya atau kesepakatannya jika ia memang menghendaki apa yang disepakati. Dalam preambule perjanjian (sebelum masuk ke pasal-pasal), biasa tuliskan sebagai berikut “Atas apa yang disebutkan diatas, Para Pihak setuju dan sepakat hal-hal sebagai berikut:”

    Pencantuman kata-kata setuju dan sepakat sangat penting dalam suatu perjanjian. Tanpa ada kata-kata ini (atau kata-kata lain yang bermaksud memberikan ikatan atau setuju saja atau sepakat saja), maka perjanjian tidak memiliki ikatan bagi para pembuatanya. Setuju dan sepakat dilakukan dengan penuh kesadaran di antara para pembuatnya, yang bisa diberikan secara lisan dan tertulis.

    Suatu perjanjian dianggap cacat atau dianggap tidak ada apabila:

    mengandung paksaan (dwang), termasuk tindakan atau ancaman atau intimidasi mental.
    mengandung penipuan (bedrog), adalah tindakan jahat yang dilakukan salah satu pihak, misal tidak menginformasikan adanya cacat tersembunyi.
    mengandung kekhilafan/kesesatan/kekeliruan(dwaling), bahwa salah satu pihak memiliki persepsi yang salah terhadap subyek dan obyek perjanjian. Terhadap subyek disebut error in persona atau kekeliruan pada orang, misal melakukan perjanjian dengan seorang artis, tetapi ternyata perjanjian dibuat bukan dengan artis, tetapi hanya memiliki nama dengan artis. Terhadap obyek disebut error in substantia atau kekeliruan pada benda, misal membeli batu akik, ketika sudah dibeli, ternyata batu akik tersebut palsu
    2. Cakap (Pasal 1329 – 1331 KUHPerdata)

    Pasal 1329 KUHPerdata menyatakan bahwa setiap orang adalah cakap untuk membuat perjanjian, kecuali apabila menurut undang-undang dinyatakan tidak cakap. Kemudian Pasal 1330 menyatakan bahwa ada beberapa orang yang tidak cakap untuk membuat perjanjian, yakni

    Orang yang belum dewasa (dibawah 21 tahun, kecuali yang ditentukan lain)
    Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan (curatele or conservatorship); dan
    Perempuan yang sudah menikah
    Berdasarkan pasal 330 KUHPerdata, seseorang dianggap dewasa jika dia telah berusia 21 tahun atau kurang dari 21 tahun tetapi telah menikah. Kemudian berdasarkan pasal 47 dan Pasal 50 Undang-Undang No 1/1974 menyatakan bahwa kedewasaan seseorang ditentukan bahwa anak berada di bawah kekuasaan orang tua atau wali sampai dia berusia 18 tahun.[1]

    Berkaitan dengan perempuan yang telah menikah, pasal 31 ayat (2) UU No. 1 Tahun 1974 menentukan bahwa masing-masing pihak (suami atau isteri) berhak melakukan perbuatan hukum.[2]

    Selain itu khusus suami istri, mohon diperhatikan juga apakah dalam perkawinan terdapat perjanjian pisah harta.

    Sindikat Notes: Maka dari itu, di dalam suatu perjanjian, terhadap pribadi individu para pihak, dicantumkan Nomor KTP, yang membuktikan kecakapan pihak untuk membuat suatu perjanjian. Apabila pihak tersebut adalah badan hukum misal PT, maka Direktur PT sebagai orang yang mewakili PT dalam tindakannya melakukan kepengurusan.

    Syarat Obyektif (menyangkut para pembuatnya). Tidak dipenuhinya syarat dibawah ini, mengakibatkan perjanjian batal demi hukum (null and void).

    3. Hal tertentu (Pasal 1332 – 1334 KUHPerdata)

    Pasal 1333 KUHPerdata menentukan bahwa suatu perjanjian harus mempunyai pokok suatu benda (zaak)yang paling sedikit dapat ditentukan jenisnya. Suatu perjanjian harus memiliki objek tertentu dan suatu perjanjian haruslah mengenai suatu hal tertentu (certainty of terms), berarti bahwa apa yang diperjanjikan, yakni hak dan kewajiban kedua belah pihak. Barang yang dimaksudkan dalam perjanjian paling sedikit dapat ditentukan jenisnya (determinable).[3]

    4. Sebab yang halal (Pasal 1335 – 1337 KUHPerdata)

    Syarat sahnya perjanjian yang keempat adalah adanya kausa hukum yang halal. Jika objek dalam perjanjian itu illegal, atau bertentangan dengan kesusilaan atau ketertiban umum, maka perjanjian tersebut menjadi batal. Sebagai contohnya, perjanjian untuk membunuh seseorang mempunyai objek tujuan yang illegal, maka kontrak ini tidak sah.[4]

    Menurut Pasal 1335 jo 1337 KUHPerdata menyatakan bahwa suatu kausa dinyatakan terlarang jika bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan, dan ketertiban umum.[5]

    Suatu kausa dinyatakan bertentangan dengan undang-undang, jika kausa di dalam perjanjian yang bersangkutan isinya bertentangan dengan undang-undang yang berlaku. Untuk menentukan apakah suatu kausa perjanjian bertentangan dengan kesusilaan (geode zeden) bukanlah hal yang mudah, karena istilah kesusilaan tersebut sangat abstrak, yang isinya bisa berbeda-beda antara daerah yang satu dan daerah yang lainnya atau antara kelompok masyarakat yang satu dan lainnya. Selain itu penilaian orang terhadap kesusilaan dapat pula berubah-ubah sesuai dengan perkembangan jaman.[6]

 Apa Komentar Anda mengenai BNI Life?

Ada 1 komentar sampai saat ini..

BNI Life Tolong Kembalikan Uang Saya

oleh Dianct dibaca dalam: 1 min
1