Praktek Jual Beli Internet Ilegal

Selamat siang, salam sejahtera bagi kita semua

Kepada Yth Pimpinan Telkom Indonesia,

Saya mewakili pengguna layanan internet Telkom (IndiHome) yang ada di Desa Bucor Wetan, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo โ€“ Jawa Timur, ingin menyampaikan beberapa hal yang menjadi keresahan kami dengan adanya praktek jual beli layanan internet secara ilegal yang dilakukan oleh oknum masyarakat di daerah sini.

Kami pada awalnya berjuang dengan sangat keras untuk dapat menghadirkan layanan kabel internet agar dapat masuk ke desa kami, butuh waktu berbulan-bulan bagi kami agar bisa disetujui oleh pihak Telkom di Kota Kraksaan dengan berbagai persyaratan yang harus kami penuhi.

Dengan proses yang sangat panjang tersebut akhirnya kami menerima kabar bahwa pengajuan administrasi kami disetujui oleh pihak Telkom dan segera akan dilakukan penarikan kabel dan pemasangan tiang ke desa kami. Alhamdulillah setelah butuh proses kurang lebih 1 bulan, akhirnya internet di Desa kami menyala.

Namun seiring dengan masuknya kabel tersebut ke desa kami, ada pihak atau oknum masyarakat yang masih bermain menjual layanan internet personal kepada masyarakat di desa kami. Ada 2 (dua) tipe dalam menjual internet tersebut. Yang pertama menggunakan Antena (dengan sistem tembak jaringan jarak jauh). Kedua dengan cara menarik kabel fiber optik dari si rumah oknum tersebut kepada rumah konsumen yang akan berlangganan.

Secara kabel internet sudah masuk, seharusnya permainan jual beli yang demikian sudah tidak terjadi lagi di desa andai pihak Telkom mempunyai sikap yang tegas akan tetapi ini malah sebaliknya. Banyaknya masyarakat di desa kami yang antusias untuk beli layanan internet kepada oknum tersebut, karena harga yang ditawarkan sangatlah murah yakni dengan harga mulai 100 ribu-an. Sedangkan perbandingan harga dengan pihak Telkom sangatlah jauh (lebih mahal produk Telkom) meski secara speed juga berbeda.

Kami sudah beberapa kali melaporkan kejadian tersebut kepada pihak Telkom di Kota Kraksaan, namun laporan kami sering diabaikan dengan sejuta alasan yang dibuat. Sampai saat ini kami masih patuh untuk tetap menggunakan layanan resmi dari pihak Telkom karena kami sebagai warga negara rela membayar harga mahal karena ada pajak untuk masuk ke KAS negara, sedangkan mereka tidak membayar pajak apapun terkait dengan penggunaan internet tersebut.

Pihak Telkom sangat dirugikan di desa kami dan juga kami yang menggunakan layanan resmi dari Telkom merasa sangat dirugikan serta beberapa desa di sekitar desa kami karena ulah oknum tersebut. Dan yang menjadi kekecewaan kami ketika laporan kami tidak digubris oleh pihak Telkom di Kota Kraksaan. Masyarakat disini menduga adanya permainan oknum tersebut dengan oknum Pihak Telkom Kota Kraksaan, karena setiap kami melapor kepada petugas di Telkom Kota Kraksaan, petugas Telkom seakan-akan melindungi kepentingan oknum penjual internet ilegal tersebut.

Mohon dengan hormat kepada pimpinan Telkom Pusat untuk menertibkan oknum penjual beli internet secara ilegal ini.

Kami berada di:

Desa: Bucor Wetan
Kec: Pakuniran
Kab: Probolinggo
Provinsi: Jawa Timur

Ahmad
Probolinggo, Jawa Timur


Catatan redaksi (diperbarui 20/4/2020). Surat ini diklarifikasi oleh penulis dalam surat berikut:

 

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian Anda!
[Total:243    Rata-Rata: 1.7/5]

Surat pembaca ini belum mendapatkan tanggapan dari pelaku usaha terkait. Jika Anda adalah pelaku usaha yang terkait dengan pertanyaan/permohonan/keluhan di atas, silakan berikan tanggapan resmi melalui tautan di bawah ini:

Kirimkan Tanggapan
Loading...

120 komentar untuk “Praktek Jual Beli Internet Ilegal

  • 18 April 2020 - (19:33 WIB)
    Permalink

    Karna yg melaporkan di tolak mentah Mentah. Untuk berkerja sama dengan
    Jaringan yg di sebut,danpernah mengunakanx
    Dan pernah menjua ke salah satu PT di desa bimo atas nama pribadi,Tampa menggukan izin resmi. Menggunakan jaringan tersebuat

      • 19 April 2020 - (08:41 WIB)
        Permalink

        Ya gitulah, oknum melaporkan si oknum. Mungkin tidak kebagian jatah kali. Masyarakat skrang sudah pintar, dari pada beli layanan ISP yang mahal, lebih baik langganan internet yang murah.

        • 24 Mei 2020 - (23:32 WIB)
          Permalink

          Ampoooonnn deh, nyesel posting di mediakonsumen.
          Pedes banget komen2 nya suhu.. wkwkwkw..
          Mending hapus aja mas postingannya, atau sampean cabutin aja kabel2nya disitu. wkwkwkw….
          Penyakit yg bikin stroke ..
          mikirin hasil usaha org lain..!!
          aku bayar 50rb perbulan..jadi bersyukur anak saya bisa belajar onlen. kalo ga ada jaringan dari tetangga.. wadohh..
          boro2 buat beli paketan 1 bulan..
          50rb 2 hari..modar..ra mangan..
          wes mas.. mending PDP aja sampean mas..wkwkwk

        • 10 Agustus 2020 - (01:53 WIB)
          Permalink

          Si mas ini salah lapor…
          Klo laporany mengenai memperjual balikan internet ilegal salah besar.
          Internet yg disediakan resmi dia bayar toh.
          Lagian hak dia mau diapain aja itu internet krn dia ikutin prosedur bayar tagihan blnan…
          Harusny laporany sprti ini :
          Boleh memperjual belikan tetapi bagun tiang sndri jga numpang tiang tetangga..๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

      • 19 April 2020 - (08:43 WIB)
        Permalink

        Mohon maaf, saya sebagai pelapor tidak pernah melakukan praktek jual beli tersebut.

        • 19 April 2020 - (22:06 WIB)
          Permalink

          Kalo telkom kraksaan merasa dirugikan gak mungkin laporan sampean gak di gubris mas. Lagian sampean kok ribet amat, toh sampean ya g rugi, ati2 mas, musuhe sampean masyarakat menengah kebawah. Bisa2 sampean di gruduk para pelanggan mereka yg blm mampu pasang indihom. Kuonyol sampean iki mas… . Mas.. masi iri yo ojok diketokne nemen2

          12
          • 19 April 2020 - (23:11 WIB)
            Permalink

            Wkwkwkkw ,, hati nya banyak dengki lihat orang usaha,

        • 21 Agustus 2020 - (09:43 WIB)
          Permalink

          Laporan yg sangat i****….dan sangat g*****….
          Kalau blom mengerti program memeratakan internet di kalangan bawah…jangan asal mbacooottt

          Laporan paling i*******

        • 18 Desember 2020 - (15:21 WIB)
          Permalink

          kasian hidup lu ribett..lo di rugiin dari segi mane coba ? lo iri kali die dapet penghasilan lebih..sdngkn hidup lo gitu” doang sibuk ngurusin hidup orang..wkwkwkw kasian..ke laut aje dah lo mendingan..biar ngurang ngurangin orang model kaya lo …

      • 19 April 2020 - (19:01 WIB)
        Permalink

        Anda termasuk orang yg mampu untuk langganan indihome sejak sebelum daearah anda belum tercover jaringan indihome, bagaimana dengan nasib masyarakat yg masih belum mampu untuk berlangganan padahal daearahnya sudah tercover jaringan indihome seperti saya, sebelum langganan indihome, apakah anda pernah berlangganan atau mau berlangganan tapi di tolak atau mungkin pernah kecewa dengan penyedia layanan internet selain indihome ?

    • 19 April 2020 - (08:00 WIB)
      Permalink

      Oh, ini seperti sharing kuota internet. Kalo dipake sendiri kan mahal dan ga habis2. Kalo dipake rame2 bisa lebih murah dan lebih untung

      • 19 April 2020 - (12:34 WIB)
        Permalink

        oknum tersebut pakai layanan Indihome Telkom gak? kalau pakai layanan lain ya ga apa2. memang banyak kok layanan lokal yang lebih murah, misal langganan TV kabel dari perusahaan besar di atas 100 ribu/bulan, pakai yang lokal cuma 25 ribu/bulan.masyarakat bebas pilih sesuai kemampuannya.

    • 19 April 2020 - (10:33 WIB)
      Permalink

      Maaf gan saya sebagai salah satu admin warnet ingin menjawab. Klo usaha warnet ada izinnya dan perlu izin ISP lg untuk menjual kembali.

      Tapi emng ada bbrp warnet nakal yg triknya sama ky penulis ini. Beli internet gigabit trs dijual lg.

      Kebetulan pemilik warnet tempat saya bekerja punya izin. Jadi bikin warnet itu gk sembarang

    • 21 April 2020 - (07:33 WIB)
      Permalink

      Intinya pelapor di rugikan dari mananya. Kalau anda lapor telkom dan mereka g nanggapin intinya mereka gak rugi. Yang rugi anda yg kehilangan empati, tinggal iri dengki. Ngo ae di gae repot..

    • 8 September 2020 - (23:22 WIB)
      Permalink

      BENAR INI MEMANG SANGAT MERUGIKAN.

      1. Merusak Estetika

      Pemasangan kabel optik yang dilakukan bukan ahlinya mengakibatkan susunan kabel menjadi semrawut merusak pemandangan, tidak jarang sampai terlihat bergelayutan membebani topangan kabel kabel resmi yang di pasang telkom.

      2. Memperlambat pekerjaan Teknisi Telkom.

      Bila terjadi gangguan pada layanan terkom yang terdaftar resmi, teknisi akan mengalami kesulitan menemukan kabel kabel pelanggan dikarenakan keadaan semrawut pada point 1 itu, sehingga memperlambat pekerjaan.

      3. Keluhan masuk ke Telkom semakin banyak.

      Pengguna yang hanya comot bayar murah dengan pengguna dengan nama tedaftar, semua itu akan mengeluh jika terjadi ganggunan jaringan. Sehingga laporan keluhan yang masuk ke Telkom sangat banyak dan berpengaruh kepada antrian pelayanan prima Telkom.

      4. Selain merugikan pelanggan telkom lama, hal itu juga merugikan pelanggan baru dalam antrian pemasangan.

      5. Secara teori ketidak beresan pasti akan terjadi pada hal hal diluar rencana awal.

    • 8 September 2020 - (23:23 WIB)
      Permalink

      BENAR INI MEMANG SANGAT MERUGIKAN.

      1. Merusak Estetika

      Pemasangan kabel optik yang dilakukan bukan ahlinya mengakibatkan susunan kabel menjadi semrawut merusak pemandangan, tidak jarang sampai terlihat bergelayutan membebani topangan kabel kabel resmi yang di pasang telkom.

      2. Memperlambat pekerjaan Teknisi Telkom.

      Bila terjadi gangguan pada layanan terkom yang terdaftar resmi, teknisi akan mengalami kesulitan menemukan kabel kabel pelanggan dikarenakan keadaan semrawut pada point 1 itu, sehingga memperlambat pekerjaan.

      3. Keluhan masuk ke Telkom semakin banyak.

      Pengguna yang hanya comot bayar murah dengan pengguna dengan nama tedaftar, semua itu akan mengeluh jika terjadi ganggunan jaringan. Sehingga laporan keluhan yang masuk ke Telkom sangat banyak dan berpengaruh kepada antrian pelayanan prima Telkom.

      4. Selain merugikan pelanggan telkom lama, hal itu juga merugikan pelanggan baru dalam antrian pemasangan.

      5. Secara teori ketidak beresan pasti akan terjadi pada hal hal diluar rencana awal.

  • 19 April 2020 - (06:22 WIB)
    Permalink

    Mohon maaf, apakah pelapor juga oknum, dalam arti, juga penjual jasa Internet?
    Karena mayoritas laporan seperti ini, dikondisikan untuk menjatuhkan saingan “bisnis” atau/dan oknum dari PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA, yang tidak kebagian jatah.

    Jikalau pelapor sendiri sudah kebelet ingin menikmati Internet melalui Fiber Optik kenapa menunggu “Indihome” untuk gelar homepass-nya sedangkan ada penyedia jasa lainnya yang menyediakan Internet via media Fiber Optik juga?
    Proses perjuangan 1 bulan itu sangat minimal. Coba ambil contoh Kab. Asmat, yg harus sewa Palapa Ring Timur (harga Indihome gak ada apa-apanya) sampai distribusi sendiri di wilayah desa-desanya tanpa bantuan Telkom.
    Perjuangan mereka tidak kecil.

    Pelapor juga menyatakan bahwa antusiasme masyarakat untuk membayar jasa “oknum” karena lebih murah walaupun speed tidak sebanding. Yang pasti adalah, market masyarakat daerah tersebut membutuhkan Internet murah/murahan, bukan yg lebih premium seperti “Indihome”. Silahkan anda asumsikan kenapa masih banyak “oknum” seperti ini sekeliling Indonesia. Jumlahnya puluh ribu.

    — Komentar ini sekedar opini pribadi saya, yg bergelut di industri telekomunikasi pangsa retail, bisnis, dan pemerintahan.

    • 19 April 2020 - (08:44 WIB)
      Permalink

      Saya sebagai pelapor bukan penjual jasa internet yang merasa tersaingi.
      Saya perseorangan dan murni konsumen Indihome

        • 19 April 2020 - (12:14 WIB)
          Permalink

          Soal begini sudah lama sejak dulu, mungkin sudah ada sebelum anda kenal yang namanya wifi.
          Mengadu ke telkom pusat buat apa tujuannya?
          Sedangkan telkom pusat sudah tahu dari dulu dan sudah jadi rahasia umum. Buktinya indihome saja diberikan limit berupa FUP atau batas pemakaian wajar.
          Jadi intinya apa yang anda lakukan adalah sia-sia.

          • 19 April 2020 - (13:10 WIB)
            Permalink

            pelapor ini tidak mampu memberdayakan masyarakat.
            pelapor ini tidak mampu berkreatifitas.
            pelapor ini hanya pengguna layanan yg egois.
            pelapor ini sangat ingin orang-orang disekelilingnya sama sprti dia statusnya adalah customer indihome yg tunggal dan hanya share layanan tersebut kepada keluarga serumahnya saja.
            pelapor termasuk kriteria manusia yg memiliki penyakit hati.
            yg jelas pelapor tersebut TIDAK BERMANFAAT.

            8
            1
      • 19 April 2020 - (13:51 WIB)
        Permalink

        Yg di konter kota ayar itu… !! Punya siapa

        Itu kan 1 indihome di jadikan 2 jalur
        Bukanya itu di jual lagi

      • 19 April 2020 - (16:31 WIB)
        Permalink

        Terus kepentingan anda melaporkan apa? Kalah saingan apa iri? Apakah merugikan anda?
        Menurut sy gak semua masyarakat mampu membeli kuota, bahkan sinyal jg gak nyampe ke pelosok2, semua ada sisi positif dan negatif

      • 21 Agustus 2020 - (09:48 WIB)
        Permalink

        Tapi anda g*****…
        Anda tidak memikirkan bagaimana kalangan bahwa ingin menikmati internet …yg sanggupnya bulanan 50rbu..10p ribu..150rb perbulan…
        Apakah indihome menyediakan..???
        Orang kalau egois seperti kamu ..ya otaknya menjadi g*****

  • 19 April 2020 - (06:49 WIB)
    Permalink

    Apakah pelapor dari kalangan berada.. harusnya di apresiasi dengan adanya internet murah warga jadi lebih terjangkau untuk menggunakan internet…

    disitu ditulis oleh pelapor harga yang lumayan jauh…

  • 19 April 2020 - (07:09 WIB)
    Permalink

    ini maksud nya adalah sharing internet yang dalam hal ini disebut oknum, kepada tetangga sekitar nya, jadi seolah olah seperti warnet. Entah ‘oknum’ tersebut berlangganan indihome atau provider lainnya. Jika demikian mungkin belum ada pasal yang mengatur konsumen tersebut, jika akses / layanan yang disewa di sharing ke pihak lain.

      • 19 April 2020 - (11:23 WIB)
        Permalink

        Mungkin ts memang bukan pesaing. Tapi saya rasa ada sedikit kecemburuan yg ts rasakan karena dia harus bayar mahal buat dapat koneksi indihome, sedangkan tetangganya bisa dapat lebih murah, ya walaupun secara speed punya dia pasti lebih kenceng karena dipake sendiri.

        Kalo secara aturan, kurang tau juga ya. Dulu pernah baca berita tahun 2016 ada yg ditangkap gara2 jual internet model gini. Entah di Sumatra ato Kalimantan. Pelanggannya sampai ratusan orang. Entah dia pake provider apa, bisa ngehandle sampai ratusan..
        Kalo kyk gitu cuma modal speed 100mbps, ya mungkin pelanggannya terima aja, asal bisa konek internet kali.

        Kalo secara prinsip mah emang sharing bandwidth, tapi kalo konsumennya ratusan ya labanya kebanyakan, gitu mungkin pikirannya ts.

        Prinsip kayak gini, dulu pernah dikampanyekan sama pak Onno w Purbo dgn sebutan RT/RW net kan?
        Cuma ya masalah legalitas nya yg belum jelas.
        Kalo ilegal, kok di online banyak yg jual server mikrotik yg sudah disetting buat jualan hotspot, bahkan sampai bisa cetak voucher sendiri.
        Yg bener gimana ya?

        Kalo buat sharing bandwidth skala kecil boleh gak?
        Soalnya di rumah pas masang indihome juga malah dikasih tau sama teknisinya, kalo mau masang bareng2 tetangga, nanti bisa disetting sama dia. Nah lho…

      • 24 April 2020 - (03:06 WIB)
        Permalink

        Wkwkwk..
        Biasa org lapor itu kan orang yg di rugikan ya…
        Saya belum paham ini yg lapor dirugikan di bagian mana nya..
        Di rugikan saingan bisnis?๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

    • 19 April 2020 - (09:02 WIB)
      Permalink

      Oknum tersebut berlangganan Indihome juga sebesar 100mbps dan dijual ke area yang sudah di masuki oleh kabel Telkom.
      Saya sebagai pelapor adalah perseorang dan bukan pesaing dari oknum tersebut

      1
      2
      • 19 April 2020 - (10:11 WIB)
        Permalink

        Wah saya setuju banget sama si om… Harusnya ga boleh gitu.. boleh minta FB nya ga om??

  • 19 April 2020 - (09:13 WIB)
    Permalink

    menurut peraturan LPG, BENSIN, INTERNET, tidak boleh di jual kembali, tdk boleh dijual eceran.
    namun seiring dng kebutuhan masyarakat serta kurangnya fasilitas dr pemerintah maka masyarakat membaca peluang tersebut. dan nyatanya bisnis tersebut sangatlah bermanfaat bagi semua masyarakat…
    kalau toh umpama pemerintah mampu memberikan fasilitas yg sesuai dng kemampuan masyarakat, mungkin bisnis tersebut tdk akan menjamur.

    • 19 April 2020 - (09:28 WIB)
      Permalink

      Dan layanan internet tersebut dijual ke area yang sudah dimasuki oleh kabel Telkom dengan harga yang menurutku memang merusak pasar Telkom.
      Ini bukan sharing kuota,

      • 19 April 2020 - (18:21 WIB)
        Permalink

        Ya rugi nya anda dimana? Dan ketika oknum penjual tsb membeli jga ke telkom (pakai indihome), tentu telkom scara gak lsg jga diuntungkan, kan ada FUB sehingga oknum tsb akan ambil byk modem ke telkom. Jdi telkom ruginya dmana? Scara bisnis telkom tdk dirugikan, malah mengurangi cost terhadap gangguan yg byk terjadi jika pelanggan telkom spt anda. Dikit2 lapor… Sya membaca ada kecemburuan sosial disini… Atau jgn2 yg jualan tsb adalah musuh anda. Toh masyarakat jga byk yg beli… Barti mreka tdk keberatan. Yg bermaslah disini itu anda….

      • 19 April 2020 - (21:30 WIB)
        Permalink

        Emang di point mana anda merasa dirugikan secara pribadi?

        Hilangkan iri & dengki broo, dengan elu report itu reseller internet apa elu bisa kaya?

        Cari kerjaan yg buat untung aja keles

        • 8 September 2020 - (22:20 WIB)
          Permalink

          Emang bener Telkom sendiri sudah masuk ke desa desa bos.
          Tapi apakah Telkom mampu memenuhi kebutuhan internet untuk daerah tersebut.
          Sedangkan Telkom hanya menyediakan paling banyak 16 port user di ODPnya
          Setelah 16 port itu penuh , sudah tidak bisa untuk langganan ke Telkom.
          Dan 1 hal .
          Apakah rakyat mampu membayar bulanan ke Telkom, yg minimal 200ribuan dan ada FUP/kuota.
          Jujur saja saya juga pelaku usaha rt/rw net.
          Dan masyarakat di desa ku banyak yg dukung karena di sana minim signal dan di masa pandemi ini bisa memenuhi kebutuhan belajar secara online.
          Apakah Telkom memikirkan hal tersebut?
          Jangan terlalu sempit pikiran anda yg notabene warga yang mampu bayar bulanan dari Telkom.
          Toh untuk pelaku usaha ginian juga bayar dari uang mereka sendiri dan di Telkom pun mereka per bulan juga gak pernah telat.
          Kok anda yang repot?
          Pertanyaanya.
          Kerugian Telkom itu dari segi mana bos?
          Kalau anda belum tau kondisi di lapangan.
          Jangan asal ngomong bos!
          Salam dari Desa Mlokorejo Kec. Puger Kab. Jember Jatim

      • 19 April 2020 - (22:15 WIB)
        Permalink

        Trus masalahnya apa gan buat sampean? Telkomnya gak bingung kok sampean yg bingung? Tanggung gan, laporin juga tuh penjual bensin eceran

      • 22 April 2020 - (22:49 WIB)
        Permalink

        skalian report warung2 tenda yg bli listrik dr rmh2 yg dekat dengan warung nya mas, merugikan pln itu, dan merugikan tetangga yg ga jual listrik, jujur kalo saya ngiri / dengki, soal nya ga bs ikutan jual listrik, kan saya jd ga dapet duit… ayo laporin mas, merdekaaaaaa

    • 12 Juni 2020 - (16:13 WIB)
      Permalink

      Salah satu contoh orang yang sok nasionalis dengan pembayaran pajaknya. tapi tidak memikirkan rakyat kecil kurang mampu di desa sendiri yang juga ingin ikut merasakan kemajuan teknologi

      5
      1
  • 19 April 2020 - (10:03 WIB)
    Permalink

    Knapa WARNET dari dulu gak di bubarin tuh,,system dan caranya sama,,membeli dan jual lagi,,,hmmm,,,,Rakyat ingin nikmati internet murah seperti layaknya Orang kaya Nikmati Gas melon( yang ada tulisan hanya untuk masyarakat miskin ) gtu aja repot…

  • 19 April 2020 - (10:30 WIB)
    Permalink

    Intinya saudara egois krn bisa bayar mahal.
    Kami masyarakat kecil cuma mampu internet kongsi2 sama pakek.
    Bersykurlah anda mampu.
    Pertanyaannya apakah saudara kasi password wifi anda ke tetangga anda. Klw 1 atau 2 mungkin iya. Tp klw sampai keliling rumah mintak gimana?. Trus kita buat bayar patungan tp setelah patungan ada yg merasa lelet maka kita buat repeater banyak dijual di shope maupun bukalapak dan trus kita naik bandwith ke 30mbps. Biar kita semuanyaman. Bukan kayak anda egois.
    Satulagi kami waifi kongsi bahagia. Patungan motokami.
    Dan klw ada yg mau kita bagi lg. Kitaik paket lagi. Toh pajaknya kan sdh ada di struk pembayaran.
    Bapak. Yg terhormat.
    Pintar pakai otak kemanusian dikit yapak.
    Rupanya cuma yg mampu yg boleh wifi an.
    Kami yg mampu 100rb .ap ad paket 100 pakt 50 di telkom. Dan satu lg biar bpk tau kita tamat kuliah jaringan gk semua kerja . Lalu u apa ilmu kami. Bapak yg kaya?

    1
    1
    • 19 April 2020 - (12:22 WIB)
      Permalink

      Jangan ikut-ikutkan petugas indihome
      Karna yg saya tau. Petugas indihome
      Probolinggo semua baik hati.

      Petugas indihome tidak asal pasang

      Di rumahnya sudah di pasangi indihome 10 Mbps ,masih nyalahka petugas Telkom

      Telkom di tidak merasa di rugikan,
      Yg merasa di rugikan mungkin mau buat jaringan sendiri tapi tidak bisa

      Susah payah petugas ..
      Haya di bayar dengan omong kosong
      Yg berlanggan indihome 10mbps ke Telkom,

  • 19 April 2020 - (12:22 WIB)
    Permalink

    Di artikel tertulis pihak telkom dan si pelapor yang merasa dirugikan. Tapi dikalimat selanjutnya si pelapor merasa kecewa karena tidak digubris pihak telkom setempat. Dari sini bisa saya simpulkan bahwa cuma si pelapor yang merasa dirugikan alias ….. hahaha

  • 19 April 2020 - (12:52 WIB)
    Permalink

    Yg namanya sharing internet pakai wifi dan jualan voucer, sdh banyak di tempatku. Hampir semua org sekarang butuh internet, emangnya Telkom mampu penuhi semua kebutuhan pakai kabel utk rumah2? jawabnya ga mungkin. Di mana ruginya Telkom? Toh semua semua perhitungan kuota internet yg dishare wifi maupun kabel sdh dibatasi, tergantung paket bandwidth yang terpasang.

    • 19 April 2020 - (22:20 WIB)
      Permalink

      Intinya si ts kyknya cuma iri, logikanya isi odp pada tiang telkom itu cuma berapa? Apa tiap odp itu cukup buat ngelayani orang 1 rt? Sudah pasti tdk cukup gan, lalu misal odp full, yg g bisa pasang , patungan sama tetangganya itu ilegal? Konyol

      1
      1
  • 19 April 2020 - (12:56 WIB)
    Permalink

    pelapor itu jelas sekali merasa tidak mampu.
    tidak mampu memanfaatkan.
    tidak mampu berkreasi.
    tidak mampu memberdayakan masyarakat.
    tidak mampu bersyukur.
    saya vonis untuk pelapor adalah salah satu orang yg TIDAK MAMPU.

  • 19 April 2020 - (13:01 WIB)
    Permalink

    Intinyaaaaa,anda memihak pasar telkom yang tidak ada untung atau rugi bagi anda
    Bedanya kami Rt/rw net dengan anda(mr.Rich) selain mendapat penghasilan,kami juga dapat membantu masyarakat kurang mampu yang tidak sanggup untuk bayar indihome Rp.280,000/bln

  • 19 April 2020 - (15:31 WIB)
    Permalink

    Rt rw net 100-150 ribu perbulan, biaya pasang 200ribuan mungkin buat belu kabel/modem

    Indihome kalo abonemen 280.000
    Deposit 280.000
    Biaya pasang baru 150.000
    Biaya abonemen 280.000
    Belum lagi tiap tahun mesti abonemen naik sekitar 10-15% sesuai dengan kenaikan UMR
    Belum lagi kena begal teknisi dan marketingnya

    Wahai Plat Merah sebenarnya mau mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai UUD45 atau memeras kami !!!!

    Salam Lupin Ranger, … Ariyuuu ๐Ÿ‘‰

  • 19 April 2020 - (17:09 WIB)
    Permalink

    Jangankan 100ribu kalau perlu kita mau yang gratis, ngapain dilaporkan yang dirugikan siapa pak? Apakah bapak yang dirugikan? Yang pasti pihak Telkom sudah tahu dan semuanya yang belajar jaringan pasti tahu tentang celah ini, Telkom sudah private oriented bukan ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa itu BUMN pak, seharusnya mereka di pihak kita (rakyat Indonesia), untung ruginya rakyat yang menutupi hutang mereka!
    Kalau memang ada persaingan bisnis di bawah tergantung costumer tertarik tidak dengan produk sharing internet mereka, HP aja hotspot portabel nya apalagi Indihome, kalau bapak keberatan yang jual ubiquiti dan sejenisnya di BL, toped, shopi, lzd suruh banned (tutup)!
    Terus apa bedanya PLN rumah tangga yang dibagikan ke tetangga sebelah bayarnya patungan hayooo boleh apa tidak??

    • 19 April 2020 - (18:37 WIB)
      Permalink

      Mas pelapor, saya mau tanya,?

      , masnya pakai internet berapa Mbps sih.. koq merasa dirugikan? belum pernah pakai internet yg kenceng ya? sini main tak kasih intenet 200mbps.

      1
      1
  • 19 April 2020 - (19:13 WIB)
    Permalink

    Terus ruginya sama anda apa?
    toh penjual dan pembeli sama2 setuju..
    Kalau anda bilang telkom yg dirugikan, kenapa anda yg heboh?
    Jangan sudah melihat orang senang, senang melihat orang susah

  • 19 April 2020 - (19:20 WIB)
    Permalink

    intinya anda punya penyakit hati. itu saja. anda merasa ssngat berjasa atas masuknya layanan indihome ke wilayah situ. tapi dimanfaatkan untuk bisnis oleh orang lain. anda pikir dengan anda mengajukan permohonan penarikan kabel, mengumpulkan ktp calon pelanggan inhome. pimpinan perusahaan telkom mengapresiasi anda? jawabannya tidak sama sekali

  • 19 April 2020 - (19:29 WIB)
    Permalink

    anda mampu bayar tiap bulan ke telkom ! terus apa ruginya di anda klo ada yg mode patungan di sekitar ?

  • 19 April 2020 - (23:30 WIB)
    Permalink

    Si Ts orangnya sangat iri, yg di maksud ts itu usaha rt/rw net, sharing internet dgn biaya murah. Bisa jd alternatif akses internet murah buat kalangan menengah kebawah. Ts emg dh yakin klo yg di laporkan mengunakan indihome ? Lagian usaha rt/rw net yg mengunakan indihome udh banyak, dh jd rahasia umum, kaan ada fup dr indihome buat pembatasan. Lagian skalanya itu gk bakalan sampe perkabupaten. se luar rt/rw aja, lbh2 paling 1 desa .
    Ngapain harus nunggu fiberoptic sebulan . Kan bisa ptp ke penyedia yg ada. Pajak ?.. Bayar indihome ada ppn nya 10% ..

  • 20 April 2020 - (02:06 WIB)
    Permalink

    Itungยฒan bloon. Misalnya yg upto 100Mbps 500rb/bln, sharing ke 5 rumah @100rb/bln, klo cuma pake router + access point pas rame masih upto 20Mbps, klo sepi ya full speed, kecuali ada setting mikrotik dan sejenisnya. Sharing internet, bayar ny jg patungan kan jd lebih ekonomis
    Daripada langganan individu upto 20Mbps mungkin sktr 200rb+/bln

  • 20 April 2020 - (02:41 WIB)
    Permalink

    Jangan jadi kompeni di daerah/komplek sendiri om. Syukur2 klo ente mau berubah jadi sipitungnya. Percuma laporan juga, yg komen akhirnya banyak yg ngejudge k ente orang yg Iri hati.. walaupun ada komen ente di atas tidak menjual kembali, tapi dimari laporan ente seolah olah pengen ente aja yg menukmati fasilitas Internet, dan yg lain ga boleh. Kan lucu jadinya, kayak yg masih labil pemikirannya.

  • 20 April 2020 - (07:51 WIB)
    Permalink

    Selama tidak merugikan.
    Laporan ente tidak masuk akal
    Perbaiki hati perbanyak sosialisasi dengan Warga sekitar

  • 20 April 2020 - (10:34 WIB)
    Permalink

    Dari pihak telkom sendiri sepertinya sudah menjadi rahasia umum hal semcam ini, buktinya dengan diberlakukannya FUP, dan sudah ada add ons tambahan untuk pelanggan yang sudah mencapai FUP artinya keluar biaya lebih dari biaya bulanan pelanggan normal. kalo TS bicara soal pajak, bukankah oknum juga dikenakan biaya pajak. Jadi TS dirugikannya disebelah mana?

    Mas dolanmu kurang adoh, mikirmu kurang jeru, kreatifitasmu kurang lumrah, jiwa sosialmu meh sekarat ๐Ÿ™‚

  • 20 April 2020 - (17:16 WIB)
    Permalink

    Ohh gini.. Jadi TS yang mengusahakan jaringan Telkom bisa masuk ke Desanya adalah TS. Terus TS merasa kecewa karena apa yang dia usahakan justru orang lain yang mengambil keuntungan lebih yaitu dengan menjual dan pelanggannya membayar dengan biaya murah.

    Saran saya.. TS gausah iri atau kecewa.. Jadikan apa yang TS lakukan dengan memasukan jaringan telkom ke desa tersebut sebagai ladang amal. Yang kayak gini udah banyak terjadi di tempat lain.

    Telkom justru akan ambil keuntungan tersebut.. Dibiarkan seperti itu supaya terbentuk habit menggunakan internet.. Nantinya kalau kebutuhan pelanggan yang menggunakan sharing tersebut semakin meningkat makan pelanggan tersebut pasti akan langganan sendiri…

    Salam..

  • 21 April 2020 - (01:42 WIB)
    Permalink

    Yg saya tangkap :

    1. Mungkin dia merasa rugi karena harus bayar lebih mahal dari tetangganya yg langganan rt rw net.

    2. Mungkin dia rugi kalau lihat orang lain untung ๐Ÿ˜€

    Kok masih ada ya orang macam ini di era 4.0.

    Sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama tong. Si Oknum mah udah ngasih manfaat ke orang banyak dengan menyediakan kebutuhan (internet) yang murah. ente sendiri sudah lakukan apa untuk orang banyak?

    kalau toh ternyata si oknum dapet untung dari usahanya ya wajar lah…

    Saya paham mungkin ini efek #diamdirumah, ๐Ÿ˜€ sabar tong semua orang memang sedang kesulitan dalam pekerjaannya, tapi mbok ya jangan ngrecokin kerjaan / hidup orang lain gitu… #TepokJidatGw hadeuh..

  • 21 April 2020 - (01:45 WIB)
    Permalink

    Kalo ente dengki sama si oknum, artinya ente akan berhadapan dengan pelanggan (yng notabene menikmati manfaat RT RW Net) hati hati dengan doa orang banyak.

  • 22 April 2020 - (20:30 WIB)
    Permalink

    salam dari Rt Rw net sukabumi buat pelapor semoga rejeki pelapor di mudah kan di Beri kesehatan keluarganya
    membangun rt rw net gak mudah ganunyuk modal aja kdang kita pnjem ke bank ngumpulin dri yg pake jringan kita bahkan kita kerja sampe mlm mlm hujan hujan di atas genteng org rela gk di byar demi kelancaran konsumen blum lg pas kena petir kdang konsumen ngk mau tau nikmat mana lagi yg kau dustakan ๐Ÿ˜Š

    • 8 September 2020 - (22:33 WIB)
      Permalink

      Wkwk salam juga dari Jember Jatim om.
      Bener om
      Biaya untuk server sama alat aja bisa buat beli YA**HA NM*X ya om.
      Tapi demi memenuhi kebutuhan Internet masyarakat ya mau gimana lagi ya om?
      Munkin ts hanya memikirkan perut.nya sendiri om

  • 3 Mei 2020 - (19:38 WIB)
    Permalink

    Saya simpulkan yang lapor adalah sampah masyarakat, iri sama orang sekitar, bisa bacot doang dan tak berguna bagi masyarakat, dengan adanya oknum RT RW net yang bangun jaringan masyarakat sekitar jadi terbantu, miskin ilmu tapi ketika ada orang yg berilmu dan bisa bermanfaat bagi masyarakat seolah ente kagak terima, biasanya orang kayak ente kagak dianggap di masyarakat, makanya cari perhatian di media sosial, wkwkwkwkwk ๐Ÿ˜†

  • 9 Mei 2020 - (14:30 WIB)
    Permalink

    Ngakak gw ngeliat komentar2x para master…. ampe greget dan penasaran gw, oia maen ke rmahx @AHMAD yok… skalian silaturahmi… ato mungkin jga bisa kasi wangsit gto wkwkwkw

  • 13 Mei 2020 - (19:15 WIB)
    Permalink

    Pelapor bukanya merasa di rugikan..
    Tpi merasa irihati dengki..orang lain bisa,dia enggak..
    Sbnar nya rt rw net ..bersift positif..
    1)Pertama..dg harga 100. /200 rb / bulan ny masyarakat bisa menggunakan internet tanpa batas kuota.kalo beli kuota gsm 200 rb gak cukup lo buat sekeluarga.
    2)angka pengangguran di indonesia..bisa berkurang..dan pemuda2 apa lagi pemuda karang taruna bisa berkarya membangun rt rw net untuk wilayah desanya..itu kan sangat bagus…
    3) yg merasa dirugikan dg ada nya rt rw net..perbanyak minum air pemutih pakayan ya..biar hati nya bersih..bersih dari rasa iri.dengki..biar masuk surga….amin…..

  • 15 Mei 2020 - (09:09 WIB)
    Permalink

    sekarang kita di masa WFH .. internet sangat dibutuhkan anak”,bapak”,ibu”,mbak”,mas” etc lah..
    hampir di seluruh indonesia terutama di pelosok desa, belum ada jaringan internet yang masuk. dan belum lagi belajar online di rumah tiap hari harus beli paketan.. mbok ya mikir dong kok yang berfaedah kayak gini di laporkan.. coba surve la tetangga anda yang mampu dan tidak.. pemerintah aja g nyediain internet di kampung” buat belajar siswa di rumah. sekali lagi lihatlah dari sisi sekitar jangan asal.. punya otak di pakek MIKIR

  • 31 Mei 2020 - (13:07 WIB)
    Permalink

    Saya kira si pelapor terlalu berlebihan, harusnya bijak untuk menyimpulkan..!!!
    Menurut saya Telkom sama sekali tidak dirugikan atas praktek jual beli tersebut, malah sebaliknya oknum tersebut justru membantu Telkom agar masyarakat yang berpenghasilan kecil juga dapat ikut menikmati penggunaan koneksi internet,
    tentunya dengan harga yang jauh lebih murah.
    Artinya oknum tersebut membeli paket speed yang besar dari Telkom, kemudian disalurkan lagi kepada masyarakat yang hanya mampu membeli paket dengan harga 100rb, atau paket murah seperti yang disebutkan si pelapor.
    Jangan berlebihan, masyarakat juga bayar pajak diwakili sama oknum tersebut.

    Telkom dengan kebijakan Fair Usage Policy (FUP), sama sekali tidak dirugikan.
    Jutru Telkom yang merugikan masyarakat dengan kebijakan Fair Usage Policy (FUP) tersebut.

    Mereka justru membantu Telkom, bukan merugikan.

  • 4 Juni 2020 - (15:03 WIB)
    Permalink

    kalau ga salah tangkap mungkin, karena merasa yg memasukan internet itu hasil jerih payahnya, jadi ketika org lain yg ikut menggunakan fasilitas infrastruktur tsb dan mensharingkan dianggap merugikannya. selama ini yg saya tahu mensharingkan internet itu boleh2 saja. jadi mungkin si pelapor merasa rugi atas biaya yg dia keluarkan dibanding orang selanjutnya yg berlangganan sebelum infrastruktur itu ada, mungkin biaya yg dibebankan pada sipelapor meliputi infrastruktur yg dimaksud sehingga beliau menganggap infrastruktur itu miliknya, sayangnya ide untuk menjual internet sharing itu justru orang lain dahulu. mungkin si pelapor ingin agar si terlapor patungan juga biaya infrastrukturnya.

    • 26 Juni 2020 - (23:16 WIB)
      Permalink

      buat yg jaringan nya uda gede mungkin bisa, tapi buat yg masih sekelas satu rt atau satu rw, laba mereka gk sampek 1jta perbulan, sedangkan modal awal sangat besar, bisa sampek harus pinjam bank meski hanya jaringan satu rt, sedangkan mengurus surat ijin itu tidak murah, dan proses nya juga makan tenaga dan waktu.

  • 10 Juli 2020 - (05:24 WIB)
    Permalink

    Hati hati om.. musuh sampean pengguna wifi murah seluruh indonesia.. bisa dikroyok nanti ๐Ÿคญ

  • 19 Juli 2020 - (03:56 WIB)
    Permalink

    Asslm…wib.
    Mohon izin pak/saudara”i…
    Masyaratkat kcil d wilayah prdesaan… kpingin masang scara pribadi mungkin sgt lemah d dlm pembayaran bulan’y…
    Jdi ada’y krja sama masyarakat d dlm gotong royong… untuk mrasakan sinyal internet indihome… agar stiap orang mrasakan k mudahan d dlm mnggunakan sinyal indihome… jd sangat brharap pihak indihome… mncaput aturan larangan itu…. agar tiang d tiap” wilahyah sbgian orang yv mmasang… mewakili masyarakat yg tdk mmiliki.
    Trima kasih…

  • 22 Juli 2020 - (11:53 WIB)
    Permalink

    Harusnya sah saja, karna 1 line sudah ada quota kecepatan dan FUP nya. jadi misal dibagi 5, ya makin lambat dan FUP jadi pendek.

    Onno W Purbo pakar yg pelopori RT RW Net. Legal deh kyaknya. ๐Ÿ˜€

  • 8 Agustus 2020 - (15:40 WIB)
    Permalink

    alhamdulillah adanya rt/rw net saya sekeluarga dan tetangga bisa tau internet.setiap pagi anak anak bisa belajar online pakai internet yg di bagikan.cukup beli es 2000 di kasih internet sampai 12 jam

  • 10 Agustus 2020 - (00:50 WIB)
    Permalink

    Lama lama pengecer bensin bisa dilaporin karena ilegal.

    Lama lama pedagang kaki lima di pinggiran bakal digusur karena menempati trotoar.

    Alhamdulillah Di Indonesia masih banyak menggunakan hati nurani, gotong royong dan kebersamaan.

  • 10 Agustus 2020 - (04:29 WIB)
    Permalink

    kalian mah sok pinter semua klo dari salah satu kalian udah di ciduk PALING MINTA Maaf ,.,.,., yang merasa RTRWNET ga bayar pajak BHO dll dan tidak punya izin mejual beli ,, udah diem jangan sok sok an lah, udah SALAH NGOTOT

    • 12 Agustus 2020 - (21:47 WIB)
      Permalink

      yang jelasnya RT/RW Net 1000% sangat bermanfaat untuk masyarakat kalangan bawah, dan yang jelas melaporkan 1000% memiliki penyakit IRI DENGKI. kita harus bangga jika ada anak bangsa yang mempunyai kreatifitas untuk membantu masyarakat yang lemah, Intinya pihak telkom tidak akan rugi, kecuali yang melaporkan sopasti suda rugi, udalah, buang aja penyakit iri dengkinya agar dibadan sehat walafiat.

  • 16 Agustus 2020 - (00:25 WIB)
    Permalink

    Selama itu bermanfaat bagi masyarakat kecil kenapa musti dipermasalahkan, banyak loh yg cuma dpt sinyal aj Susah…sekarang semua online Dan tdk semua Dr mereka bisa membeli kuota hanya utk sekedar sekolah online…

  • 23 Agustus 2020 - (20:53 WIB)
    Permalink

    ia ilegal si. kaya temenku ada. alatnya sedรจrhana. kipasnya yang dibutuhin aja cuma 1.
    nembak tu maksudnya nembak jaringan internet alias nyuri. dadi kapasitas kecepatan internetnya ya sama seperti punya yang dicuri.
    aku aja kemarin make widfinya kecepatanbya 47mbps. orang kartasura, katanya pelangganya ada yang dari boyolali juga. yang deket2 bisa langganan dengan bayar kabel optik, dan yang jauh pake antena bayar 1,5 juta pemasangan awal.
    dah selese tu. tinggal langganan perbulannya bayar 100 ribu.
    kalo temenku di pekalongan ada yang make jasa gitu, cuma dia bayar dipemasangan awal cuma 1juta. kenudian perbulanya bayar 100 ribu

  • 8 September 2020 - (22:39 WIB)
    Permalink

    Coba jalan jalan kesini om
    Nanti tak ajak jalan – jalan + ngopi
    Ke Desa Mloko Kec. Puger Kab. Jember om
    Apakah Telkom mampu memenuhi kebutuhan Internet masyarakat sini?
    Yang notabene jauh dari ODP Telkom.
    Yang deket ODP aja sudah berulang kali daftar tetep gak kepasang, karena alasan ODPnya penuh.

    • 21 November 2020 - (14:05 WIB)
      Permalink

      Sama om, ane pengen pelapor coba2 main juga ke daerah ane, Desa Jatimulya, Pedes, Karawang.

      Gimana masyarakat antusias banget dengan adanya RT/RW net daerah disini, ketimbang mereka harus beli paket data harga mahal.

      Ada pun telkom kasih internet kasih harga yg menurut mereka mahal banget..

 Apa Komentar Anda?

Ada 120 komentar sampai saat ini..

Praktek Jual Beli Internet Ilegal

oleh ahmad m dibaca dalam: 2 min
120