Mengenal Ameloblastoma, Tumor Jinak Odontogenik yang Biasanya Tumbuh pada Tulang Rahang

Oleh dr. Fathul Djannah, Sp.PA.

Ameloblastoma adalah tumor jinak odontogenik yang biasanya tumbuh pada tulang rahang.  Ameloblastoma merupakan tumor odontogenik tersering dengan angka kejadian sekitar 1% dari angka kejadian tumor rongga mulut, 80 % pada area tulang rahang bawah dan 20 % lagi pada rahang atas. Ameloblastoma merupakan suatu tumor jinak, tumbuh lambat namun bersifat agresif lokal dengan gejala berupa pembengkakan pada area rahang dan tidak menimbulkan rasa nyeri, dapat meluas sampai  ke bagian tulang yang dalam, menyebabkan rusaknya pada dasar rongga mulut dan  menginfiltrasi jaringan lunak di sekitarnya. Gejala yang dapat dialami penderita tumor rahang antara lain juga adalah:

  • Wajah bengkak
  • Perubahan pada bentuk wajah
  • asimetris pada wajah
  • Nyeri di tulang rahang, gigi, mulut dan bagian wajah lainnya
  • Sulit menggerakkan rahang
  • Terkadang tumor yang kecil dapat teridentifikasi pada foto radiografi rutin.

Ameloblastoma umumnya muncul pada dekade tiga hingga lima, namun tidak sedikit kasus yang terjadi pada berbagai usia dengan rentang yang luas. Ameloblastoma terbentuk dari neoplasma agresif yang muncul dari sisa-sisa lamina gigi dan organ gigi. Meskipun dianggap tumor jinak, dapat berpotensi menjadi ganas sehingga perlu dipahami secara baik.

Penderita Ameloblastoma (foto dok. penulis)

Sebagaimana halnya pada tumor yang lain maka penyebab pasti dari tumor rahang bawah ini juga tidak jelas. Diperkirakan beberapa faktor resiko yang dapat meningkatkan terjadinya tumor rahang bawah ini antara lain adalah:

  • faktor iritatif non spesifik seperti tindakan pengangkatan gigi
  • karies,
  • trauma,
  • infeksi yang lama,
  • kelainan defisit nutrisi
  • gigi impaksi
  • kelainan kista pada gigi

Gejala

Gejala klinis dan radiologis ameloblastoma dapat menunjukkan gambaran yang tidak spesifik,, padahal diagnosis yang tepat dan cepat sangat penting sebelum melakukan prosedur tindakan bedah. Akhir-akhir ini para ahli bedah menginginkan tindakan biopsi untuk dapat menegakkan diagnosis dengan cepat.

Diagnosis ameloblastoma dapat ditegakkan melalui sitologi sebelum operasi dilakukan. Biopsi Aspirasi Jarum Halus (Fine Needle Aspiration Biopsy/FNAB) merupakan tindakan yang cepat, kurang invasif, dan merupakan salah satu alternatif biopsi yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis sebelum tindakan bedah dilakukan. Adalah suatu teknik pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis dengan aspirasi jarum halus pada suatu jaringan. Hasil dari pemeriksaan ini dapat menunjukkan gambaran suatu lesi yang reaktif dan inflamasi, serta menentukan sifat jinak dan ganas dari suatu tumor.

FNAB telah banyak digunakan dan sudah menjadi jalur pertama dalam rangkaian penentuan diagnosis pada massa di regio kepala dan leher. FNAB merupakan suatu teknik pemeriksaan yang akurat dan aman dilakukan, tidak membutuhkan banyak peralatan, biaya murah, dan mengurangi waktu rawat inap di rumah sakit, serta tindakan biopsi operasi dan komplikasi dari anastesi dapat dihindari. Prosedur FNAB juga merupakan suatu teknik invasif minimal, tidak memerlukan persiapan khusus dari pasien dan aman dilakukan pada ibu hamil, anak-anak dan pasien dengan risiko tinggi. Teknik ini juga tidak menyebabkan adanya perdarahan dan rasa nyeri yang berarti dikarenakan penggunaan jarum berukuran halus.

Tindakan FNAB biasanya bukan prosedur utama dalam penegakkan diagnosis ameloblastoma, kemungkinan karena langsung dilakukan biopsi insisi. Walaupun demikian, prosedur ini dapat sangat berguna dalam hal penentuan metastasis dan evaluasi suatu rekurensi serta merupakan prosedur sitologi yang utama dalam penentuan batas sayatan eksisi yang adekuat sehingga rekurensi dapat dicegah.

Sebelum tindakan bedah, biasanya diagnosis ameloblastoma ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan radiologis, namun gambaran klinis dan radiologis tersebut bisa memberikan gambaran yang menyerupai odontogenic cyst dan tumor lain. Gambaran radiologi menunjukkan lesi yang meluas dengan penipisan pada tulang rahang bawah. Lesi berupa kista multiple dengan gambaran “soap bubble” atau “honey comb”. Dengan penggunaan foto rontgen yang konvensional, gambaran ameloblastoma terkadang terlihat mirip dengan gambaran suatu kelainan kista pada gigi.

Terapi

Terapi ameloblastoma adalah eksisi komplit dengan batas-batas yang adekuat sehingga dapat meminimalisasi terjadinya rekurensi, oleh karena itu perlu perencanaan penatalaksanaan yang tepat. Usaha untuk menghilangkan tumor dapat dilakukan dengan kuretase, meskipun akan meninggalkan pulau-pulau kecil tumor di dalam tulang, yang di kemudian hari akan menimbulkan kekambuhan.

Harus disadari bahwa hal ini adalah penyakit persisten yang berbentuk tumor dimana tidak bisa dikontrol sepenuhnya sejak awal. Saat sejumlah kecil tumor tertinggal, bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum penyakit persisten ini menjadi nyata secara klinis maupun radiografis, dan membutuhkan waktu juga bagi ahli bedah untuk memberitahukan kepada pasien agar diobati.

Ketika batas seluruh jaringan lunak dan keras dibuktikan negatif secara histologis, pasien dianggap sembuh dari neoplasma ini. Sayangnya, setiap penanganan yang kurang agresif dihawatirkan pasti persisten dan ditemukan pada suatu waktu pasca operasi. Meskipun adakalanya ameloblastoma yang ada bersifat radiosensitif, namun sebaliknya, tumor jinak ini harus dilakukan terapi bedah kuratif, terapi radiasi masih dipertanyakan dalam upaya penyelamatan pasien dengan kasus ini.

Tantangan dalam melakukan penatalaksanaan pada ameloblastoma adalah untuk mencapai pengangkatan tumor secara keseluruhan, tanpa mninggalkan sisa dan rekonstruksi ketika tumor dalam ukuran sangat besar. Kasus rekurensi ameloblastoma telah banyak dilaporkan akibat perawatan yang inadekuat serta menyebabkan komplikasi yang tidak diingikan.

Perawatan pasca operasi reseksi tulang rahang bawah yaitu medikasi antibiotik dan analgetik. Hindarkan trauma fisik pada muka atau rahang karena dapat menyebabkan fraktur tulang rahang bawah. Jaga oral hygiene hingga luka operasi sembuh sempurna. Diet lunak dipertahankan 4-6 minggu. Jika diperlukan dapat dibuatkan prostesa gigi setelah dipertimbangkan bahwa telah terjadi pembentukan tulang rahang bawah yang sempurna, lebih kurang 6 bulan pasca operasi.

Dikarenakan penyebab yang tidak dapat diketahui dengan pasti maka sulit pula untuk melakukan pencegahan agar tidak terjadi amloblastoma kecuali bila terjadi kelainan pada gigi di rahang bawah seperti lubang yang besar atau pembengkakan dan nyeri pada gusi yang harus segera ditangani dan jangan ditunda.

Catatan redaksi: Meskipun artikel ini ditulis oleh tenaga medis profesional, konten ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti saran, diagnosis, atau perawatan medis profesional. Selalu mencari saran dari dokter Anda atau penyedia layanan kesehatan berkualifikasi lainnya atas kondisi medis yang sedang Anda alami. Jangan pernah mengabaikan nasihat medis profesional atau menunda dalam mencarinya karena sesuatu yang telah Anda baca di Situs Web ini.
Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian Anda!
[Total:0    Rata-Rata: 0/5]
Loading...

 Apa Komentar Anda?

Belum ada komentar.. Jadilah yang pertama!

Mengenal Ameloblastoma, Tumor Jinak Odontogenik yang Biasanya Tumbuh p…

oleh Fathul Djannah dibaca dalam: 4 min
0