Tergenang Lagi di Daratan Pasundan

Bencana datang bisa kapan saja dan dimana saja, bencana pun datang bisa disebabkan oleh beberapa faktor, bisa dari perbuatan manusia maupun kehendak ilahi. Namun bencana bisa juga di antisipasi dan diperbaiki terutama bencana dari ulah manusia yang kita sering kita dengar bahkan alami yaitu banjir. Banjir menjadi bencana bahkan masalah yang belum terselesaikan hingga saat ini karena ulah manusia yang tidak pernah berubah dan dirasa penanggulangan yang kurang.

Banjir yang selalu menjadi langganan setiap tahun bahkan saat hujan melanda pun banjir meluap hingga pemukiman warga yaitu Banjir di sekitar Baleendah dan Dayeuhkolot. Akibat adanya luapan Sungai Citarum yang berdekatan dengan pemukiman warga, banjir selalu meredam saat hujan terus menerus turun yang membuat kapasitas air di sungai tidak terbendungi. Beberapa faktor seperti sampah yang dibuang ke sungai dan kurangnya resapan air di daerah ini menjadi penyebab utama banjir bandang selalu hadir dikala hujan yang lebat.

Akan tetapi masih belum rampung juga permasalahan banjir ini karena solusi yang belum tepat dan mutakhir dari Pemerintah Kabupaten Bandung ini yang menjadi tanda tanya di mata masyarakat. Pengerukan tanah untuk kepentingan para pengusaha yang berinvestasi lahan menjadi pemukiman penduduk menjadi salah satu faktor yang dipertanyakan Amdal dan resiko bencana banjir. Terlebih daerah resapan air yang mulai menipis membuat volume air selalu berimbas banjir, menjadi sebuah fokus utama yang seharusnya dipikirkan sangat matang seharusnya dari dahulu.

Setelah adanya rehabilitasi Citarum Harum di hulu Sungai Citarum tahun 2018 , ternyata dinilai masih kurang mutakhir dalam menangani banjir langganan yang berimbas di daerah Baleendah dan Dayeuhkolot. Pembersihan kualitas dan kuantitas air di sekitar hulu Sungai Citarum berpengaruh untuk menghentikan bencana banjir, memang terealisasikan hanya saja belum semaksimal mestinya. Di hilir sungai pun sudah ada peringatan yang diperketat tetapi semua himbauan itu mungkin masih tak dihiraukan oleh warga sekitar maupun pemilik industri di sekitar.

Setelah bertahun-tahun daerah ini menjadi daerah banjir langganan banyaknya fasilitas umum dan fasilitas pribadi yang rusak dan dikeluhkan oleh masyarakat. Seperti jalanan yang rusak akibat tanah yang atau aspal jalanan yang tidak sekokoh dulu disebabkan lembabnya tanah akibat banjir yang menggenang. Sehingga jalanan menjadi berlubang dan dapat mencelakakan pengguna jalan apabila tidak hati-hati berkendara.

Apabila banjir sedang menggenang, banyaknya aktivitas warga yang terhambat, seperti akses jalan menuju tempat yang dituju maupun lainnya seperti berjualan di sekitar bantaran Sungai Citarum. Kegiatan lainnya seperti bersekolah pun terpaksa diliburkan pada sebelum pandemi maupun saat pandemi Covid-19 ini. Lalu rentannya penyakit yang terserang akibat banjir seperti diare ataupun penyakit yang disebabkan banyaknya kuman yang terkena tubuh.

Apabila ditarik lagi dari akar bencana banjir ini bahwa kurangnya drainase di lingkungan sekitar sungai, sehingga air terus menggenang dan tidak mengalir dengan benar karena kurangnya himbauan pemerintah. Sehingga kualitas dan kuantitas air semakin buruk, sehingga warga melihat sungai pun tertarik membuang sampah sekaligus karena dirasa akan sama aja buruknya. Pemukiman adalah salah satu akar masalah yang sulit untuk mendapatkan solusi, terlebih banyaknya tingkat kependudukan dan harus memiliki tempat tinggal. Sehingga mau tidak mau susahnya mengelola lahan di sekitar bantaran Sungai Citarum yang terus menerus kurang meresap air.

Dalam menangani kasus ini yang tak kunjung rampung harus adanya peraturan yang sangat tegas agar warga pun ikut menjaga Sungai Citarum yang berimbas banjir bandang. Harus adanya perhatian yang rutin dari Pemerintah Kabupaten Bandung ini, pengecekan yang rutin dan pengawasan yang mesti diperhatikan ketua daerah terhadap pencegahan banjir. Pembuangan limbah adalah faktor utama penyebab banjir, maka pemerintah menghimbau warganya dan menyediakan tempat pembuangan yang memfasilitasi warga sekitar.

Tidak bosan juga selalu saling mengingatkan sesama terhadap bahayanya banjir yang akan meluap terus menerus, Dayeuhkolot dan Baleendah menjadi daerah yang aman dari bencana banjir. Warga dan pemerintah selalu menjaga kesiapannya perihal banjir bandang yang datang dan meluap tinggi tanpa dapat diperkirakan sehingga pemerintah menyiapkan tempat evakuasi yang jauh dari daerah banjir.

Harapan untuk pemerintah pada aspirasi warga yaitu dalam masalah pendanaan suatu solusi maka diharapkan pemerintah lebih optimal dalam penggunaan dana yang ada. Karena banyaknya kerancuan warga terhadap alokasi dana yang tidak sesuai dengan apa yang dibuat atau dibangun oleh pemerintah. Lalu pemerintah mempertimbangkan lagi solusi terbaik untuk bencana ini dan memperhitungkan dengan tidak asal mengeluarkan dana.

Peraturan tegas pemerintah adalah pengaruh masyarakat juga dalam menghentikan banjir tahunan ini. Maka pendekatan pemerintah terhadap warga lebih dalam lagi karena dengan adanya keakraban yang terjalin maka warga dan pemerintah tidak bersikap saling tegang dalam penanganan bencana banjir. Sanksi dalam penegakan hukum saat ini menjadi tombak pemberhentiannya banjir yang disebabkan oleh warga sendiri, tindakan tegas dan lain sebagainya.

Harapan untuk warga yaitu warga diharap mematuhi peraturan yang sudah ada karena masih banyaknya kelalaian warga yang tidak sadar akan peraturan. Lalu diharapkan warga bersuara lebih keras dalam penanganan bencana banjir ini kepada media, karena pemerintah masih kurang mutakhir dalam menangani bencana banjir itu sendiri. Terutama peran warga sangatlah penting maka kesadaran warga lah yang akan berimbas makin baik atau semakin buruknya banjir langganan ini.

Dalam masalah banjir di daerah Baleendah dan Dayeuhkolot ini merupakan masalah yang dirasakan berbagai pihak dan bencana ini sangat merugikan, terutama aspek sosial dan ekonomi. Jadi untuk pemerintah dan warga lebih memperhatikan lagi dampak yang akan dirasakan bilamana tidak disiplin dalam menjaga kebersihan dan telaten membuang sampah pada tempatnya. Diharapkan pemerintah dan warga saling berkesinambungan dalam banjir yang tak kunjung rampung ini, agar Bandung menjadi kota bebas banjir.

Sarah Salsabila
Kota Bandung

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian Anda!
[Total:3    Rata-Rata: 3.3/5]

Satu komentar untuk “Tergenang Lagi di Daratan Pasundan

 Apa Komentar Anda?

Ada 1 komentar sampai saat ini..

Tergenang Lagi di Daratan Pasundan

oleh Sarah Salsabila dibaca dalam: 3 menit
1