[Review] Film KARTINI (2017)

Seminggu yang lalu (12/4/2017) saya berkesempatan menonton premiere penayangan film Kartini, tapi baru sempat memberikan review sekarang. Sebetulnya saya kurang tertarik menonton film Indonesia dan tidak terlalu banyak film Indonesia yang saya tonton terutama di bioskop, karena memang menurut saya baru sedikit film Indonesia yang berkualitas, hehehe, jangan tersinggung karena ini pandangan objektif. Kalau memang ada yang bagus ya saya bilang bagus. Nah karena saya seleranya seperti itu, maka kalau sampai saya tulis review khusus untuk Kartini (2017) artinya film ini bagus dan melebihi ekspektasi. Jadi ini review versi saya bagi yang mau nonton mumpung baru tayang dua hari lalu filmnya dan bertepatan dengan Hari Kartini, 21 April 2017.

Salah satu pemeran dalam film Kartini, Christine Hakim saat Gala Premiere di Metropole XXI, Jakarta (12/4/2017)

Dari segi akting para pemainnya bagus, terasa natural walau kadang-kadang ada yang agak kurang natural juga. Menurut Casting Director, Widhi Susila Utama, proses pemilihan para pemain pendukung dilakukan cukup intensif agar setiap pemeran bisa tampil seotentik mungkin sesuai dengan suasana aslinya di zaman dulu, termasuk penggunaan dialog dalam bahasa asli (Jawa dan Belanda). Tak heran selain tokoh utama Kartini, pemain-pemain lain juga aktingnya cukup menawan. Dan tentu saja yang paling menonjol adalah akting aktris senior Christine Hakim yang sangat mewarnai emosi sepanjang film tersebut. Jadi sepanjang film alur cerita juga ikut mengalir alami.

Film yang dibesut oleh sutradara kawakan Hanung Bramantyo ini dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo (Raden Adjeng Kartini), Deddy Sutomo (Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat), Christine Hakim (M.A. Ngasirah),  dan dibantu oleh Nova Eliza (M.A. Ngasirah Muda), Djenar Maesa Ayu (Raden Adjeng Moeriam), Acha Septriasa (Roekmini), Ayushita (Kardinah), Reza Rahadian (Sosrokartono), Adinia Wirasti (Soelastri), Denny Sumargo (Slamet), Dwi Sasono (Raden Adipati Joyodiningrat), Rianti Cartwright (Wilhelmina), Hans de Kraker (Ovink-Soer), Carmen van Rijnbach (Cecile de Jong), dan Rebecca Reijman (Stella Zeehandelaar).

Para bintang film Kartini berfoto bersama sutradara dan kru selesai pengambilan salah satu adegan (foto: istimewa)

Lalu dari segi pengambilan gambar, nah ini yang paling menarik. Teknik pengambilan gambar banyak dilakukan zoom in untuk pendetailan yang membuatnya menjadi keren. Selain itu ada juga shoot dari atas menggunakan drone. Kedua teknik tadi rasanya masih jarang setahu saya, karena biasanya shoot dari atas hanya untuk mengambil gambar perkotaan (terutama di luar negeri) tapi di film ini benar-benar tegak lurus dari atas untuk detail atau supaya feel-nya dapat. Pengambilan gambar yang ciamik ini dipercayakan kepada Director of Photography, Faozan Rizal. Dan setting lokasi yang keren dibesut oleh Art Director, Allan Sebastian. Sementara untuk pakaian yang digunakan para pemain cukup otentik dan wardrobe ini dipercayakan kepada Retno Ratih Damayanti.

Kemudian hal yang paling khas adalah adegan di mana pikiran tokoh utama dijadikan sebuah visualisasi, misalnya saat Kartini mengobrol dengan temannya yang orang Belanda maka visualisasi temannya benar-benar ada di sampingnya. Ini masih jarang saya lihat di film-film, atau mungkin saya yang melewatkan, tapi intinya adegan seperti ini yang memperkuat cerita filmnya. Selain itu penggunaan dialog dalam bahasa Jawa, Indonesia, dan Belanda terdengar enak dan tidak canggung dari aksennya. Alur ceritanya sendiri sangat kuat, diceritakan dalam film itu betapa seorang Kartini sudah berpikiran sangat maju melampaui zamannya. Ada beberapa adegan yang mungkin jarang diketahui kita, misalnya bagaimana seorang Kartini memajukan usaha kerajinan ukiran di Jepara dan kekaguman Kartini saat pertama kali mengikuti pengajian yang membahas arti surat Al-Fatihah dan pesan sang Kyai bahwa perintah “iqro” atau “baca” adalah perintah Tuhan yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan perintah tersebut berlaku juga untuk kaum wanita.

Yang di atas adalah poin plus, maka sekarang poin minusnya. Di film ini ada beberapa scene yang menggunakan tulisan penjelasan. Sebetulnya itu ok-ok saja (bukan ok oce wkwkw), tapi di bagian awal ada satu scene yang background-nya hitam polos disertai tulisan, yang mana agak mengganggu karena jadi teringat editan amatir saya waktu zaman sekolahan dulu. Tapi untungnya sepanjang sisa film setiap penjelasan langsung ada bersama adegannya jadi tidak terasa aneh seperti tadi. Selain itu poin minusnya terkadang satu adegan ada yang terasa lambat atau mirip sehingga terkesan diulang-diulang, tapi tidak begitu mengganggu jadi kalau tidak begitu mengamati tidak akan begitu terasa.

Ilustrasi musik yang dikomposisi oleh Andi Rianto dan Charlie Meliala sangat bagus dan membaur dengan sempurna untuk setiap adegan sehingga feel-nya dapat.

Overall saya memberikan skor untuk film ini 7.5-8/10, ini menurut saya yang biasa nonton film-film blockbuster Hollywood loh jadi saya anggap saya sudah cukup pengalaman untuk jadi kritikus amatir hahaha 😀 .

Terlepas dari insiden kecil “tepisan tangan” bintang film pemeran utama Kartini yang viral di media sosial 🙂 , saya sangat menyarankan film ini. Filmnya bagus kok, sampai-sampai durasi 2 jam tidak terasa berlalu. Menonton film ini membuat kita lebih paham mengapa R.A. Kartini dijadikan pahlawan sekaligus tokoh emansipasi wanita, bukan sekedar kebaya dan konde, tetapi pemikirannya yang jauh melampaui zamannya. Jadi selamat nonton dan selamat hari Kartini, 21 April.

– Nadia

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.

Film Kartini (2017)

Film Kartini (2017)
7.875
Nilai Total

Akting Pemain

8/10

    Pengambilan Gambar

    8/10

      Ilustrasi Musik

      8/10

        Alur Cerita

        8/10

          Kelebihan

          • Akting Pemain Bagus
          • Pengambilan Gambar yang Artistik
          • Ilustrasi Musik Keren
          • Alur Cerita yang Kuat

          Kekurangan

          • Beberapa Scene Terasa Lambat

          Kesimpulan

          Film ini sangat disarankan untuk ditonton. Sangat inspiratif dan enak ditonton.

          Bagikan pendapat anda!



          Bagaimana Reaksi Anda?
          • Suka
          • Senang
          • Sedih
          • Marah
          • Lucu
          • Kecewa

          Ulasan dan penilaian mengenai Film Kartini (2017) di atas adalah berdasarkan pengalaman pribadi penulisnya dan bukan merupakan iklan (advertorial). Punya pendapat tentang Film Kartini (2017)? Berikan ulasan dan penilaian berdasarkan pengalaman anda melalui form komentar di bawah ini.

          Tentang Penulis
          Nadia FK  

          Mahasiswi dan konsumen di kehidupan sehari-hari.

          2 komentar untuk “[Review] Film KARTINI (2017)

           Apa Komentar Anda?

          Ada 2 komentar sampai saat ini..

          [Review] Film KARTINI (2017)

          Nadia FK 3 menit
          2