Scan Barcode Meja McDonald’s Boulevard Artha Gading Mengarahkan Pesanan Saya ke Gerai Lain, Permintaan Refund Ditolak

Kepada Yth. Tim Terkait,

Saya ingin menyampaikan keluhan dan kekecewaan saya terhadap sistem pemesanan melalui scan barcode di restoran McDonald’s yang menurut saya sangat menyesatkan serta tidak diimbangi dengan tanggung jawab yang memadai ketika terjadi kesalahan sistem.

Pada tanggal 2 Juli 2026 sekitar pukul 21.30 WIB, saya mengadakan pertemuan dengan teman saya di McDonald’s kawasan Kelapa Gading. Saya datang ke lokasi berdasarkan share location yang dikirimkan oleh teman saya melalui Google Maps.

Setibanya di lokasi, saya langsung menempati meja nomor 146. Karena teman saya belum tiba dan saya khawatir meja akan diambil pelanggan lain, saya memutuskan untuk melakukan pemesanan melalui barcode yang ditempel di meja tersebut. Pada barcode itu juga tertera nomor meja 146 (foto terlampir).

Setelah barcode dipindai, sistem secara otomatis mengarahkan saya ke aplikasi McDonald’s dan meminta saya memilih lokasi restoran terdekat. Pada saat itu, aplikasi menampilkan McDonald’s Boulevard Barat sebagai lokasi terdekat.

Sebagai konsumen yang sedang duduk di dalam restoran McDonald’s dan bukan warga Kelapa Gading yang mengetahui detail alamat setiap gerai di kawasan tersebut, saya secara logis berasumsi bahwa lokasi terdekat yang ditampilkan aplikasi adalah gerai tempat saya sedang berada. Saya percaya bahwa sistem geolokasi dan barcode yang ditempel di meja restoran semestinya telah terintegrasi dan tidak mungkin mengarahkan pelanggan ke gerai yang berbeda.

Saya pun menyelesaikan pembayaran menggunakan GoPay pada pukul 21.30 WIB (bukti pembayaran terlampir). Namun, hingga sekitar 30 menit kemudian, pesanan saya tidak kunjung datang. Sementara itu, teman saya yang baru tiba dan melakukan pemesanan melalui mesin pemesanan di restoran sudah menerima pesanannya.

Karena merasa menunggu terlalu lama, saya bertanya kepada petugas McDonald’s yang mengantar pesanan milik teman saya yang dipesan melalui mesin. Setelah melihat detail pesanan di aplikasi saya, petugas menjelaskan bahwa gerai tempat saya sedang berada ternyata adalah McDonald’s Boulevard Artha Gading, sedangkan pesanan saya masuk ke McDonald’s Boulevard Barat yang berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi saya saat itu.

Pertanyaan saya sederhana: Bagaimana mungkin sistem dapat mendeteksi gerai yang berjarak lebih jauh sebagai lokasi terdekat, padahal saya sedang berada di dalam gerai McDonald’s yang lain?

Petugas kemudian mengonfirmasi permasalahan tersebut kepada Manager in Charge untuk mencari solusi terbaik. Namun, saya hanya diberi jawaban bahwa pihak restoran tidak dapat berbuat apa pun dan saya diminta mengambil sendiri pesanan ke gerai lain. Akibatnya, saya tidak memperoleh pesanan yang telah saya bayar dan uang saya pun tidak dapat dikembalikan.

Saya kemudian mengajukan komplain melalui Customer Service McDonald’s di Instagram dan meminta refund sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kesalahan sistem. Namun, respons yang saya terima terkesan sangat template dan justru menyalahkan saya karena dianggap tidak memeriksa lokasi restoran sebelum melakukan pembayaran.

Menurut saya, hal ini merupakan bentuk victim blaming terhadap konsumen. Permasalahan utamanya bukan pada nominal kerugian yang saya alami karena hanya nominal kecil, melainkan pada integritas dan tanggung jawab perusahaan ketika sistem yang mereka sediakan justru berpotensi menyesatkan pelanggan.

Apabila setiap pelanggan masih harus melakukan pengecekan alamat secara manual sebelum memesan, lalu apa fungsi barcode yang ditempel di meja dan dilengkapi nomor meja seolah-olah telah terintegrasi dengan sistem pemesanan di gerai tersebut? Keberadaan barcode tersebut justru berpotensi menciptakan asumsi yang wajar bahwa pelanggan sedang memesan di gerai tempat ia duduk.

Sampai saat ini, pihak Customer Service McDonald’s juga belum dapat memberikan penjelasan mengenai penyebab sistem mendeteksi gerai yang berbeda dan lebih jauh sebagai lokasi terdekat.

Melalui surat ini, saya berharap McDonald’s Indonesia menunjukkan itikad baik secara profesional dengan:

  1. Memberikan refund atas transaksi yang tidak saya dapatkan akibat kesalahan sistem.
  2. Melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap sistem pemesanan melalui scan barcode agar tidak kembali merugikan konsumen lain.
  3. Memberikan penjelasan yang transparan mengenai penyebab terjadinya kesalahan deteksi lokasi tersebut.

Saya berharap keluhan ini dapat menjadi perhatian serius bagi McDonald’s Indonesia agar kejadian serupa tidak kembali dialami oleh konsumen lainnya.

Hormat saya,

Febiola A.
Depok, Jawa Barat

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.

Surat pembaca ini belum mendapatkan tanggapan dari pelaku usaha terkait. Jika Anda adalah pelaku usaha yang terkait dengan pertanyaan/permohonan/keluhan di atas, silakan berikan tanggapan resmi melalui tautan di bawah ini:

Kirimkan Tanggapan

11 komentar untuk “Scan Barcode Meja McDonald’s Boulevard Artha Gading Mengarahkan Pesanan Saya ke Gerai Lain, Permintaan Refund Ditolak

  • 5 Juli 2026 - (14:47 WIB)
    Permalink

    Waah makasih ni pengalamannya. Agak aneh jg ya klo jelas2 disitu ada scan barcode tp malah diarahin ke lokasi lainnya. Resto2 di daerahpun sudah banyak yang menggunakan skema barcode ini dan otomatis pesanan pasti di lokasi barcode tsb.

    • 8 Juli 2026 - (16:02 WIB)
      Permalink

      Maka dari itu saya heran juga. Kalaupun diminta pilih lokasi, pastinya saya saat itu yang akan menjadi lokasi gerai terdekat.
      Bisa dicontoh sistemnya Gojek. Jika kita order dari titik yang jauh dari lokasi kita berada saat ini, akan muncul reminder “Pickup point is a bit far. Do you want to continue?”.

      Yang terjadi di sistem aplikasi McD bukan sekadar bug lokasi, melainkan kegagalan desain UX yang memungkinkan konsumen melakukan kesalahan yang seharusnya bisa dicegah oleh sistem.

  • 5 Juli 2026 - (22:42 WIB)
    Permalink

    Mungkin mereka bikin qr code tempelan mejanya sama semua dari sopii krn mau ngirit dan ga mau pusing dgn lokasi , akhirnya konsumen yg dibikin bingung

    • 8 Juli 2026 - (16:08 WIB)
      Permalink

      Jika barcode di meja tidak terhubung dengan gerai tempat meja itu berada, McD setidaknya menghapus nomor meja dari barcode tersebut karena tidak terintegrasi ya. Cukup barcode aplikasi McD saja, tidak perlu pakai nomor meja.

  • 6 Juli 2026 - (17:17 WIB)
    Permalink

    Saya pengguna aplikasi McDonald’s setahun terakhir dan saya sering menggunakan aplikasinya untuk melakukan pemesanan dine-in maupun delivery.

    Setahu saya, semua kode QR di meja McDonald’s hanya mengarahkan pengguna untuk mengunduh aplikasi McDonald’s atau membuka menu Pesan pada aplikasi McDonald’s. Bahkan mungkin, kode QR yang tertempel di setiap meja bahkan setiap gerai di seluruh Indonesia mungkin sama persis.

    Penulis menyampaikan “saya secara logis berasumsi bahwa lokasi terdekat yang ditampilkan aplikasi adalah gerai tempat saya sedang berada.”
    Di sini seharusnya penulis menggunakan Google Maps atau aplikasi peta lainnya untuk mengecek gerai mana yang sedang dikunjungi. Saya juga sering menggunakan aplikasi Richeese Factory, KFCKU, dan Burger King Indonesia, yang pemesanannya juga mengharuskan penggunanya untuk memilih outlet terlebih dahulu.

    Menurut saya, yang salah di sini bukan sistem aplikasi dari McDonald’s, tapi ketidakmampuan ponsel penulis untuk mendeteksi lokasi dengan akurat serta ketidakpahaman penulis untuk mengkonfirmasi secara manual lokasi outlet yang didatangi pada aplikasi saat melakukan pemesanan.

    Tapi apa pun yang sudah terjadi, semoga ada solusinya.

    • 8 Juli 2026 - (16:16 WIB)
      Permalink

      Terima kasih atas masukannya. Namun, poin yang saya angkat bukan soal saya tidak mengecek nama outlet, melainkan mengapa aplikasi mendeteksi gerai yang berjarak sekitar 1 km sebagai lokasi terdekat, padahal saya sedang berada di dalam gerai McDonald’s Boulevard Artha Gading. Saya bahkan tidak melewati McDonald’s Boulevard Barat selama perjalanan menuju Boulevard Artha Gading, sehingga saya tidak mengetahui bahwa ada gerai McDonald’s lain di sekitar lokasi tersebut. Sebagai konsumen yang bukan warga Kelapa Gading, sangat wajar jika saya mengandalkan sistem yang menampilkan “lokasi terdekat” dan menganggap itu adalah gerai tempat saya sedang berada.

      Jadi pertanyaan saya tetap sama: Mengapa sistem bisa mendeteksi gerai yang lebih jauh sebagai lokasi terdekat? Itulah inti keluhan saya.

      Pun jika barcode di meja hanya bertujuan untuk mengarahkan konsumen untuk menggunakan aplikasi McD, seharusnya nomor meja bisa dihapus saja agar tidak menggiring asumsi seakan nomor meja tersebut terintegrasi dengan barcode yang tertera di atasnya.

      • 8 Juli 2026 - (18:37 WIB)
        Permalink

        Jika konsumen memilih dine-in pada aplikasi, konsumen diberikan pilihan lagi: apakah “ambil sendiri pesanan di konter” atau “pesanan diantarkan ke meja”. Jika konsumen memilih “pesanan diantarkan ke meja”, konsumen perlu menginput nomor meja pada aplikasi. Menurut saya, ini sangat membantu konsumen dan mempermudah serta mempercepat staf untuk mengantarkan pesanan langsung ke meja konsumen dan tidak perlu lagi mencari-cari keberadaan letak meja konsumen.

        Saya sangat merasakan dampak positif adanya nomor meja, dibandingkan dengan kompetitor KFC dan Richeese Factory yang tidak menyediakan nomor meja serta tidak menyediakan pilihan pengantaran pesanan ke meja konsumen, sehingga staf konter harus memanggil nama konsumen atau menyebutkan nomor pesanan dan konsumen harus mengambil sendiri pesanan ke konter.

        Terkait masalah kesalahan aplikasi memilih gerai yang lebih jauh, itu bisa jadi disebabkan oleh berbagai macam hal, termasuk ketidakakuratan GPS ponsel (terpisah dari sistem aplikasi) dalam mendeteksi lokasi sehingga diperlukan lagi konfirmasi oleh konsumen.

        • 8 Juli 2026 - (19:04 WIB)
          Permalink

          Betul, saya sepakat bahwa tujuan utama dari barcode adalah memudahkan staf mengantarkan pesanan ke meja. Justru karena itu, menurut saya barcode sebaiknya dipisahkan dari nomor meja (tidak dicantumkan dalam satu akrilik yang sama) apabila memang keduanya tidak saling terintegrasi. Hal tersebut merupakan bentuk error prevention, sehingga desainnya tidak menggiring asumsi bahwa barcode tersebut otomatis berkaitan dengan meja maupun gerai tempat barcode itu ditempel.

          Pada kejadian yang saya alami, setelah memindai barcode, aplikasi hanya menampilkan satu pilihan gerai, yaitu McDonald’s Boulevard Barat. Tidak ada pilihan McDonald’s Boulevard Artha Gading sama sekali (mungkin akan muncul jika saya open mapsnya). Sebagai konsumen yang tidak mengenal wilayah tersebut, tentu saya menganggap gerai yang muncul di sistem itulah gerai tempat saya sedang berada. Jika sistem hanya menampilkan satu pilihan, apa lagi yang harus saya verifikasi?

          Mengenai kemungkinan GPS, sinyal ponsel saya saat itu dalam kondisi baik. Bahkan setelah kejadian tersebut, karena permasalahan ini belum terselesaikan, saya akhirnya memesan kopi dari kafe lain melalui GrabFood. Aplikasi GrabFood langsung mendeteksi lokasi pengantaran di McDonald’s Boulevard Artha Gading, yaitu gerai tempat saya sedang duduk saat itu. Jadi memang tidak ada masalah dengan GPS saat itu.

          Saya sayangkan tidak adanya pengakuan dari McDonald’s bahwa kesalahan sistem bisa saja terjadi, sehingga seluruh tanggung jawab justru dibebankan kepada konsumen. Saya berharap McDonald’s dapat mengakui kemungkinan adanya kendala pada sistem dan memberikan penyelesaian yang proporsional ketika konsumen dirugikan akibat kesalahan tersebut.

  • 8 Juli 2026 - (05:03 WIB)
    Permalink

    Ini adalah salah satu kelemahan self service order, pertama pesanan salah berarti salah diri sendiri, kedua sulit untuk refund, ketiga.
    Pengalaman untuk Anda mending order manual saja, kecuali Anda sudah belajar Dari kesalahan ini.

    • 8 Juli 2026 - (18:39 WIB)
      Permalink

      Terima kasih atas insightnya. Ini bukan pertama kalinya saya memesan melalui aplikasi McDonald’s. Saya sudah cukup sering menggunakannya baik untuk dine-in maupun delivery. Ketika mesin pemesanan di gerai sedang antri atau kondisi restoran ramai, saya biasanya langsung duduk di meja lalu memesan melalui aplikasi agar tidak kehilangan tempat duduk.
      Selama ini prosesnya selalu berjalan normal. Lokasi yang ditampilkan sebagai gerai terdekat sesuai dengan gerai tempat saya berada, sehingga saya tidak pernah mengalami kendala seperti ini.
      Yang hingga saat ini saya belum mendapatkan jawaban adalah perihal mengapa pada pemesanan kemarin sistem mendeteksi gerai lain yang berjarak sekitar 1 km sebagai “lokasi terdekat”? Sebagai orang yang tidak familiar dengan kawasan Kelapa Gading, tentu saya tidak mengetahui ada gerai McDonald’s lain di sekitar lokasi tersebut dan berpatokan pada geotagging pada sistem apliaksi McDonald’s.

      Jadi yang saya soroti bukan konsep self-service ordernya, melainkan mengapa sistem pada saat itu gagal menampilkan gerai yang benar.

  • 14 Juli 2026 - (11:00 WIB)
    Permalink

    Asumsi saya sih manajer in charge di gerai tsb gajinya kecil. Klo gajinya cukup, masalah spt ini mudah saja penyelesaiannya, yakni ganti dengan uang pribadinya dy atas pesanan tersebut. Masalah selesai dengan cepat dan selanjutnya cabut saja barcode2 yg membingungkan semacam itu di meja. Seharusnya barcode di meja ya otomatis terhubung ke gerai tempat dimana kita makan, jgn dibuat bingung lg nyari lokasi titiknya. Dikota besar spt jabotabek, gerai spt mcdonald/kfc bs berdekatan jaraknya. Didaerah saya, radius 5 km bs ada 4 resto AW, 3 kfc, 3 mc donald. Gmn itu apalagi usernya jg bukan dari daerah tsb, atau dari luar kota

 Apa Komentar Anda?

Ada 11 komentar sampai saat ini..

Scan Barcode Meja McDonald’s Boulevard Artha Gading Mengarahkan …

oleh Febiola ⏱ waktu baca: 3 menit
11