Kepala Manyung Selera Bu Fat Semarang

Berkunjung di suatu kota tidaklah menarik tanpa menjelajahi wisata kulinernya. Masing masing kota dengan kuliner khas masing masing. Bahkan dengan bahan dasar yang sama, bumbu yang sama maka namanya akan berbeda di satu kota dengan kota lainnya. Begitu pula saat kami menginap di Ungaran, Kabupaten Semarang yang berjarak 30 menit perjalanan ke Kota Semarang yang lebih terkenal.

Berkesempatan menginap di sebuah resor di Ungaran yang berada di kaki Gunung Ungaran dengan udara sejuk dan pemandangan yang indah. Karena di Ungaran kami belum terlalu paham kuliner yang terkenal selain sate sapi Pak Kempleng, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke arah Kota Semarang. Dengan menggunakan taksi online kami menempuh perjalanan sekitar 17 km menuju sebuah warung makan, Warung Kepala Ikan Manyung Selera Bu Fat di jalan Sukun Raya, Banyumanik, di kawasan Srondol, selatan Kota Semarang.

Sajian menu utama di warung ini adalah kepala ikan manyung yang dimasak dengan bumbu mangut (semacam kuah bersantan dengan aneka rempah tradisional). Menurut Wikipedia, Ikan manyung adalah ikan laut yang biasa ditangkap dan diolah sebagai ikan asin yang biasa disebut jambal roti. Ikan ini adalah anggota bangsa ikan berkumis (Siluriformes), famili Ariidae. Meski kepala ikan manyung adalah menu utama, di warung ini tersedia juga aneka pilihan menu masakan yang lain.

Warung ini adalah satu-satunya cabang setelah warung makan asli yang sudah berumur puluhan tahun yang berlokasi di Semarang Utara. Ada tulisan “Ny. Bekti” yang  dicantumkan di bawah tulisan dan logo “Bu Fat” di warung itu. Ternyata Ny.Bekti adalah anak dari Bu Fat yang memiliki resep dan pertama kali buka warung kepala Ikan Manyung sejak tahun 1960-an. Demikian jelas Winda yang bertugas di kasir yang juga merupakan anak dari Ibu Bekti.

Jangan khawatir kalau tidak bawa uang tunai, pembayaran bisa dengan aneka kartu debit

Warungnya tidak terlalu besar dan begitu masuk langsung diarahkan ke meja sajian ala “buffet”. Nasi dan lauk pauk diambil sendiri sesuai keinginan pembeli.

Di dalam pemanas nasi berukuran besar tersedia nasi punel berwarna putih berbau harum. Di sebelahnya tersedia aneka piring dan mangkok yang seragam berwarna hijau. Dipisahkan lemari, tampak menu andalan warung ini, kepala ikan manyung bertabur potongan lombok merah dan hijau. Tampak di atas kompor kecil di sebelahnya kuah mangut berwarna coklat kuning kemerahan agar selalu panas. Di sebelah kepala ikan, potongan daging ikan siap tersaji.

Kepala/badan ikan manyung dipanaskan dalam kuah mangut sebelum disajikan

Sementara itu telur ikan manyung pun tersedia dalam bentuk pepes botok terbungkus daun. Selain ikan, warung ini juga menyediakan aneka lauk seperti ikan wader tepung, kering tempe dan kentang, pepes ikan, otak sapi, sate kambing, bakso sapi, tongseng dan gule kambing, ayam goreng bahkan ditulis menu baru rawon. Juga berbagai macam sayuran seperti oseng daun pepaya. Tapi ya saran saya, kalau ke sini sebaiknya coba menu andalannya saja yaitu kepala ikan manyung.

Aneka makanan pelengkap

Menurut penuturan juru masak di sana,kepala ikan manyung ini, sebelum dimasak terlebih dahulu diasap selama kurang lebih 4 jam, baru kemudian direbus untuk menghilangkan kotoran sisa pengasapan sebelum kemudian dimasak di dalam bumbu kuah mangut.

Kepala ikan manyung ukuran jumbo siap disajikan dari dapur

Tak heran, saat pertama kali mencicipi kepala ikan manyung ini aroma asap yang berbaur dengan aroma bumbu, rajangan cabai dan santan yang dimasak mangut membuat liur keluar bersiap mengolah makanan yang masuk ke mulut. Rasa pedas dari bumbu mangut terasa pas tidak terlalu pedas, namun bagi yang tidak terlalu menyukai pedas, mungkin terasa cukup/sangat pedas. Daging kepala ikan terasa juicy dan lembut langsung terasa dalam suapan pertama. Beberapa bagian di daerah kepala terasa kenyal dan gurih, bahkan insangnya pun terasa enak disantap. Tidak terasa amis sama sekali, mungkin karena sudah diasap terlebih dahulu.

Saat kami bertiga berkunjung ke sana, hanya tersedia kepala ikan yang berukuran jumbo, menurut taksiran penulis beratnya mungkin mencapai antara 1 s.d. 1,5 kg. Biasanya tersedia juga yang berukuran kecil (300 s.d. 500 gr) dan sedang (500 gr s.d. 1 kg). Harganya berbeda, untuk ukuran jumbo adalah Rp200 ribu, sedang Rp100 ribu dan kecil Rp75 ribu. Sedangkan badan ikan manyung dijual Rp25 ribu per potong. Harga kepala ikan manyung memang cukup menguras kantong. Namun untuk masakan lain harganya terbilang murah, misalnya botok dijual Rp8 ribu saja.

Untuk kepala ikan manyung yang berukuran jumbo, meski disantap oleh kami bertiga, cukup susah payah bagi kami untuk menghabiskannya saking besarnya.

Menurut Mbak Winda, dalam sehari rata-rata sekitar 30 potong kepala ikan manyung terjual, karena itu pastikan Anda tidak kehabisan menu andalan di warung ini. Warung ini buka sejak pukul 7 pagi sampai pukul 7 malam. Saat kami datang adalah jam makan siang sehingga warung ramai dan terasa lebih gerah. Akan tetapi sangat terasa sensasi makan kenyang puas dan berkeringat. Namun parkir adalah salah satu kendala saat peak time yaitu jam makan siang.

Puas, alhamdulillah adalah kata yang langsung terucap selesai menyantap hidangan kepala ikan manyung ini. Pengalaman wisata kuliner di Semarang kali ini tak hanya membekas di lidah dan tapi juga di hati.

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.

Kepala Ikan Manyung Selera Bu Fat

Kepala Ikan Manyung Selera Bu Fat
7.5
Nilai Total

Rasa masakan

9/10

    Tempat

    7/10

      Harga

      6/10

        Pelayanan

        8/10

          Kelebihan

          • Rasa masakan
          • Pelayanan cepat dan ramah
          • Variasi masakan beragam

          Kekurangan

          • Parkir terbatas
          • Jam buka hanya sampai pukul 19.00
          • Harga kepala ikan lumayan menguras kantong

          Kesimpulan

          Rasa kepala ikan manyung yang diasap lalu disajikan dalam kuah mangut sangat khas dan menggugah selera. Bakal jadi kunjungan wajib setiap mampir ke Semarang,

          Bagikan pendapat anda!



          Bagaimana Reaksi Anda?
          • Suka
          • Senang
          • Sedih
          • Marah
          • Lucu
          • Kecewa

          Ulasan dan penilaian mengenai Kepala Ikan Manyung Selera Bu Fat di atas adalah berdasarkan pengalaman pribadi penulisnya dan bukan merupakan iklan (advertorial). Punya pendapat tentang Kepala Ikan Manyung Selera Bu Fat? Berikan ulasan dan penilaian berdasarkan pengalaman anda melalui form komentar di bawah ini.

          Tentang Penulis
          Fathul Djannah  

          dr. Fathul Djannah, Sp.PA. Alumni FK Universitas Hang Tuah Surabaya dan PPDS Patologi Anatomi Universitas Airlangga Surabaya. - Dosen FK Universitas Mataram, NTB sejak 2003. - Kepala Divisi Laboratorium Patologi Anatomi RSUP NTB sejak 2010. - Peserta Program Doktor (S3) Ilmu Kedokteran FK Universitas Hasanuddin, 2018

           Apa Komentar Anda?

          Belum ada komentar.. Jadilah yang pertama!

          Kepala Manyung Selera Bu Fat Semarang

          Fathul Djannah 3 menit
          0