Mirisnya Dunia Pendidikan Dimasa Pandemik

Assalamualaikum,

Surat terbuka ini saya tujukan kepada Yth :

Bapak Presiden Republik Indonesia
Bapak Menteri Pendidikan Nasional
Para Petinggi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19
di Tempat

Dengan hormat,

Perkenalkan nama saya Erniwati, saya adalah seorang ASN dan juga ibu rumah tangga dengan 2 orang putri yang tahun ini siap masuk sekolah. Melalui surat terbuka ini saya ingin menyampaikan beberapa hal yang belakangan sangat mengganggu pikiran saya sebagai seorang ibu.

Saya memahami bahwa masa sekarang ini pemerintah masih berjibaku dengan penanggulangan pandemik covid-19, namun di sisi lain bukankah langkah-langkah dalam menghadapi new normal sudah juga di ambil. Beberapa kelonggaran telah di berikan kepada publik, seperti dibolehkannya ibadah di mesjid dan tempat ibadah lainnya, dibukanya pasar, dibukanya supermarket, wisata umum pun telah banyak yang mulai beroperasi dengan pengunjung yang tak sedikit, tentunya dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan.

Gugus depan percepatan penanganan Covid-19 pun tetap melakukan update data terhadap perkembangan kasus covid-19 yang ada di negeri ini. Dan sesuai pidato bapak Presiden Joko Widodo, bahwa kita harus sudah mulai terbiasa berdampingan dengan virus ini, mulai dengan tatanan hidup baru atau yang lebih dikenal dengan new normal.

Namun ada hal yang membuat saya miris, kenapa pendidikan masih belum diperbolehkan tatap muka langsung? Mengapa masih juga menggunakan daring? Jika alasannya adalah untuk menekan jumlah sebaran infeksi virus ini, maka pertanyaan saya apakah pasar lebih higienis dari sekolah? apakah supermarket tak kalah sumpek dari ruang kelas?

Sebagai contoh, di pasar dan rata-rata pasar tradisional di indonesia bisa dikatakan jauh dari kata bersih dan sehat, lumpur, bau ikan, sampah dimana-mana meskipun pedagang diberi jarak apakah bisa pembeli diberi jarak, melainkan hanya diwajibkan menggunakan masker sebagai standarnya? Kemudian supermarket, hanya dengan mencuci tangan dan thermo gun serta pakai masker bisa bebas berjejal wara-wiri di dalamnya.

Lalu ada apa dengan sekolah? Bukankah siswa jika ingin masuk kelas pakai masker dan cuci tangan juga bisa? Thermo gun pun mudah.

Bapak ibu pemangku kewenangan yang terhormat, tahukan anda dengan pembelajaran daring/online saat ini sangat memberatkan kami selaku orang tua dan membebani mental anak-anak selaku siswa?

Coba Anda bayangkan selaku orang tua yang anaknya sekolah swasta, asrama, kami harus membayar biaya masuk sekolah sekian juta, tapi di luar itu harus menyiapkan sarana perangkat elektronik plus kuota internetnya untuk pembelajaran daring ini? Kalau kami yang PNS iya mampu, namun adilkah kami harus membayar SPP tiap bulan, namun pembelajaran tidak maksimal terutama dari sisi tumbuh kembang anak? di mana mereka akan belajar bersosialisasi, berinteraksi, berkomunikasi dengan baik jika tidak dengan tatap muka? bertemu guru, teman-temannya.

Itu baru saya sebagai PNS, lalu bagaimana dengan murid-murid lain yang kehidupan ekonomi orang tuanya di bawah rata-rata. Mau pinjam laptop kemana Pak?? Belum lagi kalo sinyal internet lemot, mau bagaimana?

Jika yang membuat pemberlakuan pembelajaran daring ini adalah ketakutan bahwa anak-anak ini akan menjadi transimisi lokal sebaran covid-19, akan membuat mereka bahkan jadi orang yang positif covid-19, lalu kenapa tidak diberlakukan sama juga seperti pasar dan supermarket yang kategorinya jauh lebih tidak higienis? Kenapa???

Saya paham bahwa keuangan negara pun tidak akan sanggup terus-terusan membiayai tingginya jumlah warganya yang terjangkit virus ini, karena mahalnya biaya Swab test, maupun rapid test ke sekian juta orang. Lalu kenapa tidak memulai langkah awal new normal ini dengan mulai mengedukasi masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh? Bagaimana langkah hidup sehat, makanan yang sehat, yang mampu melawan virus ini ketika masuk ke dalam tubuh. Bukan hanya menginformasikan berapa jumlah yang terjangkit, berapa yang mati, berapa yang sehat, yang hanya bersifat informatif tanpa solusi.

Maka melalui surat terbuka ini saya ingin meminta dengan hormat kepada semua yang berwenang untuk ini:

TOLONG BIARKAN SEKOLAH AKTIF SEPERTI SEMULA, BIARKAN ANAK-ANAK KEMBALI BELAJAR DAN BERMAIN DI SEKOLAH SESUAI PROTOKOL KESEHATAN JIKA MEMANG DIPERLUKAN, SAYA, KAMI SEBAGAI ORANG TUA SIAP MENANDATANGANI SURAT PERNYATAAN BAHWA TIDAK KEBERATAN ANAK-ANAK KAMI MASUK SEKOLAH SEPERTI BIASA DAN KAMI SIAP DENGAN RISIKONYA.

Untuk apa pasar, supermarket, arena wisata bisa dibuka meskipun di zona merah, namun sekolah yang merupakan wadah pendidikan bagi generasi penerus bangsa justru dipersulit dengan alasan yang menurut saya masih klasik? Kalau mau new normal tolong jangan setengah-setengah, lakukan secara keseluruhan, LAKUKAN EDUKASI PENTINGNYA MAKANAN YANG SEHAT, PENTINGNYA POLA HIDUP SEHAT agar masyarakat tahu apa yang harus mereka perbuat untuk bertahan

Demikian surat ini saya buat tanpa bermaksud untuk menyinggung siapapun, murni karena keprihatinan saya terhadap pendidikan di negara ini. Tulus karena saya seorang ibu dari 2 orang putri yang sudah sangat ingin sekolah lagi.

Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Semoga pandemi ini cepat berakhir, aamiin.

Erniwati
Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian Anda!
[Total:7    Rata-Rata: 4.1/5]

Surat pembaca ini belum mendapatkan tanggapan dari pelaku usaha terkait. Jika Anda adalah pelaku usaha yang terkait dengan pertanyaan/permohonan/keluhan di atas, silakan berikan tanggapan resmi melalui tautan di bawah ini:

Kirimkan Tanggapan
Loading...

 Apa Komentar Anda?

Belum ada komentar.. Jadilah yang pertama!

Mirisnya Dunia Pendidikan Dimasa Pandemik

oleh Erniwati - dibaca dalam: 3 min
0