Ilustrasi Keluhan Surat Pembaca Hampir Dua Tahun Menghadapi Kebisingan di Kota Podomoro Tenjo: Ketika Hunian Tidak Lagi Menjadi Tempat Nyaman untuk Beristirahat 23 Oktober 2026 Pani Vaspintra Beri komentar Agung Podomoro, Bogor, Customer Service, Developer, Food Center, gangguan lingkungan, hunian, kebisingan, kenyamanan hunian, komplain properti, Kondisi layanan tidak sesuai informasi, Kota Podomoro Tenjo, Layanan Pelanggan, live band, manajemen pengelola, pengembang, Properti, serah terima rumah, Tenjo, Transparansi Informasi Ikuti di Google Berita Sumber Pilihan di Google Saya membeli rumah di Kota Podomoro Tenjo pada tahun 2022 dengan nilai mencapai hampir Rp800 juta, belum termasuk pajak dan biaya lainnya. Harga yang tergolong cukup tinggi untuk wilayah Tenjo, Kabupaten Bogor. Saat itu, saya berharap rumah tersebut dapat menjadi tempat tinggal yang nyaman, tenang, dan menjadi tempat beristirahat yang jauh dari pusat kota. Namun, pengalaman yang saya alami jauh dari harapan tersebut. Sejak awal, proses serah terima tidak berjalan sesuai harapan. Setelah masa indent dua tahun, serah terima terlambat beberapa bulan. Saya sempat ingin menempuh upaya hukum untuk pembatalan pembelian karena keterlambatan tersebut. Sampai akhirnya pihak Podomoro mau mempercepat pembangunan dan serah terima, itu pun dengan kondisi lingkungan hunian yang belum siap. Seiring waktu, banyak masalah muncul. Pihak pengelola pun perlu selalu diingatkan terus-menerus untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan satu per satu. Perlu waktu untuk saya bisa pelan-pelan menikmati hunian saya sendiri di Kota Podomoro Tenjo. Bukti Kepemilikan Rumah Kota Podomoro Tenjo Namun, permasalahan yang lebih krusial dimulai ketika muncul pembangunan Food Center dengan konsep di lapangan terbuka disertai musik yang jaraknya cukup dekat dengan hunian sejak tahun 2025 lalu. Musik tersebut diputar dari sore hingga malam setiap hari. Khusus akhir pekan, justru ada live band yang suara musiknya pasti lebih keras. Bagi pengunjung area Food Center, tentu ini hiburan, tapi bagi penghuni rumah yang lokasinya berdekatan, suara musik tersebut sangatlah mengganggu ketenangan hunian, apalagi di jam yang memang istirahat sangat diperlukan. Saya telah berulang kali menyampaikan protes dan keluhan sejak tahun lalu, baik melalui komunikasi dengan pihak Podomoro maupun kepada event organizer penyelenggara. Hingga saat ini, belum ada solusi permanen yang diberikan oleh pihak Podomoro. Pertanyaan saya, mengapa pihak Podomoro bersikeras membangun Food Center berkonsep terbuka di lokasi yang dekat dengan hunian jika harus memutar musik atau band setiap harinya? Mengapa Podomoro tidak mau memindahkan lokasi Food Center berkonsep terbuka tersebut ke area lain yang jauh dari hunian meski telah lebih dari satu tahun saya sampaikan protes, padahal klaim pembangunan kawasan mencapai 650 hektar? Mengapa sepertinya ketenangan wilayah hunian tidak menjadi prioritas bagi pembangunan kawasan Kota Podomoro Tenjo? Sebagai gambaran, rasanya mayoritas pembeli unit rumah di Kota Podomoro Tenjo memiliki aktivitas di pusat kota Jakarta. Saya sendiri memerlukan waktu perjalanan pulang pergi untuk bekerja bisa mencapai 3–4 jam sehari dengan kereta, atau 5–6 jam dengan kendaraan pribadi. Kondisi fisik yang sudah lelah setelah bekerja dan perjalanan jauh tersebut membutuhkan kualitas hunian yang baik untuk beristirahat, bukan terus-terusan mengalami gangguan kebisingan. Pihak Podomoro sepertinya menganggap jumlah penghuni yang protes mengenai kebisingan musik Food Center tidak banyak. Dari pengamatan saya, unit-unit rumah yang lokasinya berdekatan dengan penyelenggaraan musik Food Center, sebagian besar dalam keadaan kosong dan tidak berpenghuni. Dari sekian banyak rumah tersebut, hanya unit rumah saya yang sudah dihuni setiap hari. Pertanyaan saya, apakah pihak Podomoro baru menganggap penting ketenangan hunian jika jumlah penghuni yang protes dirasa cukup banyak? Apakah hak ketenangan hunian bagi penghuni, meski satu keluarga sekalipun, tidak menjadi dasar dalam pembangunan kawasan? Yang semakin mengecewakan, ketika berbagai keluhan, termasuk protes berulang mengenai kebisingan musik, tidak kunjung menghasilkan solusi yang memadai, komunikasi dengan pihak manajemen pengelola justru semakin sulit. Salah satu perwakilan manajemen pengelola yang sebelumnya menjadi kontak saya, berinisial J***, secara tiba-tiba tidak lagi dapat dihubungi melalui nomor telepon yang biasa digunakan, tanpa ada pemberitahuan mengapa yang bersangkutan tidak dapat dihubungi lagi. Juga tidak ada informasi kontak pengganti dari perwakilan manajemen pengelola yang dapat dihubungi hingga surat ini saya tulis. Padahal, banyak sekali masalah yang memerlukan perwakilan manajemen pengelola untuk turun ke lapangan dan berkomunikasi langsung dengan penghuni, bukan hanya kontak dengan CS yang sifatnya administratif dengan wewenang yang terbatas. Jika memang tidak ada solusi permanen dari pihak Podomoro atau gangguan kebisingan karena aktivitas musik Food Center tersebut terus berlanjut, saya terpaksa harus menjual lagi unit rumah yang sudah saya beli di Kota Podomoro Tenjo. Ini menjadi pelajaran besar bagi saya ke depan untuk memastikan apakah kenyamanan hunian menjadi prioritas utama pihak developer dalam membangun hunian atau kawasan, termasuk ketenangan hunian dari gangguan kebisingan, serta tidak lagi semata-mata hanya karena nama besar suatu developer tertentu. 22 Oktober 2026 Pani ZV. Bogor, Jawa Barat Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.