Pentingnya Pendidikan Terhadap Anak

Pendidikan adalah salah satu faktor terpenting untuk kemajuan seorang anak. Anak yang terdidik akan mencerminkan pola pikir dan pola sikap yang terdidik. Namun sebaliknya, anak yang tidak terdidik maka akan mencerminkan pola pikir dan pola sikap yang tidak terdidik pula.

Pendidikan yang wajib ditempuh oleh seorang anak dimulai dari sejak ia berumur 7 tahun, diantaranya pendidikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Faktanya saat ini, seiring dengan majunya dunia pendidikan di Indonesia, maka pendidikan bagi anak pun ikut mengalami kemajuan.

Dahulu anak yang akan bersekolah SD, ia hanya dapat mengenyam pendidikan TK (Taman Kanak-kanak) sebelumnya, yang tujuannya agar saat memasuki SD ia tidak merasa kaget terhadap pelajaran yang akan diajarkan. Namun saat ini ketika seorang anak akan bersekolah SD, tak hanya pendidikan TK yang dapat ia terima, bahkan pendidikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) pun saat ini menjadi alternatif yang sering digunakan orang tua sebelum memasukkan anaknya ke tingkat TK; sehingga ketika anak bersekolah SD, ia akan mahir dan terbiasa dengan pelajaran-pelajaran yang diajarkan. Karena ia telah dididik dan dilatih sejak umur 4 (empat) tahun pada saat ia berada ditingkat PAUD.

Program pemerintah mengenai wajib belajar selama 12 tahun yang terus diupayakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Program Indonesia Pintar (PIP) ternyata saat ini semakin terlihat kemajuannya. Faktanya masyarakat Indonesia sudah banyak yang mengenyam pendidikan SD, SMP, dan SMA; bahkan Perguruan Tinggi Negeri ataupun Perguruan Tinggi Swasta (PTN/PTS) pun menjadi pendidikan yang dirasakan oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Saat ini, pemerintah banyak memberikan beasiswa-beasiswa bagi anak yang berprestasi dan juga bagi anak yang tidak memiliki kecukupan dana untuk mengenyam pendidikannya. Sehingga pendidikan dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan.

Tingginya kualitas pendidikan di Indonesia saat ini, bukan berarti tidak terdapat permasalahan yang terjadi didalamnya. Ada berbagai macam permasalahan yang terjadi, diantaranya permasalahan anak yang nilainya tidak dapat memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), anak yang mengalami ketertinggalan proses berfikir atau sering disebut dengan lola (loading-nya lama), anak yang tidak disiplin dalam mentaati tata tertib peraturan di dalam sekolah, anak yang sering tidak mengikuti proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kelas, dan kualitas guru yang rendah atau kurang profesional.

Dari berbagai permasalahan yang terjadi, jika kita analisis terdapat beberapa faktor yang menyebabkan masalah belajar pada anak. Secara garis besar, faktor-faktor penyebab timbulnya masalah belajar terdiri dari dua macam, diantaranya:

  1. Faktor internal, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri anak itu sendiri.
  2. Faktor eksternal, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa itu sendiri.

Kedua faktor tersebut, meliputi ragam keadaan seperti :

1. Faktor internal

Faktor internal meliputi gangguan atau kekurangan maupun psiko-fisik anak, yaitu:

a) Yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual atau intelegensi anak;

b) Yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap;

c) Yang bersifat psikomotor (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indra penglihatan dan pendengaran (mata dan telinga).

2. Faktor eksternal

Faktor eksternal meliputi semua kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar anak. Faktor-faktor lingkungan ini diantaranya:

a) Lingkungan keluarga, contohnya: ketidakharmonisan hubungan antara kedua orang tua, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga;

b) Lingkungan sekitar atau masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan teman sepermainan (peer group) yang nakal atau sulit diatur.

c) Lingkungan sekolah, contohnya : kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk, seperti dekat dengan pasar, kondisi guru dan alat-alat pendukung sarana belajar masih berkualitas rendah.

Selain faktor-faktor yang bersifat umum di atas, ada faktor-faktor lain yang juga menimbulkan kesulitan belajar anak, diantaranya faktor-faktor yang dapat dipandang sebagai faktor khusus ini ialah sindrom psikologis berupa learning disability (ketidakmampuan belajar). Sindrom (syndrome) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis (Reber,1988) yang menimbulkan kesulitan belajar itu sendiri terdiri atas:

  1. Disleksia (dyslexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca,
  2. Disgrafia (dysgraphia), yakni ketidakmampuan belajar menulis,
  3. Diskalkulia (dyscalculia), yakni ketidakmampuan belajar matematika.

Namun demikian, siswa yang mengalami sindrom-sindrom di atas secara umum sebenarnya memiliki potensi Intelligence Quotient (IQ) yang normal bahkan diantaranya ada yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Oleh karenanya kesulitan belajar siswa yang menderita sindrom-sindrom tersebut mungkin hanya disebabkan oleh adanya minimal brain dysfunction, yaitu gangguan ringan pada otak (Lask, 1985, Reber, 1988).

Setelah kita memahami faktor-faktor penyebab timbulnya permasalahan belajar pada anak, selanjutnya kita dapat mengetahui solusi terhadap permasalahan tersebut. Secara garis besar ada dua solusi yaitu :

a. Solusi sistemik
Solusi sistemik yaitu solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia saat ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme, yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab Negara dalam urusan publik termasuk pendanaan pendidikan.

b. Solusi teknis
Solusi teknis yaitu solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkaitan langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi anak.

Solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru misalnya, disamping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi atau nilai anak tidak dapat memenuhi KKM misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan lain sebagainya. Maka dengan adanya solusi-solusi tersebut diharapkan pendidikan di Indonesia dapat lebih maju, sehingga dapat menciptakan generasi-generasi baru yang unggul, kompetitif, dan berkualitas.

Salsabila Mustopa
Bandung, Jawa Barat

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian Anda!
[Total:4    Rata-Rata: 4.3/5]
Loading...

 Apa Komentar Anda?

Belum ada komentar.. Jadilah yang pertama!

Pentingnya Pendidikan Terhadap Anak

oleh Salsabila Mustopa dibaca dalam: 4 min
0