Kecewa dengan Jasa DHL Indonesia Terkait Bea Masuk dan NPWP

Saya ingin berbagi pengalaman dengan jasa DHL Indonesia sebagai pihak penerima yang jarang membeli barang dari luar negeri, diharapkan bisa sebagai bahan bacaan untuk pihak penerima lainnya.

TL;DR.
Pelayanan DHL Indonesia mengecewakan (padahal ada biaya admin yang lumayan). Tidak ada konfirmasi terlebih dahulu apakah pihak penerima memiliki NPWP atau tidak untuk perhitungan bea masuk, sehingga nilai bea masuk lebih besar dari seharusnya.

Potongan jawaban terakhir dari DHL Indonesia terkesan lepas tangan dan menyalahkan pihak penerima.

“Terima kasih atas respons e-mailnya. Pihak DHL Express tidak secara proaktif menanyakan NPWP, NPWP biasanya secara voluntarily dikirimkan oleh penerima ke DHL sebelum barang tiba, karena jika kami menotifikasikan satu persatu akan membengkakkan sewa gudang yang justru akan ditagihkan ke pihak ibu. Selain itu beberapa airwaybill pun bahkan tidak ada e-mail atau nomor telepon yang bisa dihubungi.”

Padahal saya sudah berusaha menghubungi terkait kepemilikan NPWP sebelum pelunasan dan DHL Indonesia mempunyai kontak lengkap pihak penerima (alamat, email, dan nomor telepon).

Kronologinya lengkapnya sebagai berikut:

1. Barang yang akan diterima adalah baju (produk tekstil).

2. Ada notifikasi untuk pelunasan bea masuk dari DHL Indonesia via email dengan judul “Import Duty/Tax Payment Alert”. Detail-nya sebagai berikut :
– Bea masuk: 395k
– PPN: 198k
– PPh: 296k

Di sini saya merasa ada yang janggal, karena nilai PPh lebih besar daripada PPN.

3. Saya menghubungi customer service DHL Indonesia via website untuk bertanya apakah wajar apabila nilai PPh lebih besar daripada PPN. Potongan balasan via email yang diterima:

“Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No 199, seluruh barang di atas $3 akan terkena pajak dan jika masuk salah satu kategori: garment, sepatu, dan/atau tas, maka tariff pajaknya akan lebih tinggi. Ibu dapat mengacu ke peraturan PMK 199 di : https://www.beacukai.go.id atau https://bclampung.beacukai.go.id/peraturan/199-pmk-010-2019/”.

Selain itu saya juga menghubungi pihak bea cukai dan disarankan untuk mengunduh aplikasi Mobile BeaCukai untuk simulasi perhitungan bea masuk. Hasilnya ada perbedaan persentase tarif PPh dengan pilihan opsi punya NPWP atau tidak, jika tidak 15% dan jika punya 7.5%.

Lalu saya membalas lagi untuk mengajukan keberatan bea masuk karena saya ada NPWP. Potongan balasannya berikutnya sebagai berikut:

“… Terima kasih atas responsnya, ibu mohon maaf, SPPBMCP sudah sesuai dengan penetapan yang seharusnya. Kembali kami lampirkan ya bu, yaitu 25% untuk Bea Masuk, 15% untuk PPH, dan 10% untuk PPN. Terlampir peraturannya https://engine.ddtc.co.id/peraturan-pajak/read/peraturan-menteri-keuangan-199pmk-0102019 Pasal 20. NPWP harus disubmit sebelum barang tiba karena manifest yang di-submit adalah melalui pelayanan online, yaitu sebelum barang tiba, manifest sudah datang terlebih dahulu untuk diproses di Bea Cukai.

Jika ibu masih memiliki keberatan, dapat langsung menghubungi Bea Cukai sesuai dengan peraturan keberatan dan banding yang menyatakan bahwa pihak penerima atau importir yang dapat mengajukan keberatan atau banding. Proses keberatan dan banding dapat mencapai 30 – 60 hari kerja tergantung dari keputusan Bea Cukai …”

4. Melakukan pelunasan tagihan dari DHL.

5. Saya mencoba menghubungi pihak bea cukai untuk mengajukan keberatan ke fo.soetta@gmail.com. Potongan balasan yang diterima:

“NPWP semestinya diserahkan kepada kurier Anda saat proses clearance agar PPh menjadi 7.5%. Namun, karena sudah timbul SPPBMCP atau tagihan dan sudah dibayarkan sehingga sudah tidak bisa direvisi. “.

6. Saya menghubungi DHL Indonesia lagi untuk memberitahukan hal di poin no. 5. Potongan email saya:

“Saya tidak mendapat konfirmasi sebelumnya untuk NPWP dari jasa ekspedisi dan karena sudah lunas dari bea cukai tidak bisa revisi. Sebelum pelunasan saya sudah mencoba infokan hal ini ke DHL, tapi tidak mendapat jawaban memuaskan.”

Potongan balasan dari DHL Indonesia:

“Terima kasih atas responsnya, NPWP harus diajukan sebelum barang tiba karena manifest kami online dan akan segera di-input secara sistem sebelum barang tiba. Ibu dapat melampirkan NPWP untuk shipment ke depannya. Paket ini sendiri sudah di-release-kan oleh Bea Cukai per tanggal 1 April 2020.”

Potongan email saya:

“Saya mau bertanya apakah dari pihak ekspedisi pernah mengontak penerima untuk konfirmasi kepemilikan NPWP? Karena saya langsung dapat tagihan.”

Potongan balasan dari DHL Indonesia:

“Terima kasih atas respons e-mailnya, pihak DHL Express tidak secara proaktif menanyakan NPWP. NPWP biasanya secara voluntarily dikirimkan oleh penerima ke DHL sebelum barang tiba karena jika kami menotifikasikan satu persatu akan membengkakan sewa gudang, yang justru akan ditagihkan ke pihak ibu. Selain itu beberapa airwaybill pun bahkan tidak ada e-mail atau nomor telepon yang bisa dihubungi.”

7. Barang sudah diterima dan saya mengontak pihak penjual agar ada alternatif untuk jasa kiriman ke Indonesia.

Terima kasih.

Marisa Rosari
Jakarta

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian Anda!
[Total:6    Rata-Rata: 4.3/5]

Surat pembaca ini belum mendapatkan tanggapan dari pelaku usaha terkait. Jika Anda adalah pelaku usaha yang terkait dengan pertanyaan/permohonan/keluhan di atas, silakan berikan tanggapan resmi melalui tautan di bawah ini:

Kirimkan Tanggapan

7 komentar untuk “Kecewa dengan Jasa DHL Indonesia Terkait Bea Masuk dan NPWP

  • 29 Januari 2021 - (07:32 WIB)
    Permalink

    lain kali Nomor NPWP dimasukkan ke dalam alamat, termasuk nomor telepon.. pengalaman terakhir memakai DHL Express sangat memuaskan.. cukup 15 menit dan tidak ada biaya tambahan ( barang yg saya bawa senilai 450 euro) jasa fee broker relatif acceptable.

    • 17 Mei 2021 - (13:18 WIB)
      Permalink

      Mas mau nanya dong.. Minggu lalu pacar saya tuh kirim paket dari Jerman, pake Dhl express (katanya sampe 2 hari), terus sampe sekarang paketnya belum datang dan tadi pagi saya dapat pesan dari dhl :”Payment of import duty/tax is required for DHL Express” nah saya klik dong tuh link..gila tagihannya gede banget ;'( masa iya saya harus bayar IDR 1441.000 mas. padahal di dalam itu cuma barang-barang sederhana. Bagaimana harus mengatasi masalah ini mas? mungkin mas tau? atau siapa yang bisa saya hubungi soal ini? Trims.. semoga dibalas ya mas

      • 24 Mei 2021 - (12:27 WIB)
        Permalink

        barang barang sederhana macam gimana ya? setahu sy tax & duty fee itu acuan BC netapin dr Declare sendernya di CN20 document. kalo sederhana tp di declare diatas 400 euro ya sama aja kena gede. apalagi ga nulis NPWP di alamatnya, plus 10% tuh dr CIF. DHL express paling cepet kena 4 hari klo pengalaman sy. paling lama sminggu, cost jg reasonable lah utk fee-nya

  • 4 Oktober 2021 - (13:53 WIB)
    Permalink

    saya juga dapat kiriman dri luar negeri 2 pket dn tpi knp sy kena pajak bnyk bgt saya harus byr 10juta rupiah sudah sy byr tpi mlh sipersulit MLh mereka mangancam mau datangin polisi kerumah kalau saya g byr 10 juta lagi. ini pemerasan ap pajak namanya. mohon solusinya 🙏🏽

    • 4 Oktober 2021 - (14:29 WIB)
      Permalink

      Kirimnya lewat jasa apa bu ? Ga ada namanya polisi dtg k rmh kl g byr bea cukai. Ya dibiarin ,pling barangnya aja ditahan ampe mau byr. Dan itu resmi da keitansinya, kl kewat kurir biasa byr d kantor pos bisa. Jgn byr kl tidak di tempat resmi, dan minta kuitansi

      • 4 Oktober 2021 - (15:01 WIB)
        Permalink

        Sharing pengalaman ya..dulu tmn sy prh mengalami hal seperti ini, jd dia bertransaksi di platform ol membeli produk, kemudian stlh pesanan sampai di indonesia trnyt kena “cekal” dianggap kuantitasnya melebihi batas, sehingga terkena pajak tbhan lbh tinggi (walaupun sbnrnya transaksi jg sdh trmsk pembyran pajak). Tmn sy menerima srt panggilan utk memprosesnya ke ktr pajak. Akhirnya dia memilih utk menolak pembyran pajak tbhan (krn tdk mengetahui informasi ini sblmnya), menurut informasi ktr pajak brg tsb akan dikembalikan ke sender/dimusnahkan. Stlh memproses via platform ol, uang tmn sy dikembalikan seller, namun biaya ongkir ttp dibebankan. Mgkn bs dicoba cara ini ?
        Dan tbhan share jg pengalaman pribadi sy, ketika bekerja di LN, seblm kembali ke Indonesia sy mengirimkan brg2 pribadi milik sy sendiri (bkn baru) via pengiriminan pos. Isi paket dirinci jls, wajib diminta dari pos korsel, dan sblmnya sy jg menanyakan apakah akan ada biaya tbhan ketika di Indonesia yg hrs sy byr, dijwb pihak pos korsel tdk ada, kemudian sy diberikan jg alamat email jika ada mslh dgn pengiriminan. Sebln berselang dari wkt ketibaan sy di Indonesia, sy dihubgi per telp bahwa paket sy sdh tiba & hrs membyr 1jt utk biaya pajak (ini thn 2007). Sy kaget knp ada terkena biaya tbhan sdgkan info dr pihak pos korsel sdh jls, dan ini adl brg2 bekas pakai milik sy sendiri, kemudian stlh komunikasi sebyk 2x dgn pihak pos indonesia. Akhirnya sy sampaikan bahwa sy itu bekerja di LN, sblm pulang mencegah overweight bagasi sy kirimkan bbrp milik pribadi sy, itu semua ada rinciannya & bs diperiksa, klo hrs membyr 1jt lbh baik diambil saja oleh pos indonesia & sy akan menghubgi pos korsel utk mengklaim ganti-rugi. Kemudian telp sy tutup…tak lama bbrp hari kemudian paket sy diantar utuh ke rmh tanpa hrs membyr sepeser pun.

        • 4 Oktober 2021 - (16:35 WIB)
          Permalink

          Iya, peraturan pajak masuk barang sering berubah. Yang pasti byr bea cukai wajib ada kwitansinya ya, kl mau keberatan juga bisa banding dengan menunjukkan bukti bahwa barang yg dibeli harganya tidak seberapa.
          Saya sering blnja baju dr LN tp terakhir ya pas mulai pandemi, tau pandemi pun ya karena paket tidak kunjung dikirim dr Nov 2019, browsing bln Desember 2019 akhir trnyata ada wabah misterius di China. Itu dulu cm byr 20rb kl baju, byr di pak posnya, dpt kuitansi pjk. Pernah tinggal d Eropa juga beberapa taun dan ga pernah ada masalah kl lewat pos biasa, jauhi DHL atau FedEX kecuali kl mau kirim dokumen aja.

 Apa Komentar Anda?

Ada 7 komentar sampai saat ini..

Kecewa dengan Jasa DHL Indonesia Terkait Bea Masuk dan NPWP

oleh Marisa Rosar dibaca dalam: 3 menit
7