Penagihan Kredivo ke Rumah

Nama saya Windy. Saya pengguna Kredivo sudah beberapa tahun ini. Pinjaman dan pembayaran saya lancar, sampai saya dapat kenaikan limit. Selama pandemi kerjaan saya kacau, dan saya rasa itu terjadi pada semua orang. Selama pandemi ini pula saya tidak bekerja, namun saya tetap bayar cicilan pada Kredivo, walaupun terlambat.

Selama pandemi pun Kredivo tidak pernah memberikan keringanan, tapi saya tetap berbesar hati tetap bayar beserta bunganya. Namun saat ini, saya telat 32 hari, pembayaran tetap saya cicil, tapi apa coba yang dilakukan Kredivo? Mereka datang ke kediaman lokasi rumah saya, minta saya keluar dari rumah.
Pada saat itu saya sedang tidak ada di rumah, mereka memaksa saya kirim share location lokasi saya saat itu.

Saya heran sama Kredivo, sampai seperti ini cara mereka menagih, padahal cicilan saya dari 12 sudah masuk cicilan ke-10 dan sudah mau selesai. Sampai segitunya, yang datang bawa motor, pakai helm dan masker. Saya bilang coba buka maskernya karena saya mau lihat kali aja ketemu di jalan bisa silaturahmi. Namun mereka tidak mau dan keukeuh mau nyamperin saya saat itu juga. Tim Kredivo benar-benar kasar seperti preman.

Ke mana OJK jika sudah begini? Yang begini harusnya gimana nih? Ini kan masa pandemi, Kredivo harusnya bisa mengerti dong dan OJK juga cari penengahnya gimana. Tolong direspon Kredivo.

Windi Putri
Jakarta Selatan

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian mengenai Kredivo:
[Total:148    Rata-Rata: 2.3/5]
Tanggapan Kredivo atas Surat Ibu Windi Putri

Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan kesetiaan pengguna Kredivo. Menanggapi surat konsumen yang ditulis oleh Ibu Windi Putri...
Baca Selengkapnya

Loading...

28 komentar untuk “Penagihan Kredivo ke Rumah

  • 16 September 2020 - (17:40 WIB)
    Permalink

    Bila diamati foto DC itu, terlihat pemandangan komplek perumahan. Bila anda memang tinggal disitu, kemungkinan DC menganggap anda orang yang mampu, karena anda tinggal diperumahan yang bagus.

    Memang terkesan DC seperti preman, namun kekeuh nya DC nyamperin anda bisa jadi karena rumah DC itu juga letaknya tidak jauh dari tempat anda. DC berfikir daripada telfon tidak ada kepastian mending langsung mendatangi rumah anda.

    Pinjaman hampir mau lunas mereka tak peduli. Anda lebih kaya dari DC mereka tak peduli. Yang mereka pikirkan target kerja tercapai. Masa bodo peduli amat dengan keadaan. Fintech yang mempekerjakan mereka pun tidak peduli kerja DC mereka seperti apa. Jika fintech telah mengalihkan penagihan sampai pada penagihan lapangan artinya nasabah telah dianggap spesial dan harus segera diatasi.

    Semoga kejadian ini bisa membuat anda jera tidak lagi berurusan dengan perkara hutang semacam itu.

    Hutang riba’ haram, kalian berdua nasabah dan DC sama saja. Sumber kegaduhan. Nasabah menghilang yang di telfon teman temannya tetangganya semua ikut pusing karenanya.

    DC mencari kerumah, nasabah tak ada, tetangga jadi sasaran, ikut di ceramahi tentang kelalaian nasabah. Ikut di ajak mikir tentang hutang nasabah.

    Gaduh sungguh gaduh.

    Fintech sejahtera karena anda semua yang terbiasa hidup ngeRiba’. Karena anda semua yang tidak pernah kapok. Terpancing dengan iklan manis pinjaman Riba’. Yang iklannya sebatas pinjaman di approve dana cair, namun tak diiklankan dengan tuntas sampai pada cara penagihan yang seperti ini. Hanya orang bodoh yang harus melihat iklan sampai tuntas baru ngeh kalau sebenarnya penagihan fintech sekejam ini.

    Semoga anda kapok.

    36
    17
  • 16 September 2020 - (18:23 WIB)
    Permalink

    Pada jaman ini, orang mengira jalan pintas meminjam uang hanya pada fintech. Mudah dan cepat.

    Padahal jika melihat kebelakang, melihat kebiasaan orang jaman dulu. Hidup rukun bertetangga, ada rejeki lebih masak lebih berbagi ke tetangga, sepulang sekolah anak di persilahkan bergaul diluar bergabung dengan anak tetangga lainnya. Tetangga merenovasi rumah kekurangan tenaga kerja menawarkan diri membantu, begitupun sebaliknya jika kita memerlukan bantuan tetangga menawarkan diri.

    Tetangga begitu berarti.

    Hingga saat pandemi seperti ini, yang aktif bertetangga pasti terlebih dahulu sadar dengan situasi ekonomi yang sulit. Melihat dikanan kiri banyak tetangga mengalami pemutusan hubungan kerja. Mulai antisipasi langsung berhemat mengencangkan ikat pinggang tidak neko neko. Bahkan ujung ujungnya lebih banyak bisa membantu tetangga lain yang benar benar kesulitan.

    Namun apadaya di jaman ini.
    Hidup bertetangga saling jaim jaiman. Ekonomi negara sedang sulit namun merasa masih aman, dan merasa tidak berpengaruh. Tidak membuat strategi apa apa. Ujung ujungnya ikut terimbas juga, akhirnya bingung. Tanpa pikir panjang menjerumuskan diri ke lembah fintech.

    Fintech bukan tetangga yang jika di kasih kebaikan selanjutnya akan dibalas kebaikan. Jika dikirimin kue bolu, besoknya di balas dikirimin puding susu. Fintech tidak manis begitu.

    Ya. Jarang sekali yang hidup ditengah tengah tetangga yang rukun. Terlihat rukun namun sepi sepi aja. Ramenya bukan karena ada yang mengadakan syukuran, tapi karena kedatangan DC penagihan. Ya sungguh sangat memalukan.

    10
    4
  • 16 September 2020 - (19:22 WIB)
    Permalink

    Mungkin ada yang kepikiran mengapa Muhammad ini sewot bener, malah membahas yang tidak ada kaitannya dengan topik surat pembaca.

    Alasannya begini,

    Pernah mengalami kegaduhan seperti ini.

    Sedang enak enaknya tidur siang, ada orang teriak di depan rumah, dia tidak mengetuk pintu. Namun hanya terdengar teriakan ”Permisi Permisi Permisi”.

    Saat itu sekitar jam 1 siang, waktu orang pada istirahat tidur siang, keadaan sunyi sehingga suara dia sangat jelas terdengar.

    Beberapa kali saya mendengar itu, penasaran saya pun melihat lewat kaca jendela, ada seorang lelaki berdiri jauh dari pintu, dia masih jauh di tengah tengah antara rumah saya dan rumah tetangga. Dia berdiri disitu namun saya melihat wajah orang itu dan merasa tidak mengenal, saya pun cuek.

    Terus menerus dia teriak “Permisi”, dan tak ada satupun tetangga yang keluar, akhirnya saya sendiri yang berinisiatif merespon orang itu.

    Saya dekati dia, dan dia pun bertanya, “Mas rumah Ibu Sri dimana ya.?

    Ibu Sri siapa pak.? “Ibu Sri guru SD”.

    Merasa tak kenal sayapun bilang tidak kenal, namun ada rasa tidak enak kalau tidak bisa membantu, selanjutnya saya pun terlintas bertanya pada tanteku kali aja tanteku yang umurnya lebih tua kenal dengan ibu ibu bernama Sri guru SD itu.

    Saya meminta orang itu untuk menunggu, saya kasih kode bahwa saya ingin tanya dulu dengan tanteku yang didalam rumah.

    Kemudian, saya lihat, tanteku sedang tertidur sangat pulas. Ada kepikiran tidak enak membangunkannya, tapi juga kepikiran tidak enak dengan orang diluar yang tidak bisa saya bantu.

    Akhirnya saya paksakan membangunkan tante saya, dan tante saya membuka matanya. Cepat saya langsung memberi tahu bahwa ada orang yang mencari ibu Sri Guru SD, tante kenal gak.? Tanteku menjawab “Sri siapa,? Gak ada guru SD di komplek kita”. Mendengar itu saya pun merasa jawaban itu cukup, karena tidak mau bertanya lebih jauh lagi karena melihat tanteku masih teramat ngantuk dan melanjutkan memejamkan matanya.

    Dari jawaban tanteku itu, saya berkata kepada orang itu bahwa disini tidak ada seorang pun yang bekerja sebagai Guru SD.

    Saya pun penasaran dan mau melihat data lengkap orang yang di cari orang itu. Orang itupun membuka secarik kertas kopelan kecil memanjang, disana tertulis banyak nama nama orang beserta informasi lainnya. Belum sempat saya baca, orang itupun berkata bahwa dia utusan kantor ada perlu dengan Ibu sri, menurut datanya ibu sri baru saja pindah rumah di daerah sini.

    Melihat gelagat seperti itu, dia membawa banyak data orang, dan masih meragukan lokasi alamat orang, saya pun serta merta menganggap pasti dia ini orang penagih hutang.

    Ampun deh. Orang lain yang hutang, komplek kami geger. Gangguin kenyamanan istirahat siang saya aja. Ini juga saya sudah sangat bersalah ganggu istirahat tanteku.

    Gaduh gaduh bener.

    Dia melanjutkan teriak teriak sambil berjalan terus ke perumahan lainnya.

    6
    6
    • 17 September 2020 - (08:10 WIB)
      Permalink

      gak apa-apa kok Pak Muhammad.
      Disini bebas berkomentar siapapun.
      toh saya juga tidak baca semua komentar anda, terlalu panjang dan ribet.. Terima kasih Pak..

      16
        • 17 September 2020 - (11:32 WIB)
          Permalink

          @ Kevin Garnett

          Coba liat respon si windi, dia tertawa.
          Apa perlu ekpresi tawa harus di tulis seperti itu agar semua tahu kalau dia tertawa.?

          Malah itu membuat saya yakin, kejadian gaduh ini tidak bakal membuatnya Jera, hutang riba’.

          Fintech akan semakin sejahtera karena windi.

          Teman dan tetangganya tetap di hantui kegaduhan berikutnya.

          DC mengejar prestasi, Target Kerja tercapai.

          si Windi mengejar prestasi menaikkan Limit Pinjaman.

          si Windi dan DC sama saja, menjadi sumber mengadu domba pemikir seperti kita.

          • 17 September 2020 - (11:54 WIB)
            Permalink

            @Muhammad.
            ini nih yang disebut “JudgeMental”
            saya disini yang berhutang meminta, bertanya dan mungkin ada solusi, tapi kenapa Bapak jadi bilang saya “si Windi dan DC sama saja, menjadi sumber mengadu domba pemikir seperti kita.” Heran saya..

            Pak,, Setiap orang sudah melakukan usaha terbaiknya untuk Hidup mereka masing-masing.
            dan Pemikiran seperti ini akan memunculkan perasaan yang lebih Empatik dan mengurangi Aura Negatif pada diri Anda.
            jadi belajarlah Membaur dan Paham akan kehidupan sekitar anda yah..
            Percaya deh, sifat anda yang seperti ini perlahan akan membuat anda ditinggalkan orang sekitar.

          • 19 September 2020 - (04:42 WIB)
            Permalink

            Mba, ak jg punya pengalaman dc kredivo smpe dtg krumah krna telat bbrp bln memang keadaannya pandemi bgni. Tp ya walau gmn pun hadapin saja wlaupun awalnya ak pun merasa stres dan takut..tp slma niat kita baik in syaa allah gak akan knp2 dan alhamdulillah dc nya pun tak seseram yg dibayangkan, baik sekali orgnya dan sopan..bbrp x dtg krmh wkt itu krna ak blm bisa membayar tp dia mengerti dan memberi wkt..klo dtg ya ak crta apa adanya aj..tp skr sudah tinggal cerita alhamdulillah kredivo memberi keringanan agar hutang bisa lunas tp gak terlalu membebani..jd tiap bln ak mencicil semampunya smpe lunas tp bunga sudah di stop.

    • 17 September 2020 - (18:57 WIB)
      Permalink

      Intinya kalau DC sampai tidak sopan.laporkan!!
      Sampai minta uang,
      Tendang!!
      Sampai kekerasan,
      Hancurkan!!
      Tugasnya dia hanya memperingatkan saja.
      Ga usah takut,dia itu tamu.
      Ititudnya orang bertamu kan harus sopan.
      Hidup ga usah dibuat pusing.
      Kalau udah lunas jgn utang di pinjol lagi.
      Ilegal/legalpun dilabel OJK pun.
      Itu hanya omong kosong mereka.
      Kenyataanya diluar aturan OJK.
      Masakan dilihat dr bumbunya.
      Begitu juga perusahaan dilihat dr karyawanya.
      Kalau ada yg tidak baik laporkan.

  • 17 September 2020 - (07:30 WIB)
    Permalink

    Mbak jangan takut, kasih edukasi kepada DC Kredivo. Edukasi berupa tata cara penagihan mengikuti aturan OJK dan AFPI.
    Jika melanggar akan dikenakan sanksi yang berlaku sesuai aturan.
    Emang DC taunya hanya target, kalo cuman kerja sekadar kerja tanpa tau aturannya Monyet juga berkerja lebih luar biasa malah.
    Saya sudah pernah seperti mbak gini kok, saya beri edukasi dan persuasif. Kita mah maen jalur hukum aja mbak karna konsumen memang dilindungi aturan tersebut. Laporkan ke OJK sih seharusnya, nama instansi, nama penagih + bukti2 real kalo ada. Biar gak cuman DC aja yg kena sanksi, instansi yang menaungipun harus kena. Lagipula dalam aturan tidak diperbolehkan menyewa jasa DC kok.

    • 17 September 2020 - (08:03 WIB)
      Permalink

      Terima kasih ya Mas Kiky atas Infonya.
      Iya sempet stress banget sama di DC Kredivo ini, padahal memang niat bayar dan bukan mau kabur hanya saja saat ini belum ada Dananya dan berniat mencicil. karena sudah mau Lunas ngapain juga Kabur..
      sekali lagi terima kasih Mas Kiki Infinya..

      • 17 September 2020 - (19:18 WIB)
        Permalink

        Yg sabar ya mba… sy jg ada kredivo dan setau saya mereka mau dicicil pelan2 ko. Intinya kalau DC dateng dengan baik2 (minta surat tugas dan ID card buat difoto)., jelasin aja kemampuan mba bayar. Dan kalau mereka rusuh, usir dan lapor ke cs kredivo dan pihak berwajib. (Jgn lupa pasang rekaman ya..).

  • 17 September 2020 - (08:20 WIB)
    Permalink

    Sebenarnya jika sudah lama tidak dapat dihubungi (lamanya tergantung dari isi perjanjian) dan tidak dapat dikontak maka bisa dialihkan ke pihak ketiga sebab terindikasi kabur atau tidak memenuhi kewajibannya karena namanya hutang harus dibayar sesuai dengan perjanjian. Jangankan hutang ke lembaga, hutang ke teman atau saudara saja juga harus dilunasi sesuai dengan komitmen awal. Namun jika DC sudah melakukan penagihan diluar batas kewajaran maka dapat dilaporkan dahulu ke pihak pemberi pinjaman tersebut. Untuk pelaporan ke pihak OJK tanpa adanya pelaporan kita ke pemberi pinjaman maka tidak ada artinya. Kita harus melaporkannya dahulu ke pihak pemberi pinjaman baru mediasi ke OJK apabila tidak ada kesepakatan antara penerima pinjaman dengan pemberi pinjaman. Setau saya, Kredivo ada Customer Service yang dapat dihubungi. Coba konsultasikan ke pihak Kredivo mengenai hal tersebut dan minta nomor pelaporannya. Nomor pelaporan tersebut dapat digunakan sebagai bukti ke OJK apabila tidak ada kesepakatan/solusi antara keduabelah pihak.

    • 17 September 2020 - (08:48 WIB)
      Permalink

      Ada yang komen “jangan meriba” padahal orang itu ga tau dan ga mau tau alasan orang melakukan pinjaman. Kalau ini udah bulan ke 10 dari 12, berarti pinjaman akhir tahun lalu yang mana kita semua ga ada yang nyangka Indonesia masuk ke ekonomi sulit. Semoga dilancarkan rezekinya agar cepat beres pinjamannya. Stay positive.

      • 17 September 2020 - (11:09 WIB)
        Permalink

        Memang benar, saya gak tau dan gak mau tau alasan orang melakukan pinjaman.

        Tapi, Alasan apa yang bisa di terima dan wajar hingga yang Haram tetap di kerjakan.?

        Semua yang anda katakan benar, gak ada yang nyangka Indonesia masuk ke ekonomi sulit.

        Gak ada yang nyangka orang akan tiada sebelum hutangnya Lunas. Namun kenapa dalam Agama orang yang tiada masih wajib melunasi hutang.?

        Apakah anda bisa menjelaskan kalimat ini,

        “Nama saya Windy. Saya pengguna Kredivo sudah beberapa tahun ini. Pinjaman dan pembayaran saya lancar, sampai saya dapat kenaikan limit.”

        Mengangap wajar si Windi yang menjadikan Riba’ sebagai kebiasaan hidupnya. Berulang kali meRiba’ hingga berprestasi menjadikan Limit pinjamannya semakin meningkat.

        Memang saya orang yang banyak salah. Dan terkesan tidak mau tau urusan kalian.

        Tak mengapa ini sudah menjadi bagian hidup kalian.

        Namun saya tetap memerangi Riba’, menggambarkan Riba’ yang kejam ini, agar generasi lainnya yang belum terjerat seperti kalian, dapat mencegah dan menjauhkan diri dari perkara Haram yang Gaduh ini.

        Saya liat ulasan saya di Tahun 2015 pun masih ada. Semoga ulasan saya itu juga bisa menyadarkan generasi yang lain.

        6
        4
        • 17 September 2020 - (11:32 WIB)
          Permalink

          Ya Tuhan.. dari 2015 Bapak sudah buat Ulasan dan Membalas semua “Surat Pembaca yang Mengenai Riba” ini..? mau tanya apakah Bapak tidak Bekerja..? atau emang kerjaan Bapak mem “Balas” Surat Pembaca..?
          tapi sebelumnya terima kasih ya Pak atas Ceramah Wejangan atau apalah disebutnya ini..
          oia saya tidak pernah menganggap “Kenaikan Limit” adalah sebuah Prestasi, itu info bahwa saya sebelumnya memang tidak pernah menunggak dalam membayar hutang Bapak..
          Melihat ketikan Bapak, sepertinya Bapak memiliki sifat “JudgeMental” dan biasanya itu terjadi pada orang yang kesepian dan banyak tersakiti.
          Saya berdoa untuk Diri saya sendiri semoga diberi Kelebihan Rezeki agar tidak berhutang dan Berdoa untuk anda agar lebih Wise ya.. Terima kasih

          • 17 September 2020 - (18:07 WIB)
            Permalink

            Dear @Windi

            Mohon maaf jikalau memang saya terlalu over persepsi negatif padamu.

            Sebelum dirimu menggunakan istilah psikologis yang keren seperti ‘judgemental’ , yang saya tidak tahu di usia berapa dirimu menemukan istilah itu. Dan kapan istilah itu pertama kali dirimu gunakan. Sampai dirimu tidak ragu melontarkan kata kata itu kepada saya sebanyak 2 kali.

            Meskipun kosakata itu teramat keren, baiknya dirimu juga mengetahui ‘sifat umum’ manusia.

            Hanya 2 sifat saja yang akan saya jabarkan untuk dirimu. Yaitu Malu dan Segan.

            MALU

            1. Malu dikatakan miskin

            Hutang menggambarkan finansial sedang miskin, orang yang terbiasa terlihat kaya akan malu jika terlihat miskin.

            2. Malu terdengar publik

            Ngobrol masalah hutang pun tidak ingin diketahui orang banyak, mencari tempat sepi, menunggu situasi privacy. Teman yang menagih hutang di tempat umum akan sangat memalukan dirinya.

            SEGAN

            1. Basa Basi karena segan

            Permohonan hutang kepada teman/keluarga pasti di awali dengan basa basi karena segan. Saat di tagih pun merasa tak enak dan menyiapkan beragam alasan basa basi agar penagih tidak kecewa.

            2. Tidak mau dianggap lari dari hutang karena segan

            Tidak mau di cap jelek, lari dari hutang. Berusaha mempertahankan hubungan baik dengan pemberi hutang. Karena merasa keesokan hari suatu saat akan membutuhkan bantuan mereka lagi.

            Dirimu boro boro malu dengan tetangga karena didatangin DC, boro boro segan dengan Fintech takut kalau di blacklist.

            Eh malah mempublis ke khalayak nusantara. Bukan hanya tetangga yang tahu kalau dirimu orang yang di kejar kejar penagih hutang, tapi se nusantara anget pada tahu.

            Eh malah menggurui Fintech, eh malah meragukan kinerja OJK.

            Dirimu tidak Malu pada khalayak ramai, dirimu tidak segan pada lembaga dan institusi.

            Demi mempertahankan ego, dirimu menjadi manusia yang tidak umum.

            Dan semua yang sudah pernah terjerat Riba’ sama seperti dirimu, semuanya berfikir tidak umum.

            Pikiran stres dirimu itu telah mengkontaminasi akal sehat.

            Jangan dirimu terlena dengan perubahan dunia yang aneh seperti ini.

            Jutaan orang diluar sana (yang umum) diam saja walau di datangin DC, karena merasa itu sudah resiko telat bayar.

            Dan yang memberi hutang memang berhak managih kekeuh seperti itu.

            Tidak ada yang salah dengan kejadian ini jika dirimu adalah orang umum.

            5
            1
          • 18 September 2020 - (00:36 WIB)
            Permalink

            Dia itu sultan mbak, kalangan atas, bukan seperti kita kaum bawah, sabar aja, gua juga keki baca komen dia.
            Bilang orang suruh berbaur sama tetangga, Dianya sendiri yg mungkin gak pernah berbaur sama tetangga.
            Dia gak tau kalau mungkin sebagian besar orang sedang mengalami kesulitan akibat wabah ini.
            Orang lg down ditambah komenan dia mlh tambah down.

  • 17 September 2020 - (10:28 WIB)
    Permalink

    Hi Ibu Windi,

    Maaf atas ketidaknyamanan yang Ibu Windi alami. Terkait kendala Ibu Windi, mohon bantuannya untuk informasikan nomer telepon yang dapat dihubungi dan dapat di kirimkan ke email kami di support@kredivo.com dengan subjek “Konfirmasi Media Konsumen” agar tim kami dapat menjelaskan terkait kendala Ibu Windi. Terima kasih.

    Salam Hangat,
    Cindy

  • 17 September 2020 - (21:11 WIB)
    Permalink

    Buat mas muhammad, saya apresiasi atas konsep pemikiran mas, yang memang, itu ga ada salahnya, hanya saja, menurut saya, cara penyampaian mas agak vulgar, dan cenderung memojokan mbak windi sebagai “korban”, saya yakin mba windi saat ini posisinya terjerat hutang riba, butuh solusi, dan tentunya bukan dengan narasi yang terdengar mnghakimi, jadi menurut saya begini, teruntuk mba windi, coba dengan segala cara untuk melunasi pinjaman “riba” mba windi, entah itu dengan berhutang dulu ke saudara, teman, atau rekan kerja paling dekat, setidaknya, sisa cicilan yg cuma 3x lagi itu, selesai ajj dulu, selebihnya, hutang mba ke org trdekat mba, bisa mba lunasi dgn cara dicicil dan tentunya tanpa bunga, nah setelah hutang mba lunas, azamkan pada diri mba, sesulit apapun kondisi mba, jgn sampai melakukan pinjaman lagi ke institusi atau lembaga baik itu bank atw nonbank karna muaranya ya bakal seperti ini lagi, belum lagi bunga yg terus mencekik, lebih baik dan lebih bijak klw qta punya kemauan utk beli sesuatu tapi belum sanggup utk membelinya saat itu juga, lebih baik bersabar dgn cara menabung, bahkan klw mba harus mngorbankan biaya utk menuhin gaya hidup, itu lebih baik dari pada trjerat hutang lagi sperti skrg ini., Solusi dari saya sperti itu, dan kedepan, saran saya, mba mulai pelajari konsep ekonomi dlm islam yg dibenarkan itu sperti apa, dan mulailah berusaha utk menjauhi prinsip prinsip ekonomi yg seolah itu memberi mba madu, tapi trnyata itu racun, mungkin sekian sedikit saran dari saya, maaf sbelumnya klw ada ucapan dan ungkapan dari saya yg agak trdengar mnggurui, tapi su yakin allah yg mndorong hati saya utk mnyampaikan ini semua,. Insya allah ini membantu,. Yakinlah dibalik kesulitan allah pasti sediakan kemudahan bagi yg membuka akalnya utk berpikir., Wallahu alam bi ash shawab.,

    • 17 September 2020 - (22:32 WIB)
      Permalink

      @Squ4llion

      Apakah anda yakin si windi memiliki kewajiban terutang hanya dari fintech Kredivo saja.?

      Anda menyarankan si windi untuk hutang ke orang terdekat, Apakah anda menyangka si windi belum pernah mencoba melakukan itu.?

      Kalau memang keamanan finansialnya bisa diatasi dengan begitu mudah, tidak mungkin si windi sampai mengaku stres dibuatnya.

      Sebaiknya anda memahami lebih dalam lagi kata demi kata yang ditulis si windi.

      Memang banyak sekali jalan keluar untuk menyelesaikan perkara ini, namun tidak semua bisa dan ampuh untuk dilakukan.

      Hanya si windi yang paham akan masa depan finansialnya. Intinya jika ada niat pasti ada jalan.

      Semoga si windi diberikan jiwa yang tenang agar bisa berfikir jernih sehingga menemukan jalan keluar yang cocok demi memperbaiki keadaan ini. Aamiin.

  • 17 September 2020 - (21:17 WIB)
    Permalink

    Kredivo jadi solusi praktis bagi masyarakat yg rela masuk ke lingkaran setan dalam iming iming “kemudahan”, tapi sesungguhnya itu berpotensi menyesatkan

  • 20 September 2020 - (17:46 WIB)
    Permalink

    Itu foto dari dc nya apa? Koq gak keliatan muka nya penasaran aku wkwkkwkwkkwk pgn liat yg namanya DC yg selama ini berani nya cm tilpon aja

 Apa Komentar Anda mengenai Kredivo?

Ada 28 komentar sampai saat ini..

Penagihan Kredivo ke Rumah

oleh Windi dibaca dalam: 1 min
28