Permohonan Surat Pembaca Permasalahan dan Penyelesaian Kartu Kredit BNI serta Perlakuan DC 24 Oktober 202520 November 2025 natanael octodion 17 Komentar Bank BNI, Debt Collector, Kartu Kredit BNI, Kredit Macet, Penagihan, Penagihan Kartu Kredit, Penagihan Kartu Kredit Bank BNI, penagihan ke pihak ketiga, Reschedule pembayaran kartu kredit, restrukturisasi kredit, Sistem penagihan bermasalah Ikuti di Google Berita Sumber Pilihan di Google Saya ingin menyampaikan permasalahan yang terjadi pada saya. Saya memiliki dua kartu kredit BNI MasterCard dan JCB sejak tahun 2019. Setelah satu tahun penggunaan, saya merupakan nasabah yang selalu membayar tepat waktu dan tidak pernah menunggak. Pada tahun 2020, ketika COVID melanda Indonesia, saya kehilangan pekerjaan dan semua sumber penghasilan saya. Pada pertengahan tahun 2020, saya mengajukan keringanan pembayaran kepada BNI, tetapi tidak diberikan, dan hanya diminta untuk membayar jumlah minimum. Saya sudah melakukannya beberapa bulan, namun ternyata masih ada bunga yang terus berjalan sehingga tagihan saya semakin membengkak. Pada tahun yang sama, saya meninggalkan semua barang saya di kota asal dan merantau untuk mencari penghasilan. Suatu ketika, debt collector datang ke rumah lama saya dan menagih dengan nada mengancam kepada penghuni rumah, yang bahkan bukan siapa-siapa saya. Mereka menyebutkan total utang saya sebesar Rp30 juta. Tidak lama kemudian, ada debt collector lain yang mengancam orang tua saya di Bali, dengan alasan sudah mendapat izin banjar dan akan melibatkan pecalang, dan sebagainya. Orang tua saya sudah tua dan sedang sakit, sedangkan saya pun tinggal jauh dari sana. Karena saya memiliki itikad baik, saya mencoba menghubungi unit collection BNI pusat. Namun saya malah dilempar untuk menghubungi BNI Surabaya. Saat saya meminta nomor teleponnya, tidak diberikan. Tidak lama kemudian ada seseorang bernama Re*** yang menghubungi saya, menginformasikan bahwa dia akan menangani permasalahan saya. Kemudian muncul rekapan total utang saya sebesar Rp15 juta sekian. Saya meminta keringanan untuk penyelesaian, dan setelah negosiasi, disepakati nilai Rp8 juta dengan sistem cicilan. Namun belakangan saya baru sadar bahwa penyelesaian tersebut hanya untuk satu kartu, padahal saya kira untuk kedua kartu. Alasannya, kata pihak tersebut, “penyelesaian beda orang, Pak. Saya hanya menarik satu ID kartu saja, bukan wewenang saya.” Padahal sebelumnya debt collector selalu mengatakan bahwa total utang Rp30 juta itu mencakup keseluruhan. Perdebatan pun panjang, dan ancaman dari pihak debt collector terus berlanjut. Padahal saya sudah sampaikan bahwa saya tidak tahu-menahu tagihan tersebut sejak meninggalkan kota asal dan kartu tersebut. Saya merasa semua ini membengkak karena bunga dari pembayaran minimum yang dulu mereka arahkan saat masa COVID. Saya sudah berusaha meminta penyelesaian langsung untuk kedua kartu saya dengan pelunasan penuh Rp8 juta agar statusnya closed, tetapi pihak yang bersangkutan tidak mau dan malah mengancam akan mendatangi rumah dengan membawa pecalang dan lain-lain. Padahal rumah itu bukan milik saya dan saya tidak tinggal di sana. Selain itu, ada aturan dari OJK yang menyebutkan bahwa debt collector tidak boleh menyebarkan data pribadi maupun melakukan penagihan kepada pihak lain selain debitur. Namun, sikap tersebut justru dilakukan oleh pihak yang menagih saya — bahkan kepada pemilik rumah dan orang tua saya. Segala bukti ancaman dan percakapan saya dengan pihak BNI akan saya sertakan di bawah ini. Saya memiliki itikad baik untuk menyelesaikan kewajiban saya. Mohon pihak BNI dapat membantu memberikan keringanan penyelesaian untuk kedua kartu sesuai kemampuan saya. Natanael Octodion Sidoarjo, Jawa Timur Catatan redaksi (diperbarui 29/10/2025): Penulis menyampaikan apresiasi dan menyatakan masalah di atas telah diselesaikan dengan baik oleh pihak-pihak terkait. Rekonsiliasi dan Restrukturisasi Tagihan, Serta Permintaan Maaf kepada Pihak Bank BNI Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
ayu24 Oktober 2025 - (13:25 WIB)Permalink Ih takut banget ya, bni ini segala cara dihalalkan bahkan dcnya lebih serem sampe mengancam begitu Awalnya maju mundur, jadi fix deh mau tutup ccnya 2 Login untuk Membalas
Kang-Asep25 Oktober 2025 - (12:25 WIB)Permalink Namanya juga nagih utang, masa harus lemah lembut orang kalau di lembutin dalam nagih utang susah untuk bayar, coba aja kalo kamu ngutangin terus yg di tagih susah banget bayar apa kamu tidak dongkol dan jengkel dan terus mengalah. 1 1 Login untuk Membalas
natanael octodionPenulis artikel25 Oktober 2025 - (12:36 WIB)Permalink Halo maaf ya mas jika ini bank legal ada aturan ojk yang mengatur cara menagih ya bukan seenak nya sendiri. 1 Login untuk Membalas
Frans Kelvin25 Oktober 2025 - (17:07 WIB)Permalink Tidak ada yg salah cara penagihannya, memang begitu proses penagihan, jadi ada namanya Inhouse artinya masih deskcol, jika tidak selesai maka akan dialihkan ke pihak ketiga yg mana didalam ada pihak lapangan tapi catatan tidak semua Bank pakai cara ini tapi bukan berarti sistem itu ilegal ya,, itu hanya strategy bank saja agar asetnya cepat kembali.. di Inhouse atau internal juga data gak akan fokus di handle satu orang tapi bisa berbeda2, bisa bulanan atau setiap hari bisa muter selama tidak ada kesepakatan.. balik lagi strategy agar asset Bank segera kembali.. 1 Login untuk Membalas
Daniel25 Oktober 2025 - (15:07 WIB)Permalink Diemin aja. Mereka galak ditelp aja. Suruh aja mereka dateng. Dak usah takut. Hadapin aja. Siapin aja kamera rekam semua. Mereka galaknya dintelp doang. Pas dateng(apa iya dateng) juga dibikin santai aja. Macem2 tinggal teriak maling Login untuk Membalas
zaenal25 Oktober 2025 - (17:23 WIB)Permalink Team DC ini …. Keliatan dari bahasa nya Login untuk Membalas
Jepri26 Oktober 2025 - (09:26 WIB)Permalink Namanya juga nagih iyha nagih sewajar nya krnapa gak kerumah aja ..kok harus ke orang lain/perangkat desa itu jatuh nya mempermalukan orang …tinggal kerumah saja kan enak bicara nya galak ya di galakin santai ya santai aja gitu ngapain loo bilang kek gitu …DC LO YA… Login untuk Membalas
Frans Kelvin25 Oktober 2025 - (16:56 WIB)Permalink Banyak nasabah menunggak pake aturan sendiri dengan bersembunyi dibalik kata2 kooperatif dengan angkat telp, mampunya segitu.. ditegasin dikit gak terima.. BUMN cukup ketat masalah nominal karena asset negara makanya tidak boleh keringanan dibawah pokok.. mis.tagihan 16juta minta lunas 10juta kan gak masuk akal, bunga Bank BUMN itu kecil, meminta itu tangan dibawah jangan, kalau ketentuannya gak bisa jangan dipaksa juga apalagi sampai playing victim.. 1 Login untuk Membalas
Enjum Jumhemi30 Oktober 2025 - (14:20 WIB)Permalink Saya juga punya cc. Mulai tidak bisa byr thn 2025 ( 2020 s/d 2024 byr lancar sesuai tagihan ). Thn 2025 tidak bisa byr karena sudah tidak bekerja & usaha juga rugi ratusan juta di tipu beberapa ex teman kerja & tetangga Kemarin 2 orang dc bank mega datang ke rumah, awal nya ramah, tapi ujung2 nya marah, membentak & berkata2 kasar, sampai anak perempuan saya yg di kamar menangis ketakutan. Mereka minta saya byr full payment semua tagihan, saya bilang saya bisa nya di cicil sesuai kemampuan sampai lunas ( ga minta diskon ), sebab usaha baru jalan lagi 2 bulan, tapi kondisi nya sepi pembeli di banding tahun tahun lalu Tidak ada kata deal, 2 dc tambah marah2, tapi pas saya ancam rekam, mereka pergi sambil marah2. & mengancam saya untuk byr full payment. Pihak dc bilang, jangan coba2 byr secara di cicil sebelum pihak bank mega setuju Saya tetap byr secara di cicil rutin tiap bulan sesuai kemampuan ( hasil usaha ) sampai lunas, walau usaha baru jalan lagi 2 bulan & belum mendapat persetujuan pihak bank mega, sebab saya tetap ingin melunasi semua hutang tagihan Login untuk Membalas
Udin25 Oktober 2025 - (16:59 WIB)Permalink Lah ngapa takut ? selama tagihannya lancar dan tidak macet gak bakal juga mereka ngejar anda. Login untuk Membalas
natanael octodionPenulis artikel25 Oktober 2025 - (17:05 WIB)Permalink Santai kawan. Kita orang tidak takut. Tapi semua ada aturan nya. Jika menagih nya tidak sesuai prosedur ya wajib di laporkan dong? Apa anda bagian dari dc? Komen nya kelihatan banget bos. Tenang laporan saya juga sudah saya naikan kan ke ojk dan Kepolisian. Jika sampai terjadi apa2 dengan orang tua saya karena para DC. Urusan DC sama debitur bukan sama orang lain! 1 Login untuk Membalas
dedy29 Oktober 2025 - (10:51 WIB)Permalink Pihak bank sdh membantu menegosiasiuntuk melunaskan satu kartu kredit shg deal dari 15 jt mjd 8 jt. Orang kalo sdh diberi keringanan gitu harusnya bersyukur. Ada selisih 7 jt yg diringankan. Kok malah ngelunjak minta kedua kartu dilunaskan mjd 8 jt tadi. Malah protes sana sini. Satu kartu dulu diselesaikan lbh baik daripada sampe ke ojk, malah anda yg dinasehati Login untuk Membalas
Gojek25 Oktober 2025 - (12:57 WIB)Permalink Bank penerbit CC juga kadang curang .kalau konsumen bayar asuransi cridit shields ketika ada masalah juga kolektornya g bisa bantu pura pura ga tau Login untuk Membalas
Frans Kelvin25 Oktober 2025 - (16:49 WIB)Permalink Credit shield itu asuransi jiwa kredit mas/mbak artinya akan berlaku jika nasabah meninggal dunia maka tagihan akan dicover sesuai dengan polisnya,,, tapi perlu digarisbawahi bahwa kondisi tersebut berlaku jika posisi tagihan lancar (asuransi aktif/terbayar). Buat nasabah BUMN perlu diingat bahwa keringanan itu tidak bisa dibawah pokok dan aturan itu berlaku buat semua nasabah termasuk yang meninggal dunia,, jadi jangan samakan dengan Bank Asing.. Login untuk Membalas
refanza27 Oktober 2025 - (14:09 WIB)Permalink Aneh bgt user kartu kredit itu tuh. Klo bikin postingan berasa korban padahal disini yg korban itu pihak banknya. Yg duitnya dipake nasabah tp belum dibalikin. Masalah bunga ya emg itu udah ketentuannya dan kita sebagai pemakai cc sudah paham atas ketentuan itu. Giliran ditagih lsng playing victim pengennya di tagih bae” di alem” di elus”. Lah itu dc jg orang kerja ada target, bs jd anak bini ortu mereka jg ngandelin duit kerjaan dia. jgn maunya lu aja yg di ngertiin. Gw komen begini pasti dibilang gw dc kwkwkwwk gw jg dalam kondisi keuangan lg surut tp gw usahain pembayaran minimum drpd ga bayar sm skali. Mental tuh jgn maunya lu aja yg di ngertiin, saling menghargai aje. Klo emg belum bw bayar ywd telen aje resikonya. Jelasin ke keluarga kaya gimana. Pegimanapun itu bank yg bantuin lu pas lu butuh duit atau menuhin keperluan lu. 1 Login untuk Membalas
natanael octodionPenulis artikel27 Oktober 2025 - (17:13 WIB)Permalink Ow barisan para dc yang tidak terima. hello kawan, semua ada aturannya. Aturan penagihan hanya boleh ke debitur atau emergency contact. Ketika itu dilanggar berarti salah dong?! mau buka pasal OJK? jangan asal berbicara. Disini kita orang ada itikat baik. Yang di aneh kenapa dia menyasar orang lain bukan debitur? Lu bilang kejar target? sama hal nya lu kejar target tapi mengahalalkan segala cara hasil nya kacau bro! gt aje sih. ini sudah gw naikin ke OJK bro untuk di tindak DC nya. kalo situ ga terima mari di buka pasal nya! Login untuk Membalas
Mochammad28 Oktober 2025 - (01:59 WIB)Permalink Namanya kartu krrdit baik BUMn atau swasta sama saja penerapan bunganya, hanya beda plat. Pinjol sm kartu pinjaman kredit beresiko, makanya bunganya tinggi Minta hapus denda hapus bunga, alih2 pokok kadang bisa dipotong juga. Tetep kukuh minta potongan kalo memang sudah tak sanggu bayar dan sudah tidak bekerja untuk alasan tersebut Login untuk Membalas