Ilustrasi via Gemini AI Keluhan Surat Pembaca Teror Telepon Penawaran Pinjol Kredione Setelah Menyetujui Penawaran Kartu Kredit Bank DBS 3 Desember 20259 Desember 2025 felixzz 7 Komentar Bank DBS, Bank DBS Indonesia, Customer complaint handling, Customer Service, Data nasabah, Kartu Kredit Bank DBS, Kartu Kredit DBS, Kredione, Nomor telepon pengguna, Pelanggaran Privasi, penawaran, Penawaran kredit, Pengajuan kartu kredit, Persetujuan Nasabah, Pinjaman Online, Privasi data, Promosi, Robocall, SPAM, spam telepon, Telemarketing Ikuti di Google Berita Sumber Pilihan di Google Saya mendapatkan teror dari aplikasi pinjol Kredione yang bekerja sama dengan Bank DBS. Awal ceritanya, ketika saya berbelanja di supermarket Hokky Citraland Surabaya, ada seorang sales kartu kredit Bank DBS yang menawarkan produk kartu kredit tersebut. Saya sudah menolak tawaran itu karena memang tidak memerlukan kartu kredit DBS. Akan tetapi, sales terus mengikuti saya dan meyakinkan bahwa prosesnya hanya 60 detik, lalu ditambah dengan muka memelas sambil berkata, “Tolonglah saya, saya harus kejar target.” Sebagai seorang ayah dan kepala keluarga, nurani saya terketuk. Sales tersebut juga sudah cukup umur dan mungkin seorang kepala keluarga yang sedang berjuang mencapai target agar dapat menafkahi keluarganya di rumah. Singkat cerita, saya pun mengiyakan pengajuan “60 detik” kartu kredit DBS tersebut, dengan catatan saya tidak mau ditelepon oleh pihak ketiga dan tidak mau ditelepon pihak DBS untuk ditawari produk apa pun. Sales tersebut meyakinkan bahwa nanti ada klausul yang bisa dicentang agar nomor telepon tidak disebarluaskan dan tidak akan ditawari produk tambahan. Pengajuan kartu kredit saya langsung diterima karena BI checking saya tidak pernah bermasalah dan beberapa kartu kredit saya memiliki limit hingga Rp100–200 juta. Masalah dimulai keesokan harinya. Nomor telepon saya mendapat panggilan berkali-kali dari nomor tidak dikenal. Ketika saya coba angkat sekali, ternyata yang menelepon adalah suara robot yang menawarkan produk pinjol dari Kredione. Hari pertama dan kedua saya masih diamkan, tetapi teror telepon ini terjadi hampir setiap hari. Bahkan nomor adik saya yang saya jadikan referensi keluarga tidak serumah pun ikut diteror oleh Kredione. Saya pun mengirim chat WhatsApp ke sales kartu kredit tersebut untuk menyampaikan protes. Saya mengingatkan bahwa ada klausul bahwa nomor telepon saya tidak akan ditelepon pihak ketiga dan tidak akan ditawari produk apa pun. Namun, sales tersebut berkilah bahwa Kredione bukan bagian dari Bank DBS. Padahal, dari informasi yang saya temukan, Kredione dan DBS bekerja sama dalam layanan fintech. Dugaan ini semakin kuat karena teror telepon mulai terjadi setelah saya mendapatkan kartu kredit DBS. Untuk teman-teman, jika bertemu sales Bank DBS yang menawarkan kartu kredit di mana pun, saran saya sebaiknya hindari saja, jika tidak ingin menjadi korban teror seperti saya. Padahal saya tidak berutang dan kartu kredit pun belum saya aktifkan. Kredione dan Bank DBS, kalian sangat menjijikkan sekali kelakuannya. Felix Georly Jakarta Utara Update (9 Desember 2025): Surat pembaca di atas juga mendapat tanggapan dari pihak Bank DBS Indonesia sebagai berikut: Tanggapan Bank DBSI perihal “Teror Telepon Penawaran Pinjol Kredione Setelah Menyetujui Penawaran Kartu Kredit Bank DBS” Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Munzir Akbarwan3 Desember 2025 - (09:12 WIB)Permalink Abaikan aja bang. mereka itu jg marketing yg sedang bekerja mencari uang. Gimana kalau posisi anda seperti itu 2 Login untuk Membalas
prfmrz3 Desember 2025 - (10:14 WIB)Permalink ga paham kau arti kata “klausul”? kenapa orang malah di suruh tukar nasib.. bodoh di piara 1 Login untuk Membalas
Abo Cah3 Desember 2025 - (12:27 WIB)Permalink benar kata ente, bodoh dipiara😂🤣😂🤣 padahal jelas juga dr tulisan TS: Ketika saya coba angkat sekali, ternyata yang menelepon adalah suara robot yang menawarkan produk pinjol dari Kredione sang “robot” sedang bekerja cari uang, UNTUK MAJIKANNYA, dan harap dimaklumi, abaikan🤣 mungkin si munzir memaklumi sang robot yg sedang mencari uang “Gimana kalau posisi anda seperti itu” celakanya ane bukan robot, dan kalaupun ane di posisi sang robot, ane akan tahu diri, tidak akan “teror” orang lain dengan cara menelpon bertubi-tubi skrg pertanyaannya ane balik, kalo ente, munzir, yg di”teror” telp, ente bakal abaikan? yg telp ente tuh sistem (robot) bukan manusia botol kok dipiara Login untuk Membalas
Ahmad Yasai30 Desember 2025 - (00:36 WIB)Permalink buset nemu lagi komen anomali si munzir akbarwan yang asbun. di postingan saya juga gak dipake otakknya. Login untuk Membalas
Wak3 Desember 2025 - (11:45 WIB)Permalink Posisi posisi… apaan Cari uang juga pakai otak, customer oriented, jangan hanya profit oriented, dikira2 yang wajar kalo mau kontak nasabah, bukan malah ujungnya jadi meneror karena seenaknya menyebarkan atau mendapatkan data kontak nasabah. 1 Login untuk Membalas
Kurnia Devi3 Desember 2025 - (10:49 WIB)Permalink Sama kak, saya juga dapat teror telepon setelah proses pengajuan kartu kredit BCA di mall. Sama persis Login untuk Membalas
madman3 Desember 2025 - (13:11 WIB)Permalink Berawal dari kasihan… Ini sih ibaratnya ngasih ke satu pengemis tapi dikejar-kejar anggota partai kaypang. Kalau mau ngasih, jadi Wong Fei Hung dulu. 🙂 Login untuk Membalas