Daftar BPJS Kesehatan Peserta Mandiri Dipersulit dengan “Aturan” Pembayaran Wajib Autodebit

Pada hari Selasa tanggal 5 Mei 2020 saya hubungi care center BPJS Kesehatan 1500400, diterima oleh Sdri. TEMI. Saya sekeluarga berencana daftar kembali sebagai peserta BPJS Kesehatan Pekerja Mandiri. Sebelumnya saya sekeluarga pernah terdaftar sebagai peserta Mandiri (s.d. tahun 2017) dan BPJS Ketenagakerjaan (Januari 2018 – Februari 2020). Saya mengalami kesulitan akibat pemutusan hubungan kerja dan saat ini masih belum mendapatkan pekerjaan tetap kembali.

Saya sangat kecewa dengan pelayanan/penjelasan Sdri. TEMI yang menurut saya mengada-ada terkait aturan bahwa, cara pembayaran bagi pendaftaran peserta baru wajib melalui autodebit rekening BANK yang telah bekerjasama (Mandiri, BRI, BNI atau BCA). Saat saya tanya dasar hukumnya apa, Sdri. TEMI bilang Perpres No. 82 Tahun 2018. Pasal berapa? Cukup lama saya menunggu jawabannya, yaitu “pasal 15, 34 dan 35”.

Setelah saya baca, pasal 15 menjelaskan :

(1) peserta pekerja mandiri wajib daftar ke BPJS dengan bayar iuran.

(2) BPJS verifikasi pendaftaran dalam 14 hari.

(3) Pembayaran iuran dapat dilakukan 14 hari sejak dinyatakan layak. Pasal 34 hanya menjelaskan iuran yang harus dibayar untuk Kelas I, Kelas II dan Kelas III. Sedangakan Pasal 35 menjelaskan tentang pembayaran iuran pensiunan, veteran dll yang dibayar oleh Pemerintah Pusat. Dari ketiga pasal tersebut tidak ada yang menyebut pembayaran iuran wajib autodebet.

Karena saya masih belum puas, kemudian saya diminta menunggu lagi dan Sdri. TEMI menyampaikan bahwa dasar hukum wajib autodebit di Perpres 111 Tahun 2013 Pasal 16. Saya langsung googling dan unduh.

Sembari menunggu selesai mengunduh, saya tanya ke Sdri. TEMI, Perpres 111 tahun 2013 itu kan perubahan dari Perpres 12 tahun 2013? Juga sesuai Perpres 82 tahun 2018 pasal 107 menyatakan bahwa Perpres 12 tahun 2013 yang beberapa kali diubah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Tapi kembali lagi Sdri. TEMI bilang masih berlaku. Setelah berhasil mengunduh saya cek pasal 16 ternyata tidak ada sama sekali aturan pembayaran wajib autodebit.

Setelah 2 kali memberikan informasi yang tidak sesuai, Sdri. TEMI tidak ada rasa bersalah atau minta maaf telah menghabiskan waktu saya lebih dari satu jam. Saya diminta menunggu lagi, sampai akhirnya disebut bahwa dasarnya Peraturan Kepala BPJS Nomor 6 Tahun 2018 (awalnya Sdri. TEMI tidak menyampaikan tahunnya, saya heran masa peraturan cuma nomor tidak ada tahun?).

Saya coba googling dan unduh peraturan tersebut tetapi gagal terus. Saya minta Sdri. TEMI untuk mengirimkan softcopy peraturannya melalui email saya, dia bilang tidak bisa.

Akhirnya saya minta Sdri. TEMI untuk mendiktekan pasal yang mewajibkan autodebit, berbunyi,

“Pendaftaran Kelas I, Kelas II, Kelas III, Peserta PBPU wajib membawa buku tabungan bank yang sudah bekerjasama (Mandiri, BNI, BRI dan BCA), bersedia pembayaran iuran melalui sistem autodebit“.

Menurut saya yang wajib disampaikan adalah buku tabungan, sedangkan autodebit sifatnya ajakan bersedia atau tidak? Tapi Sdri. TEMI tetap bilang “bersedia = wajib”. Pertanyaan saya kalau pembayaran autodebit itu wajib (sejak 2019), kenapa masih banyak peserta pekerja mandiri yang bayar tidak melalui autodebit seperti melalui marketplace, aplikasi pembayaran, dll? Harusnya kalo wajib autodebet sejak 2019, tidak ada lagi pembayaran via marketplace, aplikasi, dan channel pembayaran sah lainnya. Istri saya di rumah buka warung dan melayani penjualan pulsa, listrik, termasuk pembayaran BPJS. Sehingga lebih baik kita bayar sendiri.

Satu lagi pernyataan Sdri. TEMI yang tidak mencerminkan pelayanan publik yang baik yaitu : “Apabila Bapak mau daftar, lengkapi syarat-syaratnya (termasuk autodebit), kalau tidak mau ya sudah.”

Sungguh miris pada saat Presiden dan Menteri Keuangan pusing dengan keuangan BPJS Kesehatan yang terus defisit, ditambah ditolaknya kenaikan iuran oleh MA. Tetapi disisi BPJS Kesehatan mempersulit masyarakat yang sukarela ingin mendaftar sebagai peserta, dengan kebijakan mewajibkan pembayaran secara autodebit dengan tanpa memberi diskresi/pengecualian membayar via aplikasi, marketplace, atau loket pembayaran yang sah lainnya.

Jadi pesimis akan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia kedepan menjadi lebih baik, melihat “keangkuhan” BPJS Kesehatan saat ini. Semoga dapat segera berbenah.

Salam,

M. Roly
Rembang, Jawa Tengah

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian Anda!
[Total:176    Rata-Rata: 4.2/5]

Surat pembaca ini belum mendapatkan tanggapan dari pelaku usaha terkait. Jika Anda adalah pelaku usaha yang terkait dengan pertanyaan/permohonan/keluhan di atas, silakan berikan tanggapan resmi melalui tautan di bawah ini:

Kirimkan Tanggapan
Loading...

20 komentar untuk “Daftar BPJS Kesehatan Peserta Mandiri Dipersulit dengan “Aturan” Pembayaran Wajib Autodebit

  • 8 Mei 2020 - (21:57 WIB)
    Permalink

    Senasib dengan saya bapak M Roly. Saya dlu peserta BPJS KIS iuran di bayar perusahaan. Selama kerja saya tidak sekalipun kartu BPJS tersebut karena masih ada Asuransi dari perusahaan Sinar Mas. Akhir januari saya kena Pemutusan Hubungan Kerja. Di tambah saat ini pandemi covid 19. Saya berencana untuk daftar BPJS kesehatan mandiri bersama keluarga. Tetapi untuk proses pengajuan awalnya saja susah. Mendengar untuk pembayaran iuaran harus autodebit saya jdi sedikit ragu untuk daftar BPJS. Saran untuk BPJS kesehatan untuk ada alternatif pembayaran iuran tidak harus via autodebit karena bila bayar via marcent Topet,bukalapak,shopi kita ada cashback dan sangat lumayan bagi kita rakyat kecil ini.

    • 10 Mei 2020 - (06:05 WIB)
      Permalink

      BPJS harus gratis biar orang kayak bapak gak masuk seenaknya cuma ketika butuh, BPJS itu ada aspek gotong royongnya, negara miskin yg apbdn nya selalu defisit ini selalu tekor bpjs karena yg bayar nya begitu, cuma ketika butuh. makanya saya sangat setuju bpjs harus autodebit, biar BPJS ini bisa hidup

    • 10 Mei 2020 - (12:42 WIB)
      Permalink

      kasus bnyk kasus memang betul knp hrs autodebet krn bnyk yg pada nunggak tdk byr tiap bulan, mental org org kita bgtu, klu autodebet satu praktis tdk ada istilah lupa, dan tersistem otomatis buat tenang ,jgn ditolak justru memudahkn kita klu autodebet, sy prnah lihat sendiri di bpjs pusat jkt cmp putih ruang monitoring online, seluruh indonesia ,bnyk sekali klim bnyk sekali peserta ga byr dg berbagai alasan, kbnykn para ekonomi bawah yg management keuanganya tdk bagus ,berantakan beralasan tdk bs byr bpjs, krn tdk disiplin diri, dg autodebet iuran bpjs sgt baik, bnyk nya pas mau butuh berebut daftar mo operasilah dll tp setelah sdh esekusi operasi atw berobat yg biaya tinggi tinggi trs pd ga byr iuran tuhh, sy bilang kebanyakan lhooo… jgn trsinggung tp nyatanya demikian, bahkan ada wacana yg nunggak akn di tagihkn ke rek Listrik nya rumah sgt setuju, spy madyrkt sadar klu ada hak dan ada kewajibn. sy hnya masyrkt biasa tp sy tahu mn org bijak mana org picik yg maunya untung sendiri tdk mnjunjung tinggi gotong royong pdhal bpjs adalah waliamanah kegotong royongan, saling subsidi saling bantu, trs alasan tdk pnya rek bank pilihan tsb, aneh krn bank dimn mn bnyk bahkn buka rekening jg bs online 5 mnit sdh pnya rek bank, bgmn negara maju mental mental masyrkt sulit diajak maju buka rek bank sj beribet, jgn dijadikn alasan tdk pnya rek bank, ingat khidupan kita utk bersama dan ayoooo kita sdh memasuki era msuk revolusi industri 4.0 digitalisasi apa apa online, tdk mau ikuti janan siap siap miskin selamnya dan tergilas jaman , hp sj sdh android / iphone , smua pnya handphone, nomor telpn. jd mari taatin ketentuan utk memudahkn hidup kita sjrg dan nanti , mirisss bnyk masyrkt yg pikiranya msih tdk terbuka tp bnyk yg msih beribet utk byr bpjs , iklas byr jg sm halnya ibadah bs menolong org lain ataw ditolong org lain , tks ,,,, semoga kita sehay selalu dan tdk sampai klim bpjs .tp tetap kita byr iuran utk dipakai yg sakit .Aminnnn

  • 9 Mei 2020 - (09:54 WIB)
    Permalink

    Saya daftar lewat mandiri buat keluarga itu sistemnya gak autodebet, waktu itu saya Dateng langsung ke kantor BPJS nya sebelum pandemi. Petugas disana cuma bilang untuk autodebet itu sifatnya pengajuan dan tidak diwajibkan. Aneh aja sih klu sampe harus autodebet.

    • 10 Mei 2020 - (06:06 WIB)
      Permalink

      sudah ada dasarnya untuk harus atodebit, dan juga tidak aneh malah wajar. masalah bpjs itu orang yg mampu bayar cuma ketika butuh, sudah pakai bpjs langsung ditinggal merasa tidak perlu, makanya harus autodebit. justru yg aneh adalah kok dari dulu gak autodebit

  • 9 Mei 2020 - (14:58 WIB)
    Permalink

    Iya betul sekali, kmren pas bulan april sya ke bpjs kesehatan utk mendftarkan bayi yg baru lahir. Kata petugas bpjs Kab.brebes ini skrg auto debet klo pangen kartu bpjsnya jadi dan di antar ke rumah…tp kmren sya bayar tagihan lewat aplikasi bisa. Alhmdllah bpjs sudah aktif. Tp ya itu yg sungguh di sayangkan knp harus auto debeet…pdhal blm tntu org pnya akun bank. Coba aja klo rakyat miskin, jompo, udah sepuh…kadang pmerintah cuma eksekusi pukul rata. Pdhal latar belakang msyrakat kita beda2…sampe skrg sya blm percaya sma bpjs. 1 keluarga saya yg punya bpjs cuma istri dan anak saya…hati saya blm sreeg sma sistem nya. Mksh.

    • 10 Mei 2020 - (06:09 WIB)
      Permalink

      rakyat miskin, jompo, udah sepuh yang tidak mampu bayar akan masuk di golongan 100 juta lebih orang yg bpjs nya gratis. Kalau masih harus bayar berarti 1) terdzolimi karena tidak terdaftar orang miskin atau 2) pemerintah nilai mampu tapi orangnya “merasa miskin”. Dan kenapa mesti autodebit karana yg mampu ini bayar seenaknya, cuma ketika butuh, makanya bpjs selalu defisit, saya sangat setuju bpjs autodebit. biar bpjs ini hidup dan bisa membawa kesehatan rakyarnya, kasian bpjs diperkosa tanpa dibayar. apbn kita selalu defisit, hutang selalu nambah, kalau bpjs orang bayarnya macet gini jelas tekor mulu. fahami itu

    • 10 Mei 2020 - (12:47 WIB)
      Permalink

      buka rek bank smua bs online dan atw datang ke cabang, smua org hrs pnta rek bank spy hidup kita akn lebih baik , tks

  • 9 Mei 2020 - (18:39 WIB)
    Permalink

    Pihak BPJS nya aja ngak profesional, saya aja sampai 3 x buat berkas, gara” berkas hilang dikantor bpjs,

  • 9 Mei 2020 - (21:17 WIB)
    Permalink

    Alhamdulillah… Kalo saya tinggal pasrah saja dengan ketidak adilan.. Sdh mendadak melakukan perubahan kenaikan BPJS di Januari tidak di imbangi dengan update sistem auto debit, sehingga dari januari sampe maret tdk terpotong auto debit, tahu tahu kena denda, padahal sdh auto debit. Di april muncul perubahan kembali kembali normal tapi dengan catatan di denda saat sdh dibayar semua. Pemerintah dan BPJS hanya mengembalikan yg april, Januari maret dibebankan rakyat . Tidak dikembalikan.. Jika dikalikan yg membayar berapa yg diuntungkan untuk pemerintah dan BPJS?
    Sungguh Tidak Adil dan dzholim
    Saya Kembalikan kepada Allah SWT terhadap keadilan ini yg menimpa kami rakyat kecil yg sdh tidak bekerja lagi di perusahaan

    • 10 Mei 2020 - (06:13 WIB)
      Permalink

      Tidak dzolim, bapak mesti ngerti dulu perkara awalnya. Negara kita apbbn selalu defisit, utang selalu nambah, negara ini miskin pak. Dan bpjs adalah korban perkosaan itu, 100 juta lebih warga tidak mampu diberi bpjs gratis, mana yg dzolim ? yg dzolim adalah yg pakai bpjs cuma ketika butuh, selesai pakai dia tinggal itu bpjs. itulah sebabnya bpjs sekarang wajib autodebit. TIDAK DZALIM SAMA SEKALI. kecuali bapak memang harusnya rakyat kecil yg masuk golongan 100 juta itu, maka kemungkinannya 2 : 1) terdzolimi karena harusnya terdaftar sebagai rakyat miskin atau 2) mendzolimi karena pemerintah nilai mampu tapi dirinya “merasa miskin” dan bayar bpjs nya jadi ogah-ogahan hanya ketika butuh, peduli setan gotong-royong, kalo gak sakit maka merasa rugi. FAHAMI ITU SIAPA YG DZOLIM

    • 10 Mei 2020 - (12:49 WIB)
      Permalink

      iklas sj smua adalah ibadah utk dipakai orang lain dr pd kita klim mau dg sakit smp sekarat tdk mati mati andalin bpjs , lebih baik iur tp tdkbpke, ibadah jg kan . dan smua ada sistem aturanya dan turunanya , ada biro hukum nya smua ydk asal jd ikutin sistemnya sj, sehat selalu aminn

  • 9 Mei 2020 - (22:15 WIB)
    Permalink

    Semua memang di minta wajib mengisi pernyataan di atas materai bersedia auto debet rekening Bank yg sudah kerja sama, ketika saya daftarkan keluarga saya. Tp kenyataanya tidak pernah di debet sampai tgl 20, ya akhirnya saya tetap bayar melalui transfer tiap bulan. Kalau mau ambil gampangnya Bapak tinggal buka rekening salah 1 BANK yg sudah kerja sama. Kalau gk mau di debet otomatis ya di kosongi aja rekeningnya,,, kalau sudah kita bayar manual tagihan otomatis hilang dan gk bakal debet rekening yg kita daftarkan.
    Jadi tidak usah di bikin pusing pak…

  • 9 Mei 2020 - (22:41 WIB)
    Permalink

    Pembayaran melalui autodebt rekening tujuannya untuk mempermudah pembayaran rutin setiap bulannya, agar terhindar dari lupa membayar sehingga jadi tunggakan. Untuk proses autodebt pun harus isi form pengajuan bank yang ditanda tangan diatas materai 6000.
    Ada beberapa faktor yang menyebabkan gagal autodebt bank (itu ketentuannya dari pihak bank) karena yang berwenang mendebet saldo peserta adalah bank, jika dinyatakan gagal autodebt dan untuk menghindari tunggakan peserta bisa melanjutkan pembayaran secara manual, bisa secara tunai melalui alfamart, indomart, kantor pos, teller bank dan ppob lainnya, serta marketplace. Semoga informasi ini membantu!
    Dan sekarang bpjs kesehatan sudah ada aplikasi mobile jkn yang dapat membantu mempermudah kita untuk melakukan pelayanan mandiri, dan ada fitur informasi&pengaduan, mungkin ada baiknya untuk keluhan dan pengaduan bisa disampaikan melalui menu itu, supaya lebih cepat ditanggapi oleh petugasnya.

    • 10 Mei 2020 - (06:15 WIB)
      Permalink

      bener banget, masyarakat kudu ngerti ini, tidak ada niat memperibet tapi realita menyatakan inilah kebutuhannya, yg merasa ini hanya memperibet sebenarnya dasarnya saja “tidak sami’na wa atho’na dgn pemimpinnya”

  • 10 Mei 2020 - (00:09 WIB)
    Permalink

    Auto debet sebenarnya bisa mempermudah , tinggal isi saja rekeningnya apalagi yg suka lupa tanggal pihak BPJS bisa langsung ambil dr rekening yg terdaftar. Yg disiplin rajin membayar pasti senang dgn sistem ini.

    Tapi bisa saja kok bayar lewat Alfamart atau transfer lewat virtual akun via ATM.

  • 10 Mei 2020 - (06:24 WIB)
    Permalink

    Pertama, bapak harusnya mengapresiasi CS itu terlebih dahulu sebelum ngata-ngatain dia, dia bukan anak hukum, bapak sampai nemu dasarnya hukumnya itu sudah harus bapak apresiasi, bapak merasa banyak waktu terbuang, dia juga sama. Berterimakasihlah terlebih dahulu.
    Kedua, autodebit ini menjadi wajib karena problem BPJS ini gini, bayar cuma sebutuhnya, habis itu ditinggal, padahal sudah 100 juta lebih orang golongan tidak mampu yg diberi bpjs gratis, peduli setan gotong-royong, kalau tidak sakit maka merasa rugi, peduli setan apbdn negara ini selalu defisit dan hutang selalu bertambah.
    Ketiga, dari awal kalau bapak tidak bersedia bayar autodebit, ya gak usah tanya pak dasar hukumnya, kok anda yg mau ngatur aturan mainnya, dari kisah ini cs itu sudah melayani bapak dgn sabar, bapak nya gelap mata ingin bikin aturan yg bikin enak diri sendiri.
    Keempat, BPJS ini sama sekali tidak angkuh, justru diperkosa oleh orang seperti bapak, baru daftar hanya ketika seperlunya, lebih parah orang bayar cuma ketika perlu, habis itu ditinggal makanya perlu autodebit. peduli setan gotong royong, apbdn selalu negatif juga peduli setan.

    PAK BU, pertama terima dulu KENYATAAN bahwa ini negara miskin, BPJS ini perlu urunan dana bapak itu dengan TERTIB makanya AUTODEBIT, rakyat kecil yg jumlahnya 100 juta lebih itu telah diberi bpjs gratis, dan negara kita terlalu miskin untuk membuat 170 sisanya gratis juga, nurutlah dgn bpjs mewajibkan autodebit ini. sebelum hina bpjs coba anda terlebih dahulu bantu bpjs, jgn cuma mau enaknya kemudian malah hina bpjs ini. BAPAKLAH YG TELAH ANGKUH, ANGKUH SANGAT

 Apa Komentar Anda?

Ada 20 komentar sampai saat ini..

Daftar BPJS Kesehatan Peserta Mandiri Dipersulit dengan “Aturan&…

oleh Mohamad Roly dibaca dalam: 2 min
20