Tidak Lakukan Pesanan tapi Dapat Kiriman COD JNE dari Fashnear Technology Indonesia dan Ketidakjelasan Alamat serta Kontak Pengirim Paket

9 November 2020 sekitar pukul setengah 6 sore, saya menerima paket jaket Navy dari kurir JNE metode pembayaran COD senilai Rp245K dengan nomor resi 0215142003197118. Paket ini tertulis atas nama kakak saya yaitu Akhmad Firdaus, dengan nomor hp dan alamat rumah yang saya dan keluarga tinggal.

Di paket tersebut tertera nomor order ID692974617_1. Di sini saya akui bahwa saya juga kurang teliti. Saya juga sedang dalam kondisi sibuk. Setelah saya bayar dengan uang saya, kemudian saya chat kakak saya yang ternyata dia tidak membeli paket apapun. Saya bingung kemudian saya bilang coba diingat lagi, ternyata memang kakak saya tidak pernah memesan jaket apapun. Setelah saya lihat lagi, paket tersebut terasa janggal karena nama pengirim hanya tertulis “lega” dan dari “Cimahi Tengah” (tanpa alamat lengkap, tanpa nomor telepon).

Kemudian saya berinisiatif untuk menelepon JNE Pusat dan mengadukan masalah saya dan CS pusat menjanjikan untuk mengkonfirmasikan menginvestigasi kasus saya dalam waktu 4 hari. Selain itu saya juga berinisiatif untuk menelepon JNE Tangerang. CS sempat menyalahkan saya kalau tidak pesan barang kenapa malah dibayar. Iya sih bener. CS bilang bahwa untuk melakukan retur harus menghubungi pengirim. Sedangkan kakak saya dan saya pun tidak tahu siapa pengirimnya.q CS kemudian mengarahkan saya untuk retur ke JNE Bandung saja karena mereka hanya kurir dan tidak tahu soal apakah kakak saya beli barang atau tidak. CS JNE juga mengakui bahwa kasus ini bukan pertama kalinya terjadi.

Karena pulsa saya habis dipakai telpon JNE, saya meminta bantuan rekan saya yang tinggal di Bandung untuk menelepon JNE Bandung terkait keluhan saya. Jawaban dari cs bahwa TERNYATA lokasi CIMAHI TENGAH itu lokasi supplier, jadi nama pengirimnya itu office-nya di Jakarta atas nama perusahaan FASHNEAR TECHNOLOGY Indonesia Jakarta Selatan yang juga pemik dari aplikasi MEESHO, tapi PENGIRIMANNYA dari Cimahi Tengah.

Seperti yang diinformasikan sebelumnya, untuk melakukan retur harus menghubungi pengirimnya. Jadi sistem COD di JNE ternyata uangnya sudah diberikan di awal kepada si penjual, dan yang sangat disayangkan, perusahaan kurir sebesar JNE tidak memiliki data basic seperti nomor telepon si pengirim ataupun alamat si pengirim, padahal ini masalah duit. Cs JNE hanya meminta maaf atas kelalaiannya dan hanya bisa menyarankan untuk menelepon CS perusahaannya (lagi).

Jujur ya untuk melacak Fashnear Technology itu awalnya agak susah karena keterbatasan informasi perusahaan tersebut. Dibantu oleh rekan saya dengan penelusuran yang menghasilkan informasi bahwa Fashnear Technology ini memiliki aplikasi MEESHO, yaitu aplikasi yang menyediakan sebuah marketplace di mana pemasok terdaftar dapat menawarkan untuk menjual produknya masing-masing kepada pengguna terdaftar dari aplikasi. Jadi semacam dropshipper gitu lah. Tapi ya tetep aja aneh, masa informasi pengirim gak jelas.

Saya dan Kakak saya masih dalam kondisi bingung darimana si pengirim bisa tahu alamat dan nomor hp kakak saya, padahal selama ini dia cuma belanja di Tokopedia atau Lazada.

Saya meminta pertanggungjawaban pihak Aplikasi Meesho/Fashnear Technology Indonesia Jakarta agar mengembalikan dana saya karena ini sudah masuk ranah penipuan berkedok COD. Dan saya meminta kejelasan kepada JNE Indonesia yang tidak mengetahui informasi basic pengirim seperti nomor hp dan alamatnya.

Nurul Fahira
Kab. Tangerang, Banten

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian mengenai JNE Express:
[Total:29    Rata-Rata: 2.9/5]
Tanggapan JNE atas Surat Ibu Nurul Fahira

Sehubungan dengan surat pembaca yang telah dimuat di Media Konsumen.com pada tanggal 11 November 2020 berjudul “Tidak Lakukan Pesanan Tapi...
Baca Selengkapnya

23 komentar untuk “Tidak Lakukan Pesanan tapi Dapat Kiriman COD JNE dari Fashnear Technology Indonesia dan Ketidakjelasan Alamat serta Kontak Pengirim Paket

  • 12 November 2020 - (04:52 WIB)
    Permalink

    Lha terus salah jne apa? Orang kirim paket cod, sudah dikirim dan selesai. Kalau mau investigasi ya ke tokonya. Kan sudah ada itu tokonya, hubungi tokonya, tanyakan siapa yg order. Kemungkinan ya, pernah order di toko tsb, nah sekarang kan lagi sepi order. Nah tokonya pengin laris, sudah kirim saja ke orang pernah order di tokonya dgn sistem cod. Kemungkinan kedua ada orang iseng order atas nama orang lain dengan cod. Nah kasus seperti ini kan banyak. Orang tdk pernah merasa beli kok ada paket datang.

    6
    8
    • 12 November 2020 - (21:14 WIB)
      Permalink

      Mungkin mas Hery bisa dibaca dengan rinci kronologisnya, dimana ybs tidak pernah membeli barang apapun di toko tersebut dan di paket tersebut memang tidak ada nama tokonya, hanya ada nama pengirim “lega” dari Cimahi tengah (tanpa info jelas seperti kita kirim paket pada umumnya) tapi ternyata setelah cek resi pengiriman atas nama perusahaan. Dengan demikian tentunya menggunakan alamat seseorang tanpa persetujuan orang lain itu melanggar privasi orang lain dan metode ASAL KIRIM tersebut tentunya tidak bisa dibenarkan. Di surat itu dijelaskan si penerima, yang adalah adik dari nama yang tertera di paket pun sudah mengakui kelalaian nya. Bisa dibaca juga di paling bawah bahwa si pengirim surat menyatakan keberatannya kepada 2 pihak, yaitu Meesho dan JNE. Kenapa JNE juga? Sistem COD mereka lemah, dimana mereka tidak tau informasi yang sebenarnya sangat mendasar untuk metode pengiriman ditambah modus ini bukan pertama kalinya terjadi yang harusnya menjadi evaluasi untuk JNE, JNE pun mengakui kelalaian itu, di surat si pengirim jg gak minta ganti duit ke JNE. Maaf mas, kalau saya pribadi gak mau jadi korban “asal kirim” yg mas wajarkan itu. Saya juga pedagang online, tapi cara licik seperti itu tentu tidak bisa dimaklumi.

      10
      2
      • 12 November 2020 - (21:56 WIB)
        Permalink

        Bagus deh ada yg speak up kaya gini karena keluarga saya jg pernah jadi korban dengan modus yang sama,, pake JNE COD juga. Kalau sering belanja pake metode COD kaya di shopee sejenisnya mah orang rumah juga gk bakal curiga kalau itu penipuan atau bukan.Yakali mau dibiarin terus… Yajelas lah langkah awal si mbaknya nanya ke JNE orang paketnya yang nganter JNE tapi ditanya nomer si pengirim malah gk punya,, ekspedisi macam apa yg gk punya nomer kontak Pengirim? Pake ada yg mewajarkan asal ngirim paket pula dgn alesan pandemi,, konyol. Mau brp org lagi yg jadi korban ? Itu si mbaknya jg nuntut ke meesho sebagai pengirim yg tertera di resi. Sy malah bersyukur ada yg speak up biar orang lain tau dan lebih aware biar gk ada korban seperti saya dan si mbaknya 👍

        9
        1
        • 13 November 2020 - (04:48 WIB)
          Permalink

          Kan setiap expedisi itu ada no Resi nya? Itu si mba nya nyantumin tuh, check aja di situs nya, Dan Resi itu harus ada input terlebih dahulu oleh pihak expedisinya, kalo Resi nya ga bisa di track ya itu fix yang nipu yang mengatas nama kan pihak lain.
          Jelas Mana ada penipu ngasih no HP, penipu Mana yang mau di Tanya, kalo ada kesempatan nipu yang ga kr tau an kenapa harus buat celah buat dicari?

          2
          3
          • 13 November 2020 - (07:56 WIB)
            Permalink

            Itu si penulis udh cek resi nah yg ngirim atas nama Fashnear Technology Jakarta Selatan yg awalnya nama paketnya lega dari Cimahi, yg saya pahami itu si penulis minta kontaknya ke jne sebagai langkah awal agar bisa meneruskan penelusurannya tapi sangat disayangkan jne gk punya. masa ada orang ngirim paket tapi gak punya nomor kontak? Itu jug yang saya alami

            “Jujur ya untuk melacak Fashnear Technology itu awalnya agak susah karena keterbatasan informasi perusahaan tersebut”

            Iya bener memg agak susah dan butuh cek satu satu sampe ketemu si fashnear punya aplikasi yg namanya meesho gak kaya shopee atau aplikasi sjenis yg sekali nyari langsung ketemu infonya.Si mbaknya jug minta tanggung jawab si pihak Fashnear itu kok sbg pengirim paket jadi ini sebgai teguran jug gua rasa buat jne biar kalo ada kirim paket seenggaknya minta kontak hp ny,, jadi kita kita yg ketipu ini bisa nyari tau siapa yg sebenernya ngirim,, krn ini kejadian gk sekali dua kali,, apa susahnya sih tinggal minta nomer doang pas mau ngirim barang?ini gk bisa dibiarkan terusterusan kali

            6
            1
  • 12 November 2020 - (06:22 WIB)
    Permalink

    Sepertinya ini modus Kejadian ini juga sama dialami oleh sya …pengiriman barang COD padahal sya tidak merasa memesan dan paket datang memang sore sekitaran jam 5 atau jam 6 dan diterima anggota keluarga dan hrs bayar ditempat…mungkin2 temen2 media konsumen berhati2 klo terima barang cod yg memang bukan kita sendiri yg pesan pastikan keluarga di rumah diinfokan unt tdk membayar barang kecuali konfiem dengan pembelinya langsung…

    • 19 November 2020 - (13:20 WIB)
      Permalink

      Saya baru saja mengalami hal yg sama bedanya saya tolak mentah-mentah kurir JNE nya karena saya tidak merasa mesan dan di invoice ga ada toko pengirim, alamat dan nomer tlp yg bisa dihubungi.

      Bagi yang ngegas kenapa menyalahkan JNE coba pikir aja, klo lo dikirim barang yg tidak menyenangkan, lalu ga tau siapa yg kirim siapa yang anda minta tanggung jawab?? Yah kurirnya lah kenapa orang boleh mengirim barang tanpa alamat dan kredensial pengirim! Kalai ternyata benda berbahaya bagaimana?

  • 12 November 2020 - (08:33 WIB)
    Permalink

    @nurul

    Cari Untung malah Tekor.

    “CS sempat menyalahkan saya kalau tidak pesan barang kenapa malah dibayar. Iya sih bener.”

    Kasus anda ini mirip dengan kasus ini,

    https://mediakonsumen.com/2019/10/19/surat-pembaca/kecewa-terhadap-pelayanan-jasa-pengiriman-jne-soal-kiriman-cod

    Dalam kasus itu, tulisan dipaket isinya Smartwatch bermerek mahal, korban berasumsi harganya diatas 2 juta an. Namun di cod hanya disuruh membayar 1 juta an, sehingga walaupun tidak merasa beli namun tetap saja dibayar. Dan ketika dibuka ternyata isinya jam abal abal yang harganya tidak lebih dari 200 ribuan.

    Anda juga tertarik membayar karena melihat tulisan mengenai isi di dalam paket. Jaket dengan harga 245 ribu. Anda merasa walaupun pengiriman salah alamat, harga segitu masih untung karena lumayan dapet Jaket.

    Jujur saja. Anda merasa rugi dan melaporkan penipuan ini, ketika anda sudah membuka paketan, dan melihat ternyata isinya lebih murah dari yang anda bayarkan.

    Kalau isinya sesuai, Jaket dengan harga 245 ribu, tidak mungkin anda koar koar disini.

    Banyak kasus serupa, yang intinya konsumen berani membayar (padahal bukan miliknya), karena merasa isi paketan lebih mahal dari harga yang akan dibayarkan. Cari untung malah Tekor.

    Anda tidak bisa berbuat apa apa karena anda cuma sebagai Pembayar. Siapapun bisa membayar. Valentino rossi pun bisa membayar. Apakah yang bisa membayar Cod dengan sendirinya bisa diberikan akses untuk informasi semuanya tentang barang itu.? Ya tidak bisa dong.

    Yang punya akses ya yang punya akun Marketplace itu. JNE hanya tahu anda mau membayar karena anda yang melakukan transaksi di Marketplace itu.

    Tidak sembarang orang bisa mengakses Marketplace jika bukan dia yang pemilik akun.

    Coba situasinya terbalik.

    Apakah anda mau, ketika anda membeli online secara cod, anda menunggu barang tidak kunjung datang. Ternyata barang anda diberikan oleh orang yang salah. Barang anda dibayar oleh orang lain, terus yang bayar diberikan akses untuk mengacak acak akun Marketplace anda.? Trus yang bayar bisa menggagalkan transaksi anda, dan yang bayar bisa mengambil uangnya kembali.?

    Kalau bisa seperti itu, anda kemudian bingung kenapa Marketplace di akun anda bertindak dengan sendirinya diluar kendali anda. Barang pembelian tidak sampai malah akun anda terlihat bertindak sendiri, karena sudah di acak acak oleh yang bayar tadi. Apakah bisa terjadi seperti itu.?

    Yang bayar seharusnya yang beli, yang beli seharusnya punya akun, hanya yang punya akun yang leluasa menggali informasi sekelumit mengenai barang yang dibelinya.

    Semoga anda bisa mengambil hikmahnya. Jangan mengambil hak orang lain. Disitu jelas, itu hak orang lain untuk membayar, anda tidak konfirmasi lagi pada orang atas nama paket itu. Konfirmasinya setelah barang dibayar. Ya sama saja anda sudah mengambil hak orang lain.

    10
    8
  • 12 November 2020 - (10:18 WIB)
    Permalink

    Yah balik ke kamunya lagi sih mbak, kenapa kamu terima paketnya? Terus alasannya karena atas nama kakak kamu? Kenapa ga dikonfirmasi dulu? Soalnya aku pernah dapat kayak gini jelas aku tolak dong kan bukan punya aku.

    “ CS sempat menyalahkan saya kalau tidak pesan barang kenapa malah dibayar. Iya sih bener.”
    Yah bener dong cs jnenya, andai kamu bawa kasus ini ke ranah hukum dipastikan kamu 100% kalah.

    Kamu yah ga bisa salahin jnenya karena cuma nganterin dan untuk marketplacenya juga kan sebagai wadah yang dipake oleh usernya itu, yah kamu hubungin usernya kenapa kirim ke kakak kamu. Klo nanya jne ama marketplacenya kenapa kirim kek kakak kamu yah sama aja boong, karena mereka cuma meneruskan pesanan yang dibikin si user.

    5
    2
    • 13 November 2020 - (16:10 WIB)
      Permalink

      TERIMAKASIH saya ucapkan kepada mba’ Nurul yg telah membawa masalah ini ke media konsumen. Karena dg dimuatnya masalah ini, orang yang nggak tahu jadi tahu (termasuk saya yg baru tahu modus penipuan seperti ini). Jadinya kita bisa waspada dan berhati-hati jika menerima paket dg sistem COD. Bagi komentator diatas yg ngeGas… Tolong dibaca dg teliti dan dipahami dulu permasalahannya, jangan dg mudahnya anda menjudge/menyalahkan sipenulis. Hati-hati… Kasus seperti ini bisa aja terjadi/menimpa kita. Dan untuk masalah data pribadi kita seperti nama, alamat, nomer hp, dll, sudah bukan jadi rahasia lagi alias sudah jadi rahasia umum. Karena setiap aplikasi yg kita gunakan pasti mewajibkan kita untuk mencantumkan nama, alamat, nomer hp, dll. Nah… Jika aplikasi yg kita gunakan adalah aplikasi abal-abal (yg tujuannya hanya ingin mencuri data-data kita aja) dan akhirnya dg data-data itu, terjadilah kejahatan.

  • 13 November 2020 - (11:13 WIB)
    Permalink

    Bodonya si mba .. kalo emang gk beli kenapa mba bayar?

    Apa susahnya sih telfon kakaknya 1 menit doang buat konfirmasi apakah kakaknya itu melakukan pesanan atau tidak.. tugas JNE hanya mengantar barang dan untuk No pengirim itu biasanya bisa di Cek di akun marketplace nya

    Biasain tanyakan dulu jangan asal bayar aja jelas ini yang paling salah ya si mba yang maen gas bayar aja.

    3
    6
    • 13 November 2020 - (13:41 WIB)
      Permalink

      Lho itu kan di surat si mba nya emang mengakui kelalaian nya mas. Itu dia nanya ke JNE kok bisa nomor telepon pengirim aja gak ada dan itu gak wajar karna tiap terima paket pun pasti ada info lengkap si pengirim di paketnya dan si JNE juga ngaku lalai kok. Disitu pun tertera bahwa si kakaknya biasa belanja di tokped dan lazada. Kita ngga tau mas kebiasaan keluarga mereka yang bisa jadi metode COD ini sering dilakukan mangkanya si mba nya tidak menaruh curiga apapun, dan kemungkinan ini dimanfaatkan si penipu yang tentunya tetap tidak bisa dibenarkan. Itu juga dijelasin mas marketplacenya aja awalnya gak jelas, pengirimnya aja cuma ada nama doang, plus ini kasus ternyata sering terjadi. Eh malah sekarang kamu yang ngegas. Respect lah mas, ini orang baru kena penipuan. Kita ngga ada yang tau bahwa kasus ini pun bisa jadi sewaktu-waktu terjadi kepada kita ataupun kerabat kita, karena jujur saja saya pribadi baru tau bahwa ada jenis penipuan kaya gini dari kasus si mba nya, ambil saja hikmahnya tanpa membodoh-bodohi orang lain.

      5
      4
      • 15 November 2020 - (10:08 WIB)
        Permalink

        @Sifa Stevia

        Kalimat anda, “Respect lah mas, ini orang baru kena penipuan”

        Penilaian anda atas dasar ‘Respect’, adalah cara penilaian yang sangat menyesatkan.

        Dari kejauhan, anda melihat dua orang sedang bertengkar, yang satu terlihat menangis. Lalu dari kejauhan itu pula anda langsung menduga yang menangis itu adalah korban. Belum tentu. Dekati dan pahami dulu keduanya. Ingat, pahami keduanya, jangan memahami yang menangis itu saja. Baru kemudian anda bisa mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.

        Disini kita hanya membaca cerita dari @nurul saja. Sedangkan cerita JNE belum ada.

        Saya sudah membaca banyak kasus mengenai ini,

        Kenyataannya :

        1. JNE merasa tertipu oleh @nurul.

        JNE menduga, jika paket telah dibayar artinya memang benar barang itu pesanan @nurul/orang tedekatnya.

        Setelah beberapa lama, tiba tiba, @nurul komplain pada JNE, bahwa barang yang dibayar itu bukan pesanannya.

        Lantas, JNE bertanya, kalau bukan pesanannya kenapa @nurul mau membayarnya.?

        2. @nurul mengaku bahwa barang itu bukan miliknya, ketika sudah terlambat.

        Coba, sebelum bayar, si @nurul menghubungi kakaknya (atas nama barang itu), jika kakaknya tidak merasa beli, @nurul jujur pada JNE bahwa mereka tidak merasa beli.

        Dan jika @nurul jujur di awal, maka petugas JNE akan berkata :

        “mereka hanya kurir dan tidak tahu soal apakah kakak saya beli barang atau tidak. CS JNE juga mengakui bahwa kasus ini bukan pertama kalinya terjadi.”

        Itu perkataan petugas JNE setelah terlambat, jika sebelum terlambat maka kalimatnya akan menjadi seperti ini.

        “iya terima kasih mba’, paket ini memang bisa dibatalin, dan boleh tidak dibayar. Kami juga hanya kurir dan tidak tahu soal apakah kakak anda beli barang atau tidak. Kasus ini bukan pertama kalinya terjadi loh mba’, untung mba’ nya Jujur dengan kami,”

        3. Lantas, pada point 1, kita bahas lagi. JNE bertanya, kalau bukan pesanannya kenapa @nurul mau membayarnya.?

        Dibanyak kasus,

        Motivasi @nurul membayar adalah :

        1. Malas memastikan, apakah paket itu miliknya atau bukan.

        Itu atas nama kakaknya, namun @nurul malas menelepon kakaknya, karena merasa tidak sempat, merasa sedang sibuk.

        Nah ini satu satunya point yang manyatakan @nurul sepenuhnya bersalah.

        Yang salah sepenuhnya adalah @nurul. Bukan kakaknya, bukan juga JNE.

        Perkara kasus ini demi mengembalikan uang @nurul yang telah dibayar oleh @nurul pula. Gara gara @nurul malas, ceroboh.

        2. Menganggap harga murah.

        Jika tidak merasa murah, tidak mungkin langsung dibayar tanpa konfirmasi dengan kakaknya.

        Melihat tulisan isi paketan, sesuai dengan harga yang akan dibayarkan. Bahkan terkesan lebih murah. Jaket dengan harga 245 ribu.

        3. Merasa tertipu bukan karena tahu bahwa kakaknya tidak memesan jaket itu.

        Tapi karena barang itu isinya sesuatu yang sangat lebih murah dari yang dibayarkan. Tak tahu isinya apa. Jangan jangan isi paket itu kertas doang, atau apa gitu.

        Kalau memang isinya jaket, jaketnya bagus sesuai dengan harga, tidak mungkin @nurul komplain.

        Contoh dibeberapa kasus:

        – Korban penipuan, malah di tulisan paket itu atas nama dia sendiri. Tulisan isi paket itu, Smartwatch yang dia taksir harganya 2 jutaan keatas. Dia yakin seyakin yakinnya tidak merasa pesan. Namun dia melihat disitu tertulis cukup bayar 1 jutaan. Maka dia semangat membayar. Padahal uang 1 juta sangatlah banyak. JNE tidak memaksa untuk bayar. Tapi rasa penasaran korban dengan isi paket itu. Rasa penasaran di sandingkan dengan uang 1 juta. Sungguh sangat beresiko. Tak tahunya terjadilah resiko itu, ternyata isinya jam abal abal di harga 200 ribu.

        – Jam branded harga 1 jutaan, di tulisan paket cukup bayar 500 ribuan. Pas dibuka jam anak anak di harga 30 ribuan. Uang 500 ribuan sangatlah banyak. Kenapa dia semangat membayar kalau memang yakin dia tidak pesan. Dan JNE pun tidak memaksa untuk bayar.

        Intinya kasus ini, berharap untung malah tekor.

        @nurul berkata,

        “Kak, kenapa sih pesan paket tidak cerita, untung sudah ade’ bayarin, kalau gak cepet ade’ bayarin mungkin di balikin lagi tuh paket”

        @kakaknya,

        “Oalah de’, paket apa.? Kakak gak merasa pesan paket. Emang bayar berapa tadi.? Isinya apa.? Oh, jaket 245 ribu, coba kita buka, kalau keren kakak pakai, kalau keren tidak rugi kita,”

        Pas dibuka, ternyata isinya……..

        @Sifa Stevia, anda dan @nurul memiliki sifat yang sama.

        Kalian terburu buru Respect.

        Anda Respect dengan @nurul karena membaca ceritanya saja.

        @nurul Respect dengan kakaknya, takut dianggap pelit, tidak menalangi dulu paketan yang datang. Merasa kakaknya jauh tidak enak mengganggu. @nurul Respect dengan JNE, gak enak JNE menunggu terlalu lama. Sehingga buru buru bayar.

        Penipu menipu @nurul, namun @nurul malah menipu JNE. Bukan miliknya malah diambil. Penipu dan @nurul sama sama merepotkan JNE.

        3
        1
        • 29 Januari 2021 - (22:05 WIB)
          Permalink

          Analisis elu blunder bang, elu kaga nyambung sumpah, greget gua bacanya… Kaga paham gua sama isi pikiran lu… mana dari komen awal nyalahin si pengirim surat…
          JNE juga salah lah, enak aja kaga salah.. masak gk punya info jelas pengirim?? Yang bener aje wey perusahaan segede JNE kaga punya info jelas pengirim?? Serem amet ???! Elu mikir kaga kalau itu paket ternyata isinya membahayakan si penerima??? Sedangkan si JNE ini kaga punya data pengirim ?? Pake nuduh si penulis menipu JNE. Blunder elu tau gak, elu gak nyambung… Segala nyalahin orang yang empati…

          Btw elu oknum penjual nakal kek gini juga kali bang ?? Emang elu tau kualitas jaketnya paket yang diterima dia itu kek gimana ??? Keknya elu paham bgt bang modus beginian sama kualitas barang kasus begini… Enteng amet elu ngomong murah-murah… Liat noh di Twitter kasus beginian trending, banyak korbannya… Bisa-bisanya elu memaklumi penipuan kek gini…! Orang-orang blunder kek elu begini yanng bikin penipu makin seneng…

  • 24 Desember 2020 - (16:11 WIB)
    Permalink

    Pas bgt saya br dpt notif dr sms ada paket cod sebesar 165rb. Saya sama sekali g pernah merasa memesan barang apapun yg memakai cod dan setelah saya cek no resiny jg sama dari pt. Fashner indonesia. Kayany memang data kita bocor dan dipergunakan sama penjual2 licik yang asal kirim barang biar laku. Saya yakin cara ini bukan malah mbuat penjualan pedagang online ini semakin laku tapi semakin terpuruk. Semoga kita selalu dapat berhati2..

  • 13 Januari 2021 - (14:54 WIB)
    Permalink

    Saya 2x di kirim paket dr JNE persis sama kaya yg si mbanya bilang,yg pertama atas nama bapak saya kok tlpnya ke nmr saya dan tau2an tu tukang tipu alamat rmh dan nmr TLP saya,yg ke 2x alamat dan nmr TLP saya tapi namanya lain dan ga ada yg pesen paket..metode pembayaran cod juga,kurir pertama bilang udah sering kejadian kaya gitu..nanti pasti ada lg paket Dateng atas nama yg sama..eh bener aja kemaren Dateng LG paket atas nama lain yg org rumah ga kenal dan cod juga alamatnya sama LG dan pengirimnya sama juga kaya mbanya..kalo kurir yg pertama udah paham,kurir yg ke 2 kebingungan dan saya di TLP JNE dan di wa suruh kirim nama yg bnr..lah saya ga tau itu paket sapa yg pesen..orang penipuan kok masa saya suruh bayar..setelah saya konfirmasi ke pihak JNE barulah saya ga di teror suruh bayar LG..saya suruh kembalikan ke pihak yg ngirim atau kalo perlu lapor polisi biar saya ga di teror paket codan lg..takutnya data di shopee saya bocor makanya di salah gunakan oleh penipu..saya juga sudah melapor ke pihak shopee dan jawaban pihak shopee kalo ga pesen ga usah di bayar dan saya tidak pernah sekalipun membayar yg tidak saya pesan..

  • 21 Januari 2021 - (13:01 WIB)
    Permalink

    Saya mengalami hal yang persis sama. Senin lalu jam 10:57 WIB saya mendapat telepon dari Meesho Indonesia +62 21 50858800.
    Saya angkat dan mendengarkan suara perempuan (sepertinya ini program) mengatakan bahwa saya ada pesanan. Karena saya merasa yakin tidak melakukan pesanan apapun saya tutup langsung telepon tanpa memilih tekan angka 2 untuk menolak.
    Ternyata hari ini 21 Jan jam 11: 56 saya mendapat call WA +6282261566823 Mengaku dari JNE mengantarkan barang COD ke kantor saya. Karena Satpam kantor tidak mengizinkan kurir manapun masuk, orangnya tertahan di Pos Satpam. Saya bilang ke dia kalau saya tidak pernah memesan produk apapun dengan cara COD dan memang demikian sebenarnya. Orangnya model2 maksa (bukan ciri khas JNE biasanya) “Kenapa Ada alamat Bapak, nomor Telepon dan Nama Bapak cocok?”
    Ya saya bilang saja, “jangankan orang yang ngirim barang, rentenir PinJol saja bisa tahu nomor dan alamat saya gara2 kawan saya pinjam uang nggak bayar.”
    Saya curiga ini marketplace yang saya pakai appnya main belakang menjual data user. Tapi saya tidak bisa menunjuk satu diantara mereka karena tidak punya bukti.
    Untuk perusahaan dengan nama Meesho Indonesia ini apakah tidak bisa dituntut secara hukum telah merugikan orang lain atau paling tidak atas dasar perbuatan tidak menyenangkan?

  • 29 Januari 2021 - (16:06 WIB)
    Permalink

    Saya alami kejadian serupa kemarin, untungnya saya sendiri yang nemuin kurir, jadi bisa langsung saya konfirmasi kalau saya gak merasa pesan barang tsb, apalagi dgn system pembayaran cod. Barang pun dibawa balik oleh kurir.

    Kurir ekspedisi SiCepat.

    Hari ini pihak sicepat konfirmasi kembali ke saya, via WA, untuk memastikan kalau saya benar2 tidak memesan barang tersebut.

    Jadi penasaran (ada orang yang iseng atau ini modus penjualan dengan cara yang curang/menyalah gunakan data orang)

    Saya tanya ke pihak sicepat, untuk data pengirim dan ini jawaban dari sicepat

    resi 00120312xxxx
    PengirimPt. Fashnear Technol

    Resellerraja_onlineshop

    Makin penasaran, goggling lah nama PT tersebut, ternyata ketemu forum ini.

    Buat yang lain, hati2 ya, yang mungkin biasa belanja online, tolong konfirmasi juga ke keluarga dirumah agar orang rumah tau, sewaktu2 ada barang yang datang dgn pembayaran cod yang tidak dipesan.

    Mereka dapat database darimana ya?

 Apa Komentar Anda mengenai JNE Express?

Ada 23 komentar sampai saat ini..

Tidak Lakukan Pesanan tapi Dapat Kiriman COD JNE dari Fashnear Technol…

oleh nurul dibaca dalam: 2 menit
23