Debt Collector Bank Permata Mengintimidasi

Dear Media Konsumen dan Bank Permata,

Saat ini saya ada cicilan KTA di Bank Permata dengan nomor: 0010890501001886327, dengan status kredit macet. Nominal KTA saya yang disetujui tahun 2015 sebesar Rp27 juta, dengan cicilan selama 36 bulan. Saat itu masih menggunakan payroll, tetapi pada tahun 2017 saya berhenti bekerja, sehingga saya tidak sanggup membayar. Tahun 2020 saya kembali dapat pekerjaan yang tetap, tapi dari pihak bank tidak ada reminder apapun.

Pada awal bulan November 2021, saya dapat telepon dari debt collector Bank Permata pusat untuk segera pelunasan dengan total tagihan Rp46 juta. Saya minta keringanan untuk dicicil, karena situasi ekomoni keluarga saya sedang tidak sehat sejak 2017 akhir. Namun pihak Bank Permata bersikukuh untuk pelunasan dengan potongan diskon menjadi totalnya Rp25 juta saja.

Tentu saja itu jumlah yang sangat banyak buat saya. Pihak bank juga meminta untuk membayar DP Rp5 juta agar data bisa di-hold tidak diberikan kepada pihak ketiga. Karena saya panik akan ancaman dari pihak ketiga, apalagi pihak debt collector sudah sampai menelepon ke kantor saya yang membuat seisi kantor bertanya-tanya, akhirnya saya transfer Rp5 juta (dengan meminjam di koperasi) dan pelunasan sisanya tanggal 26 November 2021.

Akan tetapi, sampai tanggal 26 November 2021, saya belum dapat pinjaman sehingga tidak bisa saya lunasi. Saya sampai detik ini diteror terus oleh pihak ketiga, mulai dari telepon ke kantor sampai ke teman dan mengancam akan mengambil seisi rumah apabila tidak ada bayar. Itu membuat istri dan ibu saya shock.

Hal seperti ini bukan jalan keluar yang sama-sama baik. Menurut saya ini sudah keterlaluan membuat mental ibu saya shock berat mendengar berita ini. Belum lagi pihak debt collector mengancam saya bisa dipecat dari kantor. Saya Mohon kepada Pihak Bank Permata agar dapat menangani permasalahan saya ini dengan bijak.

Terima kasih,

I Gede Agus Caka Saputra
Gianyar, Bali

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian mengenai Penagihan KTA PermataBank:
[Total:712    Rata-Rata: 1.9/5]
Tanggapan PermataBank atas Surat Bapak I Gede Agus Caka Saputra

Berkenaan dengan Surat Pembaca yang ditulis oleh Bapak I Gede Agus Caka Saputra, berjudul “Debt Collector Bank Permata Mengintimidasi” melalui...
Baca Selengkapnya

68 komentar untuk “Debt Collector Bank Permata Mengintimidasi

  • 1 Desember 2021 - (13:35 WIB)
    Permalink

    Ya tujuan debt coll kan itu pak, bikin mental breakdown, biar ente panik terus bayar, begituuu..

    20
    10
    • 1 Desember 2021 - (19:50 WIB)
      Permalink

      Tidak Perlu Takut dgn Debt Collector…
      Pertama-tama yg perlu dipahami adalah bahwa anda memang tidak berniat “Ngemplang” Bank tsb, anda tidak dapat memenuhi kewajiban karena “keadaan”, jadi Wanprestasi tsb BUKAN anda sengaja & anda berniat melunasinya “SUATU SAAT”, datangi BANK sebagai wujud niat baik anda & sampaikan kondisi anda saat ini.
      Kedua, “tidak perlu” Malu, semua orang bisa saja Dipecat, bangkrut dsb, jd tidak perlu Malu dgn Cemo’ohan orang, bila ada yg mencemo’oh ingatkan saja, “bersyukurlah anda saat ini masih berpenghasilan,tidak ada orang yg sengaja tidak bekerja supaya tidak bisa bayar utang”.
      Ketiga, jangan Takut menghadapi DC, kalau mereka main pukul itu kesempatan anda, segera minta “VISUM” & Tuntut pihak Bank senilai 10x HUTANG anda, akibat Terror, Perlakuan tidak baik & Penganiayaan, kalau bisa tindakan DC tsb Rekam dgn Kamera tersembunyi beserta kata²nya…
      Keempat, jangan Bunuh Diri, kalau Bunuh Diri saja berani, lebih baik Keberanian itu dilimpahkan kpd DC, tapi jangan dibunuh DC-nya, Hadapi saja, tunggu kalau ada kesempatan anda disakiti oleh DC, lakukan seperti tindakan ke-3!!!
      Akhir kata… Hidup harus terus dijalani… Jangan Takut, Jalani saja sebagai Proses kehidupan, anggap saat sekolah menghadapi Guru/Dosen Killer… 😁 Utang anda masih kecil…

      359
      9
    • 2 Desember 2021 - (03:43 WIB)
      Permalink

      Saran saya jauhin yg namanya utang…hidup syukurin aja.ga usah berlagak sok jadi orang kaya.ga ada utang hidup enak .ga ditagih2..lagipula minjem uang yg berhubungan dengan denda.itu adalah riba…

      24
      132
        • 2 Desember 2021 - (19:01 WIB)
          Permalink

          Ekonomi keluarga beda2bu,yg namanya kebutuhan juga beda2 jadi intinya hidup hrs jalan terus paham sampai disini.

          26
          3
      • 2 Desember 2021 - (13:24 WIB)
        Permalink

        Misal nih, ini misal loh ya. Hidup sederhana, nggak konsumtif, nggak aneh², nah tiba² nih musibah dateng, situ lahiran nggak normal atau gimana lah yang mengharuskan penanganan lebih, dan nggak di cover bpjs, otomatis keluarin duit nih, nah kebetulan biaya RS itu sampai 100juta bahkan lebih, situ pinjem sodara, teman tetap ngga bisa, terus pilihannya berhutang ke bank dengan resiko terlilit hutang, atau tetap bertahan dengan gaya hidup yang menurut anda benar sekali tapi kehilangan anak. Nah loh coba ajarin saya yang bodoh ini gimana gaya hidup yang menurut anda benar ketika terjadi hal seperti ini?

        73
        4
          • 3 Desember 2021 - (10:34 WIB)
            Permalink

            Salam Konsumen cerdas,
            Sesuai Surat Edaran BI 14/17/DASP/Tahun 2012
            diatur secara jelas etika-etika penagihan utang yang dilakukan debt collector sebagai berikut. 
            Pihak penagih atau debt collector wajib gunakan kartu identitas resmi yang dikeluarkan penerbit kartu kredit dan dilengkapi foto diri yang bersangkutan.
            Tidak boleh menagih dengan cara mengancam, kekerasan, atau tindakan yang mempermalukan pemegang kartu kredit.
            Tidak boleh menagih dengan memberi tekanan fisik atau verbal.
            Tidak boleh melakukan penagihan ke yang bukan pemegang kartu kredit.
            Tidak boleh menagih dengan terus-terusan menelepon tanpa kenal waktu.
            Debt collector hanya diperbolehkan menagih di alamat penagihan atau domisili debitur.
            Waktu penagihan utang cuma diperbolehkan dari pukul 08.00 hingga 20.00.
            Penagihan di luar alamat dan waktu yang ditentukan boleh dilakukan dengan adanya persetujuan atau perjanjian dengan pengguna kartu kredit.
            Dalam masalah Pak Gede Agus ini DC sdh jelas melanggar kode etik yg di keluarkan oleh BI tersebut di atas.
            Saran saya di rekam semua Pak segala bentuk Intimidasi tersebut lalu buat laporaan ke pihak berwajib.
            Pihak DC bisa di jerat UU ITE ayat 27 pasal (3) yang merujuk kepada pasal 310 KUHP

            34
            2
          • 3 Desember 2021 - (18:42 WIB)
            Permalink

            Semoga cepat selesai masalahnya mas.
            Ikut prihatin.
            Sebaiknya telp diangkat di jawab dengan sejujurnya.
            Jangan takut
            Dihadapi dengan baik
            Jangan panik.
            Ambil hikmahnya
            Fokuskan kerja pikiran positif, optimis, kreatif.
            Tetap semangat.

            15
            1
        • 3 Desember 2021 - (09:08 WIB)
          Permalink

          alhamdulilah saudara saya banyak yg kaya, banyak yg baik, mungkin jual sawah juga bisa

          • 3 Desember 2021 - (09:09 WIB)
            Permalink

            alhamdulilah tidak ada kejadian seperti itu, dan belum pernah utang bank

          • 5 Januari 2022 - (23:06 WIB)
            Permalink

            Kadang bingung sama org yg mau komen,tapi gak bisa prihatin Sama keadaan org,ujung” nya sombong, Alhamdulillah attuh kalau keluarga ibu berkecukupan,tapi nasib org beda” ibu,ibu ngomongin RIBA paham betul soal Agama yah Bu? Riba memang di larang oleh agama bu,tapi sombong juga bukan perbuatan yg di benarkan oleh agama, dr pada makin lama komentar ibu semakin mencerminkan ke sombongan mending stop komen deh Bu

      • 3 Desember 2021 - (11:03 WIB)
        Permalink

        Jangan cuma saran jauhin utang, Bu. Sekalian yang punya utang itu sampean bantu lunasin utangnya. Biar gak punya utang lagi. Atau cukupin semua kebutuhannya supaya jangan sampe berhutang. 🙄

        13
      • 3 Desember 2021 - (18:14 WIB)
        Permalink

        Rintangan hidup itu beda beda bu
        Anda mungkin lebih beruntung tidak pernah mengalami rasanya hutang
        Sampai dikejar kejar DC
        Jadi masukan dan saran ibu tidak berguna
        Saran ibu seperti ceramah atau orang jualan jamu di pasar

        11
        1
      • 10 Desember 2021 - (00:01 WIB)
        Permalink

        mungkin skrng hidup ibu fatiman lg enak,, nnt klau hidup ibu sdh terpuruk.. pasti akan pinjam ke bank resmi,pinjo atau bangke (bank keliling) ingat bu kebutuhan dan tingkat ekonomi orang berbeda-beda. Orang kaya saja yg punya usaha msh kena rayuan bank untuk supaya bank memberikan pinjaman dana.. saran saya,, klau pak Gede ada barang yg bisa di jual,lbh baik di jual saja dan nnt hasil penjualan barang untuk melunaskan KTA Bank Permata.

      • 13 Desember 2021 - (18:28 WIB)
        Permalink

        Yaah semua juga tau Bu. Gw yakin sih dia hutang karena kebutuhan. Kadang bisanya cuman ngomong doank. Tapi gak mau bantuin. Itu yg sering bilang riba riba. Cobalah bantu jangan bisanya cuman bacot doank

  • 1 Desember 2021 - (14:41 WIB)
    Permalink

    OJK Sudah menetapkan debt collector tidak boleh:
    – Menggunakan ancaman, kekerasan, dan mempermalukan debitur
    – Menggunakan kekerasan fisik maupun verbal
    – Meneror
    – Menagih ke pihak yang berhutang

    Jika debt collector melakukan hal tersebut, bisa langsung dilaporkan ke OJK agar ditindak. Atau dibawa ke pengadilan untuk menuntut ganti rugi.

    51
    5
    • 1 Desember 2021 - (15:09 WIB)
      Permalink

      Poin ke empat nya keliru mas. Yg benar: Tidak boleh menagih ke pihak yg yidak berhutang.

      19
      4
        • 1 Desember 2021 - (21:35 WIB)
          Permalink

          memang bank di Indonesia produk kapitalis bisnis ya bisnis tidak ada kemanusiaan sedikitpun. mintanya untung besar sedikitpun tidak ada CSR tega sekali ngeruk keuntungan sebesar-besarnya dari rakyat. lahir di Indonesia, besar di Indonesia, berhasil usahanya dari Indonesia. tega benar tidak punya keperdulian terhdp persoalan Indonesia

      • 1 Desember 2021 - (18:37 WIB)
        Permalink

        Mohon maaf pak, jadi kalau kasus spt yg sy alami saat ini, di mana sertivikat KPR BTN bersubsidi (yg sdh berjalan 9 thn) sy di alihkan ke agen properti tanpa sepengetahuan/persetujuan sy dan saat ini agen properti tsb menagih pelunasannya dgn nilai yg sgt besar ke sy..itu bagaimana pak…?
        Mhn pencerahannya, terimakaaih.

        • 1 Desember 2021 - (19:55 WIB)
          Permalink

          Kalau kasus begitu harus dirunut lagi mas, tidak bisa langsung disimpulkan, coba konsultasi ke pihak yg lebih berkompeten dibidangnya, Notaris atau Pengacara.

        • 3 Desember 2021 - (09:13 WIB)
          Permalink

          yg mengalihkan itu yg harus bertanggung jawab karena tanpa izin pemilik / tdk ada musyawarah trlebih dahulu. pasal perdata

          • 3 Desember 2021 - (11:13 WIB)
            Permalink

            Untuk Bp.Mohamad Tedy itu bisa mengajukan gugatan ke PN pak…..pengalihan utang itu biasanya di sebut subrogasi,novasi atau cessie…
            Selain itu, harus dlihat juga perjanjian kredit Anda dengan Pihak Bank. Apakah ada klausula yang mewajibkan pihak yang mengalihkan hak dan kewajiban berdasarkan perjanjian kredit untuk memberitahukan atau meminta persetujuan dari pihak lainnya.
            Berdasarkan ketentuan UU Perlindungan Konsumen pasal 1 ayat 1 UU no 8 tahun 1999 definisi perlindungan konsumen meliputi seluruh upaya untuk memastikan kepastian hukum demi memberikan perlindungan kepada konsumen.

    • 1 Desember 2021 - (19:26 WIB)
      Permalink

      Dicoba diangkat itu kalau ditelfon pak, biar nggak dikira kabur atau gimana, kan nggak semua debt collector bringas semuanya, meskipun kebanyakan begitu.. Kalau misal bapak dihub tidak mengangkat, pasti pihak sana juga berpikiran bapak mau lari atau gimana, asal bapak kalau dihub menjawab pasti ya nggak bakal begitu pak.

    • 2 Desember 2021 - (22:19 WIB)
      Permalink

      jadi anda debt collector nya?

      laporkan saja dc nya klo sudah mengancam dan menggunakan kata2 yang tidak menyenangkan… palingan sudah ditangkap nangis tuh DC…. apalagi sampai mencari ketempat kerjaan itu sudah melakukan perbuatan yg tidak menyenangkan… ngak usah takut bro gede, kalo masih ngeyel dan mengancam sampai masuk ke dalam pekarangan rumah kasih putus sudah kepala sama badannya !! sengketa hutang piutang itu diselesaikan secara perdata, klo dia melakukan pengancaman itu artinya dia sudah melakukan pelanggaran pidana

      9
      2
      • 3 Desember 2021 - (06:33 WIB)
        Permalink

        Jika anda pinjam maka ya berurusan dengan peminjam, kalo tidak pinjam tidak mungkin dicari debt colletor (jika sudah jatuh tempo bayar), punya pemikiran ini aja simple, dan kalo jatuh tempo ya bayar, bukan banyak alasan kadang banyak alasan aduh gk bisa bayar karrna ini ini ini, lah sebagai menerima pinjaman tau diri dong kadang ya wajar di kejar oleh penagih utang (kalo lewat jatuh tempo), nih ingat kalo tidak PINJAM TIDAK DIKEJAR, anda hidup tenang.

        2
        12
        • 3 Desember 2021 - (09:35 WIB)
          Permalink

          apakah sop penagihan itu dengan pengancaman dan teror? atau melakukannya dengan melanggar hukum pidana?

          saya mantan DC dan saya tau SoP penagihan tidak mencatumkan sesuatu yang melanggar hukum, tapi praktek nya DC2 melakukan penagihan segala cara agar mendapatkan komisi penagihan!
          tindakan yang benar adalah melakukan tindakan hukum yang sesuai dengan perjanjian dan aturan hukum yang berlaku yaitu perdata di pengadilan bukannya pengadilan nenek moyang kau ! PAKAI OTAK, KALAU KM DITANGKAP KARENA PENGANCAMAN APAKAH PERUSAHAAN KAMU MAU MELINDUNGI KAMU?

          PALINGAN KAMU JUGA DIPECAT DENGAN TIDAK HORMAT !

          SEKELAS BANK RESMI KOK PUNYA SOP PENGANCAMAN DAN TEROR !! MIKIR KAU ! APA DISURAT JALAN ANDA DISEBUTKAN BOLEH MELAKUKAN TINDAKAN YANG MELANGGAR HUKUM PIDANA UNTUK MELAKUKAN PENAGIHAN! KLO ADA SINI UPLOAD ! SUPAYA KITA SEMUA TAU ADA PERUSAHAAN SEPERTI ITU DI INDONESIA

          19
          1
        • 16 Januari 2022 - (01:08 WIB)
          Permalink

          Dc begini perkarakan aja ke jalur hukum saja bro sudah meresahkan dan memalukan biar jerah dia,

    • 3 Desember 2021 - (08:16 WIB)
      Permalink

      ini contoh penagih amatiran. urusan pekerjaan dijadikan urusan pribadi, seakan akan debitur dlm hal ini punya hutang pribadi ke debt collectornya. Mungkin penagih ini memang hanya seperti itu kemampuannya, primitif, tidak bisa berkomunikasi lebih drpd mengancam. Jadi abaikan saja Pak, blokir nomornya. Terlalu sayang waktu dan perhatian kita tersita oleh hal2 yg tdk produktif spt melayani debt collector yg Caper. Tapi kl memang sdh lewat batas, segera laporkan ke kepolisian & jgn lupa simpan semua bukti2.

  • 1 Desember 2021 - (16:18 WIB)
    Permalink

    “Tahun 2020 saya kembali dapat pekerjaan yang tetap, tapi dari pihak bank tidak ada reminder apapun.Pada awal bulan November 2021, saya dapat telepon dari debt collector Bank Permata pusat untuk segera pelunasan dengan total tagihan Rp46 juta.”

    dari tahun 2020 ke nov 2021 situ ga saving jaga2 kalo ditagih soalnya KTA blm lunas..??

    13
    3
      • 2 Desember 2021 - (13:22 WIB)
        Permalink

        Misal nih, ini kisal loh ya. Hidup sederhana, nggak konsumtif, nggak aneh², nah tiba² nih musibah dateng, situ lahiran nggak normal atau gimana lah yang mengharuskan penanganan lebih, dan nggak di cover bpjs, otomatis keluarin duit nih, nah kebetulan biaya RS itu sampai 100juta, situ pinjem sodara, teman tetap ngga bisa, terus pilihannya berhutang ke bank dengan resiko terlilit hutang, atau tetap bertahan dengan gaya hidup yang menurut anda benar sekali tapi kehilangan anak. Nah loh coba ajarin saya yang bodoh ini gimana gaya hidup yang menurut anda benar?

        • 3 Desember 2021 - (09:18 WIB)
          Permalink

          merubah nasib, mencegah hal2 sial dg berdoa dan berusaha. alhamdulilah tidak terjadi seperti komen di atas

  • 1 Desember 2021 - (16:28 WIB)
    Permalink

    kalau ada ancaman debt colector mau sita aset atau harta benda laporkan ke polisi sudah tindak perampasan itu

    15
    2
    • 1 Desember 2021 - (16:34 WIB)
      Permalink

      Tolong kalian tu ya jika sama orang yg tidak dikenal tu panggil aja pak, jangan om om kamu pikir kamu tu masik anak2,

      5
      12
      • 1 Desember 2021 - (18:35 WIB)
        Permalink

        Memang mengerikaannn sadis sesadis sadisnya lebih dari apapun berurusan ama bank 1 ini…sy&suami tahun lalu pernah ngalamin bahkan artikel saya dimuat di media konsumen…

        7
        1
      • 2 Desember 2021 - (05:51 WIB)
        Permalink

        Sependapat, yg namanya kredit macet ttep wajib bayar gk peduli kita kena phk atau resign apalagi statusnya blm lunas lah itu dlm jangka awal 2020 ke nov 2021 yg prepare nabung apa bwt jaga2 klo di tagih mlah di diemin dg berharap semoga data kredit ilang & kekurangan gk di byr,wkwk konyol sekali

        3
        8
    • 2 Desember 2021 - (22:25 WIB)
      Permalink

      sekelas Bank Besar seperti Permata melakukan penagihan seperti pinjol?
      ngak salah nih !!!

      @ojkindonesia sudah kasih sanksi juga Bank resmi yang menggunakan pihak DC yg terbukti melanggar pidana !! pengguna dan penyedia DC juga harus dihukum karena pelanggaran pidana yg dilakukan !

      6
      1
  • 1 Desember 2021 - (17:39 WIB)
    Permalink

    Nominal KTA saya yang disetujui tahun 2015 sebesar Rp27 juta,

    Saya dapat telepon dari debt collector Bank Permata pusat untuk segera pelunasan dengan total tagihan Rp46 juta.

    Namun pihak Bank Permata bersikukuh untuk pelunasan dengan potongan diskon menjadi totalnya Rp25 juta saja.

    =
    Kalau gua lihat dah win win solution disini.
    Gak tahu juga kalau di Bank lain bagaimana?

    • 1 Desember 2021 - (20:04 WIB)
      Permalink

      Bank lain sama juga, selalu dikasih Opsi seperti itu. Kalau ada dana ya dibayar, tapi masalahnya… Kalau tidak ada duit & tidak ada yg bisa dijual senilai itu bagaimana? Biasanya Bank mengajukan Opsi Reschedule Cicilan Rendah Bunga Ringan, tetapi nilainya ditentukan oleh Bank, pdhl Kreditur tidak Mampu, jadi Bukan menurut “Kemampuan” Angsur Kreditur, apalagi bila si Kreditur sudah “Zero income”, bagaimana bisa ada Penyelesaian? Sedangkan menopang kehidupannya sehari² saja dari Jual² barang yg dimiliki, jelas tidak bisa melunasi ataupun mencicil. Hutang memang Wajib dibayar, tapi saat tidak mampu, apa yg mau dipakai buat bayar? Hutang sudah tidak mungkin, karena tentunya kalau tidak bekerja Utangnya makin membengkak utk biaya Hidup.

      7
      2
  • 1 Desember 2021 - (20:05 WIB)
    Permalink

    Tidak Perlu Takut dgn Debt Collector…
    Pertama-tama yg perlu dipahami adalah bahwa anda memang tidak berniat “Ngemplang” Bank tsb, anda tidak dapat memenuhi kewajiban karena “keadaan”, jadi Wanprestasi tsb BUKAN anda sengaja & anda berniat melunasinya “SUATU SAAT”, datangi BANK sebagai wujud niat baik anda & sampaikan kondisi anda saat ini.
    Kedua, “tidak perlu” Malu, semua orang bisa saja Dipecat, bangkrut dsb, jd tidak perlu Malu dgn Cemo’ohan orang, bila ada yg mencemo’oh ingatkan saja, “bersyukurlah anda saat ini masih berpenghasilan,tidak ada orang yg sengaja tidak bekerja supaya tidak bisa bayar utang”.
    Ketiga, jangan Takut menghadapi DC, kalau mereka main pukul itu kesempatan anda, segera minta “VISUM” & Tuntut pihak Bank senilai 10x HUTANG anda, akibat Terror, Perlakuan tidak baik & Penganiayaan, kalau bisa tindakan DC tsb Rekam dgn Kamera tersembunyi beserta kata²nya…
    Keempat, jangan Bunuh Diri, kalau Bunuh Diri saja berani, lebih baik Keberanian itu dilimpahkan kpd DC, tapi jangan dibunuh DC-nya, Hadapi saja, tunggu kalau ada kesempatan anda disakiti oleh DC, lakukan seperti tindakan ke-3!!!
    Akhir kata… Hidup harus terus dijalani… Jangan Takut, Jalani saja sebagai Proses kehidupan, anggap saat sekolah menghadapi Guru/Dosen Killer… 😁

    2
    3
  • 1 Desember 2021 - (21:26 WIB)
    Permalink

    Saya minta keringanan untuk dicicil, karena situasi ekomoni keluarga saya sedang tidak sehat sejak 2017 akhir.

    bingung banyak keluhan pinjaman tidak bisa bayar karena alasan “ekonomi/covid” ya wajar diteror lah anda pinjam ya harus berurusan dengan pihak peminjam, nih ya JIKA ANDA TIDAK PINJAM MAKA TIDAK ADA NAMANYA DEBT COLECTOR MENEROR ANDA, anda hidup tenang

    3
    15
  • 1 Desember 2021 - (21:43 WIB)
    Permalink

    Dulu ada kejadian di salah satu daerah di wilayah DIY, tapi jangan ditiru, bisa masuk bui nanti kalau sampai ada kejadian lanjutan.
    Ceritanya debt collector datang menagih orang yg terlambat bayar angsuran sepeda motor, kebetulan si pengkredit motor itu lagi membetulkan pagar bambu yang ambruk. Dengan memasang wajah bengis dan kata-kata yg kasar debt collector itu mengutarakan niatnya untuk yg menarik sepeda motor kreditan karena sudah 3 bulan tidak mengangsur, lalu dijawablah sama pengkredit motor itu; “silakan saja tarik motor ini gapapa kok, tapi tolong kepalamu ditinggal di sini” dengan nada serius, seraya mencabut golok dari sarungnya. Seketika itu pula wajah dua orang debt collector yg tadinya garang itu menjadi pucat pasi, dan langsung lari tunggang langgang

    6
    7
  • 1 Desember 2021 - (21:58 WIB)
    Permalink

    Saya melihatnya dari kacamata netral ya.
    1. Harusnya telpon ya diangkat saja dan didengarkan dahulu sambil tetap sampaikan untuk beritikad baik dilunasi. Jangan nego ke debt collector karena Bapak bukan hutang ke mereka.
    2. Tetap hubungi bank permata untuk dibuatkan skema dan timeline cicilan ya. Gapap hutang naik tapi cicilan ringan, musal 25 juta kembali jadi 30 atau 40 juta, tapi dibayar dalam 5 tahun, yang cicilan ya 650rban.
    3. Jual saja aset yang ada, motor, mobil, handphone, atau apapun yang berharga, mungkin cincin emas waktu akad nikah. Demi terbebas dari hutang ini. Relakan saja naik angkot atau gojek.
    4. Debt collector juga saya yakin punya perasaan. Ajakin curcol ajah gimana ini, misalnya minta carikan solusi, atau minta kerja bareng bantuin nagih biar komisi ya bisa juga buat bayar hutang.

    Semoga terbebas dari hal ini. Amin.
    Good luck

    9
    2
    • 2 Desember 2021 - (15:27 WIB)
      Permalink

      Tidak tercipta riba kalau tidak ada yang berhutang. Jangan selalu mengkambinghitamkan riba dan saya juga yakin si penghutang tidak memprediksi ekonominya akan terganggu. Daripada cari kambing hitam lebih baik anda sarankan si pengutang bernegosiasi dengan pemberi hutang. Dan lebih baik lagi jika anda kasih pinjaman ke beliau supaya bisa melunasi hutangnya dan mencicil ke anda tanpa bunga.

      • 2 Desember 2021 - (18:42 WIB)
        Permalink

        Jgn suka ngomong riba cuyy…. Negara yg kita pijak,,,, lu fikir biaya dr mana….?? NGUTANG cuyy,,, trs utang ga pake bunga…?? Heloow… Ini bkn zaman majapahit,,, ini zaman paling kejam yg sya tau….

        5
        2
  • 2 Desember 2021 - (10:34 WIB)
    Permalink

    “Tahun 2020 saya kembali dapat pekerjaan yang tetap, tapi dari pihak bank tidak ada reminder apapun”

    Memang sudah niat gk mau bayar itu sih..kalau bank blm nagih nagih bersyukur anda dikasih napas…Harusnya Kalau punya kewajiban gak usah nunggu ditagih, kesadaran sendiri..datangi pihak bank, jelaskan kemarin kemarin itu saya nganggur dan sekarang sudah dapat kerjaan, saya udah bisa bayar cicilan segini segini…kan beres, bank pasti apresiasi..

    Udah dapat kerja malah bukan buru buru datangi bank, ditelf debt collector gak diangkat angkat, bank sudah melihat anda tidak ada itikad baik…tp no comment lah..gk mau lanjutin. Ntar kl saya terusin dituduh2 saya debt collector, bosan ah

    6
    3
  • 2 Desember 2021 - (11:28 WIB)
    Permalink

    Awalnya pengen simpati karena kerja debt collector gk sesuai SOP, dan masuk tahap mengancam.
    Tp ketika melihat tulisan “2020 baru dpt kerjaan to tidak ada reminder, baru november 2021 dikejar suruh bayar”

    Udah jelas masalahnya justru dianda sendiri. Yg dr awal 2020 tidak berniat membayar. Tidak perlu disuruh kalau tahu kewajiban.

    Kesalahan yg lain d adi debt collector justru lbh memilih menagih dengan kassr dan ancaman dr pd diajak diskusi untuk skema pelunasan yg lain agar bisa diterima dua belah pihak.

    Yg saya tahu menulis di media konsumen, sampai dengan tulisan diterbitkan dan di rapihkan oleh editor . Pasti sudah tahu wajib menggunakan nama asli dan KTP asli. Nama anda disini banyak dibaca orang, mempermalukan diri sendiri yg anda lakukan di website ini lbh parah dr apa yg dilakukan debt collector (walau cara tsb salah dan gk bisa dibenaekan)

    Satu pesan hati hati 🙏🏻

    9
    4
  • 2 Desember 2021 - (13:09 WIB)
    Permalink

    Yah setiap orang pasti ada kebutuhan masing2…
    Jika memang keadaan belum bisa membayar atau menyicil memang seharus nya silahkan ke Bank yg bersangkutan dan bercerita jujur meminta keringanan.
    Bukan menghilang dan diam diri.
    Jika kita di posisi pemberi pinjaman, dan orang yg meminjam menghilang atau tidak merespon kita bagaimana perasaan anda?
    Kurang lebih begitu menurut nya…
    Lebih baik di bicarakan semuanya sebagai etikad baik…

  • 2 Desember 2021 - (15:53 WIB)
    Permalink

    Debt Collector meresahkan.. Memang sih dari sudut pandang Debt, dia dapet penghasilan jika berhasil nagih, makanya dia melakukan segala cara agar yg berhutang bisa membayar. Tapi dari kasus diatas, harusnya yg berhutang ga boleh cuekin telp dari Debt, malah itu semakin membuat teror menjadi2. Lebih baik musyawarahkan baik2 agar nama baik gk tercemar

  • 2 Desember 2021 - (18:48 WIB)
    Permalink

    Saran aka mungkin bisa datang ke bank permatanya minta keringanan dengan dicicil. Sama kalau pinjaman tanpa agunan itu pihal peminjam g akan bisa mengambol asset2 kita kecuali emang ada perjanjian diawalnya dan kita tanda tangan

  • 2 Desember 2021 - (23:05 WIB)
    Permalink

    Kasi tau org kantor klo ada tlp dari orang gila (baca: debt coll) bilang aja bli udh resign atau dipecat, ganti no hp jg. Cm kena blacklist BI (SLIK) doang kok gpp. Nanti klo udh ada duit baru diberesin.. Drpd bli stres wkwkwk

    • 3 Desember 2021 - (08:00 WIB)
      Permalink

      Sy dl malah lbh parah. Sy pk 5jt stlh 8thn jd 98jt. Jng panik bli, srh istri ke Bank ybs aja. Nego cm bs byr 5jt diksh kok. Tp lngsng mnt srt lunas nya. Atau byr hny yg dipakai saja pst beres. Sy pny 7 kartu kredit dan sm jg dng KTA kan ? Semua beres byr sesuai yg kt pakai saja. Mksih

  • 3 Desember 2021 - (08:50 WIB)
    Permalink

    Saran saya :
    1. Kalo dc telpon diangkat, anda sudah ada itikad baik utk membayar dgn cicilan ( sbnrnya tidak disarankan cara ini ) , kenapa?? Ya jika anda cicil, lalu tiba2 dipecat atau kehilangan penghasilan maka anda sendiri yg rugi, utang tetep ada, malah berbunga pula

    2. Jika saat ini blm ada dana, lgsg hubungi bank tsb lalu jelaskan keadaan anda, saya liat anda sudah diberikan keringanan hmpir 50% dari total pinjaman anda, sebaiknya anda nego untuk sekali byr lunas agar tidak dikejar2 dc

    3. Saya setuju dgn @ismail huda , tidak perlu takut dgn dc, mereka juga cuma melakukan pekerjaan mereka, mereka jg cuma digaji dan melakukan sop sesuai tempat mereka bekerja, ga bakal diapa2in kok, mereka cuma menanyakan kapan hutang mau dibyr kan, jika ada pengancaman melalui telpon atau wa bisa anda rekam dan lapor ke pihak berwajib, ingat anda jg warga indonesia dilindungi oleh hukum yg berlaku di indonesia

    4. Jgn pernah berpikir utk bunuh diri, ingat keluarga yg ditinggalkan, bunuh diri tidak menyelesaikan masalah.

    5. Jgn melakukan kejahatan demi melunasi hutang

    6. Jgn berhutang lg utk membayar hutang yg ada

    7. Hutang anda masih terbilang kecil nominalnya, banyak di luar sana yg hutang ratusan juta kok, yg penting kita berusaha semaksimal mungkin utk melunasi hutang tsb

    8. Jgn permah jual aset utk byr hutang cc, tidak ada hukumnya tidak byr hutang cc bisa sita aset, cc itu high profit high risk, bank juga sudah mengetahui hal ini sblm menerbitkan cc anda , dan mereka juga sudah diasuransikan jika ada nasabah dgn kredit

    9. Tidak usah stress, jaga kesehatan, selalu berusaha dan berdoa agar semuanya dilancarkan, jika anda sakit gara2 stress ditagih dc boro2 mau byr utang, buat mkn keluarga anda pun tidak bisa kan?

    10
  • 3 Desember 2021 - (11:18 WIB)
    Permalink

    Kntr sy jg prnh ditelponin dc dr slh satu bank nasional krn tmn sy tdk bs byr utang akibat penurunan gaji, saking seringnya nelpon n bicara kasar akhirnya y sy bikin surat peringatan resmi ke bank tsb kl msh neror n telpon ke kntr dgn nada kasar maka sy tempuh jalur hukum krn kntr n tmn2 sekitar kt tdk ada kaitan dgn hutang, bbrp hr kemudian pihak bank telp n mnt maaf ats kelakuan DC tsb n sampe skrg g ad lg yg nelpon kkntr.

  • 3 Januari 2022 - (08:41 WIB)
    Permalink

    Pihak bank punya sistem dan cara utk mengontrol psikis para nasabah yg bermasalah dgn cara mengirim DC utk menekan secara verbal,ngancam,bentak,berkata kasar,mempermalukan,mengganggu via telp atau bahkan datang secara fisik dan sok jagoan.
    Banyak nasabah yg tidak tau bahwa cara2 tersebut adalah salah dan melanggar aturan OJK.
    Mending suruh datang aja ke alamat penagihan yg telah terdaftar,ketemuan dan ceritakn kondisi sebenarnya klo anda memang blm bisa melunasi.
    Jgn mau mau klo di minta ketemuan di tempat lain.
    Jgn kasih apapun ke DC di luar prosedur, mereka(DC) sebenarnya tdk fokus utk menagih anda, mereka hanya fokus memeras anda,jangan sampai anda jadi proyek empuk buat mereka.

    Percayalah bahwa DC jauh lebih takut mati daripada anda.
    Sdh saya buktikan berkali2 sama DC yg paling ganas dan seram sekalipun.

 Apa Komentar Anda mengenai Penagihan KTA PermataBank?

Ada 68 komentar sampai saat ini..

Debt Collector Bank Permata Mengintimidasi

oleh Gede dibaca dalam: 1 menit
68