Bagian Collection Standard Chartered Susah Sekali Dihubungi, Bagaimana Caranya Mau Menyelesaikan Tagihan?

Saya Dewi Kartika Sari, nomor kartu kredit Standard Chartered: 5149 3420 **** **51. Singkat cerita, sejak tahun 2015 saya mengalami kesulitan keuangan dan tidak bisa membayar hutang saya di Standard Chartered. Saat ini saya mendapatkan pinjaman dari saudara saya untuk menyelesaikan hutang-hutang saya di bank, salah satunya Standard Chartered.

Karena dana saya terbatas untuk itu, saya ingin mengajukan keringanan pembayaran ke pihak Stanchart. Saya diarahkan untuk menghubungi ke nomor 021 83798777, tapi tidak pernah diangkat dan email juga tidak dibalas. Sulit sekali menghubungi Standard Chartered Bank.

Mohon ketersediaan pihak Standcart menghubungi saya, karena saya ada itikad baik untuk menyelesaikan hutang saya, dengan mengajukan keringanan kepada Standchart. Saya disarankan untuk datang langsung, tetapi posisi saya saat ini di Pekalongan tidak memungkinkan untuk datang ke Jakarta.

Sebagai informasi nomor hp pribadi saya sudah berganti menjadi 087818759886. Selama ini saya tidak pernah dihubungi atau didatangi oleh pihak Standard Chartered. Mungkin karena mereka tidak mengetahui nomor HP saya saat ini.

Ditunggu konfirmasinya dari pihak Standard Chartered Bank.

Dewi Kartika Sari
Pekalongan, Jawa Tengah

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian mengenai Standard Chartered Bank:
[Total:7    Rata-Rata: 1.7/5]

Surat pembaca ini belum mendapatkan tanggapan dari pelaku usaha terkait. Jika Anda adalah pelaku usaha yang terkait dengan pertanyaan/permohonan/keluhan di atas, silakan berikan tanggapan resmi melalui tautan di bawah ini:

Kirimkan Tanggapan

16 komentar untuk “Bagian Collection Standard Chartered Susah Sekali Dihubungi, Bagaimana Caranya Mau Menyelesaikan Tagihan?

  • 11 Oktober 2021 - (18:00 WIB)
    Permalink

    “Singkat cerita, sejak tahun 2015 saya tidak bisa membayar hutang saya di Standard Chartered.”

    “Saat ini saya mendapatkan pinjaman dari saudara saya untuk menyelesaikan hutang-hutang saya di bank, salah satunya Standard Chartered.”

    Modus….

    Modus…..

    Modus……

    Kalau memang belum punya uang dari kantong sendiri, ngapain buk repot repot mau bayar hutang, malah pakek pinjam duit sama sodara segala.?

    Pasti Modus kan Buk.

    Pasti anda sudah ada rencana hutang dibank lain. Rencana hutang lebih besar. Tapi terkendala karena nama anda masih di Blacklist di BI. Dengan terpaksa deh anda buru buru lunasi hutang tahun 2015 itu. Cepet cepet dilunasi pakek duit Sodara.

    Anda sekarang mencari cari DC, bingung mau lunasinya gimana.

    Dulu aja ibuk menghilang, entah kemana. Jadinya jual mahal deh DC nya.

    Makanya buk, jangan suka ngecewain DC. Tuh ngambek DC nya. Dari 2015 Loh itu.

    Buk buk. Malu maluin aja.

    1
    5
    • 12 Oktober 2021 - (10:48 WIB)
      Permalink

      Menurut saya si isdebe ini ibu nya l*nt* dan dia memang anak h*r*m dari hubungan ibu nya dan om2 gendut dekil pelanggan ibu nya. Alhasil otak nya jadi ngaco selalu menyalahkan konsumen, seolah2 produsen ga bisa salah + merasa diri nya sangat suci tanpa dosa, wajib menceramahi konsumen karena memang dlm otak nya konsumen tdk bisa tdk wajib salah. Lumayan toh si anak l*nt* ini jadi buzzer lucknut juga dibayar nasi kotak ya.

    • 13 Oktober 2021 - (12:43 WIB)
      Permalink

      Bapak/Ibu ISDEBE ini SEBENARNYA SIAPA? Anda ADA MASALAH APA?

      Setiap keluhan tentang hutang piutang org di media ini selalu dinyinyiri dan Anda selalu mencari celah utk memojokkan.

      Kalo Bpk/Ibu merasa hidup Anda sdh lebih baik, sukses, tanpa hutang dan sdh kaya raya, ya silakan dinikmati, lha ini kok senggol sana sini?

      Kalaupun (MISALNYA) Anda seorang profesional/ahli finansial (seperti GAYA bicara Anda di platform ini) yang ingin memberi masukan dan bantuan tentang cara menjauhkan diri dr riba, apa tdk bisa menjadi lbh dewasa dengan misalkan meminta nomor telepon ts/ybs kemudian berbincang secara personal untuk membantunya dlm menyelesaikan permasalahannya?

      Lha ini tidak. Cm nyinyir sana sini. Kalo gak ya ceramah agama.

      Sepertinya malah Anda yang punya masalah.

  • 11 Oktober 2021 - (18:23 WIB)
    Permalink

    @Pembaca MK

    Mohon Renungkan kasus ini.

    1. Di Dunia, semangat melunasi Hutang karena ingin membersihkan nama baik di BI Checking.

    Bersusah payah mencari cari, kepada siapa dia akan membayar hutang itu.

    Itu, di Dunia saja sudah Kebingungan, pada siapa akan membayar. Berapa tagihannya.? Bingung.

    2. Di Akhirat. Semangat melunasi Hutang karena merasa perjalanan azab kubur terlalu panjang. Membayar hutang agar azab kubur di ringankan.

    Sudah terbayang belum apa yang terjadi saat itu.?

    Teringat, pengalaman saat masih di dunia saja sudah kesulitan mencari kepada siapa harus bayar hutang.

    Apalagi ketika diri tidak lagi berada di dunia.

    Maka dari itu. Jangan tunda Membayar Hutang. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.

    Seperti ibu itu. Saat tahun 2015 itu hanya berpikiran masa bodoh, ah gpp gak bayar hutang. Gak punya duit mau gimana lagi, lagian gak ditagih juga kok. Blacklist BI gpp. Tapi apa yang terjadi sekarang.? Tetap dia merasa harus membersihkan nama baik di BI.

    Begitu juga dengan azab kubur. Amal baik tertahan karena hutang. Mau tidak mau hutang itu wajib di bayar. Walaupun sudah mati. Anda akan terus terusan berdoa di alam kubur, berharap agar ahli warismu di datangin penagih hutang. Sehingga hutangmu bisa di lunasi oleh ahli waris itu.

    • 13 Oktober 2021 - (19:21 WIB)
      Permalink

      Pak/Bu ISTHEBEST : Lha terus kalo skrg dia berusaha membayar utangnya utk memperbaiki nama baiknya sendiri, ente dirugikan bos? Ya lbh baik lah dia sdh berusaha membayar utangnya meskipun sdh telat bertahun2, toh dia jg pasti kena denda dan bunga, tp dia dia tetap berusaha melunasi. Kecuali kalo utangnya itu dibawa mati, itu baru salah. Itu pun jg bukan hak Anda utk menghakimi. Makanya pertanyaan saya : ANDA INI SEBENARNYA SIAPA?

      Intinya kan dia ingin tetap bertanggung jawab. Lha kok msh salah saja di matamu? Ente ini gmn sih cara berpikirnya?

      Makanya sy bilang kalo Anda memang ingin membantunya menjauhkan diri dari riba (misalkan terkait dgn profesi Anda sbg ahli keuangan), ya Anda bisa memberikan nomor kontak Anda, pasti disini byk kok yg mau belajar tentang hal itu (menjauhkan diri dari riba).

      Tapi kan yg Anda lakukan disini tdk demikian, Anda hanya sllu mencari celah utk menjatuhkan org lain. Anda tdk membantu apa2 utk hidup org lain, tp ketikannya bau2 sampah dan problem hidup yg Anda lampiaskan disini.

      SITU SEHAT???

  • 11 Oktober 2021 - (18:50 WIB)
    Permalink

    Wkwkw… Saya merasa pak isdebest ini seperti singa lapar yang menunggu mangsa yang salah ketik, salah memilih alasan, salah ejaanpun akan dipermasalahkan.
    Mungkin sebentar lagi juga komen postingan saya ini juga.
    Sekali2 dong pak, kasih komen yang bermutu dan membantu, saya curiga istri anda udah gak mau dengar kata2 anda, jadi anda pindah sini.
    Peace, ingat hidup itu indah.

    • 11 Oktober 2021 - (19:26 WIB)
      Permalink

      Namanya haters dimana2 pasti ada. Manusia yg merasa ga pernh salah. Padahal kalau dia merasa pintar gt. Pasti karna pengalaman dia utang ke orng trus ga bayar2 termasuk ke bank

  • 11 Oktober 2021 - (21:26 WIB)
    Permalink

    @isdebe,Bagi manusia untuk tidak merasa “sok suci” dan “sok tidak memiliki dosa.” Di sinilah hikmah adanya dosa, sebagai penyeimbang dari pahala. Menurut para ulama, merasa berdosa lebih utama daripada merasa berpahala lebih baik anda cari hadis tersebut secara lengkap agar pintar tentang agama orang punya pilihan beri nasehat untuk orang dekat anda karena anda tidak tahu isi hati orang terkena kasus seperti apa masih lebih baik mau bertanggung jawab anda bisa menanggung ucapan anda?hastag MUI jika anda sangat tergganggu dengan riba

    5
    1
  • 11 Oktober 2021 - (22:50 WIB)
    Permalink

    @isdebe.
    Bro / Sis (maaf karena saya ngga faham jenis kelamin manusia satu ini)

    Ini Media Konsumen yg note bene wadah tempat Masyarakat menyampaikan pengaduan seputar masalah yang mereka hadapi, mengapa anda seperti seorang Pemuka Agama ya meceramahi panjang lebar soal Azab lah, Amal baik lah dan segala rupa.

    Masing masing manusia bertanggung jawab terhadap kesalahan dan dosanya sendiri sendiri jadi jangan sibuk menghakimi orang lain mengenai dosan atau kesalahan orang lain ya Bro/ Sis karena kalau situ meninggal nanti ngga bakalan ditanya soal dosa orang lain kan jadi berhentilah bertingkah bagaikan manusia sempurna yang tanpa cacat dan dosa

    • 12 Oktober 2021 - (11:57 WIB)
      Permalink

      Emang anda manusia suci @Isadebe? Pakai akun palsu dan foto palsu aja bangga anda. Apa bedanya ada sama maling? Jadi maling koq bangga

  • 12 Oktober 2021 - (10:17 WIB)
    Permalink

    Isthebe
    I like you
    Banyak yg ngumbar aib di media konsumen, gitu bangga lagi, TOLONG KALIAN TULIS DI OTAK KALIAN HUTANG DI BAYAR BUKAN NGELUH DI MK
    Jangan harap minta keringanan udh ada prosedur nya ya jurus tanggung jawab

    10
    • 12 Oktober 2021 - (11:23 WIB)
      Permalink

      @agi,situ yang tulis ucapan situ di otak sejak kapan hutang disebut aib?wkwkwk sama2 bodoh

    • 12 Oktober 2021 - (18:57 WIB)
      Permalink

      @Dewi Kartika Sari
      Lebih baik jangan bagikan nomer hp anda , karena sangat berbahaya.
      Bisa saja ada psikopat yang akan menelepon anda untuk sekedar iseng atau ada penipu yg mau menipu anda mengatasnamakan dari Standard Chartered.
      Berhati hati lah..

 Apa Komentar Anda mengenai Standard Chartered Bank?

Ada 16 komentar sampai saat ini..

Bagian Collection Standard Chartered Susah Sekali Dihubungi, Bagaimana…

oleh Dewi KS dibaca dalam: 1 menit
16