Keluhan Surat Pembaca Keputusan Sepihak dari Early Learning Centre (ELC) Summarecon Bekasi 13 Maret 202513 Maret 2025 Vivi Ristanti 17 Komentar Customer complaint handling, Customer Service, Early Learning Centre (ELC), Kebijakan pengembalian barang, Kemasan rusak, mainan anak, rusak berarti membeli, Syarat dan Ketentuan, Transparansi Informasi Ikuti di Google Berita Sumber Pilihan di Google Pada tanggal 9 Maret 2025, saya dan keluarga datang ke gerai ELC Summarecon Mall Bekasi. Di situ terdapat display mainan kitchen set yang dapat dimainkan pengunjung ELC. Namun, tidak berapa lama, anak saya yang sedang bermain tanpa sengaja merobek karton pembungkus mainan yang masih baru dan letaknya ada di sebelah display mainan. Kemudian tidak lama, salah satu penjaga toko meminta saya untuk membayar barang tersebut, dengan alasan kebijakan toko. Mereka juga mengatakan bahwa berdasarkan pengalaman, barang dengan kemasan rusak agak sulit terjual dan pihak toko bisa nombok. Saya coba sekilas melihat sekeliling toko, tetapi tidak menemukan adanya pengumuman/informasi yang menyatakan bahwa merusak kemasan berarti membeli. Maka dari itu, saya sangat kecewa terkait keputusan sepihak yang diberikan oleh pihak toko ELC tersebut. Saya sempat mengatakan kepada penjaga toko bahwa kemasan yang rusak tidak banyak dan juga tidak ada informasi dari toko mengenai kebijakan tersebut. Namun, pihak penjaga toko tetap meminta saya untuk membayar produk tersebut. Mengingat anak saya sudah mengantuk, maka saya putuskan untuk membayar produk tersebut. Sesampainya di rumah, saya mencoba menghubungi pihak CS ELC untuk meminta pengembalian uang, karena saya merasa ini adalah keputusan sepihak dari pihak toko. Namun, tetap tidak ada solusi dari pihak ELC/Mothercare untuk masalah ini, dan pihak CS menyampaikan bahwa itu adalah kebijakan toko. Jika memang itu merupakan kebijakan toko, mengapa tidak ada tanda informasi yang seharusnya disosialisasikan kepada pengunjung/pelanggan bahwa merusak kemasan berarti membeli? Dengan ini, saya menyampaikan keberatan dan kekecewaan saya, serta saya meminta pihak ELC agar dapat mengembalikan uang yang sudah saya bayarkan. Terima kasih. Vivi Ristanti Kota Bekasi, Jawa Barat Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
tobias_boon13 Maret 2025 - (12:40 WIB)Permalink Dari fotonya saya melihat sudah ada coak/ robek pada bagian atas kemasannya, dari POV pembeli saya juga akan memilih kemasan yang baik dan kemungkinan besar kemasan yang rusak tidak akan laku terjual. Poin baiknya, barang tersebut bisa digunakan anak ibu untuk bermain dirumah. Semoga kita lebih berhati2 saat menjaga anak2 saat di Mall, terutama barang2 pecah belah. Semoga Ibu Vivi dilimpahkan rezekinya. 2 Login untuk Membalas
kris13 Maret 2025 - (13:25 WIB)Permalink “Jika memang itu merupakan kebijakan toko, mengapa tidak ada tanda informasi yang seharusnya disosialisasikan kepada pengunjung/pelanggan bahwa merusak kemasan berarti membeli?” Sekarang saya balik ke Ibu Apabila ibu membeli sebuah produk, Ibu memilih packaging yang utuh atau packaging yang sudah sobek?? Konteksnya harganya sama saja tidak ada selisih Di logika aja, pasti memilih packaging yang baik kan? Pernyataan kebijakan toko atas “Sulitnya utk dijual” sudah benar adanya Diambil sisi positifnya aja Hitung2 beliin utk anak juga 1 Login untuk Membalas
Suprapto13 Maret 2025 - (17:35 WIB)Permalink Bener2 tidak tahu diri emang ya. Masa sesuatu yg logis dan sederhana bahwa merusak kemasan berarti membeli saja masih harus disosialisasikan. Heran dengan pemikiran Ibu Vivi ini. Tipe orang tua seperti ini yg tidak mendidik anaknya menjadi seorang pribadi yg benar, ketika anak berbuat salah selalu menggunakan prinsip: ya namanya juga anak-anak. Tolong dimaklumi. Login untuk Membalas
Hasan Danakum13 Maret 2025 - (14:02 WIB)Permalink Tidak perlu ada tulisan atau peringatan apa pun. Karena sejatinya kebijakan “Merusak berarti membeli” itu sudah jadi peraturan tak tertulis yang diterapkan di semua toko ritel. 2 Login untuk Membalas
Kevin13 Maret 2025 - (14:29 WIB)Permalink Yaelah buk buk 150rb doank anggap aja beliin kado buat anak… kalau nominal segitu aja keberatan lain kali bawa anak main ke pasar malam aja Bu jangan ke mall,, nanti tangan anak Ibu yg lasak malah orang lain yang dirugikan.. 2 1 Login untuk Membalas
Kevin14 Maret 2025 - (09:09 WIB)Permalink Oh ia ad 0 nya nyempil satu dibawah haha.. ya mau gmn lagi anggap lah biaya pelajaran untuk didik anaknya biar ga lasak lagi hahahaha Login untuk Membalas
Agus13 Maret 2025 - (15:21 WIB)Permalink Gimana si bu pola pikir nya .. Sekarang di balik, ibu mau gak beli barang packing nya udah rusak ?? Jelas gak mau kan , otomatis barang jadi gak terjual .. wajar ibu harus ganti karna kelalaian ibu 2 Login untuk Membalas
Honda16 Maret 2025 - (10:59 WIB)Permalink Itu toko yg punya juga pengen cepet naik haji.. Mainan apaan tuh harga Rp 1,5 juta tapi kemasannya cuma karton + bungkus kantong plastik. Ditarohnya di display yg gampang diraih anak, bgitu rusak minta ganti. Mungkin ini trik marketing krn kalo nunggu pembeli asli bisa sampe kiamat cuma 1-2 orang aja yg mau beli barang bgituan. Jual barang rongsokan di mall untung gede. Tapi si ibu juga jangan komplain krn gimanapun juga kalo ngerusak barang di toko ya kita harus ganti. Login untuk Membalas
Jerry M13 Maret 2025 - (20:54 WIB)Permalink Yah bu.. masa yang kaya gini dimasukin ke media konsumen. Kan udah jelas salah. Ya pasti malah jadi kena kritik pembaca lain lah. 1 Login untuk Membalas
Rio14 Maret 2025 - (01:50 WIB)Permalink “merusak adalah membeli” itu adalah kebijakan internal disetiap toko meskipun gak ada peraturan di perusahaan tapi jika ada barang yang cacat itu jdi tanggung jawab pihak toko bisa bisa karyawan nya kena sp dan tentu jika ibu tidak membayar nya karyawan yang jatuh nya nombok/membayarnya, dan satu lagi itu karena kelalaian ibu sendiri Login untuk Membalas
Ika14 Maret 2025 - (13:14 WIB)Permalink bu,ada pengalaman yang gratis di dapat.. tapi ibu harus tau, ada juga pengalaman yang harus bayar.. contoh nya pengalaman yang ibu dapat ini HARUS ibu bayar 1,5juta.. pengalaman yang sangat “berharga”, yang arti nya jangan sampai terulang kembali.. ibu harus tau, kalau bawa anak ke lokasi asing, 99,99% itu anak tanggung jawab ibu untuk menjaga, yang punya lokasi hanya 0,01%, hanya memastikan bahwa lokasi nya itu ramah anak.. jadi jangan main lepas aja dan ibu jadi lengah ya.. 1 Login untuk Membalas
Abby15 Maret 2025 - (12:24 WIB)Permalink Perbuatan merusak barang milik orang lain itu melanggar hukum. Masa melanggar KUHP masih perlu ditulis juga? Kalau saya tampar dan tonjok ibu, lalu bilang “kan nggak ditulis di jidat ibu nggak boleh tampar dan tonjok”, apa itu valid? Otak itu dipake buat mikir. Ibu ini nggak diajarin orang tuanya ya? Jadi terpaksa masyarakat yang ngajarin? Heran IQ begini kok masih berkeliaran. Media konsumen juga gimana sih yang kayak gini dimuat? 3 Login untuk Membalas
Udin Alfin16 Maret 2025 - (08:24 WIB)Permalink Setelah di baca dan di pahami kita ambil kesimpulan gini : 1. Ajarkan Anak Tanggung Jawab 2. Sebagai orangtua kita harus edukasi mana barang milik orang lain mana barang milik kita Saya kasih contoh kecil dan anda pun bisa paham. Ada Trotoar yang di khususkan untuk pejalan kaki tapi kenapa masih banyak sepeda motor naik ke trotoar yang notabe KHUSUS PEJALAN KAKI apa kita harus pasang pemberitahuan MOTOR DILARANG NAIK TROTOAR supaya orang tau tentu tidak karena kita pun tau aja jalur KHUSUS PEJALAN KAKI DAN JALUR SEPEDA MOTOR Login untuk Membalas
Usep16 Maret 2025 - (09:03 WIB)Permalink bu, sebaik nya anak ibu di ajak main di pantai sisi laut pangandaranaja ya….. disana mau acak2 pasir, mau sobek2karang atau mau gulung gulung ombak juga ga apa2 kok … dijamin ga kena masalah ini deh … oke Login untuk Membalas
Honda16 Maret 2025 - (11:02 WIB)Permalink Itu toko yg punya juga pengen cepet naik haji.. Mainan apaan tuh harga Rp 1,5 juta tapi kemasannya cuma karton + bungkus kantong plastik. Ditarohnya di display yg gampang diraih anak, bgitu rusak minta ganti. Mungkin ini trik marketing krn kalo nunggu pembeli asli bisa sampe kiamat cuma 1-2 orang aja yg mau beli barang bgituan. Jual barang rongsokan di mall untung gede. Tapi si ibu juga jangan komplain krn kalo kita rusak barang di toko ya memang harus ganti Login untuk Membalas
Honda16 Maret 2025 - (11:11 WIB)Permalink Sy juga pernah ke sebuah supermarket dimana gelas gelas mahal tapi display nya itu tanpa kemasan seperti sengaja ditaruh di ujung rak bagian bawah yg gampang skali kesenggol kaki atau ketabrak troli keranjang belanja. Bukankah Ini trik supaya kalo pecah bisa minta ganti? Jadi kan lumayan tuh krn kalo nunggu ada yg mau beli bisa berbulan bulan baru ada orang mau beli gelas dgn harga sangat mahal seperti itu. Nah toko mainan ini juga sama, barang rongsokan dibandrol harga Rp 1,5 juta cuma pake kmasan karton mudah sobek dibungkus kantong plastik tipis sengaja ditaruh di rak yg gampang diraih anak anak. Mana tau ada yg rusak tentu bisa minta ganti. Kan lumayan tuh artinya ada yg “beli” Ktimbang gak laku dikerubungi laler tuh mainan. Jadi ortu harus waspada kalo bawa anak kecil masuk ke toko apapun krn bnyak trik kotor dilakukan owner yg pengen untung gede jual barang rongsokan dgn harga tinggi. Krn kalo bner kita ga sengaja bikin rusak ya mau ga mau kita memang wajib ganti. Login untuk Membalas