CT-Scan Urography Saya Menggunakan Citra Tubuh Pasien Lain, Bagaimana Bisa Terjadi?

Saya adalah pasien yang sudah hampir dua tahun menjalani pengobatan terkait batu ureter kiri dan pada saat kejadian masih terpasang DJ-stent pada ureter kiri.

Sebelum datang ke Primaya Hospital Tangerang untuk mendapatkan second opinion, pada 15 April 2026 saya telah menjalani pemeriksaan CT-Scan di rumah sakit lain di Jakarta. Pada awalnya, dokter DPJP Urology di Primaya Hospital Tangerang menyampaikan bahwa hasil CT-Scan tersebut masih dapat digunakan sebagai bahan evaluasi.

Namun, dalam proses pelayanan selanjutnya, saya kemudian diminta menjalani CT-Scan Urography kembali untuk mendapatkan gambaran kondisi yang lebih jelas dan membantu menentukan penatalaksanaan medis yang tepat. Saya mengikuti arahan tersebut dan menjalani CT-Scan Urography di Primaya Hospital Tangerang pada 24 Juni 2026 sekitar pukul 19.00 WIB.

Hasil CT-Scan Saya Justru Menunjukkan Kondisi di Ureter Kanan

Pada 25 Juni 2026 sekitar pukul 01.06 WIB, saya menerima laporan/bacaan radiologi melalui email. Saya terkejut ketika membaca hasil tersebut.

Selama ini saya menjalani pengobatan karena batu ureter kiri dan pada saat itu masih terpasang DJ-stent pada ureter kiri. Namun, laporan CT-Scan yang saya terima justru menyebutkan adanya batu pada ureter kanan, disertai gambaran hidroureter dan hidronefrosis kanan.

Awalnya saya merasa heran dan mempertanyakan mengapa hasil tersebut berbeda dengan hasil pemeriksaan sekitar dua bulan sebelumnya. Saya bahkan sempat mengira telah terjadi perubahan pada kondisi medis saya. Ketika menerima laporan tersebut, saya merasa frustrasi, stres, dan sangat terbebani karena muncul kekhawatiran bahwa penyakit saya telah bertambah dan kondisi saya menjadi lebih buruk.

Namun, saat menjalani kontrol pada 6 Juli 2026, saya kemudian mengetahui bahwa persoalannya bukan sekadar perbedaan hasil pemeriksaan. Citra CT-Scan yang menjadi dasar laporan tersebut ternyata merupakan citra pemeriksaan tubuh pasien lain.

Yang membuat persoalan ini semakin serius, laporan tersebut menggunakan nama saya, nomor rekam medis saya, dan tanggal lahir saya, tetapi citra yang menjadi dasar pembacaannya ternyata bukan citra tubuh saya.

Bagaimana Bisa Terjadi?

Saya Kemudian Menjalani CT-Scan Ulang

Setelah mengetahui kejadian tersebut, saya meminta penjelasan kepada pihak Radiologi Primaya Hospital Tangerang. Dalam pertemuan dengan petugas Radiologi, saya mendapatkan informasi bahwa pertukaran citra tersebut terjadi karena kendala sistem. Saya kemudian disarankan menjalani pemeriksaan CT-Scan Urography ulang. Saya mengikuti arahan tersebut dan menjalani pemeriksaan ulang pada 6 Juli 2026.

Hasil pemeriksaan ulang menunjukkan kondisi yang berbeda. Dalam laporan tersebut tercatat adanya DJ-stent dari buli ke ureter kiri, sesuai dengan kondisi saya. Sementara pada ureter kanan disebutkan tidak tampak batu maupun dilatasi ureter kanan.

Perbedaan tersebut membuat saya semakin ingin mengetahui bagaimana pemeriksaan pertama bisa menghasilkan laporan berdasarkan citra tubuh pasien lain.

Penjelasan Pihak Rumah Sakit Berbeda

Dalam proses meminta penjelasan, saya memperoleh keterangan yang berbeda dari pihak rumah sakit. Pihak Radiologi menyebut “kendala sistem”.

Sementara dari pihak Humas/Manajemen, saya memperoleh penjelasan bahwa kejadian tersebut merupakan human error. Saya tidak ingin menyimpulkan sendiri apakah penyebabnya adalah sistem, kesalahan input, pengaitan data, atau tahapan lainnya.

Sebagai pasien, saya hanya ingin mengetahui:

Pada tahapan mana citra tubuh pasien lain dapat terhubung dengan identitas saya sehingga kemudian menjadi dasar laporan CT-Scan atas nama saya?

Direktur Primaya Hospital Tangerang Menyatakan Pelayanan Sesuai SPO

Saya kemudian menyampaikan pengaduan secara resmi kepada Direktur Primaya Hospital Tangerang.

Melalui Surat Nomor 536/EKS/DIR/PT.FGM-PHTA/VII/2026 tanggal 27 Juli 2026, pihak Direktur pada pokoknya menyatakan bahwa pelayanan yang diberikan kepada saya telah dilakukan sesuai Standar Prosedur Operasional (SPO), serta menyatakan tidak ada data yang tertukar. Selain itu, dalam surat tersebut juga dinyatakan bahwa keutuhan data saya masih tersedia dalam Rekam Medis. Saya menghargai adanya tanggapan tertulis dari pihak rumah sakit.

Namun, pernyataan tersebut justru menimbulkan pertanyaan yang bagi saya sangat sederhana:

  1. Jika tidak ada data yang tertukar, mengapa harus dilakukan CT-Scan ulang tanggal 6 Juli 2026?
  2. Jika pelayanan telah dilakukan sesuai SPO, bagaimana citra tubuh pasien lain dapat menjadi dasar laporan CT-Scan atas nama saya?

Saya ingin mengetahui bagaimana proses identifikasi pasien, pengaitan identitas dengan citra CT-Scan, proses pembacaan Radiologi, hingga penerbitan laporan dilakukan sehingga kejadian seperti ini dapat terjadi.

Lalu, Di Mana Citra CT-Scan Saya Tanggal 24 Juni?

Setelah menerima surat Direktur tersebut, pada tanggal 5 Agustus 2026 saya kembali mendatangi Primaya Hospital Tangerang dan secara resmi meminta citra asli CT-Scan Urography tanggal 24 Juni 2026. Atas permintaan tersebut, saya diminta membayar biaya pengadaan CD sebesar Rp38.000,00 (tiga puluh delapan ribu rupiah). Setelah pembayaran di cashier, saya kemudian diarahkan ke bagian Urology dan diberikan sebuah CD dengan label “Foto: CT.260624.200”.

Sebelum menerima CD tersebut, saya kembali melakukan konfirmasi kepada petugas Radiologi mengenai isi CD yang akan saya terima. Saya secara khusus menanyakan apakah CD tersebut berisi citra asli CT-Scan tanggal 24 Juni 2026. Petugas Radiologi kemudian mengonfirmasi bahwa CD tersebut merupakan citra CT-Scan tanggal 24 Juni 2026 dan menunjukkan keterangan “CT.260624.200” yang tercantum pada label CD sebagai dasar konfirmasi tersebut.

Dengan adanya konfirmasi dari petugas Radiologi, saya menerima CD itu dengan keyakinan bahwa isinya merupakan citra asli pemeriksaan CT-Scan tanggal 24 Juni 2026, sebagaimana yang sejak awal saya minta.

Namun, setelah saya periksa, isi CD tersebut ternyata merupakan citra CT-Scan tanggal 6 Juli 2026, yaitu pemeriksaan ulang. Padahal, citra asli pemeriksaan tanggal 6 Juli 2026 tersebut sudah saya terima sesaat setelah pemeriksaan ulang selesai. Artinya, CD yang diberikan kepada saya bukanlah citra CT-Scan tanggal 24 Juni 2026 yang saya minta, melainkan data pemeriksaan ulang yang sebelumnya sudah saya miliki. Saya kembali meminta penjelasan kepada pihak rumah sakit melalui pesan WhatsApp ke petugas Customer Care.

Saya kemudian memperoleh informasi bahwa citra CT-Scan tanggal 24 Juni 2026 tidak dapat diberikan karena telah digantikan dengan pemeriksaan tanggal 6 Juli 2026. Jawaban tersebut justru menimbulkan pertanyaan bagi saya. Sebab, dalam surat Direktur sebelumnya dinyatakan bahwa keutuhan data saya masih tersedia dalam Rekam Medis.

Karena itu, saya ingin mendapatkan kepastian mengenai status citra asli CT-Scan tanggal 24 Juni 2026:

  1. Apakah citra asli tersebut masih tersimpan dalam sistem atau arsip rumah sakit?
  2. Jika masih tersimpan, apakah citra tersebut masih dapat diakses dan diberikan salinannya kepada saya sebagai pasien?
  3. Jika tidak dapat diberikan, apa alasan dan status sebenarnya dari citra tersebut?

Saya tidak bermaksud membuat kesimpulan bahwa data tersebut telah dihapus atau dimanipulasi. Saya hanya ingin memperoleh kepastian mengenai keberadaan, status, dan akses terhadap citra pemeriksaan saya sendiri, terlebih karena sebelumnya pihak Direktur telah menyatakan bahwa keutuhan data saya masih tersedia dalam Rekam Medis.

Mengapa Persoalan Ini Penting?

Saya bersyukur ketidaksesuaian tersebut diketahui sebelum hasil yang keliru digunakan untuk melakukan tindakan medis. Tetapi justru karena hal tersebut diketahui, saya mempertanyakan:

  • Bagaimana jika pasien tidak menyadarinya?
  • Bagaimana jika hasil tersebut dipercaya begitu saja?
  • Bagaimana jika hasil tersebut digunakan sebagai dasar untuk menentukan tindakan medis?

Bagi saya, persoalan ini bukan sekadar mengenai salah membaca hasil CT-Scan.

Dalam kasus yang saya alami, identitas saya tercantum dalam laporan, tetapi citra yang menjadi dasar laporan ternyata merupakan citra tubuh pasien lain. Karena itu, saya berharap persoalan ini tidak berhenti pada istilah “human error”, tetapi dapat dijelaskan secara transparan: bagaimana kejadian tersebut bisa terjadi dan bagaimana sistem rumah sakit memastikan kejadian serupa tidak terjadi kepada pasien lain.

Yang Saya Minta dari Primaya Hospital Tangerang

Saya tidak meminta pihak rumah sakit mengakui sesuatu yang belum terbukti.

Sebagai pasien dan konsumen, saya hanya meminta penjelasan yang jelas, jujur, dan konsisten mengenai:

  1. Bagaimana citra tubuh pasien lain dapat terhubung dengan identitas saya?
  2. Pada tahapan mana pertukaran tersebut terjadi?
  3. Mengapa terdapat perbedaan penjelasan mengenai penyebab kejadian?
  4. Bagaimana status citra asli CT-Scan tanggal 24 Juni 2026?
  5. Jika data tersebut masih tersedia sebagaimana dinyatakan dalam surat Direktur, bagaimana saya sebagai pasien dapat memperoleh salinannya?

Bagi pasien, CT-Scan bukan sekadar gambar di dalam komputer dan bukan sekadar laporan di atas kertas. Di balik hasil pemeriksaan terdapat keputusan medis. Dan di balik keputusan medis terdapat keselamatan pasien.

Saya berharap pengalaman yang saya alami dapat menjadi evaluasi bagi Primaya Hospital Tangerang dan menjadi pelajaran bagi fasilitas pelayanan kesehatan lainnya agar identitas pasien dan citra pemeriksaan tidak kembali tertukar.

Menurut Anda sebagai konsumen/pasien: jika hasil CT-Scan atas nama kita ternyata menggunakan citra tubuh pasien lain, apakah cukup dijelaskan sebagai “kendala sistem/human error”? Atau rumah sakit perlu memberikan penjelasan lebih jauh mengenai bagaimana kesalahan tersebut bisa terjadi?

Rio
Jakarta Barat

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.

Surat pembaca ini belum mendapatkan tanggapan dari pelaku usaha terkait. Jika Anda adalah pelaku usaha yang terkait dengan pertanyaan/permohonan/keluhan di atas, silakan berikan tanggapan resmi melalui tautan di bawah ini:

Kirimkan Tanggapan

 Apa Komentar Anda?

Belum ada komentar.. Jadilah yang pertama!

CT-Scan Urography Saya Menggunakan Citra Tubuh Pasien Lain, Bagaimana …

oleh Rio Santosa ButarButar ⏱ waktu baca: 5 menit
0