Usulan untuk Proses Unlink Aplikasi Jenius Bank BTPN

Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Redaksi Media Konsumen yang telah bersedia memuat surat pembaca saya. Saya adalah salah seorang nasabah Jenius Bank BTPN yang untungnya sampai saat ini belum pernah mengalami masalah unlink Jenius. Namun saya ingin menyampaikan usul kepada Bank BTPN berkaitan dengan proses unlink Jenius BTPN yang banyak sekali dikeluhkan para pengguna.

Bermula dari maraknya pemberitaan tentang bobolnya akun Jenius para nasabah seperti yang ada di screenshot dari berita-berita yang saya sertakan:

Dari kasus-kasus yang saya baca, mayoritas memang ada unsur kelalaian nasabah yakni mengisi data lengkap berikut OTP ke halaman phishing. Walaupun ada juga hal yang agak mengherankan, yakni para penipu ini bisa menyebut data detil para nasabah. Data tersebut termasuk nama lengkap, nomor rekening, nomor hp, alamat, bahkan nomor kartu debit Jenius para korban.

Belajar dari kejadian-kejadian ini, pihak Jenius mulai memberlakukan aturan bahwa 1 akun hanya dapat diakses dari 1 perangkat. Sebenarnya hal ini bukan sesuatu yang aneh, karena aplikasi bank-bank
lain pun banyak yang memperlakukan aturan seperti ini.

Pada awal aturan ini diberlakukan, maka sebelum proses pindah device, nasabah dapat melakukan proses unlink secara mandiri dengan cara melakukan proses unlink di hp lama dimana aplikasinya ter-install. Setelah selesai, nasabah bisa melakukan proses install di hp barunya. Selain itu proses unlink bisa dilakukan melalui website Jenius (yang sekarang sudah dinonaktifkan).

Namun pada perjalanannya ternyata hal ini dianggap belum cukup aman oleh pihak Jenius. Sehingga untuk melakukan proses unlink, maka nasabah harus telpon ke call center Jenius (tarifnya premium/mahal dan untuk terhubung ke CS, menurut pengalaman saya pribadi dan curhat nasabah di twitter, memang memerlukan perjuangan tersendiri karena lama sekali baru bisa terhubung ke CS). Para nasabah, selain harus dapat menyebutkan data-data standar seperti nama, nomor hp, alamat, alamat email dll, juga harus bisa menyebut jumlah persis saldo terakhir dari rekening utama, flexi saver, bahkan detil transaksi terakhir.

Sebenarnya hal ini tidak bermasalah kalau saat menelpon CS, akun Jenius masih ter-install di HP lama. Namun pada kenyataannya, kebanyakan nasabah menelepon dalam keadaan akun Jenius sudah tidak bisa dibuka, baik karena ganti hp, install ulang, upgrade sistem operasi dll. Sehingga amatlah sulit bagi nasabah untuk mengingat secara persis angka-angka detil di akun tersebut

Karena hal ini, banyak nasabah yang terpaksa harus datang ke cabang Bank BTPN ( yang jumlahnya pun tidak terlalu banyak dibanding bank-bank Buku IV yang tersebar merata di berbagai wilayah ) di masa Pandemi Covid 19 – PPKM, untuk mencetak rekening koran. Lalu dari pihak CS cabang akan menyambungkan nasabah ke CS Jenius.

Anehnya setelah nasabah menelepon ke CS Jenius menggunakan nomor teelpon Kantor Cabang BTPN dan sudah mampu menyebutkan semua data-data lengkap termasuk detil transaksi. Namun hal ini bukan berarti proses berjalan mulus seperti yang dapat dilihat di video yang viral di Youtube.

Setelah video menjadi viral, barulah pihak Jenius yang berinisiatif menghubungi nasabah dan masalah pun terselesaikan.

Untuk keluhan-keluhan nasabah tentang proses unlink ini bisa dilihat dari cuitan twitter yang gambarnya saya sertakan. Kalau dihitung, hampir setiap hari ada lebih dari 10 keluhan ke pihak Jenius mengenai proses unlink ini.

‌Dalam hal ini saya ingin menyampaikan usul kepada Bank BTPN mengenai proses unlink. Saya usulkan bahwa proses unlink sebaiknya dihilangkan saja. Namun saat nasabah dalam proses login akun di Hp baru/habis install ulang aplikasi, maka fisik SIM Card dari nomor hp yg terdaftar WAJIB ada di dalam HP tempat akun akan proses login. Hal ini sudah lama dilakukan oleh aplikasi Octomobile – CIMB, Livin’ – Mandiri, BSM-BSI Mobile, dll.

Sehingga walaupun nantinya oknum penipu sudah berhasil mendapatkan informasi email, password dan OTP, tapi sang penipu tetap tidak akan bisa login ke akun korban karena fisik Sim Card ada di tangan korban. Sedangkan untuk Website menurut pendapat saya tidak masalah dinonaktifkan demi keamanan

Hal ini untuk mengurangi keluhan yang banyak sekali dialami oleh para nasabah Jenius berkaitan dengan proses login di hp baru atau reinstall aplikasi. Bahkan ada pameo yang beredar bahwa Jenius adalah bank digital yang ribetnya jauh di atas bank konvensional, selain juga mengenakan biaya admin/fee yang sama dengan bank konvensional

‌Demikian usulan saya semoga bisa menjadi masukan untuk Pihak Jenius.

Christianto Hardono
Jakarta Barat

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Berikan penilaian mengenai Jenius:
[Total:27    Rata-Rata: 2.3/5]
Tanggapan Bank BTPN atas Surat Pembaca a.n. Christianto Hardono

Jakarta, 30 Agustus 2021 Dengan hormat, Menanggapi surat pembaca dari Saudara Christianto Hardono berjudul “Usulan untuk Proses Unlink Aplikasi Jenius...
Baca Selengkapnya

4 komentar untuk “Usulan untuk Proses Unlink Aplikasi Jenius Bank BTPN

  • 22 Agustus 2021 - (19:10 WIB)
    Permalink

    Setuju. Harusnya seperti bank2 lain. Aplikasi bisa di instal di hp baru jika sim card yg terdaftar ada di hp tersebut selain saat instal aplikasi di hp baru tetap hsrus isi data detail seperti nomor kartu debit, nomor rekening, tanggal lahir, masa berlaku kartu debit, cvv dll

  • 22 Agustus 2021 - (23:44 WIB)
    Permalink

    Programer yg buat aplikasi nya ******, harusnya dari awal nerapkan sistem kayak BCA, SIM Card harus terpasang di HP. Trus penggantian nomor HP baru wajib ke BANK. Jd gak kena hack… Selain OTP tambahin MPIN juva setiap transaksi.

  • 30 Agustus 2021 - (00:34 WIB)
    Permalink

    Bank paling pintar sampai dicariin solusi masalah sama nasabah wkwkwk sungguh dung dung sekali

    Ada benarnya hp dan nomer hp harus sinkron; Jika salah satu diganti karena hilang atau rusak maka harus verifikasi “pengenalan wajah” (prinsip mengenali pengguna jasa).

    Sedangkan kalau keduanya ganti (hp dan nomer hp) maka harus verifikasi “face recognition” dan minimal masa tenggang transaksi 2×24 jam sebagai pengganti suket kehilangan dari polisi pada bank konvensional.

    Bank konvensional sudah bagus sistemnya, tinggal diadaptasi ke digital.

    Pertanyaan tantangan yang terlalu sulit sampai detail 3 digit transaksi terakhir itu sih memang tidak masuk akal, orang bodoh pun tahu ini; Simply karena CS kurang training, kurang tinggi gajinya atau ya sangat bisa jadi itu kemungkinannya memang grand scheme of everlasting perfect crime (kalo emang ada indikasi dipelihara)

    Tapi masalahnya mungkin tak semudah itu. Jenius BTPN pertama harus mengakui dulu ada kelemahan pada sistemnya sampai memakan korban begitu banyak sekian lamanya dibiarkan saja.

    Dari pengalaman saya sendiri, ini manajemennya sangat pongah, lebih memilih sok aman sok suci tanpa dosa ketimbang jujur mengakui apa adanya malahan menyalahkan korban. Praktik apa itu namanya dalam bisnis kepercayaan? Nasabahmu sekarang musuhmu!

    ==========================

    Sebuah cerita klasik:

    Ketika terjadi perampokan bank di GuangZhou, China … perampok bank berteriak kepada semua orang di bank:
    “Semua tiarap di lantai dan jangan melawan, uang ini kepunyaan bank tapi nyawa kalian kepunyaan kalian !”

    Semuanya terdiam dan mengikuti arahan perampok dengan tanpa perlawanan.

    Ketika seorang wanita bertiarap di atas meja dengan gaya yang menggoda, perampok akan segera berkata:
    “Yang sopan, ini perampokan bukan perkosaan!”

    Ketika perampok kembali ke markas, perampok muda memberitahu kepada perampok yang lebih tua:
    “Taiko, mari kita hitung berapa duit kita dapat !”

    Perampok tua menyangkal dan berkata:
    “Kau ini bodoh, terdapat banyak uang, sampai kapan kita akan dapat selesai menghitungnya ? malam ini kita lihat berita di TV, pasti kita tahu berapa jumlah rampokan dari berita !”

    Usai perampokan, pengurus bank mengarahkan karyawannya untuk memanggil polisi dengan cepat, tetapi ia menimpali:
    “Tunggu, mari kita ambil 10 milyar untuk kita bagi-bagi ditambah 70 milyar yang sudah kita gelapkan dari bank !”

    Salah seorang karyawan berkata:
    “Alangkah baiknya jika perampokan terjadi setiap bulan, dapatlah kita gelapkan uang terus!”

    Keesokan harinya berita TV melaporkan bahwa 100 milyar telah dirampok. Perampok menghitung, menghitung dan menghitung hasil rampokannya hingga berulang kali, ternyata mereka hanya dapat uang 20 milyar saja.

    Perampok sangat geram:
    “Celaka, kita mempertaruhkan nyawa dan hanya mendapatkan 20 milyar, sedangkan pengurus bank mengambil 80 milyar dengan kepintarannya, nampaknya lebih baik menjadi orang pintar dari pada menjadi perampok.”

    Pengurus bank tersenyum dan gembira.

    ======================

 Apa Komentar Anda mengenai Jenius?

Ada 4 komentar sampai saat ini..

Usulan untuk Proses Unlink Aplikasi Jenius Bank BTPN

oleh CHRISTIANTO HARDONO dibaca dalam: 3 menit
4