Ilustrasi Hati-Hati Headline Keluhan Surat Pembaca Transaksi QRIS Rp8 Juta Tetap Dianggap Sah, Meski Fisik Kartu Kredit Mandiri Belum Diterima 3 Maret 20263 Maret 2026 Muhibbun 32 Komentar Aktivasi kartu kredit, Bank Mandiri, Call Center, Customer complaint handling, Customer Service, Data nasabah, Fraud, Fraud Kartu Kredit, GoPay, GoPay Merchant, Investigasi transaksi, Kartu Kredit Bank Mandiri, Kartu Kredit Mandiri, Kartu kredit virtual, Keamanan kartu kredit, kebocoran data, Livin Mandiri, Merchant QRIS, Mobile Banking, Modus Penipuan, Pencucian Uang, Pencurian data, Pengajuan kartu kredit, Pengiriman Kartu Kredit Bank Mandiri, Penipuan, Penyalahgunaan data, perlindungan data pribadi, QRIS, sanggahan transaksi, Sanggahan Transaksi Kartu Kredit, Sistem keamanan, Social Engineering, SOP, Standard Operating Procedures, Tagihan kartu kredit, Verifikasi Data, Virtual Card Number Ikuti di Google Berita Sumber Pilihan di Google Saya adalah nasabah Bank Mandiri yang baru saja mendapatkan persetujuan untuk pengajuan kartu kredit melalui aplikasi Livin’ by Mandiri pada tanggal 16 September 2025. Sampai surat ini ditulis, saya belum menerima kartu fisik tersebut. Selain itu, kartu ini sudah mengalami dua kali status gagal kirim, dengan status gagal kirim pertama pada tanggal 15 Oktober 2025 dan gagal kirim kedua pada tanggal 1 Februari 2026. Namun, pada tanggal 19 November 2025 (saat kartu kredit sudah berstatus gagal kirim), terjadi transaksi ilegal sebesar Rp8.000.000 di merchant Digital Exchange (GoPay) menggunakan kartu kredit tersebut. Transaksi ini terjadi setelah saya berkomunikasi dengan seseorang yang mengaku sebagai petugas bank melalui telepon/WA yang memanipulasi saya (social engineering). Oknum tersebut mengaku pihak dari Bank Mandiri yang melakukan konfirmasi untuk pengiriman ulang kartu kredit. Oknum tersebut mengkonfirmasi apakah alamat pengiriman masih alamat yang sama, dengan menyebutkan alamat yang telah diajukan sebelumnya. Setelah melakukan konfirmasi untuk pengiriman ulang kartu kredit Mandiri, oknum tersebut kemudian menawarkan kenaikan limit kartu kredit serta menawarkan skema power cash. Kemudian dia mengirim kode QRIS untuk dipindai melalui aplikasi Livin by Mandiri, sehingga terjadilah transaksi dengan nominal Rp8.000.000 tersebut. Transaksi terjadi melalui kartu kredit Mandiri virtual yang disematkan secara otomatis pada aplikasi Livin by Mandiri, sedangkan fisik kartu kredit mandiri berstatus gagal kirim. Terkait kartu kredit Mandiri virtual yang disematkan secara otomatis, saya selaku nasabah tidak pernah mendapatkan informasi atau pemberitahuan terkait adanya kartu kredit Mandiri virtual. Poin Keberatan Keamanan Kartu Virtual: Bagaimana mungkin kartu yang fisiknya belum saya terima dan belum saya aktivasi secara fisik, sudah bisa digunakan untuk transaksi dengan jumlah besar? Fitur kartu virtual yang langsung aktif tanpa konfirmasi penerimaan kartu fisik sangat berisiko bagi nasabah. Kebocoran Data: Ada indikasi kebocoran data distribusi, karena pelaku mengetahui bahwa saya sedang menunggu pengiriman kartu fisik Mandiri. Penolakan Sanggahan Saya telah melaporkan kejadian ini ke Mandiri Call 14000 dengan nomor pelaporan: 176659357731. Namun pihak Bank Mandiri menolak sanggahan saya dengan alasan transaksi dianggap sah melalui otentikasi aplikasi. Sebagai konsumen, saya merasa sangat kecewa dan dirugikan karena bank seolah lepas tangan terhadap risiko yang muncul dari fitur digital mereka sendiri, sementara kendali fisik kartu masih berada di tangan pihak ketiga (kurir) yang bahkan telah berstatus gagal kirim. Melalui surat ini, saya meminta itikad baik dari Bank Mandiri untuk meninjau kembali kasus ini dan menghapuskan tagihan yang timbul dari tindak kejahatan tersebut. Jangan sampai kelalaian sistem atau celah pada proses distribusi kartu dibebankan sepenuhnya kepada nasabah. Terima kasih atas dimuatnya surat ini. Hormat saya, Muhibbun Kab. Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.
Donny G3 Maret 2026 - (14:16 WIB)Permalink Hmmm.. Waktu transaksi QRIS kan harusnya Anda sudah tahu kalo sumber dananya dari kartu kredit, bukan dari saldo rekening tabungan. Dan untuk transaksi QRIS kan harus ada otorisasi PIN. Kenapa nadanya sekarang seperti kaget kartu kredit virtualnya sudah aktif? 🤔 2 Login untuk Membalas
MuhibbunPenulis artikel3 Maret 2026 - (15:04 WIB)Permalink Secara sistemik, Anda benar bahwa QRIS memerlukan PIN. Namun, ada tiga poin fundamental yang Anda lewatkan terkait keamanan perbankan dan perlindungan konsumen: Information Asymmetry & Data Breach: Mengapa penipu tahu persis saya sedang menunggu kartu kredit Mandiri? Keberhasilan social engineering berawal dari kebocoran data distribusi. Jika data rahasia bank (bahwa saya sedang menunggu kartu) tidak jatuh ke tangan pihak ketiga, penipu tidak akan punya celah untuk memanipulasi saya. Ini adalah tanggung jawab bank dalam menjaga kerahasiaan data nasabah sesuai UU PDP. Default-In Policy yang Berisiko: Secara psikologis dan tradisi perbankan, saya sebagai nasabah berekspektasi kartu baru bisa digunakan setelah fisik diterima dan diaktivasi (konfirmasi penguasaan fisik). Kebijakan bank yang mengaktifkan fitur virtual dengan limit penuh secara otomatis sebelum kartu sampai, adalah fitur yang ‘high risk’ namun minim informasi dan edukasi risiko saat pengiriman berlangsung. Nature of Social Engineering: Kejahatan ini tidak menyerang sistem PIN, tapi menyerang kesadaran manusia melalui manipulasi otoritas. Saat pelaku mengaku sebagai pihak bank dengan sangat kredibel, fokus korban dialihkan dari detail teknis di layar HP. Inilah mengapa BI dan OJK menekankan pentingnya bank memiliki sistem Fraud Detection yang bisa membedakan transaksi normal dengan transaksi yang tidak sesuai profil nasabah (anomali). Fokus pengaduan saya bukan soal ‘PIN’, tapi soal tanggung jawab bank atas keamanan data dalam rantai distribusi dan manajemen risiko fitur kartu kredit virtual mereka. 5 Login untuk Membalas
Donny G3 Maret 2026 - (15:12 WIB)Permalink Andai saja waktu itu Anda nanya dulu ke AI, seperti saat nulis surat dan balas komen ini. 7 Login untuk Membalas
MuhibbunPenulis artikel3 Maret 2026 - (15:39 WIB)Permalink Tidak ada yang salah dengan teknologi selagi bisa dimanfaatkan untuk membantu memahami sebuah masalah secara lebih positif dan lebih objektif, ketimbang memberikan jawaban atau komentar yang negatif bahkan subjektif. Komentar Anda seolah menganggap bahwa kejahatan perbankan melalui social engineering adalah hal yang sepele dan sepenuhnya menjadi kesalahan korban. Padahal social engineering adalah ancaman serius yang wajib dimitigasi oleh PUJK, Fokus saya adalah menuntut hak saya sebagai Konsumen atau nasabah yang merasa dirugikan. 1 5 Login untuk Membalas
Donny G3 Maret 2026 - (15:45 WIB)Permalink Tidak ada yang salah dengan AI. Hanya saja kalo kebanyakan pake AI, apalagi cuman copy paste seperti surat dan komentar Anda di atas, jadinya Anda gak mampu berpikir kritis, seperti saat Anda terima telepon dari penipu. 6 0
Munzir Akbarwan4 Maret 2026 - (20:41 WIB)Permalink Kesalahan anda. tidak peka pada pernyataan bank. Bahwa bank tidak pernah meminta pin, pasword, otp ataupun data pribadi lainnya bersifat rahasaia. Harusnya anda sadar. kalau ada yg meminta data rahasia, berbicara secara langsung dg anda melalui whatsap, telpon ataupun media lainnya seperti itu segera sadar bahwa itu “PENIPU”.dan tdk melanjutkan lagi komunikasi apapun agar anda tdk semakin terpedaya. Ingat pihak bank yg sesungguhnya tdk akan pernah berbicara semanis itu pada anda menawarkan bantuan. dan kalaupun ada yakin itu adalah penipu yg mengatasnanamakan bank. 1 Login untuk Membalas
MuhibbunPenulis artikel3 Maret 2026 - (19:22 WIB)Permalink Terimakasih telah berkomentar sebagai “Sipaling berpikir kritis”. Sanggahan-sanggahan transaksi yang telah saya lakukan adalah bukti bahwa saya masih bisa berpikir kritis, termasuk menulis pengaduan ini ke Media Konsumen adalah bentuk cara saya yang masih bisa berpikir kritis. Terimakasih. 6 Login untuk Membalas
Eko4 Maret 2026 - (05:46 WIB)Permalink Punya smartphone, tapi sayang pemiliknya tidak smart. Sudah tau WA si penipu itu WA pribadi, bukan WA resmi Bank Mandiri, kok main iya-iya aja scan barcode. Ya tentu saja transaksi dianggap sah oleh Bank Mandiri akibat kelalaian anda sendiri. 2 Login untuk Membalas
MuhibbunPenulis artikel4 Maret 2026 - (20:17 WIB)Permalink Penipuan bisa menimpa siapa saja, termasuk orang paling smart seperti anda. Saya mengkritisi manajemen resiko yang tidak diberlakukan oleh bank, tulisan saya tidak bertujuan mencari sensasi apalagi sekedar apologi. Semoga tulisan saya di media konsumen ini memberi pesan hati-hati dan mawas diri. Salam Sehat. 1 2 Login untuk Membalas
Wati3 Maret 2026 - (15:17 WIB)Permalink Biasanya kalau transaksi pake cc bisa dibatalin kok kalau kebukti bukan kita yg lakuin, krn di bank lain bisa 1 2 Login untuk Membalas
MuhibbunPenulis artikel3 Maret 2026 - (19:24 WIB)Permalink Saya telah mengajukan Sanggahan transaksi dan permohonan pembatalan transaksi kurang dari 2 jam dari kejadian, tapi pada akhirnya bank tetap menyatakan transaksi sah. 4 Login untuk Membalas
jinny marpaung3 Maret 2026 - (21:32 WIB)Permalink Masalahnya ini transaksinya dengan sadar dia sendiri yang lakuin jadi sudah pasti ditolak oleh bank. 2 Login untuk Membalas
IKA3 Maret 2026 - (16:17 WIB)Permalink Intinya yang menjadi pertanyaan kenapa si penipu bisa tau percis ya data2 kita.. Jadi inget saya pernah di tlp2 ngaku2 dari bank, dia tau percis trx terakhir, nomor kartu bahkan saldo akhir dia bisa tau.. 1 1 Login untuk Membalas
ArifN3 Maret 2026 - (17:25 WIB)Permalink Ini mah gak mungkin bisa di sanggah, jelas jelas anda scan qr code nya, dan masukan pin buat transaksi, …. Udah kejadian aja ngamuknya ke bank, walau gimanapun kalau anda jeli gak gampang ketipu orang, kalau data pas pengiriman bocor mah udah bukan rahasia umum, semua bank juga kena, tapi balik lagi ke masing masing orang nya, gampang ketipu apa ngga 5 Login untuk Membalas
MuhibbunPenulis artikel3 Maret 2026 - (19:37 WIB)Permalink Artinya anda mengamini bahwa kebocoran data nasabah bukan lagi rahasia umum dan telah anda anggap sebagai sesuatu hal yang lumrah. Nah ketika anda mengatakan bahwa bank juga terkena, maka seharusnya bank menerapkan mitigasi resiko dengan cara menerapkan sistem proteksi yang lebih baik. 6 Login untuk Membalas
Zhang Yong4 Maret 2026 - (01:19 WIB)Permalink Kebocoran data adalah kesalahan Mandiri, untuk transaksi ini adalah sah dan tanggungjawab Anda. Silakan dibayar, jangan komplen. 5 Login untuk Membalas
MuhibbunPenulis artikel4 Maret 2026 - (20:07 WIB)Permalink Komentar anda kontradiktif, ibarat pepatah tak jelas ujung mana pangkal, disatu sisi anda menyebut adanya kebocoran data dari pihak bank, tapi di sisi lain transaksi akibat kebocoran data itu tetap menjadi tanggung jawab nasabah. Analisa anda memiliki makna standar ganda. 6 Login untuk Membalas
albert4 Maret 2026 - (06:33 WIB)Permalink halah bilang aja sengaja pake sendiri dan gakmau bayar, berdalih kena soceng. banyak banget postingan macam ini jg di medsos, bank jg apal.. intinya ges tun 7 Login untuk Membalas
MuhibbunPenulis artikel4 Maret 2026 - (20:08 WIB)Permalink Terimakasih telah berkomentar, saya menulis disini bukan untuk membuka panggung debat atau diskusi, saya lebih ingin fokus pada solusi dan transparansi ketimbang meladeni para si “Paling Mengerti” tapi tidak paham substansi. Anda silahkan berbagi pengalaman pribadi, bagi saya logika anda cukup beresiko, cukuplah itu bagi “mereka yang berilmu tinggi”, silahkan bank membuka transaksi ini secara transparan, termasuk membuka aliran dana yang menjadi penerima transaksi ini. 2 Login untuk Membalas
Muhamad Saiful4 Maret 2026 - (09:10 WIB)Permalink Barusan saya scan kodenya masih bisa dan benar bakal motong 8 juta,kalo kita klik pin/sidik jari buat lanjutkan.Bapaknya mungkin gak pernah transaksi via QRIS jadi gak tahu sistemnya apalagi modus penipuan model begini.Untungnya penipu set kode QRIS dinamis,yg cuma motong 8 juta.Coba kalo penipu set “Show Barcode” korban kayak kita belanja di Alfamart/Indomaret/Alfamidi itu.Dia nanya sisa saldo berapa,udah pasti dihabisin saldonya sama penipu. Login untuk Membalas
erwin5 Maret 2026 - (00:02 WIB)Permalink Sudah sudah…. Mau ngmng panjang lebar ini gak akan bisa disangggah. Dengar sadar melakukan pembayaran dengan menggunakan PIN. TS mungkin kena bujuk rayu Tlp si cwe, dikasih yg manis², masalah penipuan kaya gni klu suka baca² apa lg apa HP smart udah hal yg sangat biasa. Kebocoran data diindonesia udah luar biasa, tnggl kitany aja menjaga diri sndr dr hal² bgni. Iklasin aja uang belajar wlpn berat 8jt. Pdhl itu kartu virtual sblm dipake Qris harus diaktivasi dl sma TS, jadi TS tau apa itu Kartu virtual. Harus ada verif untuk aktivasi kartu digital. Mungkin ada iming² naik limit jd tergoda 👀 1 Login untuk Membalas
Muhammad Sutarsah5 Maret 2026 - (04:31 WIB)Permalink Yang sabar pak. Postingan anda ditujukan ke bank mandiri,yang bikin heran,banyak netizen yg justru menyalahkan anda seolah anda sendiri yg menyebabkan transaksi tsb terjadi dgn kesadaran penuh. Di konoha ini mengherankan,setiap ada kejadian kriminal,tidak sedikit pihak yg justru menyalahkan korban. Contoh spt korban pemerkosaan, pasti dicap korban tsb diperkosa krn tidak mengenakan hijab lah,dlsb. Padahal yg salah ya jelas si pelaku kejahatan. Semoga bs segera ada titik terang ya mas. Terimakasih sudah berbagi ulasan ttg hal ini,kita semua yg baca jadi lebih aware sekarang 3 3 Login untuk Membalas
MuhibbunPenulis artikel5 Maret 2026 - (15:42 WIB)Permalink Terimakasih pak atas Support dan Apresiasinya, semoga menjadi pembelajaran bagi kita semua. Yang komen kebanyakan mode Debt Collector pak, Banyak Narasi minim Literasi. 1 2 Login untuk Membalas
Azhar5 Maret 2026 - (11:47 WIB)Permalink terima kasih sudah berbagi pengalaman, pelajaran yang cukup mahal. semoga kita selalu waspada dan berhati hati terkait masalah perbankan ini. setahu saya sih tidak ada bank yang berbaik hati menawarkan pengiriman ulang, kita yang sebagai nasabah yang harus kejar bank nya. kalau ada tawaran dari bank nya untuk kirim ulang/tawaran bebas biaya tahunan/dsb itu pasti penipu. 1 Login untuk Membalas
Merryani Wulandari5 Maret 2026 - (19:20 WIB)Permalink Ini kok banyak yg nyalahin penulis ya, memang penulis juga lalai tapi yg saya tangkap disini penulis menyoroti soal kebocoran data mengapa si penipu bisa tau penulis sedang menunggu kartu lalu memanfaatkan celah tsb. Kalo tidak ada celah kan tidak terjadi penipuan juga. Tidak ada yg mau mengalami hal seperti ini, cobalah teman2 berikan komentar yang jika tidak bisa memberi solusi setidaknya jangan menyalahkan penuh si penulis, ga bijak juga saya rasa. Disini jelas ada celah yg entah muncul dari mana. 2 2 Login untuk Membalas
tobias_boon6 Maret 2026 - (11:17 WIB)Permalink Saya pengguna aplikasi Banking dan rata2 tampilan paling atas pada aplikasi akan muncul saldo, untuk aplikasi Livin akan terlihat langsung saldo tabungan, kemudian deposito, kartu kredit, pinjaman, dan Investasi. Apakah TS tidak notice bahwa ada kartu kredit virtual yang sudah aktif pada aplikasi Livin? idealnya untuk pengaktifan virtual account kartu kredit juga memerlukan validasi kepemilikan dan OTP, sama halnya dengan bank lain seperti Jenius yang punya Virtual Card dan akan dikirim Physical Card (Menyusul). Saya berasumsi TS sudah mengaktifkan/ memiliki CC Virtual (saat ini menunggu Physical Card) kemudian ada orang yang mencoba scam TS dengan kirim QRIS melalui WA dan secara sadar “membayar” QRIS tersebut dengan source of fund Kartu Kredit Virtual dan kemudian menyalahkan Bank Mandiri atas kejadian tersebut. Kalau semisal TS membayar QRIS tersebt dengan Source of Fund Debit Account apakah juga menyalahkan Bank Mandiri atas transaksi Scam tersebut? Menurut saya ada 2 poin: 1. Scam yang mana ini kelengahan dari TS 2. Kebocoran data jika ini memang dari Mandiri/ Partner Logistik dan harus diinvestigasi tuntas. 2 1 Login untuk Membalas
Sugeh8 Maret 2026 - (15:12 WIB)Permalink Transaksi qris dengan total 8 JT sekaligus sumber kartu kredit jelas fraud untuk merchant penampung dana. 1 Login untuk Membalas
Abo Cah8 Maret 2026 - (17:21 WIB)Permalink kebocoran data bisa dr ordal mandiri dan bisa jg dr pihak jasa kirim/kurir (silakan dipilih mana yg paling masuk akal) kurir tahu alamat penerima, tahu nomor penerima dan kurir jg bisa membuka paket dan melihat nomor kartu BTW, yg dikirim oleh bank itu kartu DEBIT GOLF GOLD (PERHATIKAN BAIK2 SS yg diberikan TS, tercantum kartu debit golf gold, ini TS kebelinger atau mandiri yg kebelinger) untuk sanggahan yg ditolak, jelas tertulis: pembayaran QR melalui sumber CC VIRTUAL (edisi K-series PARK SEO JUN, terlihat dr SS TS) , tidak ada sangkut pautnya dengan kartu fisik TS kena tipu dengan transaksi QR dengan SUMBER CC VIRTUAL (terlihat dr sanggahan pihak bank), lalu menyangkutpautkan kasus ini ke kartu fisik yg belum diterima perhatikan tanggal2 yg ditulis oleh TS : – pengajuan CC FISIK 16 sept 2025 – kartu gagal kirim 15 okt 2025 tercantumnya debit card golf gold – dapat WA dr mandiri yg menyatakan kartu kredit gagal kirim padal 22 okt 2025 (SS WA dr mandiri) – ada transaksi 8jt di 19 nov 2025 (diduga TS mengscan qris dr WA penipu pas pd tgl 19 nov 2025) kartu gagal kirim lagi 1 feb 2026 tercantumnya debit card golf gold pada SS pertanyaan buat TS – apakah ente tahu perbedaan VIRTUAL dan FISIK ? – kapan ente buat CC VIRTUAL? tambahan (semua berasal dr SS yg diberikan TS) : TS dapat WA dr penipu jam 11.35 dpt qris dr penipu 11.40 (diduga terjadi pada 19 nov 2025) 11.44 disuruh kirim bukti oleh penipu terjadi transaksi 19 NOV 2025 11.43 (terlihat semua dr SS yg TS berikan) 4 Login untuk Membalas
Rama10 Maret 2026 - (18:22 WIB)Permalink Klo masih ketipu berarti ente belom waktunya pegang CC , udah ga usah sok iyes dan bangga punya kartu utang, sekarang fokus ente gmn bayar tu tagihan sebelum d datengin DC kerumah 1 Login untuk Membalas
erikeien2310 Maret 2026 - (21:43 WIB)Permalink Satu titik dua koma , bulan depan tagihan datang full payment RP 8000.000 + biaya penanganan penyidikan sanggahan RP. 30.000 plus biaya e materai RP.10.000 plus biaya notifikasi RP 7500 plus biaya e statement biling tagihan ke email RP 5000 total tagihan RP. 80.52.500 atau minimum payment di angka 800.an ribu Login untuk Membalas
Bayu11 Maret 2026 - (19:17 WIB)Permalink Memang benar walaupun kartu fisik belum datang ada kartu di gital yang sudah masuk di aplikasi livin dan itu Masih bisa di gunakan, Perihal ini memang bapak yang terhormat sudah salah melakukan transfer dengan sadar, Cukup ngeyelnya pak cukup 1 Login untuk Membalas
r_lita16 Maret 2026 - (11:34 WIB)Permalink Kalau memang tertipu oknum, mungkin bisa lapor polisi. Mungkin kalau diminta polisi, transaksi bisa dibekukan/dibatalkan atau gimana dan pelaku bisa dilacak. Btw, kalau transaksi QRIS kan biasanya ada informasi ya sebelum PIN, misalnya nominal transaksi, ditujukan kemana, dan dengan sumber dana darimana. Bukankah itu bisa diverifikasi dulu sebelum ketik PIN? Apa tidak curiga sebelumnya kalau di depan mata tiba-tiba ada permintaan approve delapan juta rupiah ke Gopay? Tapi kadang orang yang ditelepon penipu itu dipengaruhi buat “langsung menurut” dengan teknik tertentu terutama orang berusia lanjut yang kadang agak kurang tahu teknologi terkini. Makanya orangtua saya kalau nerima telepon dari orang asing yang ngaku-ngaku darimana, saya minta segera tutup agar tidak sampai dipengaruhi macam-macam. Kalau itu adalah oknum, mending CC-nya dibatalkan daripada dibobol lagi karena infonya sepertinya sudah tersebar ke pelaku. Dan kalau memang tidak pernah memakai 8 juta itu, lebih baik tidak perlu dibayar, dan lapor ke pihak berwajib kalau dipaksa. Karena kurang wajar sih menalangi uang yang digunakan si pelaku. Sekedar saran saja, ya, mungkin bisa sedikit meringankan. Login untuk Membalas