Ilustrasi Headline Keluhan Surat Pembaca Petugas Lion Air Persulit Penumpang Lansia Bawa Abu Jenazah, Minta Bayar Kursi Khusus Rp8 Juta 2 September 20262 September 2026 erlina erlina Beri komentar abu jenazah, Alasan penolakan, biaya ekstra, Biaya Lain-lain, Biaya Tambahan, boarding, Boarding pass, Check in, Check in penerbangan, check-in counter, Citilink, Customer complaint handling, Customer Service, Lion Air, Lion Air Group, Maskapai Penerbangan, Pembatalan Tiket, Pengembalian dana, Refund, Sikap petugas, SLA, SOP, Standard Operating Procedures, Syarat dan Ketentuan, Tiket Pesawat, Transparansi Informasi Ikuti di Google Berita Sumber Pilihan di Google Pada tanggal 23 Agustus 2026, dua orang tante saya berangkat dari Bandara Kualanamu (KNO), Medan, dengan tujuan Bandara Soekarno-Hatta (CGK) menggunakan Lion Air. Kedua tante saya melakukan check-in di counter Lion Air nomor 24 sekitar pukul 10.00 WIB. Petugas check-in wanita di counter tersebut menanyakan apa isi tas yang digendong oleh tante Kristinah (72 tahun). Tante Liana menjawab bahwa itu adalah abu jenazah suami tante Kristinah. Petugas wanita itu mengatakan kepada tante saya bahwa ia wajib membeli satu tiket lagi seharga sekitar Rp1 juta. Tante saya pun bertanya untuk apa, dan petugas menjawab bahwa diperlukan satu tiket untuk abu jenazah. Setelah berdebat cukup lama, tante saya setuju membayar Rp1 juta. Namun petugas tersebut kemudian mengatakan biaya telah berubah menjadi sekitar Rp8 juta, karena harus membayar kursi khusus yang sangat spesial. Tante Kristinah meminta tolong kepada petugas tersebut, tetapi petugas itu mengatakan bahwa karena tante Liana sudah menyebutkan isi tas tersebut adalah abu jenazah, ia tidak bisa membantu lagi dan tetap wajib membayar sekitar Rp8 juta. Petugas ini sengaja mengadu domba kedua tante saya. Karena membawa abu jenazah, disuruh beli tiket untuk abu jenazah seharga 8jt lebih. Karena tidak membayar, tidak diperkenankan terbang. Membawa abu jenazah diperbolehkan semalam surat lengkap, tidak harus membeli tiket untuk abu jenazah. Karena abu jenazah dipegang sendiri oleh penumpang. Tante saya sempat menunjukkan informasi dari Google yang menyatakan bahwa membawa abu jenazah tidak menjadi masalah, tetapi petugas tersebut bersikukuh bahwa itu adalah ketentuan dan tidak takut bila masalah ini diangkat ke publik karena merasa tidak bersalah. Tante saya hanya memiliki uang tunai sekitar Rp3 juta sehingga tidak sanggup membayar. Tante Liana akhirnya terbang terlebih dahulu, karena hingga pukul 11.30 WIB, petugas Lion Air tetap tidak memperbolehkan tante Kristinah melakukan check-in. Tante Kristinah sempat berencana naik bus ke Jakarta. Namun kami mencoba bertanya ke Citilink, dan ternyata tidak ada masalah membawa abu jenazah. Tante Kristinah pun terpaksa membeli tiket baru. Mengingat kondisinya yang sudah tidak sanggup berjalan, petugas Citilink membantu dengan kursi roda. Bukti pembelian tiket Citilink untuk ke Jakarta Pegawai Citilink membantu proses penerbangan. Berhubung tante sudah terlalu tua, tidak sanggup jalan, petugas Citilink juga membantu. Kami sudah berusaha menghubungi Lion Air, tapi karena hari Minggu, chat maupun telepon sulit dihubungi. Saya kemudian mencoba melaporkan kembali ke pihak Lion Air dan hanya diberikan nomor pelaporan tanpa ada balasan hingga saat ini. Berikut poin-poin yang ingin saya sampaikan: Petugas Lion Air melakukan “penipuan” dengan mengatakan abu jenazah tidak diperbolehkan dan mengharuskan pembelian tiket prioritas khusus, padahal abu jenazah tersebut digendong dan tidak memerlukan kursi. Petugas Lion Air melakukan “pemerasan” sebesar lebih dari Rp8 juta dengan memanfaatkan kondisi tante saya yang sudah tua dan tidak mengetahui peraturan yang berlaku. Petugas Lion Air sengaja mengadu domba kedua tante saya, dan bukannya membantu lansia yang sudah kesulitan berjalan, malah memanfaatkan situasi untuk melakukan “penipuan”. Tidak ada rasa kemanusiaan dari petugas Lion Air tersebut, melihat kondisi tante saya yang sudah sangat tua dan susah berjalan, bukannya dibantu malah diperlakukan seperti itu. Saya meminta tindakan tegas terhadap staf tersebut, permintaan maaf resmi, serta refund tiket tante saya. Erlina Medan, Sumatera Utara Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.