Pesan Barang di Mi.co.id Pakai GoSend Instant, Barang Tak Dikirim tapi Ongkir Rp127.500 Hangus

Kepada Yth. Redaksi Media Konsumen,

Melalui surat pembaca ini, saya ingin menyampaikan kekecewaan yang sangat mendalam terhadap layanan pengiriman dan customer service dari pihak Xiaomi Indonesia (mi.co.id).

Pada hari Rabu, 22 Juli 2026, saya melakukan pemesanan beberapa barang melalui situs resmi Xiaomi Indonesia dengan rincian sebagai berikut:

  • Nomor Pesanan: 5260722523440065
  • Tanggal Pesanan: 22 Juli 2026
  • Barang yang dipesan: 3 unit Xiaomi Smart Camera C301 dan 1 unit Mi WiFi Range Extender AC1200 ID

Karena saya sangat membutuhkan barang-barang tersebut untuk digunakan paling lambat pada tanggal 23 Juli 2026, saya sengaja memilih dan membayar lebih mahal untuk metode pengiriman cepat (GoSend Instant / Flash Service).

Namun, alangkah kecewanya saya, barang yang saya butuhkan dan sudah saya bayar lunas tersebut tidak kunjung sampai. Hingga surat ini saya tulis (27 Juli 2026), pesanan saya masih belum saya terima.

Saya sudah berkali-kali berinisiatif menelepon pihak customer service Xiaomi Indonesia untuk menanyakan kejelasan nasib pesanan saya. Setiap kali saya menelepon, jawaban yang diberikan selalu klise dan normatif, yaitu “akan dikoordinasikan” dan “sedang dalam proses penyelesaian”. Namun, faktanya sampai detik ini sama sekali tidak ada tindakan konkret atau solusi nyata dari pihak Xiaomi.

Akhirnya, bukannya dikirim secara instan, barang tersebut malah tidak pernah dikirimkan oleh pihak Xiaomi. Dari tanggal 22 Juli hingga 27 Juli 2026 saya sudah dibuat rugi waktu yang sangat luar biasa karena barang yang sangat saya butuhkan tidak datang tanpa kejelasan.

Puncak kekecewaan saya terjadi pada saat proses pengembalian dana (refund). Pada tanggal 28 Juli 2026, dana saya memang dikembalikan, namun tidak sepenuhnya. Pihak Xiaomi (mi.co.id) hanya mengembalikan dana sebesar Rp1.416.000 (hanya seharga barang saja). Sementara itu, uang ongkos kirim GoSend Instant sebesar Rp127.500 tidak dikembalikan alias hangus begitu saja.

Di sistem pengembalian, status pengiriman malah diubah menjadi “Pengiriman Gratis” secara sepihak untuk membenarkan nominal refund tersebut.

Ini adalah bentuk pelayanan yang sangat merugikan dan tidak masuk akal. Mengapa saya sebagai konsumen harus menanggung dan membayar biaya pengiriman (Rp127.500) untuk sebuah layanan pengiriman yang sama sekali tidak pernah dilakukan oleh pihak Xiaomi? Barang tidak pernah dikirim, tapi uang ongkos kirim saya hangus ditelan sistem.

Saya merasa sangat dirugikan, baik dari segi waktu yang terbuang sia-sia maupun uang Rp127.500 yang raib tanpa kejelasan. Sebagai brand besar, sistem refund seperti ini sangat amat amatir dan seolah “merampok” hak konsumen secara halus.

Melalui surat di Media Konsumen ini, saya mendesak pihak Xiaomi Indonesia untuk segera bertanggung jawab dan mengembalikan sisa uang ongkos kirim saya sebesar Rp127.500. Saya harap pengalaman buruk saya ini bisa menjadi peringatan bagi calon pembeli lain agar lebih berhati-hati berbelanja di mi.co.id.

Terima kasih, Media Konsumen.

Nanang Syaifudin
Jakarta Selatan

Artikel ini adalah buatan pengguna dan menjadi tanggung jawab penulisnya.

Surat pembaca ini belum mendapatkan tanggapan dari pelaku usaha terkait. Jika Anda adalah pelaku usaha yang terkait dengan pertanyaan/permohonan/keluhan di atas, silakan berikan tanggapan resmi melalui tautan di bawah ini:

Kirimkan Tanggapan

5 komentar untuk “Pesan Barang di Mi.co.id Pakai GoSend Instant, Barang Tak Dikirim tapi Ongkir Rp127.500 Hangus

  • 30 Juli 2026 - (21:00 WIB)
    Permalink

    Perlu di analisa sistimnya. Apakah total pembayaran 1.543.500 itu seluruhnya masuk ke dalam rekening xiaomi. Ataukah hanya total harga barang itu saja yg masuk di rekening xiaomi sehingga xiaomi hanya mengembalikan seharga barang. Sedangkan ongkirnya masuk ke Gosend. Seandainya masuk ke gosend maka anda menuntut ke Gosend jga

  • 31 Juli 2026 - (18:37 WIB)
    Permalink

    Hubungan Transaksi Konsumen Adalah dengan Xiaomi, Bukan GoSend Saya bertransaksi dan membeli layanan di platform mi.co.id. GoSend di sini posisinya adalah ‘vendor’ atau ‘mitra logistik’ yang disewa oleh Xiaomi. Urusan apakah uang ongkir itu diteruskan ke GoSend atau tidak, itu adalah urusan internal B2B (Business to Business) antara Xiaomi dan pihak Gojek. Sebagai konsumen, saya menuntut pengembalian ke pihak yang menerima uang saya dan menerbitkan invoice, yaitu Xiaomi.

    • 31 Juli 2026 - (18:38 WIB)
      Permalink

      Pembayaran Masuk Penuh (Satu Pintu) ke Xiaomi Total uang Rp1.543.500 (termasuk ongkir Rp127.500) saya bayarkan/transfer sepenuhnya ke rekening dan payment gateway milik PT Xiaomi Retail Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan Invoice (faktur pembayaran) resmi yang diterbitkan langsung oleh pihak Xiaomi dengan total tagihan Rp1.543.500, bukan Rp1.416.000. Saya tidak mentransfer uang ongkir itu secara terpisah ke rekening Gojek/GoSend.

  • 1 Agustus 2026 - (12:58 WIB)
    Permalink

    Kalau pembayaran satu pintu seharusnya nominal yang dikembalikan juga sesuai pembayaran. Lagipula agak fantastis ongkir sampai 127 ribuan kalau pengiriman ke kalibata bisa dilakukan kurang dari 30 Km dari beberapa outlet; Mall Ambassador di utara, AEON Tanjung Barat di selatan, Gandaria City di barat, dan Lippo Plaza Kramat Jati di timur. Barang yang dibeli juga tidak berukuran besar dan mudah dibawa dengan sepeda motor. Saran saya langsung datang saja ke Authorized Store sebagaimana disebutkan, atau kalau beli online lewat toko di platform jual-beli. Jangan beli online di toko official karena sudah terkenal “badut” dalam handling dan purna jual. Bukan salah di brand tapi di SDM.

    • 3 Agustus 2026 - (11:29 WIB)
      Permalink

      Sepakat penuh. Mengelola kanal official store secara mandiri memang bukan sekadar memajang etalase digital, melainkan ujian nyata terhadap efisiensi operasional dan integrasi logistik. Ongkir 127 ribu untuk pengiriman barang berdimensi kecil dalam radius di bawah 30 km dari titik distribusi (seperti Ambassador atau Gandaria City) jelas menunjukkan inefisiensi sistem yang brutal. Alih-alih mengoptimalkan layanan, kekacauan routing logistik ini justru memperlihatkan adanya idle capacity yang pada akhirnya hanya akan membakar margin.

      Masalah pengembalian dana dari sistem satu pintu yang tidak presisi juga menjadi indikator bahwa rekonsiliasi data dan manajemen back-office mereka masih dikelola secara amatir. Sangat rasional jika konsumen pada akhirnya bermigrasi ke marketplace pihak ketiga, mengingat SLA (Service Level Agreement) logistik dan perlindungan sistem escrow mereka jauh lebih matang dan terukur.

      Percuma saja sebuah brand mengalokasikan Capex besar-besaran untuk branding atau menyewa lapak premium di mal-mal elite jika SDM yang mengawal lini purnajualnya tidak kompeten. Pada akhirnya, ROI dari seluruh ekosistem digital mereka akan hancur lebur seiring dengan melonjaknya churn rate pelanggan. Saran untuk bertransaksi langsung di authorized store fisik atau menggunakan platform jual-beli pihak ketiga adalah langkah mitigasi yang paling logis saat ini.

 Apa Komentar Anda?

Ada 5 komentar sampai saat ini..

Pesan Barang di Mi.co.id Pakai GoSend Instant, Barang Tak Dikirim tapi…

oleh Nanang Syaifudin ⏱ waktu baca: 2 menit
5